Sabtu, 27 Juli 2013

Resepsi Sastra: Sebuah Pengantar


Pada tahun 1953 Abrams menyodorkan empat model dalam mendekati karya sastra, pendekatan itu, antara lain: (1) ekspresi, penulis sebagai pencipta; (2) pragmatik, pembaca sebagai perespon (penyambut); (3) mimetik, kaitan karya sastra dengan dunia nyata; (4) obyektif, karya sastra sebagai struktur yang otonom. Di dunia Barat, pendekatan ekspresif sangat dominan lewat penyair, pencipta/pengarang sesuai dengan aliran romantik. Pada tahun 1920-an minat penyair, pengarang dan sebagainya berangsur-angsur pindah ke karya sastra itu sendiri (otonom) lepas dari sejarah dan penulis. Pendekatan karya sastra tahun 1915-1930 berkembang formalis di Rusia, strukturalisme di Praha dan Eropa Barat. Pembawa pendekatan itu New Criticism ke AS, antara lain: Jakobson dan Wellek. Di Perancis Barthes, Levi-strauss menyajikan pendekatan struktural sehingga mereka menjadi tokoh terkemuka. Pendekatan strukturalisme yang hanya menekankan otonom karyaa sastra mempunyai dua kelemahan pokok, antar lain: (1) melepaskan karya sastra dari sejarah sastra; (2) mengasingkan karya sastra dari sosial-budaya (Teeuw, 1983:61). Sejak itu tahun 1960 para peminat sastra, yang semula menyenangi struktur karya sastra beralih ke rah pembaca (pragmatik). Menurut Barthes (Teeuw, 1983:61-62), penggabungan pendekatan obyektif dengan pragmatik arena pembaca dipandangnya sebagai penyingkap struktur karya sastra secara cukup mutlak, sehingga unsure subyektivitas menjadi makin kuat. Demikian juga akhir pembaca karya sastra menjadi pencipta makna yang daya ciptanya tidak kurang daripada  kreativitas si penulis sendiri.
Pendekatan struktural yang mutlak dan statis oleh Mukarovsky dan siswanya Vodicka mengembangkan strukturalisme-Dinamik atas dasar konsep semiotik untuk dapat memahami sepenuh-penuhnya seni sebagai struktur dan ciri khas sebagai tanda/sign (Teeuw, 1983:62). Diperkuat idenya Jakobson (1960:62), tanda itu baru bermakna sepenuhnya lewat persepsi pembaca. Resepsi pembaca ditentukan oleh dua fungsi, antara lain: (1) fungsi otonom-puitik, yaitu terlaksana lewat kode sastra berdasarkan pengalaman pembaca sastra (norma sastra); (2) fungsi komunikatif, yaitu terlaksana lewat pembaca sebagai pemberi makna (sistem masyarakat).
Pemahaman dan penilaian karya sastra terus bergeser bermunculan angkatan baru, pembaca selalu menemukan ketegangan ganda antara karya sastra dan masyarakat. Menurut (Teeuw, 1983:62-63), dengan dipertahankannya ilmu sastra dan sejarah sastra, maka metode ilmiah yang otonom berdasarkan ciri semiotik khas sastra tanpa mengasingkan diri dari sejarah dan sosial.

1. Estetika Resepsi

Yang menjadi perhatian utama adalah pembaca karya sastra di anatara jalinan segitiga pengarang, karya sastra, dan masyarakat pembaca (Jauss, 1974:12). Hal ini disebabkan oleh kehidupan historis sebuah karya sastra tidak terpikirkan tanpa paritisipasi para pembacanya. Pembaca itu mempunyai peranan aktif, bahkan merupakan power pembentuk sejarah (Jauss, 1974:12). Karya sastra itu sejak terbitnya selalu mendapat resepsi/respon para pembacanya. Menurut Jauss (1974:12-13), apresiasi pembaca pertama terhadap sebuah karya sastra akan dilanjutkan dan diperkaya melalui respon-respon yang lebih lanjut dari generasi ke generasi.
Dengan cara ini makna historis karya sastra akan ditentukan dan nilai estetiknya terungkap.  Sebuah karya sastra bukan obyek yang berdiri sendiri dan yang memberikan wajah yang sama kepada masing-masing pembaca di setiap periode. Sebuah karya sastra jauh lebih merupakan orkestrasi yang selalu menyuarakan suara-suara baru di natara para pembacanya. Oleh karena itu, sebuah karya sastra harus dimengerti sebagai pencipta dialog, maka keahlian filosofis harus didirikan pada pembacaan kembali teks secara terus-menerus, tidak hanya ada fakta-fakta saja (Jauss, 1974:14)
Dalam metode resepsi ini dikaji respon-respon setiap periode, yaitu respon-respon sebuah karya sastra oleh para pembacanya. Pembaca dalam hubungan ini yang dimaksud adalah pembaca yang cakap, bukan awam, yaitu para kritikus sastra dan ahli sastra yang dipandang dapat mewakili para pembaca pada periodenya. Mereka ini seperti yang dimaksudkan oleh Vodicka (1964:78), ahli sejarah, para ahli estetika, dan kritikus. Para ahli sastra setiap periode memberikan komentar-komentar berdasarkan konkretisasi terhadap karya sastra yang bersangkutan. Menurut (Vodicka, 1964:78-79), pengonkretan makna karya sastra atas dasar pembacaan dengan tujuan estetika; konkretisasi ini istilah yang berasal dari Roman Ingarden.
Pendapat para ahli sejarah sastra, para ahli estetika, dan para kritikus tidak selalu sama mengenai norma tunggal yang benar sebab memang tidak ada norma estetika tunggal yang benar yang semacam itu (Vodicka, 1964:78-79). Efek estetika karya sastra sebagai keseluruhan, begitu juga konkretisasinya tunduk kepada perubahan yang terus-menerus. Kekuatan karya sastra tergantung pada mutu yang dikandung secara potensial karya  itu dalam perkembangan norma sastra. Jika karya sastra dinilai positif, bahkan bila norma berubah itu berarti bahwa karya sastra tersebut mempunyai jangka hidup yang lebih panjang daripada sebuah karya sastra yang efektivitas estetiknya habis dengan lenyapnya norma sastra pada masanya (Vodicka, 1964:79).
Dengan demikian, kajian dengan metode estetika resepsi, seperti juga dikemukakan Segers (1978:49), yakni: (1) merekontruksi bermacam-macam konkretisasi karya sastra dalam masa sejarahnya; (2) meneliti relasi di antara konkretisasi dan karya sastra dengan konteks historis yang memiliki konkretisasi itu. Aplikasi dari estetika resepsi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: sinkronik dan diakronik.
Sinkronik ialah cara analisis resepsi terhadap sebuah karya sastra dalam satu masa/periode. Jadi, di sini yang dianalisis resepsi (respon) pembaca dalam satu kurun waktu. Namun, harus diingat bahwa dalam satu kurun waktu itu biasanya ada norma-norma yang sama dalam memahami karya sastra. Akan tetapi, karena tiap-tiap orang itu mempunyai horison harapan sendiri, berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya, bahkan juga ideologinya, maka mereka akan merespon sebuah karya sastra secara berbeda-beda. Misalnya saja responsive pembaca yang berpaham seni untuk seni akan berbeda dengan responsive pembaca yang berpaham seni untuk masyarakat, dan sebagainya.
Untuk mengetahui respons-respons yang bermacam-macam itu dapat dikumpulkan respon-respon pembaca yang menulis atau dapat dilakukan dengan mengedarkan angket kepada pembaca dalam kurun waktu tertentu. Dari hasil angket yang diedarkan itu, dapat diteliti konkretisasi dari masing-masing pembaca. Dengan demikian, dapat disimpulkan bagaimana sebuah karya sastra itu pada suatu kurun waktu. Akan tetapi, meskipun telah diketahui konkretisasi pembaca terhadap karya sastra pada suatu kurun waktu, namun nilai seni karya sastra tersebut belum teruji secara historis.
Diakronik ialah akan menunjukkan nilai seni sebuah karya sastra sepanjang waktu yang telah dilaluinya. Penilaian diakronik dapat dilakukan dengan mengumpulkan respon-respon pembaca ahli sebagai wakil pembaca dari tiap-tiap periode. Hal itu bisa diarahkan pada sebuah karya sastra itu terbit, kemudian resepsi-resepsi pada periode selanjutnya, dan periode kehadiran karya sastra lain, masihkah karya itu bertahan. Dengan demikian, akan dapat diketahui bagaimana nilai estetika karya sastra berdasarkan resepsi-resepsi pada setiap periode. Dalam analisis itu diteliti dasar-dasar apa yang dipergunakan oleh pembaca di setiap periode; norma-norma apa yang menjadi dasar konkretisasinya. Bila sebuah karya sastra dapat diketahui dasar konkretisasinya dan penilaiannya di setiap periode yang dilaluinya, maka dapat disimpulkan nilai estetiknya sebagai karya seni sastra. Bila di setiap karya tersebut mendapat nilai positif, hal ini berarti karya sastra tersebut bernilai agung dan tinggi.
Menurut Jauss menginginkan adanya respon pembaca dengan horizon harapan untuk memahami dan menilai karya sastra. Horizon harapan menurutnya bahwa seorang pembaca terhadap karya sastra harus mempunyai wujud sebuah karya sastra sebelum ia membaca karya sastra. Dalam arti, seorang pembaca itu mempunyai konsep ataau pengertian tertentu mengenai sebuah karya sastra, baik sajak, cerpen, novel, dan sebagainya. Seorang pembaca itu mengharapkan bahwa karya sastra yang dibaca itu sesuai dengan pengertian sastra yang dimilikinya.  Dengan demikian, pengertian mengenai sastra seorang dengan orang lain itu mungkin berbeda, lebih-lebih pengertian sastra antara sebuah periode dengan periode lain itu tentu akan sangat berbeda, dan hal itu disebut  cakrawala harapan. Cakrawala harapan seseorang itu ditentukan oleh pengalaman, pendidikan, kemampuan menalar, dan sebagainya dalam merespon karya sastra. Begitu juga halnya cakrawala harapan sebuah periode.
Sependapat dengan itu, Segers (1978:41) menyatakan tiga kriteria  cakrawala harapan, antara lain: (1) pengetahuan dan pengalaman atas semua teks yang telah dibaca sebelumnya; (2) norma-norma yang terpancar dari teks yang telah dibaca oleh pembaca; (3) pertentangan antara fiksi dan realita tentang kemampuan pembaca untuk memahami, baik dalam horison sempit dari harapan sastra maupun dalam horison luas dari pengetahuan tentang kehidupan.
Selain itu, adanya perbedaan cakrawala harapan itu, meskipun pembaca itu menentukan makna karya sastra, tetapi tidak dapat diingkari bahwa dalam karya sastra itu ada ruang-ruang kosong yang harus diisi oleh pembaca, seperti sebuah donat ditengahnya ada ruang yang kosong. Hal itu juga berhubungan dengan sifat karya sastra sendiri yang mengandung banyak tafsir (polyinterpretable). Karya sastra itu merupakan penjelmaan ungkapan yang padat makna, maka hal-hal yang kecil tidak disebutkan, begitu juga hal-hal yang tidak langsung berhubungan dengan cerita (problem). Dengan demikian, setiap pembaca diharapkan mengisi kekosongan tersebut.  Dipertegas oleh Iser (Segers, 1980:39), makin banyak ruang-ruang kosong, maka karya sastra makin bernilai. Tentu saja ada batasnya, yaitu bila sebuah karya sastra terlalu banyak mempunyai ruang kosong itu menyebabkan pembaca tidak bisa mengisinya. Tentu hal ini menyebabkan kegelapan dalam karya sastra. Wawasan horizon harapan dan  ruang kosong merupakan pengertian dasar untuk memahami estetika harapan.
Dia mempertahankan pendapat mengenai karya sastra dengan melakukan dialog dengan ahli sastra aliran marxis di Jerman Timur. Anggapan Jauss bahwa (1) sastra tidak hanya merupakan pencerminan dunia nyata yang sifatnya ditentukan oleh realita sosial-ekonomi; (2) sastra seringkali mempelopori perkembangan masyarakat, membayangkan realita sosial dengan pilihan rekaan yang dalam realita belum terwujud sehingga sastra mempunyai fungsi membina sistem masyarakat, entah dengan cara memberontak sistem lama atau mempertahankan sistem yang baru/mapan (Teeuw, 1983:64). Contohnya: novel Madame Bovary karya Flaubert dimuka pengadilan Perancis (1857).
Selanjutnya, berkaitan dengan teori resepsi yakni: tokoh semiotik Macheal Riffaterre, beliau guru besar untuk sastra Perancis modern, pada Columbia Universitay di New York, beliau menganalisis puisi les chats karya Baudelaire dengan perspektif semiotik. Dia menolak aliran yang sudah ada atau aliran yang diberikan oleh Jakobson dan Levi-Strauss (1962) berdasarkan pendekatan struktural-linguistik.
Menurut Riffaterre (1966), penafsiran Jakobson dan Levi-Satruss tentang sajak sama sekali keliru dan tidak sesuai dengan sajak itu. Hal yang dibongkar mengenai karya sastra tersebut dianggapnya sama sekali tidak relevan untuk pembaca dan bagi mereka sama sekali buta the poem as reponse (sajak sebagai jawaban) tidak menempatkan waktu dan sejarah puisi Perancis yang fundamental (Teuww, 1983:64-65). Karya sastra selalu merupakan jawaban terhadap tantangan yang terkandung dalam perkembangan sastra sebelumnya, mungkin secara kongkret dalam sebuah sajak/kumpulan lain. Makna sebuah sajak seringkali baru dapat digali secara lengkap dan tuntas dalam rangka  sejarah sastra itu.
Dalam makalah Riffaterre itu disempurnakan lagi menjadi sebuah buku Semioties of Poetry (1978) dalam pendekatan ini karya sastra sebagai dialektik antara teks dan pembaca; di sisi lain karya sastra sebagai dialektik mimetik dan semiotik. Tugas pembacalah justru menemukan dan menafsirkan respon yang terkandung dalam sajak itu, tetapi hal itu tidak mungkin dengan data-data dan fakta-fakta linguistik saja. Selanjutnya, pembaca juga memberi makna pada karya sastra dan harus mulai dengan menemukan arti (bahasa), unsur-unsurnya, kemudian dia harus meningkat ke semiotik di mana kode karya sastra dibongkar secara struktural.

2. Paradigma Jauss

Sekitar tahun 70-an muncul aliran estetika resepsi di Jerman Barat dengan pusat studi Universitas Konstanz dipelopori Hans Robert Jauss. Dia seorang medievis, peneliti sastra pada abad pertengahan di Eropa Barat, beliau tidak puas dengan pendekatan sastra saat itu, ialah sejarah sastra secara konvensional. Secara kreatif tahun 1970 menerbitkan makalah dengan judul Sejarah Sastra Sebagai Tantangan, makalah itu berisi kajian motif, tema, dan biografi pengarang yang dianggap tidak relevan. Pendapat di atas sama dengan pendapat Vodicka dan Mukarovsky, karena tulisan mereka belum diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman saat itu.
Jauss, lebih menitikberatkan pada segi kesejarahannya, sedangkan Iser menitikberatkan pada pembaca dan karya sastra secara individual dan dalam dimensi waktu tertentu. Teori estetika resepsi Jauss, banyak dipengaruhi oleh sejarah menurut Schiller dan hermeneutik menurut Gadamer.
Menurut Schiller (Jauss, 1983:5), seorang sejarawan tidak hanya secara pasif mendeskripsikan fakta masa lampau, tetapi juga fakta kini yang di dalamnya ia ikut ambil bagian. Selanjutnya, menurut Gadamer (Holub, 1984:39), hermeneutik ialah cara menemukan sesuatu di dalam teks. Adapun menurut Jauss (1981:136) sendiri bahwa hermeneutik meliputi pemahaman, penafsiran, dan penerapan. Pandangan Riffaterre, Iser, dan Barthes dapat digolongkan dalam kelompok konsep hermeneutik ini. Pengaruh Schiller pada Jauss terlihat pada resepsi pembaca sebelumnya, sedangkan pengaruh Gadamer terlihat pada sudut pandang pembaca memahami, menafsirkan, dan merefleksikannya.
Jauss adalah seorang filolog yang mencoba memperbaharui teori filologi sebelumnya yang hanya melihat kesejarahan teks tanpa memperhatikan aspek hermeneutiknya. Tidaklah berlebihan jika dia dianggap sebagai Bapak Filologi Modern karena usahanya untuk memberikan makna kepada karya sastra (teks) lama, meskipun tidak dapaat dikesampingkan bahwa teorinya itu berguna juga pada pemahaman sastra modern.
Jauss mencoba menjembatani kesenjangan antara sastra dan sejarah, antara pendekatan estetik dengan historis. Dia berangkat dari sudut pandang yang kurang mendapat perhatian, baik dari kaum Formalis maupun kaum Marxis. Kaum formalis memandang fakta literer dalam lingkaran tertutup produksi estetik, sedangkan kaum Marxis memandang fakta literer sebagai lingkaran tertutup penggambaran realita. Dengan kata lain, mereka berusaha menghilangkan dimensi lain, yaitu penerimaan dan pengaruhnya yang sebenarnya tidak dapat dielakkan menjadi bagian dari ciri estetik dan fungsi sosialnya. Pembaca, pendengar, dan penonton (audiens) kurang diperhatikan dalam kedua teori sastra itu. Estetika Marxis ortodoks memperlakukan pembaca sama seperti  pengarang; meneliti posisi sosial atau kedudukannya dalam masyarakat. Kaum formalis menginginkan pembaca hanya sebagai subyek yang mengikuti petunjuk di dalam teks untuk membedakan bentuk sastra atau menemukan langkah-langkahnya. Kedua motode ini kurang memperhatikan peran pembaca yang sesungguhnya, sebuah peran sebagai yang dituju pertama-tama bagi karya sastra.
Kehidupan historis karya sastra tidak mungkin ada tanpa partisipasi aktif penerima. Hanya melalui proses mediasi karya sastra masuk ke ruang  horison pengalaman yang selalu berubah dari penerimaan sederhana menjadi penerimaan aktif, dari norma-norma estetik yang telah dimilikinya menjadi produksi (ks) baru yang mendominasi. Kesejarahan sastra memiliki ciri-ciri komunikatif yang mensyarakatkan adanya relasi dialogis dan relasi proses antara karya sastra dan audiens, sehingga hasilnya karya sastra baru dapat dipandang sebagai pembawa pesan dalam merespon, seperti pertanyaan dengan jawaban, dan problem dengan solusinya. Jika sejarah sastra dipandang dalam kontinuitas horison dialog antara karya sastra dan audiens, maka oposisi antara aspek histories dengan aspek estetis juga secara terus-menerus dimediasi. Jalinan dari pengalaman masa lampau sampai dengan pengalaman sastra saat ini terjadi kesejarahaan yang telah membagi-baginya, diikat kembali bersama-sama.  
Hubungan karya sastra dengan pembaca memiliki nilai estetik sebaik pengertian nilai histories. Pengertian estetik terletak pada fakta bahwa penerimaan pertama sastra oleh pembaca melibatkan pengujian nilai estetik jika dibandingkan dengan karya-karya  sastra yang telah dibacanya. Dalam hal pengertian histories dimaknai bahwa pemahaman pembaca pertama akan didukung dan diperkaya oleh mata rantai penerimaan dari generasi ke generasi; dalam hal ini makna historis karya sastra itu akan dapat ditentukan oleh nilai estetik akan dijelaskan.

3. Tujuh Tesis Jauss

Pernyataan-pernyataan di atas, memunculkan sebuah pertanyaan bagaimana sejarah sastra secara metodologis diberi dasar agar jelas pondasinya, kemudian hal itu dapat ditulis  dan dijelaskan kembali dalam tujuh tesis Jauss secara rinci berikut ini.

Tesis 1: Pembaruan sejarah sastra menuntut pembuangan prasangka obyektivitas histories dan dasar-dasar estetika karya sastra dan penggambaran realita yang tradisional. Kesejarahan sastra tidak tergantung pada organisasi fakta-fakta literer yang dibangun oleh post festum, tetapi pada pengalaman kesastraan sebelumnya oleh para pembacanya.

Karya sastra bukanlah obyek yang berdiri sendiri menawarkan pandangan sama kepada setiap pembaca dalam setiap periode. Karya sastra bukanlah sebuah monumen yang secara monologis menyatakan  esensi/makna sepanjang masa. Karya sastra lebih mirip sebagai orkestrasi yang selalu memberi resonansi-resonansi baru di antara para pembacanya dan membebaskan teks dari materi kata-kata dan membawanya pada eksistensi kontemporer. Koherensi karya sastra sebagai sebuah peristiwa terutama terutama dimediasikan/dijembatani dalam horizon harapan pembaca, kritikus, dan pengarang yang lebih dahulu. Mungkin tidak memahami dan menggambarkan sejarah sastra dalam kesejarahan yang unik, tergantung pada harison harapan dinyatakan.
 
Tesis 2: Analisis pengalaman kesastraan pembaca menyisihkan perangkap-perangkap psikologi yang mengancam, jika analisis itu mendeskripsikan penerimaan dan pengaruh karya sastra dalam sistem-sistem harapan yang dapat dinyatakan yang muncul untuk masing-masing dalam momen historis kemunculannya, dari pemahaman genre sebelumnya, dari bentuk dan tema karya-karya sastra yang diakrabinya, dan perbedaan antara poetika dan bahasa praktis.
           
Tesis ini menentang skeptisisme luas yang meragukan apakah analisis pengaruh estetika dapat memberikan makna pada karya sastra atau justru lebih berhasil daripada sosiologi pemahaman yang sederhana. Karya sastra, bahkan karya yang kelihatannya barupun tidaklah benar-benar baru dalam kekosongan informasi, tetapi mempengaruhi para pembacanya dengan pemberitahuan, tanda-tandaa yang mudah dan sulit, cirri-ciri yang akrab atau sindiran yang tidak langsung. Semua itu membangkitkan memori tentang apa yang telah dibacanya membawa pembaca ke dalam tingka laku emosional yang khusus dan dengan permulaannya menimbulkan harapan-harapan pada bagian tengah dan akhir, kemudian dapat dipertahankan keutuhannya/dibalik diorientasikan kembali/bahkan secara ironi disempurnakan dalam pembacaan itu sesuai dengan aturan-aturan jenis tertentu (tipe teksnya). Proses psikis dalam resepsi tek situ, dalam horizon pengalaman estetika utama, tidak hanya melalui seperangkat pengalaman subyektif yang arbitrer, tetapi lebih memberikan arahan-arahan khusus dalam proses persepsi terarah, yang dapat dipahami sesuai dengan linguistik tekstual. Teks yang baru menimbulkan bagi pembaca harison harapan/aturan-aturan yang akrab dari teks-teks yang telah dibaca sebelumnya, dapat divariasikan, dibetulkan, diganti, dan diproduksi.

Tesis 3: Jika direkonstruksi dengan cara ini, horizon harapan karya sastra mengikuti salah satu untuk menentukan cirri-ciri artistiknya dengan macam dan tingkat pengaruhnya pada pembaca yang ditentukan. Jika seseorang mengarakterisasikan perbedaan antara horizon harapan dengan pemunculan karya baru sebagai jarak estetik, maka penerimaannya dapat menghasilkan perubahan hiroson-horison melalui negasi terhadap tingkat kesadaran. Dengan demikian, jarak estetik dapat diobyektivasikan  secara histories sepanjang spectrum reaksi-reaksi audiens dan penentuan kritik (keberhasilan yang spontan, penolakan, penyetujuan di beberapa bagian, pemahaman bertahap/ditunda).

Cara karya sastra pada momen histories kemunculannya memuaskan, mengalahkan, mengecewakan atau menolak harapan-harapan audiens pertamanya benar-benar menyediakan criteria untuk penentuan nilai estetiknya. Jarak antara horizon harapan dengan karya sastra, anataraa keakraban pengalaman-pengalaman estetik sebelumnya dengan perubahan horizon yang diharaapkan pada respon terhadap karya baru, menentukan ciri-ciri artistik karya sastra sesuai sudut pandang estetika resepsi. Semakin kecil jarak estetik ini, yang berarti tidak ada tuntutan-tuntutan pada kesadaran menerima untuk membuat perubahan pada horizon pengalaman yang tidak diketahui, semakin dekat karya itu menjadi  bacaan ringan. Sebaliknya, jika ciri-ciri artistik karya sastra diukur dengan jarak estetik yang dipertentangkan dengan pembaca pertamanya, maka jarak estetik ini, yang pertama kali dialami sebagai perspektif baru yang menyenangkan/tidak dapat tidak muncul bagi pembaca berikutnya pada tingkat yang sama dengan penolakan keaslian karya yang telah terbukti dengan sendirinya.
Dengan demikian, harapan-harapan yang telah diketahuinya menjadi bagian dari pengalaman estetik pembacaan sesudahnya. Misalnya karya-karya klasik yang disebut karya agung termasuk pada perubahan horizon yang kedua itu; keindahan karya agung itu dan makna abadi yang tidak dapat dipertanyakan kembali membuat karya itu dalam pandangan estetik resepsi keadaaannya berbahaya seperti mirip karya seni sebagai hiburan yang mengasyikan. Usaha-usaha khusus diperlukan untuk membaca karya sastra agung itu, tidak dengan butir-butir pengalaman yang sudah menjadi biasa sehingga ciri-ciri artistik karya itu dapat diperoleh kembali

Tesis 4: Rekonstruksi horizon harapan dalam hal ini karya sastra disipta dan diterima pada waktu lampau, menyebabkan seseorang bertanya kembali teks itu, dan mencoba menemukan bagaimana pembaca saat ini memandang dan memahami karya itu. Pendekatan ini membenarkan norma-norma klasik yang tidak dikenal/pemahaman seni (ks) modern, dan mengbaikan jalan lain “semangat zaman” yang umum.

Hal ini menimbulkan pandangan hermeneutic yang berbeda dengan yang dahulu/kini; hal ini menimbulkan kesadaran sejarah pada resepsi yang memediasi kedua pandangan itu, dan membuang diktum metafisik filologis yang telah mapan yang mengaggap karya sastra sebagai karya abadi dan memiliki makna obyektif serta ditentukan untuk seterusnya.
Metode resepsi histories tidak dapat dikesampingkan pemahaman karya sastra pada waktu lampau. Ketika pengarang tidak dikenal, maksudnya tidak dapat diketahui. Hubungannya dengan sumber-sumber dan model-model hanyaa hanya secara tidak langsung dapat diperoleh. Pertanyaan filologis tentang bagaimana teks itu seharusnya dipahami, sesuai dengan maksud dan dimensi waktunya, dapat dijawab dengan baik jika teks itu dipertimbangkan dalam perlawanannya terhadap latar belakang karya itu yang diharapkan oleh pengarang agar dipahami pembacanya, baik secara eksplisit maupun implisit.

Tesis 5: Teori estetika resepsi tidak hanya memandang makna dan bentuk karya sastra dalam penjelasan histories pemahaman. Teori ini juga menuntut kerja individu sebagai bagian dari jajaran kerja lainnya, untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman sastra. Di dalam tahapan dari sejarah resepsi sastra ke sejarah sastra, yang kedua ini memanifestasikan diri sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang. Karya (pemahaman) berikutnya dapat menyelesaikan masalah-masalah moral dan formal yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan dapat menghadirkan masalah baru bagi pemahaman berikutnya.

Tesis 6: Hasil-hasil yang dicapai dalam linguistik melalui perbedaan dan interelasi metodologis analisis sinkronis dan diakronis ialah penyempurnaan observasi diakronis yang sampai kini menjadi metode yang menjadi biasa dalam studi sejarah sastra. Oleh karena, hal ini membuka perubahan dalam perilaku estetik, perspektif sejarah resepsi selalu menemukan relasi fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya yang dahulu. Perspektif ini juga dapat mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun karya-karya yang heterogen dan berbeda waktunya ke dalam kelompok-kelompok yang sama, berlawanan dan teratur sehingga didapat sistem relasi yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu.

Atas dasar semua itu dapat dinyatakan bahwa pencapaian khusus karya sastra dalam masyarakat dapat ditemukan hanya jika fungsi karya sastra itu tidak dipahami sebagai karya imitasi. Jika seseorang melihat momen-momen dalam sejarah ketika karya sastra menumbangkan larangan (tabu) moralitas yang sudah  mengakar atau menawarkan kepada pembaca penyelesaian baru terhadap pendapat-pendapat yang salah dalam hidupnya, kemudian akan didukung oleh  kesepakatan semua pembaca dalam masyarakat, terutama daerah penelitian yang sedikit terbuka bagi para ahli sejarah sastra.

Tesis 7: Perbedaan antara sastra dengan sejarah sastra, antara estetik dengan pengetahuan histories dapat dimediasi jika sejarah  tidak hanya menggambarkan karya sastra  sebagai refleksi proses sejarah umum, tetapi dalam evolusi kesastraannya menemukan fungsi formatif sosialnya yang benar-benar menjadi milik karya sastra itu, secara bersama-sama dengan seni dan power sosial lainnya dalam emansipasi kemanusiaan dari ikatan sifat alamiah, keagamaan, dan sosial. Jika kritikus sastra menginginkan untuk mengatasi kekurangan pada arti historis, maka teori estetika resepsi ini mencoba menjawab pertanyaan, mengapa dan untuk tujuan apa seseorang tetap mempelajari sejarah sastra?

Demikianlah beberapa pokok pemikiran Jauss yang disebutnya sebagai tujuh tesis. Dengan tujuh tesis ini, dia mengharapkan dan memberikan kepada pembaca, untuk melakukan sesuatu  pendekatan yang sistematik terhadap kegiatan penulisan sejarah sastra.
Pada abad pertengahan misalnya, karya-karya sastra justru dipahami melalui kesesuaian dengan harapan pembaca. Kaum feodal ingin mempertahankan konvensi-konvensi sastra yang ada sesuai dengan konvensi social. Kebaruan hanyalah sah wasangka masyarakat modern yang dipengaruhi oleh kaum kapitalis yang selalu menuntut adanya produksi-produksi baru (Holub, 1984:63). 
Menurut Holub  (1984:61), melihat kontradiksi teori estetika resepsi Jauss, di satu pihak Jauss ingin menghindari pandangan sejarah obyektif, dia menginginkan peran aktif pembaca kini; di lain pihak dia menghendaki kendala psikologis pada diri peneliti dihindari. Oleh karena itu,  untuk mengurangi versi-versi reserpsi dan  menjauhkan respon individual, Jauss kembali kepada linguistik tesktual.
Kekontradiksian lain terdapat pada pandangannya tentang nilai estetik karya sastra. Menurut Jauss, niulai estetik di dapat dengan adanya jarak estetik horizon harapan pembaca yang berbeda dengan realitaa karya sastra. Hal ini mirip dengan defamiliarisasi menurut kaum formalis (Shklovsky). Jauss menolak horizon yang dipenuhi sebagai penentu nilai estetis. Pandangan terakhir Jauss, menjadi kontradiksi karena karya-karya agung itu sebagai karya yang tidak dipahami hanya dengan negativitas saja (Holub, 1984:72)
Terlepas dari pro dan kontra terhadap pandangan Jauss itu, kehadiran teorinya sangat penting dalam pemerkaya teori krik sastra. Teori ini merupakan pilihan pemecahan bagi kedua teori yang berbeda, yaitu kritik obyektif dan mimetik sebagai penghubung keduanya yang sering disebut sebagai kritik pragmatik.

DAFTAR RUJUKAN

Abrams, M.H. 1979. Miror and Lamp.  London–New York: Oxford University Press.
Hernadi, Paul. 1981. What is Critism? Korea: Indiana University Press.
Holub, Robert C. 1984. Reception Theory, A Critical Introduction. New York: Methuen Co.
Jauss, Hans Robert. 1974. “Literary History as a Challenge to Literary Theory” dalam Ralph Cohen (ed.). New Directions in Literary History. London: Routledge & Keegan Paul.
-------------, 1983. Toward an Aesthetic of Receptions. Diterjemahkan dalam Bahasa Inggris oleh Tomothy Bahti. Mineapolis: University of Minnesota Press.
Segers, Rien T. 1978.  Evaluasion of Literary Texts. Lisse: The Peter de Ridder Press. 
Teeuw, A. 1983.  Membaca dan Menilai Sastra. Jakrta: PT Gramedia.    
Vodicka, Felix. 1964. “The History of the Echo of Literary Works.” dalam A Prague School Reader on Esthetisc, Leterary Structure and Style. Washington: Geargetown University Press.


Tidak ada komentar: