METODE DEKONSTRUKSI JACQUES DERRIDA
Sebagai
acuan utama tulisan ini adalah buku Nicholas Royle yang berjudul Derrida.[1]
Hal yang menarik dari pemikiran Derrida adalah kemampuannya untuk menggambarkan
sekaligus mengubah pikiran kita tentang dunia, termasuk di dalamnya tentang
kematian, kehidupan, budaya, filsafat, sastra, dan tentang politik. Menurut
penelitian yang dilakukan oleh Royle, filsafat Derrida setidaknya berdasarkan
pada dua tujuan, yakni menggambarkan dan mengubah cara berpikir pembacanya
ataupun pendengarnya.
Tentu
saja di dalam pandangan umum, tindak mengubah dan menggambarkan realitas adalah
dua jenis tindakan yang berbeda. Untuk menggambarkan berarti untuk menyatakan
apa adanya realitas yang ditemui, baik itu realitas alam maupun realitas
sosial. Untuk menggambarkan berarti orang sudah terlebih dahulu mengandaikan
adanya kondisi-kondisi obyektif nyata yang sudah ada sebelumnya (pre-existing
condition) di dalam realitas. Sebaliknya untuk mengubah orang perlu
berpikir dengan cara yang berbeda. Namun bisakah pikiran yang berbeda juga
mengubah realitas ke arah yang berbeda? Inilah pertanyaan yang kiranya menjadi
titik awal yang pas untuk membahas pemikiran Derrida.[2]
Mengubah
Teks
Mengubah
realitas menurut Derrida juga berarti mengubah teks, dan teks itu sendiri
adalah realitas kehidupan manusia. Untuk mengubah realitas orang perlu terlebih
dahulu mampu memahami dan menggambarkan realitas. Ada keterkaitan yang mendalam
antara menggambarkan (to describe) dan mengubah (to transform).
Titik berangkat Derrida adalah teori tindakan tutur (speech act theory)
yang banyak dikembangkan di dalam teori komunikasi maupun linguistik. Sebelum
merumuskan pemikirannya sendiri secara orisinal, ia banyak mendalami teori
tindakan tutur, terutama seperti yang dirumuskan oleh J.L Austin. Buku yang
menjadi acuan utama Derrida adalah How to do Things with Words,
karangan Austin. Menurut Austin setiap tindakan berbicara manusia dapat
diartikan dengan dua cara, yakni secara konstatif, atau secara performatif.
Pernyataan
konstatif adalah pernyataan tentang fakta sebagaimana adanya. Biasanya
pernyataan ini sifatnya deskriptif, yakni menggambarkan sesuatu secara langsung
tanpa penilaian apa pun. Misalnya ketika sedang menulis di-notebook. Atau sedang membaca tulisan ini. Kedua pernyataan itu
adalah pernyataan konstatif. Di sisi lain pernyataan performatif adalah pernyataan
yang tidak hanya melibatkan kata-kata, tetapi juga perbuatan yang menyertai
kata-kata itu. Biasanya pernyataan performatif itu berbentuk janji, ancaman,
doa, pengakuan, tantangan, taruhan, deklarasi perang, dan deklarasi. Dengan
kata lain pernyataan performatif tidak hanya mau menggambarkan fakta, melainkan
juga mau mengubahnya. Menyatakan secara performatif berarti menyatakan
sekaligus melakukan sesuatu.
Di
dalam upacara pernikahan, mempelai pria dan wanita menyatakan bahwa mereka siap
untuk selalu setia sampai mati, baik dalam kondisi susah maupun senang.
Pernyataan “saya bersedia” tidak hanya berupa pemaparan atas keputusan
masing-masing mempelai, tetapi juga pernyataan yang membuahkan tindakan. Dengan
kata lain sejak hari itu, kedua mempelai siap untuk saling mencintai secara
penuh satu sama lain. Hal yang sama kiranya berlaku untuk pernyataan perang.
Sebuah negara yang menyatakan perang terhadap negara lain juga mengandaikan
adanya tindakan nyata, seperti memobilisasi pasukan, mengungsikan warga-warga
di daerah berbahaya, dan sebagainya.
Tulisan-tulisan
Derrida sering kali berupa pembacaan ulang terhadap salah satu teks yang cukup
berpengaruh di dalam sejarah filsafat. Di dalam proses pembacaannya, ia tidak
hanya menggambarkan apa yang menjadi maksud asli pengarang teks, tetapi juga
mengubah pemahaman kita tentang teks tersebut. Akan tetapi jangan buruk sangka
terlebih dahulu. Derrida adalah seorang pembaca yang sangat cermat. Ia sangat
sabar meneliti teks-teks yang ia baca. Beberapa teks yang pernah dimaknainya
kembali adalah tulisan Plato yang berjudul Phaedrus, tulisan Shakespeare yang
berjudul Romeo and Juliet, tulisan
Kafka yang berjudul Before the Law,
dan bahkan American Declaration of
Independence.
Sekilas
orang akan mengira, bahwa Derrida hanya menggambarkan kembali apa yang sudah
tertulis di dalam teks. Namun pendapat ini hanya separuh benar. Ia memang
seorang pembaca dan pengajar yang sangat tajam dan detail. Namun ia juga
mengubah pemahaman kita tentang teks-teks yang ia baca. Ia menjauh dari
tafsiran dominan, dan membuat tafsirannya sendiri atas teks-teks yang ia baca.
Di tangan Derrida teks-teks kuno itu berubah menjadi suatu teks yang
menyegarkan dan penuh dengan pemahaman-pemahaman baru yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Dapatlah dikatakan bahwa Derrida tidak hanya melakukan tindakan konstatif,
yakni menggambarkan teks, tetapi juga tindakan performatif, yakni mengubah teks
tersebut menjadi sesuatu yang baru.[3]
Dekonstruksi
Dengan
demikian Derrida tidak hanya menggambarkan maksud teks-teks yang dibacanya
secara persis, tetapi juga mengubahnya menjadi teks yang memiliki makna baru.
Dua konsep itu yakni deskripsi/penggambaran (description) dan
transformasi (transformation) dapat digabungkan menjadi dekonstruksi (deconstruction).
Sekilas konsep dekonstruksi ini tampak aneh dan kontradiktif. Bagaimana mungkin
membaca secara tepat sekaligus mengembangkan makna teks dengan mengubahnya?
Namun itulah yang kiranya dilakukan Derrida. Menurut penelitian Nicholas Royle,
Derrida sendiri tidak begitu suka dengan kata tersebut. Konsep itu pun
melepaskan diri dari Derrida, dan mulai menjadi sebuah paham, yakni sebuah
isme. Sejak saat itu konsep dekonstruksi terus menjadi subyek perdebatan banyak
pemikir lintas disiplin ilmu.
Royle
bahkan berpendapat bahwa kita dapat memahami filsafat Derrida tanpa menggunakan
konsep dekonstruksi sama sekali. Memang hal itu akan sangat sulit, namun bukan
berarti tidak mungkin. Di dalam kamus filsafat dan kamus Bahasa Inggris, seperti
dikutip oleh Royle, dekonstruksi didefinisikan sebagai suatu tindakan untuk
mengubah konstruksi dari suatu benda. Di dalam kamus filsafat, dekonstruksi
didefinisikan sebagai suatu strategi analisis yang dikaitkan dengan filsuf
Perancis, Jacques Derrida, yang bertujuan untuk membuka pengandaian-pengandaian
metafisik yang sebelumnya tidak dipertanyakan, serta membuka kontradiksi
internal di dalam filsafat maupun teori-teori bahasa.
Royle
sendiri mendefinisikan dekonstruksi sebagai sesuatu yang bukan seperti yang
dipikirkan orang banyak, pengalaman akan yang tak mungkin, cara berpikir untuk
menggoyang apa yang sudah dianggap mapan, apa yang membuat identitas dari
sesuatu itu juga sekaligus bukan merupakan identitas, dan masa depan yang masih
belum ada itu sendiri.[4] Tentu
saja beragam definisi tersebut pasti membuat orang bingung. Namun Derrida
sendiri tidak pernah secara jelas mendefinisikan arti dari konsep dekonstruksi.
Ia hanya menerapkannya dan membiarkan pembacanya merumuskan sendiri. Maka
dapatlah dikatakan bahwa hakikat dari dekonstruksi itu sifatnya plural. Tidak
ada satu definisi utuh yang bisa menjelaskan makna terdalam dari dekonstruksi.
Dekonstruksi
juga tidak hanya bergerak di tataran filsafat, melainkan juga menyentuh
literatur, politik, seni, arsitektur, dan bahkan ilmu-ilmu alam. Di dalam
kajian lintas ilmu, dekonstruksi dapat digambarkan sebagai suatu kekuatan untuk
mengubah dan membelah kepastian dan pakem-pakem lama yang tidak lagi
dipertanyakan. Di dalam tulisan-tulisannya, Derrida berulang kali menuliskan
bahwa kekuatan untuk mengubah dan membelah itu sebenarnya sudah terkandung di
dalam teks itu sendiri, yang ia lakukan hanya mengaktifkan kekuatan itu, dan
kemudian menyebarkannya ke keseluruhan teks. Derrida mau melakukan desedimentasi
terhadap teks, dan membuka kemungkinan-kemungkinan baru yang sebelumnya tidak
terpikirkan. Dalam arti ini ia mau menciptakan gempa di dalam teks.
Dekonstruksi
sebagai Gempa Tekstual
Di
dalam teks dekonstruksi hendak menciptakan gempa dengan terlebih dahulu
mengungkapkan kontradiksi di dalam teks tersebut. Hal tersebut hanya bisa
dilakukan, bila teks sudah dibaca dan dimengerti secara teliti. Sekecil apa pun
kontradiksi yang ada, tetap saja ia mampu membuka kemungkinan-kemungkinan baru
yang sebelumnya tak terpikirkan bagi keseluruhan teks terkait. Di dalam proses
penelusurannya terhadap teks-teks filsafat yang ada, Derrida tidak
memperlakukan para filsuf sebelum dia sebagai individu, melainkan sebagai suatu
teka teki yang harus dipahami dan kemudian dipecahkan. Inilah yang menyebabkan
tulisan-tulisan Derrida terasa bagai labirin yang tak berujung. Ini juga yang
menyebabkan sulitnya kita menentukan posisi khas Derrida.
Setiap
karyanya harus selalu ditempatkan pada situasi dan konteks yang tepat, yang
melatarbelakangi teks tersebut. Dekonstruksi yang diterapkan Derrida tidak mau
memberikan pandangan umum mengenai filsafat, melainkan lebih tertarik bermain
dengan detail-detail yang sebelumnya tidak diperhatikan. Bahkan satu kalimat
kecil yang tampaknya tidak bermakna bisa menjadi titik tolak untuk mengubah
makna keseluruhan teks. Derrida lebih jauh menambahkan, bahwa dekonstruksi
sudah selalu berada di dalam teks itu sendiri. Dengan kata lain setiap teks
sudah selalu memiliki potensi untuk mendekonstruksi, atau mendestabilisasi,
dirinya sendiri. Dengan dasar ini ia pernah menyatakan, bahwa segala sesuatu di
dalam teks selalu bisa dipisah dan dibagi terus menerus. Tidak ada bagian dari
teks yang sifatnya stagnan atau permanen. Tidak ada atom di dalam teks.
Jika
tidak ada kesatuan utuh yang sifatnya permanen di dalam teks, maka teks selalu
bisa dibaca dan dimengerti dengan cara yang selalu berbeda. Tidak ada tafsiran
dominan yang sifatnya otoritatif. Dengan ini kita bisa memahami beberapa konsep
lainnya yang kiranya identik dengan pemikiran Derrida, yakni differance, jejak-jejak,
dan iterabilitas. Kata differance
adalah kata yang aneh. Kata ini tidak terdapat di dalam kamus bahasa mana pun.
Kata itu sendiri terdiri dari dua kata yakni untuk membedakan (to differ),
dan untuk menunda kepastian (to defer). Kebenaran dan makna di dalam
teks harus terus dibedakan dan ditangguhkan kepastiannya.[5]
Karena
kebenaran selalu harus, dan mampu, ditangguhkan dan dibedakan terus menerus,
maka kebenaran itu sendiri pada dasarnya tidak ada. Menurut Derrida yang bisa
kita temukan dan ketahui adalah jejak-jejak dari kebenaran itu sendiri, dan
bukan kebenaran pada dirinya sendiri. Inilah yang dimaksud dengan konsep jejak
(trace) di dalam pemikiran Derrida. Sementara iterabilitas adalah
kemampuan suatu teks untuk selalu dimaknai terus menerus di dalam konteks yang
berbeda-beda. Teks adalah sesuatu yang lentur dan lincah. Teks adalah tanda
yang bisa terus diulang dan dibedakan sesuai dengan horizon pembaca dan
penafsirnya.
Di dalam
bukunya tentang Derrida, Royle mengajukan tesis bahwa dekonstruksi Derrida
adalah sebuah gempa tekstual. Tujuan utama dekonstruksi adalah untuk
menggoyang, memindahkan, dan mengubah semua konsep bahasa, psikologis,
tekstual, estetis, historis, etis, sosial, politik, dan bahkan religiositas. Di
dalam tulisannya tentang Plato, Derrida tidak hanya menggambarkan kembali apa
yang ingin disampaikan oleh Plato, tetapi ia juga secara kreatif mengubah dan
menafsirkan apa yang dimaksud Plato secara baru dan tak terduga. Hal yang sama
juga diterapkannya pada tulisan-tulisan cerita pendek yang ditulis oleh Kafka,
dan bahkan skenario drama yang ditulis oleh Shakespeare. Dalam arti ini
dekonstruksi lebih dari sekedar metode, terutama jika metode dipahami secara
sempit sebagai suatu cara untuk mendekati dan memahami realitas. Dekonstruksi
adalah suatu upaya untuk memahami teks, baik teks literatur ataupun realitas
itu sendiri, lalu mengubahnya untuk memperoleh makna yang baru. Royle bahkan
menegaskan bahwa dekonstruksi itu memiliki sifat mistik untuk mengubah dan
menggoyang kepastian makna teks.[6]
Derrida
juga menambahkan bahwa inti dekonstruksi adalah mengaburkan perbedaan-perbedaan
yang telah dibuat oleh manusia, terutama perbedaan yang sifatnya oposisi,
seperti baik-buruk, ada-tidak ada, dan sebagainya. Tidak hanya itu dekonstruksi
juga mau memahami arti kata ‘dan’ dengan cara berbeda. ‘Dan’ fungsinya adalah
membedakan sekaligus menambahkan; baik ‘dan’ buruk, Ani dan Dewi, makan nasi
dan minum air. Lebih jauh Derrida juga menambahkan, bahwa karena kata ‘dan’
selalu memiliki dua arti, maka tidak ada kepastian di dalamnya. Dengan kata
lain arti kata ‘dan’ tidaklah pernah stabil. ‘Dan’ bisa berarti oposisi
sekaligus menambahkan. Karena itu oposisi dan menambahkan itu sifatnya saling
terkait. Maka oposisi tidak pernah stabil, karena itu memiliki potensi
untuk mengubah, dan menambahkan apa yang sebelumnya tidak ada.
Menurut
Derrida setiap teks selalu sudah mengandung tegangan dan paradoks di dalamnya.
Bahkan dapat juga dikatakan, yang terpenting di dalam teks adalah menemukan apa
yang tak terkatakan, dan kemudian mengolahnya menjadi suatu pemaknaan yang
baru. Di dalam pembacaannya terhadap tulisan-tulisan Austin, terutama yang
terkait dengan linguistik (filsafat bahasa), Derrida menemukan kontradiksi di
dalam konsep Austin mengenai pernyataan performatif. Bagi Derrida setiap bentuk
pernyataan performatif, yakni pernyataan yang disertai dengan tindakan ataupun
penegasan, selalu terkandung kemungkinan untuk tidak menjadi tindakan ataupun
penegasan. Misalnya di dalam pernyataan “saya berjanji”, ada kemungkinan janji
tersebut tidak akan terwujud, sehingga pernyataan itu tidak akan menjadi
pernyataan performatif. Kemungkinan bahwa suatu pernyataan performatif tidak
akan pernah menjadi tindakan bukanlah kemungkinan sampingan, melainkan sudah
selalu merupakan kontradiksi di dalam pernyataan itu sendiri.[7]
Simpulan
Dekonstruksi
adalah sebuah metode sekaligus melampaui metode itu sendiri. Dekonstruksi tidak
hanya menggambarkan teks, baik teks literatur ataupun teks sebagai realitas,
apa adanya, melainkan juga mau mengungkap kontradiksi yang terletak di dalam detail
teks, sehingga pemaknaan dan arti baru yang sebelumnya tidak terungkap bisa
tampil dan justru menjadi dominan. Dalam bahasa Derrida dekonstruksi hendak
menemukan kontradiksi dan menggetarkan seluruh teks. Menurut Royle di dalam
tulisannya tentang Derrida, dekonstruksi adalah sebuah gempa yang menggetarkan
seluruh teks, dan mengubahnya ke arah yang sama sekali tidak terduga.
Kemungkinan untuk melakukan dekonstruksi sudah selalu terkandung di dalam teks
itu sendiri. Kemungkinan yang tampak seperti hantu, namun sama nyatanya seperti
teks itu sendiri. Dekonstruksi itu sendiri adalah teks.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar