Rabu, 31 Juli 2013

Teori Kepribadian C. G. Jung

Teori Kepribadian C. G. Jung

Oleh
Alfian Rokhmansyah


          Garis besar dari teori kejiwaan Jung adalah bahwa kepribadian seseorang terdiri dari dua alam yaitu alam kesadaran (consciousness) dan ketaksadaran (unconsciousness). Antara kesadaran dan ketaksadaran menurut Jung sama pentingnya dalam menentukan perilaku seseorang. Kehidupan alam kesadaran dan alam ketaksadaran sangat berlawanan, misalnya jika seseorang yang kesadarannya bertipe pemikir maka ketaksadarannya bertipe perasa, sedangkan orang yang kesadarannya ekstrovert maka ketaksadarannya introvert, dan begitu pula sebaliknya (Suryabrata, 2002: 163).
          Jung tidak bicara mengenai kepribadian melainkan mengenai psyche, yaitu totalitas segala peristiwa psikis baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Jadi menurutnya jiwa manusia terdiri dari dua alam, yaitu alam sadar dan alam tak sadar. Kedua alam tersebut saling mengisi dan berhubungan secara kompensatoris. Alam sadar berfungsi untuk menyesuaikan terhadap dunia luar, sedangkan alam tak sadar berfungsi untuk menyesuaikan terhadap dunia dalam. Batas antara keduanya tidak tetap atau berubah-ubah, artinya wilayah kesadaran dan ketaksadaran selalu bertambah atau berkurang (Suryabrata, 2010: 156-157).
          Struktur kepribadian menurut Jung dapat dilihat pada gambar di bawah ini (Alwisol, 2011: 42).


Gambar 1. Struktur Kepribadian menurut Jung


A. Struktur Kesadaran

          Struktur kesadaran mempunyai dua komponen pokok, yaitu fungsi jiwa dan sikap jiwa, yang masing-masing mempunyai peranan penting dalam orientasi manusia dalam dunianya. Sikap jiwa dibedakan menjadi introvert dan ekstrovert, dan fungsi jiwa dibedakan menjadi pikiran, intuisi, perasaan, dan pengindraan.

1. Sikap Jiwa
          Sikap jiwa ialah energi psikis atau libido yang menjelma dalam bentuk orientasi manusia terhadap dunianya. Arah energi psikis itu dapat ke luar ataupun ke dalam, dan demikian pula arah orientasi manusia terhadap dunianya, dapat ke luar ataupun ke dalam. Berdasarkan atas sikap jiwanya manusia, dapat digolongkan menjadi dua tipe, yaitu tipe ekstrovert dan introvert (Suryabrata, 2002: 161-162).
          Menurut Jung, arti dari sifat ekstrovert dan introvrt bukanlah karena orang introvert lebih pemalu atau orang ekstrovert lebih mudah bergaul. Akan tetapi, perbedaan itu didasarkan pada kecenderungan kepribadian yang mengarah pada diri sendiri atau orang lain. Kedua sikap yang belawanan itu ada dalam kepribadian, tetapi biasanya salah satunya bersifat dominan dan sadar, sedangkan yang lainnya kurang dominan dan tak sadar (melalui Alwisol, 2011: 46).
a.       Introvert (Introversion)
          Introvert adalah suatu orientasi ke dalam diri sendiri. Secara singkat seorang introvert adalah orang yang cenderung menarik diri dari kontak sosial. Minat dan perhatiannya lebih terfokus pada pikiran dan pengalamannya sendiri. Menurut Jung, orang introvert memfokuskan libidonya ke dalam, dan tenggelam ke dalam diri sendiri, khususnya pada saat-saat mengalami ketegangan dan tekanan batin. Seorang introvert cenderung merasa mampu dalam upaya mencukupi diri sendiri. Sebaliknya, seorang ekstrovert membutuhkan orang lain.
          The first (introverton) is normally characterized by a hesitant, reflective, retiring nature that keeps itself to itself, shrinks from objects, is always slightly on the defensive and prefers to hide behind mistrustful scrutiny (Jung, 1966: 44).

          Seorang introvert berciri-ciri refleksif, serius, pendiam, suka menyelidiki, independen, subyektif, punya disiplin diri yang tinggi, kadang sulit menggungkapkan diri, hati-hati dan teliti. Sensitivitas orang introvert lebih tinggi karena itu mereka lebih mudah tersinggung.
          Introvert menaruh perhatian terhadap faktor-faktor subyektif (subjective factors) dan tanggapan internal (inner response). Oleh karena itu, orang bersifat introvert umumnya dipengaruhi oleh dunia subyektif, yaitu dunia di dalam dirinya sendiri sehingga orientasinya tertuju ke dalam. Orang ini seperti memiliki dunia sendiri. Orang dengan tipe ini akan menikmati kesendiriannya dan akan mencurahkan perhatiannya terhadap hal-hal yang sifatnya subyektif. Oleh kerena itu, ia akan tampak lebih bisa mandiri dalam melakukan penilaian. Pikiran, perasaan, serta tindakan-tindakannya ditentukan oleh faktor-faktor subyektif.
          Penyesuaian dengan dunia luar kurang baik sehingga umumnya jiwanya tertutup, sukar bergaul, sukar berhubungan dengan orang lain, kurang dapat menarik hati orang lain. Akan tetapi, penyesuaian dengan batinnya sendiri baik. Hal yang membahayakan untuk tipe ini adalah ketika jarak dengan dunia obyektif terlalu jauh sehingga orang luar lepas dari dunia obyektifnya. Hal ini berakibat pada teman di sekitarnya yang hanya berjumlah sedikit namun memiliki kualitas kesetiaan yang baik. Dengan kata lain, loyalitas teman dari seorang introvert sangat tinggi. Di sisi lain, orang dengan tipe ini lebih pemalu dalam situasi sosial. Sifat hati-hati yang berlebihan dalam dirinya terkadang mengakibatkan sifat pesimistis.
          Pada alam sadarnya, seorang introvert dapat menyadari kondisi-kondisi eksternal dengan baik. Akan tetapi, faktor-faktor subjektif diyakininya sebagai pendorong motivasinya. Jung menguraikan perilaku introvert sebagai orang pendiam, menjauhkan diri dari kejadian-kejadian luar (tertutup), tidak mau terlibat dengan dunia objektif, tidak senang berada di tengah orang banyak, merasa kesepian dan kehilangan di tengah orang banyak. Ia melakukan sesuatu menurut caranya sendiri, menutup diri terhadap pengaruh dunia luar. Ia juga termasuk orang yang gampang cemburu dan iri hati. Orang tipe ini juga biasanya tidak mudah menerima kritik dari orang lain, egois dan egosentris. Dalam kondisi kurang normal ia menjadi orang yang pesimis dan cemas karena dunia dan manusia siap menghancurkannya. Dunianya adalah suatu pelabuhan yang aman. Tempat tinggalnya (rumah) adalah yang teraman. Teman pribadinya adalah teman yang terbaik.
          The introvert is not forthcoming, he is as though in continual retreat before the object. He holds aloof from external happenings, does not join in, has a distinct dislike of society as soon as he finds himself among too many people. In a large gathering he feels lonely and lost. The more crowded it is, the greater becomes his resistance. He is not in the least "with it," and has no love of enthusiastic get-togethers. He is not a good mixer. What he does, he does in his own way, barricading himself against influences from outside. ... He is easily mistrustful, self-willed, often suffers from inferiority feelings and for this reason is also envious. He confronts the world with an elaborate defensive system compounded of scrupulosity, pedantry, frugality, cautiousness, painful conscientiousness, stifflipped rectitude, politeness, and open-eyed distrust. ... Undernormal conditions he is pessimistic and worried, because the world and human beings are not in the least good but crush him. ... His own world is a safe harbour, a carefully tended and walled-in garden, closed to the public and hidden from prying eyes. His own company is the best (Jung dalam Sharp, 1987: 66).

          Ketaksadaran mengambil alih relasi objektifnya. Dalam situasi psikologis ini orang introvert dapat menggunakan tindakan pembelaan diri. Sementara itu, ia membuat usaha yang sia-sia untuk memaksa dirinya, memaksa kehendaknya pada objek. Hal ini menguras tenaga. Dalam kasus yang kurang ekstrem, orang introvert lebih konservatif, memiliki kebiasaan yang cenderung subjektif, egosentris berlebihan di sisi yang satu dan suatu dorongan kuat ketaksadaran di sisi yang lain (Naisaban, 2003: 20).

b.      Ekstrovert (Extraversion)
          Ekstrovert adalah suatu kecenderungan yang mengarahkan kepribadian lebih banyak ke luar daripada ke dalam diri sendiri. Seorang ekstrovert memiliki sifat sosial, lebih banyak berbuat daripada merenung dan berpikir. Orang ekstrovert adalah orang yang penuh motif-motif, yang dikoordinasi oleh kejadian-kejadian eksternal.
          The second (extraversion) is normally characterized by an out going, candid, and accommodating nature that adapt easily to a given situation, quickly forms attachment, and setting aside any possible misgivings, will often venture forth with careless confidence into unknown situations (Jung, 1966: 44).

          Tipe ekstrovert ditandai dengan keterbukaan diri, lebih jujur, mudah beradaptasi dengan situasi tertentu, berani melanggar aturan, memiliki rasa toleransi yang lebih tinggi, dan lebih mudah terlibat dalam suatu relasi.
If a man so thinks, feels, and acts, in a word so 'lives', as to correspond 'directly' with objective conditions and their claims, whether in a good sense or ill, he is extraverted. His life makes it perfectly clear that it is the objective rather than the subjective value which plays the greater role as the determining factor of his consciousness. He naturally has subjective values, but their determining power has less importance than the external objective conditions. Never, therefore, does he expect to find any absolute factors in his own inner life, since the only ones he knows are outside himself (Jung, 1923: 417).

          Orang ekstrovert terutama dipengaruhi oleh dunia obyektif, yaitu dunia di luar dirinya sehingga orientasinya terutama tertuju keluar. Pikiran, perasaan, serta tindakannya ditentukan oleh lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan nonsosial. Dia bersikap positif terhadap lingkungannya. Ia mempunyai sifat terbuka, mudah bergaul, dan lancar dalam membina hubungan dengan orang lain. Hal berbahaya bagi tipe ekstrovert adalah ketika ikatan dengan dunia luar terlalu kuat sehingga ia akan tenggelam dalam dunia objektif, kehilangan dirinya atau asing terhadap dunia subyektifnya sendiri (Suryabrata, 2010: 162).
          Walaupun setiap orang dipengaruhi data objektif, tetapi untuk orang bertipe ekstrovert, pemikiran, keputusan, dan seluruh perilakunya ditentukan oleh kondisi objektif dibandingkan pandangan-pandangan pribadinya. Sebagai contoh, ada orang yang rela dirinya ditertawakan, dengan tujuan supaya orang lain tertawa. Orang ini sangat menaruh perhatian pada orang lain dan dunia sekitarnya. Orang dengan tipe seperti ini akan siap untuk menerima dan mengadopsi standar yang berlaku, tergantung dalam usaha untuk memberikan kesan yang baik. Dia selalu memberikan perhatian kepada orang-orang yang dekat dengannya. Orang ini akan siap berkorban untuk orang lain.

2. Fungsi Jiwa
          Menurut Jung, fungsi jiwa merupakan suatu bentuk aktivitas kejiwaan yang secara teori tidak berubah dalam lingkungan yang berbeda-beda. Jung membedakan empat pokok fungsi jiwa, yaitu pikiran dan perasaan yang merupakan fungsi rasional, serta pengindraan dan intuisi yang merupakan fungsi irrasional. Fungsi rasional bekerja dengan penilaian melalui pikiran, menilai atas dasar benar dan salah, sedangkan perasaan menilai atas dasar menyenangkan dan tak menyenangkan. Fungsi irrasional tidak memberikan penilaian, melainkan hanya semata-mata mendapat pengamatan sadar-indriah melalui pengindraan, sedangkan intuisi mendapat pengamatan secara tak sadar-naluriah (Suryabrata, 2010: 158).
          Fungsi berpikir mengacu pada proses kognitif pikiran, pengindraan adalah persepsi dengan cara fisik organ-organ indera, perasaan adalah fungsi dari penilaian subjektif, dan intuisi mengacu pada persepsi dengan cara ketaksadaran.
          For a complete orientation of consciousness all the functions should cooperate equally; thinking should make cognition and forming of judgements possible; feeling should say to us how and in what way a thing is important or unimportant for us; sensation by means of sight, hearing, taste, etc., should enable us to perceive and grip on to concrete reality; and finally intuition should permit us to divine the more or less hidden possibilities and background of situation, since these hidden factors also belong to a complete picture of a given moment (Jung, 1942: 305).

          Pada dasarnya, setiap individu memiliki empat fungsi. Akan tetapi umumnya hanya salah satu fungsi saja yang lebih dominan dibandingkan fungsi yang lain. Fungsi yang dominan tersebut merupakan fungsi superior dan menentukan tipe orangnya. Keempat fungsi tersebut saling berpasangan sesuai dengan fungsi rasional maupun irrasionalnya, pemikir berpasangan dengan perasa, pengindraan berpasangan dengan intuitif. Pasangan dari fungsi superior adalah fungsi inferior yang di repres pada taraf tak sadar (ketaksadaran) (Suryabrata, 2010: 160-161).
a.       Fungsi Berpikir (Thinking)
          Orang dengan fungsi berpikir biasanya bekerja atas dasar logika, objektivitas, dan bermental analitis. Berpikir termasuk juga dalam fungsi penilai yang didasarkan pada logika.
          Thinking is that psychological function which, in accordance with its own laws, brings given presentations into conceptual connection. It is an apperceptive activity and, such as, must be differentiated into active and passive thought-activity. Active thinking is an act of will, passive thinking an occurrence. In the former case, I submit the representation to a deliberate act of judgment; in the latter case, conceptual connections establish themselves, and judgments are formed which may even contradict my aim... (Jung, 1923: 611).

          Orang bertipe pemikir biasanya impersonal, sangat menjunjung tinggi logika, berusaha menemukan kriteria objektif sebelum memutuskan sesuatu. Mereka adalah orang yang mampu bernegoisasi, sangat tekun dengan kerjanya dan suka menganalisis. Mereka sulit mengungkapkan perasaan, umumnya kurang emosional, kurang tertarik pada perasaan orang lain, kadang menyakiti orang lain tanpa mereka sadari, senang membuat analisis, kadang tampak berhati keras, dan kadang kurang memperhatikan keinginan orang lain. Dalam pergaulan mereka umumnya tampak dingin, menekan emosi, membutuhkan sistem yang teratur dalam hidupnya, dan cenderung mengkritik seseorang sebagai jalan menuju perkembangan hidup (Naisaban, 2003: 26-27).

b.      Fungsi Perasa (Feeling)
          Fungsi perasa adalah proses rasional yang membuat keputusan atas dasar
sistem nilai. Salah satu kebaikan dalam fungsi ini
, yaitu mereka memiliki kemampuan untuk mengerti perasaan-perasaan orang lain. Kemampuan empati ini diakui dan disadari oleh fungsi-fungsi yang lain, walaupun sangat sulit bagi orang yang berfungsi berpikir untuk memahaminya (Naisaban, 2003: 28).
          Feeling is primarily a process that takes place between the ego and a given content, a process, moreover, that imparts to the content a definite value in the sense of acceptance of rejection ('like' or 'dislike'); but it can also appear, as it were, isolated, in the form of 'mood', quite apart from the momentary contents of consciousness or momentary sensations (Jung, 1923: 545).

          Perasaan merupakan proses subjektif yang umumnya tidak terpengaruh oleh rangsangan dari luar. Perasaan acuh tak acuh yang memiliki rasa ketidakpedulian menyatakan suatu penilaian tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa perasaan merupakan proses menilai yang berbeda dengan penilaian secara intelektual (pikiran). Penilaian ini hanya semata-mata berkaitan dengan kriteria subjektif dari penerimaan atau penolakan.
          Fungsi perasa sangat membutuhkan harmonisasi. Kebutuhan ini begitu
kuatnya sehingga kadang mereka sangat hati-hati dalam membaca kebutuhan dan
perilaku orang lain. Ia berusaha menghindari pertentangan, terkadang sulit untuk
menerima kritik, cenderung setuju dengan orang lain, sangat sulit baginya untuk
mengurus bisnis, kadang sulit mengungkapkan pikirannya secara logis, bahkan
terkesan semrawut. Mereka umumnya tidak mengalami kesulitan dalam
pergaulan, dan sangat simpatik
(Naisaban, 2003: 28).

c.       Fungsi Pengindra (Sensation)
          Fungsi pengindra merupakan fungsi jiwa yang berasal dari fungsi kerja indra-indra pada manusia. Mata, jari, bibir, lidah, dan telinga akan menjelaskan mengenai apa yang ditemui oleh manusia. Orang-orang yang menggunakan fungsi pengindra, umumnya senang yang praktis dan realistis (Naisaban, 2003: 21).
          Thus there are many people who restrict themselves to the simple perception of concrete reality, without thinking about it or taking feeling values into account. They bother just as little about the possibilities hidden in a situation. I describe such people as sensation types (Jung, 1942: 306).

          Orang berfungsi pengindra selalu ingin segera melihat dan menyaksikan
hasil dari kerjanya. Perhatian kepada saat sekarang, ketidaksabaran dengan
penundaan, dan sensivitasnya pada seluk beluk fakta, menjadikan orang pengindra
sebagai orang yang meyakinkan. Ia siap berdebat untuk mempertahankan pokok
pikirannya atau rencana kegiatan yang ia lakukan.
          Sensation, or sensing, is that psychological function which transmits a phsycal stimulus to perception. It is, therefore, identical with perception. Sensation must be strictly distinguished from feeling, since the latter is an entirely different process, although it may, for instance, be associated with sensation as 'feeling-tone'. Sensation is related not only to outer stimuli, but also to the inner, i.e. to changes in the internal organs (Jung, 1923: 385-386).

          Pengindraan harus dibedakan dari perasaan karena mempunyai proses yang berbeda. Akan tetapi, penginderaan identik dengan persepsi karena termasuk dalam fungsi irrasional. Orang-orang yang cenderung melakukan sensing merupakan orang-orang yang pandai melihat dan mendengarkan dan mengenal dunia secara umum. Pengindraan melibatkan operasi dari indra seperti melihat, mendengar, meraba, menjilat, membau, serta merespon rangsang dari dalam tubuh sendiri.

d.      Fungsi Intuitif (Intuition)
          Intuitif adalah suatu jalan merasakan, cara membawakan informasi kepada
budi dan jiwa. Cara ini adalah proses yang sering digunakan baik oleh laki-laki
maupun perempuan. Intuitif adalah juga suatu kemampuan atau kualitas yang sering ditampilkan para tukang sihir, orang-orang kreatif, dan para nabi. Fungsi intuitif menurut Jung (dalam Naisaban
, 2003: 23) adalah suatu fungsi merasakan, suatu fungsi yang muncul dengan sendirinya secara alamiah seperti fungsi pengindra. Fungsi ini digerakkan dari alam tak sadar manusia. Keduanya bekerja dalam setiap pribadi manusia, namun satunya lebih kuat, lebih dominan, lebih jelas muncul dalam perilaku setiap hari.
          Individu yang menggunakan fungsi intuitif sebagai pola menerima informasi akan menggunakan indra-indra sadarnya untuk mengetahui sesuatu. Akan tetapi, apabila individu dengan fungsi intuitif ditanya mengenai cara ia mengetahui segala yang telah diketahui, maka ia akan merasa heran dengan segala yang ia ketahui dan alami. Menurut Jung (1923: 568) seorang individu dengan tipe intutif tidak mampu untuk menjelaskan atau menemukan bagaimana sesuatu yang ia ketahui muncul.
          Orang intuitif sangat optimis dan mempunyai antusiasme yang tinggi, serta tidak memiliki orientasi yang kuat terhadap masa depan. Ia sangat senang berbicara mengenai proyek-proyek baru, rencana baru, dan kadang gampang mempengaruhi orang lain, namun ia gampang berpindah ke proyek atau pikiran baru sebelum selesai melaksanakan yang lama. Hal ini terjadi karena orang intuitif selalu memikirkan dan memimpikan hal yang baru sehingga mereka cepat bosan dengan apa yang mereka kerjakan sebelumnya (Naisaban, 2003: 25).


B. Struktur Ketaksadaran
          Menurut Jung, struktur ketaksadaran manusia mempunyai dua komponen, yaitu ketaksadaran pribadi dan ketaksadaran kolektif.

1. Ketaksadaran Pribadi
          Ketaksadaran pribadi berisikan hal-hal yang diperoleh individu selama hidupnya. Ini meliput hal-hal yang terdesak atau tertekan dan hal-hal yang terlupakan. Ketaksadaran pribadi terdiri dari pengalaman-pengalaman pribadi, harapan-harapan, dan dorongan-dorongan yang pernah disadari tetapi tidak dikehendaki oleh ego sehingga terpaksa didorong masuk ke ketaksadaran (Sarwono, 1987: 170). Pada saat-saat tertentu, ketaksadaran pribadi ini bisa muncul kembali ke kesadaran dan mempengaruhi tingkah laku.
          Ketaksadaran pribadi ini juga meliputi alam prasadar dan bawah sadar. Prasadar adalah perbatasan antara ketaksadaran pribadi dan kesadaran, berisi hal-hal yang siap masuk ke kesadaran. Sedangkan bawah sadar berisi kejadian-kejadian psikis yang terletak pada daerah perbatasan antara ketaksadaran pribadi dan ketaksadaran kolektif (Suryabrata, 2002: 166).

2. Ketaksadaran Kolektif
          Ketaksadaran kolektif adalah sistem yang paling berpengaruh terhadap kepribadian dan bekerja sepenuhnya di luar kesadaran orang yang bersangkutan. Sistem ini merupakan pembawaan rasial yang mendasari kepribadian dan merupakan kumpulan pengalaman-pengalaman dari generasi-generasi terdahulu (Sarwono, 1987: 170).
          Isi dari taraf tak sadar adalah arketip (archetype). Arketip dianggap sebagai tema universal yang mempengaruhi tingkah laku manusia. Arketip adalah bentuk pemikiran atau ide yang menjadi dasar pandangan manusia, yang diproyeksikan pada pengalaman yang sedang dialami. Tetapi, semua pengaruh itu berlangsung pada alam tak sadar. Jung mengatakan terdapat empat arketipe terpenting, yaitu: topeng (persona); anima dan animus; bayangan (shadow); dan diri (self) (Sebatu, 1994: 6).
          Arketip merupakan bentuk pendapat instinktif dan reaksi instinktif terhadap situasi tertentu, yang terjadi di luar kesadaran. Arketip-arketip ini dibawa sejak lahir dan tumbuh pada ketaksadaran kolektif selama perkembangan manusia. Arketip merupakan pusat medan tenaga dari ketaksadaran yang dapat mengubah sikap kehidupan sadar manusia. Arketip hanya dapat dibatasi secara formal, tidak secara material. Orang hanya dapat menggambarkannya tapi tak dapat mencandranya (Suryabrata, 2002: 166-169).
a.       Topeng (Persona)
          Persona dapat dikatakan sebagai bentuk kompromi antara lingkungan dan kepentingan norma-norma batiniah seorang individu. Archetype ini adalah hasil mediasi dari kehidupan psikis dalam kita dengan dunia luar. Topeng itu melekat pada kodrat manusia. Dia diperlukan dalam pergolakan hidup manusia. Dia membantu dalam pergaulan, terutama dalam menyesuaikan diri dengan orang lain, walaupun orang-orang itu tidak disenangi (Sebatu, 1994: 8).
          It is [persona], as its name implies, only a mask of the collective psyche, a mask that feigns individuality, making others and oneself believe that one is individual, whereas one is simply acting a role through which the collective psyche speaks.
          When we analyse the persona we strip off the mask, and discover that what seemed to be individual is at bottom collective; in other words, that the persona was only a mask of the collective psyche. Fundamentally the persona is nothing real: it is a compromise between individual and society as to what a man should appear to be. He takes a name, earns a title, exercises a function, he is this or that. In a certain sense all this is real, yet in relation to the essential individuality of the person concerned it is only a secondary reality, a compromise formation, in making which others often have a greater share than he (Jung, 1966: 137-138).

          Setiap orang menggunakan lebih dari satu topeng. Dia dapat menggunakan topeng yang berbeda-beda, sesuai dengan tempat ia berada. Topeng akan membantunya untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang berbeda-beda. Dalam kehidupan keluarga, orang tua dapat memaksakan topeng kepada anak-anaknya. Berbagai peraturan merupakan bentuk pemaksaan topeng orang tua kepada anak-anaknya sehingga anak-anak akan merasa terpaksa untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma yang ada di masyarakat. Selain itu, anak akan merasa tersingkir dari masyarakat dan perhatian orang tuanya (Sebatu, 1994: 8-9).

b.      Bayangan (Shadow)
          Arketip ini adalah sisi gelap ego yang menunjukkan sisi yang jahat dalam diri seseorang. Shadow berbeda dengan persona yang erat hubungannya dengan ego yang bersifat sadar. Dia berhubungan dengan ketaksadaran pribadi. Shadow merupakan personifikasi yang universal dari bentuk kejahatan psike. Semua hal yang jahat maupun tersembunyi yang sanggup manusia lakukan tersimpan dalam shadow.
          The shadow is a moral problem that challenges the whole ego-personality, for no one can become conscious of the shadow without considerable moral effort. To become conscious of it involves recognizing the dark aspects of the personality as present and real (Jung, 1956: 8).

          Shadow mempunyai dua aspek utama, yaitu aspek yang berhubungan dengan taraf tak sadar pribadi dan taraf tak sadar kolektif. Dalam tak sadar pribadi, shadow merupakan kumpulan pengalaman yang ditolak seseorang atas dasar moral atau estetis. Dalam taraf tak sadar kolektif, shadow merupakan bentuk personifikasi yang universal dari bentuk kejahatan psike. Shadow muncul dalam berbagai bentuk, seperti kelakuan yang buruk, keinginan untuk mencelakai orang, dan sebagainya. Dorongan-dorongan itu tidak dapat dikontrol karena bekerja secana independen dalam taraf tak sadar. Shadow dapat muncul pada taraf sadar, misalnya dalam bentuk kemarahan (Sebatu, 1994: 9-10).

c.       Anima dan Animus
          Anima dan animus merupakan unsur dari jenis kelamin lain yang ada dalam diri seorang laki-laki maupun perempuan. Anima merupakan karakteristik perempuan dalam diri seorang laki-laki, sedangkan animus merupakan karakteristik laki-laki dalam diri seorang perempuan. Laki-laki dan perempuan mempunyai unsur dan jenis seks yang lain dari dalam dirinya sendiri. Laki-laki mempunyai aspek feminin dalam dirinya, sedangkan perempuan mempunyai aspek maskulin. Menurut Jung (1956: 40) "though the effects of anima and animus can be made conscious, they themselves are factors transcending consciousness and beyond the reach of perception and volition."
          Seperti arketipe lainnya, menurut Jung anima dan animus dapat membawa aspek yang positif dan sekaligus juga negatif. Anima bekerja positif pada laki-laki bila dia membangkitkan inspirasi, kemampuan intuitif, dapat memberikan peringatan, dan sebagainya. Sedangkan aspek negatifnya berupa perangai yang buruk atau suasana hati yang tidak menentu. Sedangkan animus pada perempuan beraspek positif bila menampakkan diri dalam argumentasi yang berdasarkan pemikiran yang logis dan masuk akal. Aspek negatifnya bila perempuan bermulut tajam, tanpa perasaan dan sebagainya (1956: 14-16).
          Pada penelitian ini, aspek yang digunakan adalah aspek anima karena penelitian ini menganalisis tokoh laki-laki dalam novel. Anima adalah sebuah faktor tak sadar (unconscious) yang selalu muncul di setiap anak laki-laki dan penyebab mekanisme proyeksi. Anima bekerja pada diri seorang laki-laki. Ia dapat bersifat positif dan negatif.
The anima is not the soul in the dogmatic sense, not an 'anima rationalis', which is a philosophical conception, but a natural archetype that satisfactorily sums up all the statements of the unconscious, of the primitive mind, of the history of language and religion.... It is always the a priori element in moods, reactions, impulses, and whatever else is spontaneous in psychic life (Jung, 1968: 27).

d.      Diri (Self)
          Self merupakan archetype yang sangat penting dan tujuan setiap manusia dalam hidup adalah untuk menyadari atau menemukan self dalam diri mereka. Self merupakan archetype yang mewakili tabiat ideal dan spiritual manusia baik laki-laki maupun perempuan.
          Menurut Jung, sebagai sebuah konsep empiris, self menunjuk ke seluruh ruang lingkup fenomena psikis manusia. Self mengekspresikan kesatuan personalitas sebagai sebuah keseluruhan, tetapi hanya bisa berada di bagian yang sadar dan menjadi ide dasar. Self dapat mencakup hal yang masih dialami dan yang tidak (atau belum) dialami manusia (1923: 540).


DAFTAR PUSTAKA


Alwisol. 2011. Psikologi Kepribadian (Edisi Revisi). Malang: UMM Press.
Jung, C.G. 1923. Psychological Types. New York: Pantheon Books.
_______. 1942. Contributions to Analytical Psychology. London: Kegan Paul.
_______. 1956. Aion: Researches Into The Phenomenology of The Self. New York: Pantheon Books Inc.
_______. 1966. Two Essays in Analytical Psychology. New York: Princeton University Press.
_______. 1968. The Archetypes and The Collective Unconscious (2nd Edition). New York: Princeton University Press.
Naisaban, Ladislaus. 2003. Psikologi Jung: Tipe Kepribadian Manusia dan Rahasia Sukses dalam Hidup (Tipe Kebijaksanaan Jung). Jakarta: Grasindo.
Nimpoeno, John S. 2003. "Konsep Arketipe C. G. Jung" dalam Moesono, Aggadewi (ed.). Psikoanalisis dan Sastra. Jakarta: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya UI.
Sarwono, Wirawan Sarlito. 1987. Teori-teori Psikologi Sosial. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sebatu, Alfons. 1994. Psikologi Jung: Aspek Wanita dalam Kepribadian Manusia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Sharp, Daryl. 1987. Personality Types: Jung's Model of Typology. Toronto: Inner City Books.
Suryabrata, Sumadi. 2010. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali Press.



Tidak ada komentar: