Sabtu, 30 Juni 2012

PERJUANGAN KEMERDEKAAN MASA JEPANG DALAM NOVEL PERBURUAN KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER


PERJUANGAN KEMERDEKAAN MASA JEPANG DALAM NOVEL PERBURUAN KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER

Oleh
Alfian Rokhmansyah

Novel ini berkisah tentang seorang pejuang yang sangat mencintai negerinya. Rentang waktu cerita berkisar pada penjajahan Jepang sampai awal kemerdekaan Republik Indonesia (saat Jepang menyerah pada sekutu). Sang pejuang ini rela meninggalkan orang tuanya, tunangannya, harta, dan kesenangan-kesenangannya demi satu tekad: merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Hardo, tokoh utama dalam novel ini, menjadi buronan Nippon yang berbahaya. Hardo sebelumnya adalah anggota PETA dengan pangkat shodanco, organisasi bentukan Jepang. Namun, ia dan rekan-rekan lain begitu mencintai negeri ini sehingga keluar dari perkumpulan itu. Mereka dituduh pengkhianat Nippon dan menjadi buronan berbahaya. Berbagai cara mereka lakukan agar lepas dari intaian pasukan Nippon. Salah satunya dengan menjadi kere.
Dengan menampilkan tokoh seorang kere, makna kemuliaan manusia yang secara universal selalu berparameterkan materi dan kekuasaan, justru menjadi kehinaan. Kehinaan seorang kere karena tidak memiliki apa-apa justru menjadi mulia. Kekuasaan dan materi justru menjadi bumerang. Membaca novel Perburuan, kita akan dipenuhi oleh rasa simpati yang luar biasa terhadap usaha seorang manusia mencapai kemuliaannya. Batas-batas identitas universal tentang kebahagiaan dan penderitaan berpusat pada manusia itu sendiri, bukan pada dunia di luar dirinya. Pada gilirannya kejatuhan pun bisa berubah menjadi pencerahan atau kebangkitan kesadaran. Yang memburu bisa menjadi yang diburu, yang diburu bisa menjadi pemburu.
Pramoedya telah berhasil mengangkat tema sejarah dalam novel ini menjadi realisme. Pada kesempatan yang sama, Pram masih berpartisipasi mempertanyakan arti kemerdekaan. Peristiwa sejarah seharusnya menggugah rasa senasib sepenanggungan sebagai sebuah bangsa.

Tidak ada komentar: