PERJUANGAN KEMERDEKAAN MASA JEPANG DALAM
NOVEL PERBURUAN KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER
Oleh
Alfian Rokhmansyah
Novel
ini berkisah tentang seorang pejuang yang sangat mencintai negerinya. Rentang
waktu cerita berkisar pada penjajahan Jepang sampai awal kemerdekaan Republik
Indonesia (saat Jepang menyerah pada sekutu). Sang pejuang ini rela
meninggalkan orang tuanya, tunangannya, harta, dan kesenangan-kesenangannya demi
satu tekad: merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Hardo, tokoh utama dalam
novel ini, menjadi buronan Nippon yang berbahaya. Hardo sebelumnya adalah
anggota PETA dengan pangkat shodanco, organisasi bentukan Jepang.
Namun, ia dan rekan-rekan lain begitu mencintai negeri ini sehingga keluar dari
perkumpulan itu. Mereka dituduh pengkhianat Nippon dan menjadi buronan
berbahaya. Berbagai cara mereka lakukan agar lepas dari intaian pasukan Nippon.
Salah satunya dengan menjadi kere.
Dengan
menampilkan tokoh seorang kere, makna kemuliaan manusia yang secara universal
selalu berparameterkan materi dan kekuasaan, justru menjadi kehinaan. Kehinaan
seorang kere karena tidak memiliki apa-apa justru menjadi mulia. Kekuasaan dan
materi justru menjadi bumerang. Membaca novel Perburuan, kita akan
dipenuhi oleh rasa simpati yang luar biasa terhadap usaha seorang manusia
mencapai kemuliaannya. Batas-batas identitas universal tentang kebahagiaan dan
penderitaan berpusat pada manusia itu sendiri, bukan pada dunia di luar dirinya.
Pada gilirannya kejatuhan pun bisa berubah menjadi pencerahan atau kebangkitan
kesadaran. Yang memburu bisa menjadi yang diburu, yang diburu bisa menjadi
pemburu.
Pramoedya
telah berhasil mengangkat tema sejarah dalam novel ini menjadi realisme. Pada kesempatan
yang sama, Pram masih berpartisipasi mempertanyakan arti kemerdekaan. Peristiwa
sejarah seharusnya menggugah rasa senasib sepenanggungan sebagai sebuah bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar