KEHIDUPAN ETNIS TIONGHOA
DALAM NOVEL BUNGA ROOS DARI CIKEMBANG KARYA KWEE TEK HOAY
Oleh
Alfian
Rokhmansyah
Bunga Roos Dari Cikembang (BRDC) adalah
salah satu novel yang ditulis oleh penulis Tionghoa, yaitu Kwee Tek Hoay. Dalam
novel ini, Kwee Tek Hoay mencoba menggambarkan hubungan antara etnis Cina
(Tionghoa), Belanda, dan pribumi. Salah satu hal yang menarik untuk disoroti
adalah jejak kebangsaan yang coba ditampilkan dalam latar dan tokoh yang ada
dalam novel Bunga Ros Dari Cikembang ini.
Tokoh Tionghoa Indonesia digambarkan
sebagai orang yang memiliki kekayaan, kemasyhuran, dan peningkatan derajat yang
disebabkan oleh usaha yang mereka rintis dengan sungguh-sungguh dan susah
payah. Akan tetapi ada yang menarik, para saudagar Tionghoa Indonesia umumnya
mempunyai seorang nyai yang hidup bersama mereka. Contohnya ada dalam tokoh Ay
Tjeng yang mempunyai seorang nyai yang bernama Marsiti. Nyai yang bernama
Marsiti inilah yang membuat kehidupan Ay Tjeng menjadi berwarna, ada suka dan
ada duka. Begitu juga tokoh Ken Djim yang tidak lain adalah mertua dari Ay
Tjeng yang diam-diam ternyata memiliki seorang nyai yang ia pelihara semasa
waktu muda, akan tetapi hal ini baru ia katakan kepada anak dan menantunya
beberapa sat sebelum ia meninggal. Sepertinya, tradisi untuk memelihara nyai
ini sudah menjadi kewajaran tersendiri bagi orang Tionghoa sebelum ia mempunyai
istri dari kalangan Tionghoa juga. Bahkan hubungan ini sampai membuahkan benih
yaitu seorang anak.
Fenomena kepemilikan nyai yang diceritakan
oleh Kwee Tek Hoay dalam novel BRDC inilah yang menyebabkan
novel ini tidak diterbitkan di Balai Pustaka karena isi dari novel ini tidak
mencerminkan sebuah hubungan yang tidak baik menurut redaktur Balai Pustaka
yang pada waktu itu adalah penjajah di Republik Indonesia, yaitu orang-orang
Belanda. Hal ini karena orang Belanda sangat fanatik terhadap agama Kristen
Protestan yang mereka anut sangat menghargai hubungan suami istri.
Sebagai perantau di Indonesia, ternyata
orang Tionghoa Indonesia dalam novel ini mempunyai rasa cinta tanah air yang
tinggi terhadap Negara asalnya (Tiongkok). Salah satunya digambarkan dalam
tokoh Bian Koen yang ingin pulang ke Tiongkok untuk menjadi tentara dan siap
mati untuk negaranya sebagai seorang tentara. Keinginan Bian Koen untuk menjadi
tentara ini muncul setelah ia ditinggal mati oleh kekasih tercintanya Lily yang
tidak lain adalah putri dari Ay Tjeng. Hal lain yang digambarkan Kwee Tek Hoay
tentang Tionghoa Indonesia dalam novel BRDC ini adalah sebagai
orang yang terpelajar. Hal ini digambarkan oleh tokoh Gwat Nio dan Bian Koen
yang menuntut ilmu sampai ke perguruan tinggi. Bahkan Bian Koen adalah salah
satu lulusan dari Amerika.
Sementara itu tokoh pribumi digambarkan
sebagai seseorang yang lemah, pasrah, lugu, menurut, dan setia. Hal ini
ditunjukkan dalam tokoh Marsiti yang tidak lain adalah Nyai dari Ay Tjeng.
Walaupun dirinya hidup sebagai Nyai yang dipelihara oleh Ay Tjeng, akan tetapi
hati Marsiti sangat menyayangi Ay Tjeng, begitu juga sebaliknya Ay Tjeng kepada
Marsiti. Kesetiaan Marsiti terjaga sampai akhir hayatnya. Kepergian Marsiti
dari rumah Ay Tjeng dikarenakan Marsiti merelakan dan memudahkan pernikahan Ay
Tjeng dan Gwat Nio yang tidak lain adalah putri dari pengusaha kaya Ken Djim.
Walaupun rasanya berat meninggalkan Ay Tjeng, akan tetapi Marsiti rela asalkan
Ay Tjeng mendapatkan keberuntungan dari pernikahannya bersama. Walaupun
perpisahan ini berkat campur tangan calon mertua dan orang tua Ay Tjeng untuk
memisahkan Ay Tjeng dan Marsiti.
Sementara itu, ternyata orang Belanda dan
Tionghoa Indonesia mempunyai beberapa persamaan. Salah satu persamaannya adalah
orang Belanda dan Tionghoa sama-sama “gemar” memelihara nyai. Bahkan ada orang
Tionghoa yang memelihara Nyai lebih dari satu orang, yaitu Ken Djim yang tidak
lain adalah mertua dari Ay Tjeng. Bahkan Gwat Nio yang tidak lain adalah istri
dari Ay Tjeng ternyata anak hasil hubungannya dengan Nyai. Dan setelah
diselidiki, ternyata Gwat Nio dan Marsiti adalah saudara.
Walaupun dalam cerita ini menceritakan
kedudukan pribumi sebagai Nyai dan bujang, akan tetapi peranan dari tokoh
pribumi yang diceritakan Kwee Tek Hoay dalam novel BRDC menjadi
kunci dari kebahagiaan yang akhirnya didapat oleh keluarga Ay Tjeng. Kemiripan
Roos anak dari Marsiti dengan Lili putri dari Gwat Nio menyebabkan Bin Koen
bangkit dari kesedihannya setelah ditinggal mati oleh Lily dan akhirnya Bin
Koen dan Roos pun menikah dan dikaruniai anak. Kerelaan Marsiti meninggalkan
rumah Ay Tjeng menyebabkan Ay Tjeng dan Gwat Nio menikah. Walaupun pada
pertengahan cerita keluarga Ay Tjeng dan Gwat Nio dilanda musibah dengan
meninggalnya Lily, akan tetapi pada akhirnya mereka hidup bahagia dengan
mempunyai anak menantu dan cucu yang memberikan hiburan di masa tua Ay Tjeng
dan Gwat Nio. Bahkan dalam akhir cerita, Marsiti hadir dengan perantara cucu Ay
Tjeng ntuk menyaksikan kebahagiaan keluarga Ay Tjeng dan menepati janji Marsiti
kepada Ay Tjeng untuk menaburi rumah Ay Tjeng dengan bunga yang dibawa oleh
Marsiti sebelum ia pergi dari rumah Ay Tjeng dan akan memberikannya kepada Ay
Tjeng setelah ia mempunyai seorang istri dari bangsanya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar