Oleh
Alfian Rokhmansyah
Novel Jalan Tak Ada Ujung (JTAU) karya Mochtar Lubis yang laku keras di pasaran, terbukti sejak terbit pada cetakan pertama tahun 1952, JTAU sampai 1992 telah mengalami sembilan kali cetak ulang. Pada tahun 1953 JTAU memenangkan Hadiah Sastra Nasional BMKN. Tema novel JTAU adalah perjuangan manusia yang tidak pernah ada habisnya. Pengarang menggunakan alur maju dalam mengisahkan peristiwa-peristiwa yang ada di Jakarta sejak tahun 1946, tepatnya bulan September hingga memasuki tahun 1947 dalam suasana perang yang menimbulkan rasa ketakutan dan kecemasan.
Novel JTAU menceritkan tentang kisah seorang guru, Guru Isa, yang ketakutan ketika masa-masa revolusi. Guru Isa adalah seorang guru sehingga ia sangat dihormati oleh tetangga-tetangganya. Akan tetapi, statusnya seperti tidak memihak kepadanya, keadaan ekonomi keluarganya sangat kekurangan. Istrinya, Fatimah, harus ke sana kemari meminjam uang hanya untuk kebutuhan makan. Selain itu, ia pun harus menerima ketika ia tidak bisa memberikan kepuasan secara batin kepada istrinya untuk selamanya sehingga keharmonisan keluarganya semakin lama semakin berkurang.
Tokoh utama dalam novel ini adalah Guru Isa, Fatimah, dan Hazil. Guru Isa dan Fatimah adalah pasangan suami istri. Mereka belum dikaruniai keturunan. Fatimah selalu merasa tidak mendapatkan kepuasan batin dari suaminya sehingga ia berselingkuh dengan Hazil, yang merupakan teman Guru Isa.
Guru Isa dan Hazil, dibantu oleh Rahmat, mempunyai rencana untuk melakukan penyerangan terhadap Belanda. Hazil akhirnya ditangkap oleh polisi militer, disusul Guru Isa. Mereka berdua disiksa karena tidak mau mengatakan dimana Rahmat berada.
Dalam novel ini, pengarang memberikan penggambaran kondisi sosial pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia, mulai dari konferensi Linggarjati, hingga kedatangan pasukan Belanda setelah masa proklamasi kemerdekaan Indonesia. Hal ini sesuai dengan kondisi saat awal novel ini terbit, yaitu pada awal tahun 1950-an. Penggambaran kondisi sosial masyarakat pada masa itu yang masih memunyai ketakutan dengan kondisi keamanan akibat kedatangan bangsa kolonial dan keinginan untuk mempertahankan kemerdekaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar