Dalam penelitian (kritik) sastra Indonesia, telaah sejarah sastra Indonesia tidak bisa dikesampingkan. Sejarah sastra Indonesia dapat membantu peneliti dalam melakukan kritik sastra Indonesia. Jika menengok konsep ilmu sastra dari Wellek dan Warren dalam buku Teori Kesusastraan (diterjemahkan oleh Melani Budianta, 1989), sejarah sastra tidak bisa dilepaskan dari teori dan kritik sastra. Teori sastra adalah studi prinsip, kategori, kriteria yang dapat diacu dan dijadikan titik tolak dalam telaah di bidang sastra. Sedangkan studi terhadap karya konkret disebut kritik sastra dan sejarah sastra. Ketiganya berkaitan erat. Tidak mungkin menyusun teori sastra tanpa kritik sastra dan teori sastra, kritik sastra tanpa teori sastra dan sejarah sastra (Wellek dan Warren, 1989: 39).
Dalam melakukan kritik sastra, peneliti sastra akan membutuhkan sejarah sastra, khususnya untuk mengetahui perkembangan karya atau pengarang yang akan dikaji. Peneliti sastra yang melakukan kajian atas karya sastra yang terbit beberapa tahun silam akan mengalami kesulitan dalam proses kritik apabila tidak dibantu telaah sejarah sastra. Demikian pula peneliti sastra yang akan mengkaji seorang pengarang, akan mengalami kesulitan apabila tidak mendapat batuan sejarah sastra.
Dalam sejarah sastra, peneliti sastra akan mendapatkan data mengenai perkembangan karya sastra, penerimaan masyarakat atas suatu karya sastra, perkembangan genre sastra, karya-karya yang dihasilkan pengarang, latar belakang pengarang, dan beberapa aspek yang tidak mungkin dijangkau oleh teori sastra. Selain itu, melalui telaah sejarah sastra, peneliti sastra dapat memeroleh bukti-bukti mengenai karya sastra, seperti yang diungkapkan peneliti sebelumnya mengenai karya sastra yang diteliti.
Sebagai contoh, seorang peneliti sastra pada zaman sekarang akan meneliti novel Belenggu karya Armijn Pane yang diterbitkan puluhan tahun yang lalu. Apabila peneliti sastra sekarang mengkaji Belenggu tanpa telaah sejarah sastra, justru akan menghilangkan makna yang dimuat dalam novel Belenggu tersebut. Hal ini dikarenakan kehidupan zaman sekarang berbeda dengan zaman saat novel tersebut dibuat dan diterbitkan. Peneliti sastra lebih baik melakukan telaah sejarah sastra dengan melihat hasil penelitian yang dilakukan oleh kritikus-kritikus terdahulu mengenai novel Belenggu.
Perlu diingat, interpretasi seorang pembaca pada masa sekarang terhadap suatu karya sastra masa lampau akan berbeda dengan pembaca pada masa lampau. Hal ini dikarenakan pola imajinasi yang dimiliki pembaca berbeda-beda tergantung pada zamannya. Karya sastra yang diterbitkan pada masa lampau, misalnya novel Belenggu, adalah rekonstruksi pemikiran pengarang pada kehidupan masa lampau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar