Oleh
Alfian Rokhmansyah
Abstract
The task of literary study is not only at the level of interpreting the symbols in literature to get the meaning but also at the level of providing an assessment of the quality of literary creation. This needs to be done as a form of concern in providing the contribution to the growth and the development of literature. The role of literature researchers is also inseparable from the development of literature. In addition, the development of literature can not be separated from the role of authors, readers, and publishers, including the role of mass media. As a contribution in enhancing the development of literature in Indonesia, the literature research can be done through several aspects, namely research of publishers, mass media, readers, authorship, and literary work.
Keyword: research, literary study, development of literature
Pengantar
Perkembangan sastra di Indonesia sangat menggembirakan pada dekade belakangan. Hal ini terbukti dari semakin meningkatnya jumlah dan kualitas hasil karya sastra, baik berkenaan dengan sastra daerah maupun berkenan dengan sastra Indonesia. Kenyataan yang baik ini harus didukung agar hasil karya sastra dapat memenuhi kebutuhan emosional dan intelektual masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia.
Perkembangan sastra tidak lepas dari peranan pengarang, pembaca, dan penerbit, termasuk peran media massa. Selain itu, peran peneliti sastra juga tidak bisa dilepaskan dari perkembangan sastra. Dulu, perkembangan sastra tidak bisa dipisahkan dari peran H.B. Jassin yang dianggap mampu memberikan penilaian terhadap karya sastra. Akan tetapi, saat ini peran H.B. Jassin dapat digantikan oleh peran peneliti sastra. Peneliti sastra memberikan kontribusi dalam perkembangan sastra melalui penelitian dan kritik yang dilakukan terhadap karya sastra, pembaca, pengarang, penerbit, maupun media massa.
Dewasa ini mulai bermunculan bentuk sastra baru, seperti sastra hibrida, teenlit, chicklit, dan sastra internet. Selain itu, eksistensi sastra lain, seperti sastra feminis, sastra seksualitas, sastra Islam, yang banyak digemari pembaca, eksistensinya masih bisa sandingkan dengan jenis sastra baru. Kemunculan-kemunculan sastra baru tersebut masih jauh dari penilaian-penilaian yang dilakukan oleh peneliti sastra.
Perkembangan karya sastra di Indonesia, khususnya cerpen dan novel, lebih banyak berkembang pada karya-karya yang mengangkat tema kehidupan, seperti kehidupan remaja, tema-tema feminis, kehidupan keluarga, tema-tema seksualitas, kehidupan pesantren, percintaan, dan tema-tema ringan yang lain. Hal ini yang terlihat dalam teenlit, chicklit, dan beberapa sastra populer lain, seperti sastra feminis, sastra seksualitas, dan sastra Islam.
Penelitian sastra lebih terfokuskan pada kontribusinya dalam perkembangan sastra yang bersifat umum. Artinya, penelitian sastra yang dilakukan oleh peneliti sastra umumnya memberikan masukan pada nilai-nilai yang ada dalam karya sastra, mengungkap karya sastra yang diminati pembaca, proses kreatif sastrawan, dan proses distribusi dan publikasi karya sastra yang dilakukan oleh penerbit maupun media massa.
Penelitian terhadap media sastra lain, seperti internet, masih jarang dilakukan. Padahal penelitian internet dapat disamakan dengan penelitian penerbit karena internet digunakan sebagai media publikasi karya sastra. Selain itu, penelitian internet juga dapat dilakukan untuk mengetahui minta pembaca sastra di internet.
Selain itu penelitian terhadap pembaca dan penerbit, yang jelas sekali pengaruhnya terhadap perkembangan sastra, dapat dikatakan belum banyak dilakukan. Umumnya hanya melakukan penelitian terhadap karya sastra. Perkembangan karya sastra memang sangat erat kaitanya dengan peranan pembaca sebagai penikmat dan penerima makna yang dibawa karya sastra, serta peranan penerbit dan media dalam penyebaran sastra.
Pentingnya Penelitian Sastra
Teeuw (1982:17) mengungkapkan bahwa dalam dasawarsa belakangan ini ilmu sastra internasional berkembang sangat cepat ke arah yang menjadikan ilmu sastra sangat penting. Hal inilah yang perlu diperhatikan oleh peneliti, khususnya di Indonesia, agar perkembangan sastra Indonesia sejalan dengan perkembangan ilmu sastra dunia. Dalam penelitan sastra, peneliti tidak hanya melakukan kegiatan ilmiah murni, tetapi juga ikut serta menyebarluaskan dan mencermati segala detil perkembangan sastra, menyeleksi, menyunting teksm menafsirkan, dan menjelaskan, latar belakang sosial budaya dan sejarah perkembangannya.
Penelitian sastra memiliki peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan, di samping juga berperan penting terhadap pembinaan dan pengembangan sastra itu sendiri (Tuloli, 1990:902). Tugas penelitian sastra tidak saja pada tataran menafsirkan makna perlambangan sastra, tetapi juga memberikan penilaian terhadap mutu penciptaan karya sastra. Hal ini perlu dilakukan sebagai wujud kepedulian dalam memberikan sumbangan pikiran terhadap pertumbuhan dan perkembangan sastra. Dengan adanya penelitian sastra diharapkan kepedulian masyarakat semakin meningkat, kualitas penciptaan sastra juga semakin meningkat, dan perkembangan ilmu sastra menjadi meningkat pula.
Penelitian sastra tidak hanya bersifat akademis, melainkan juga harus mampu memberikan pencerahan pada perkembangan sastra, seleksi sastra, penyebarluasan sastra, dan menjelaskan latar belakang apa saja yang terkait dengan penciptaan karya sastra. Selain itu, peneliti sastra sebenarnya memiliki tugas yang mulia. Peneliti tidak sekadar menafsirkan apa saja yang dipandang aneh dalam karya sastra, melainkan juga memberikan penilaian dan pertanggungjawaban. Peneliti juga harus mampu mengevaluasi karya satra sampai proses penciptaan sehingga dapat diketahui mana karya sastra yang bermutu dan mana yang kurang.
Penelitian yang Mendukung Perkembangan Sastra
Sebagai kontribusi dalam meningkatkan perkembangan sastra di Indonesia, penelitian sastra dapat dilakukan melalui beberapa aspek, yaitu penelitian penerbit, penelitian media massa, penelitian pembaca, penelitian pengarang, dan penelitian karya sastra. Penelitian-penelitian tersebut memunyai tujuan memberikan kontribusi dalam perkembangan sastra, selain itu juga dalam penyusunan sejarah sastra. Jika diamati lebih lanjut, penelitian terhadap karya sastra jauh lebih sering dilakukan, baik oleh mahasiswa, pengamat sastra, dosen sastra, maupun peneliti sastra. Hal ini yang menyebabkan kontribusi dalam perkembangan sastra lebih banyak pada kualitas karya sastra.
Penelitian terhadap penerbit lebih memfokuskan diri pada penelitian mengenai penerbitan dan distribusi karya sastra, termasuk di dalamnya adalah penelitian media massa. Penerbit adalah pihak atau lembaga yang memungkinkan terjadinya produksi dan reproduksi karya sastra. Kualitas cetak karya sastra, publikasi karya sastra, dan penyebarluasan karya sastra merupakan hal-hal yang mendukung perkembangan sastra. oleh karena itu, penelitian terhadap penerbit menjadi salah satu penelitian sastra yang dapat mendukung perkembangan sastra di Indonesia. Penerbit besar atau media massa nasional yang punya jaringan luas dalam soal distribusi akan lain pengaruhnya dibandingkan dengan penerbit swadaya atau media massa lokal. Sebagai contoh penerbit besar yang sering menerbitkan karya sastra adalah Gramedia Pustaka Utama (GPU). Penerbit ini sangat intens dalam penerbitan karya sastra. Banyak karya sastra yang mengalami cetak ulang melalui penerbit ini. GPU juga berani mengambil beberapa karya sastra yang diterbitkan penerbit kecil untuk diterbitkan ulang.
Begitu pula dalam penelitian media massa yang perannya hampir sama dengan penerbit. Media massa memberikan kontribusi yang sangat besar dalam penyebaran karya sastra. Hal ini dikarenakan media massa (koran dan majalah) dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Berbeda dengan karya sastra dalam bentuk buku yang dirasa berat untuk dibeli dengan harga yang umumnya mahal. Media massa lebih tahu sasaran pembacanya sehingga karya sastra dapat masuk dalam kehidupan semua lapisan masyarakat.
Penelitian pembaca merupakan salah satu penelitian yang jarang dilakukan oleh para peneliti sastra, mahasiswa sastra, pengamat sastra, maupun dosen sastra. Padahal pembaca adalah salah satu tolak ukur keberhasilan karya sastra. Pembaca sebagai penikmat sekaligus penerima pesan dalam karya sastra, dapat memberikan penilaian apakah suatu karya sastra sukses atau tidak dan bermutu atau tidak. Resepsi yang dilakukan oleh pembaca dapat menjadi bahan pertimbangan pengarang dan penerbit. arya sastra yang ditulis dengan sasaran pembaca tertentu, tidak hanya memaksa dan menyeret pengarang untuk mempertimbangkan masalah di luar teks, tetapi juga memaksa penerbit melakukan semacam kompromi khasnya dengan pengarang. Akibat kompromi itulah, pengarang sering berada dalam posisi yang tidak menguntungkan sehingga terpaksa memperbaiki bahkan mengubah teks sejalan dengan keinginan penerbit yang berorientasi pada (selera) pembaca. Hal ini yang menjadi penyebab pembaca menjadi faktor penting dalam perkembangan sastra.
Sama halnya dengan penelitian pembaca, penelitian terhadap pengarang juga jarang dilakukan. Padahal pengarang juga memberika kontribusi dalam perkembangan sastra. Harus diakui, bahwa lahir dan hidupnya dunia kesusastraan dimungkinkan oleh keberadaan pengarang. Jadi, meskipun pengarang yang memungkinkan lahirnya karya sastra, dalam konteks sistem sastra, ia diperlakukan sama pentingnya dengan pihak-pihak lain yang berperan dalam menghidupkan keberadaan dunia sastra. Pengarang sebagai pembuat dan penghasil karya sastra di zaman modern ini harus mendasari kemampuannya tidak lagi ada bakat alam, talenta, melainkan juga pada intelektualitas. Seorang pengarang modern, mutlak harus mempunyai kemampuan menciptakan sebuah dunia, dunia yang dibangunnya lewat bahasa. Kemampuan ini tentu akan berkutat pada dunia yang itu-itu saja, jika ia juga tidak meluaskan cakrawala pengetahuannya. Dengan demikian, seorang pengarang modern dituntut mempunyai pengetahuan yang luas, agar ia terus berkarya dan tidak kehabisan bahan. Ide-ide yang dituangkan pengarang dalam karya yang dihasilkannya dapat menjadi tolak ukur dalam perkembangan sastra. Akan tetapi, hal itu tidak lepas dari peran pembaca dan penerbit. Pengarang zaman sekarang seperti dikendalikan oleh penerbit dan selera pembaca.
Penelitian terhadap karya sastra merupakan penelitian yang banyak dilakukan. Penelitian ini merupakan bentuk penelitian kritik. Dalam penelitian model ini, karya sastra ditelaah untuk mendapatkan nilai dan manfaat yang dibawa karya sastra tersebut. Menginat tujuan kritik sastra adalah memberikan penilaian terhadap karya sastra, maka penelitian terhadap karya sastra yang tidak lepas dari kritik sastra akan memberikan penilaian kepada karya sastra sehingga akhirnya dapat mendorong pengarang untuk mencapai penciptaan karya sastra dengan kualitas yang lebih baik. Selain itu, penelitian karya sastra dapat memberikan informasi kepada pembaca mengenai makna yang terkandung dalam karya sastra sehingga membantu pembaca dalam memberikan apresiasinya.
Dalam melakukan penelitian kritik karya sastra, peneliti atau kritikus akan menunjukkan hal yang bernilai dan tidak bernilai dari suatu karya sastra. Kritikus dapat menunjukkan kebaruan-kebaruan dalam karya sastra atau hal-hal apa saja yang belum digarap oleh sastrawan. Dengan demikian, sastrawan dapat belajar dari kritik sastra untuk lebih meningkatkan kecakapannya dan memperluas cakrawala kreativitas, corak, dan mutu karya sastranya. Jika sastrawan-sastrawan dalam di negara tertentu menghasilkan karya-karya yang baru, kreatif, dan berbobot, maka perkembangan sastra negara tersebut juga akan meningkat pesat, baik secara kualitas maupun kuantitas.
Penutup
Penelitian sastra sangat berperan penting dalam perkembangan sastra. Banyak penelitian sastra yang hasilnya dapat mendukung perkembangan sastra. Khususnya penelitian terhadap pembaca, pengarang, penerbit dan media, serta karya sastra. Tanggung jawab dalam hal pembinaan dan pengembangan sastra tidak hanya menjadi beban para peneliti, tetapi juga menjadi tanggung jawab para kritikus sastra, para penerjemah, para sastrawan, budayawan, dan guru sastra, serta seluruh masyarakt Indonesia, khususnya yang memiliki kepedulai khusus terhadap sastra.
Rasa bangga dan cinta terhadap segala hasil budaya, termasuk sastra, harus ditumbuhkembangkan di hati masyarakat Indonesia, dalam segala strata. Karena itu, sastra harus lebih didekatkan dan lebih dilekatkan dengan hati masyarakat Indonesia. Para peneliti dan para pemerhati sastra harus mampu dan mau bekerja keras mengembangkan, memajukan, dan memasyarakatkan sastra, tidak hanya pada skala nasional, regional tetapi juga pada skala internasional.
Daftar Pustaka
Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Media Pressindo.
Luxemburg, Jan van., dkk. 1984. Pengantar Ilmu Sastra. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Jakarta: Gramedia.
_______. 1992. Tentang Sastra. Diterjemahkan oleh Achadiati Ikram. Jakarta: Intermasa.
Mahayana, Maman S. 2001. Akar Melayu. Magelang: Indonesia Tera.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Storey, Jhon (Ed.). 1996. Cultural Theory and Popular Culture: A Reader. New York: Harvester Wheatsheaf.
Sundiawan, Awan. 2008. Perkembangan Sastra di Indonesia. http://awan965.wordpress.com/2008/02/27/perkembangan-sastra-di-indonesia/ (diakses 22 April 2012)
Suroso, dkk. 2008. Kritik Sastra: Teori, Metodologi, dan Aplikasi. Yogyakarta: Elmatera.
Tanaka, Ronald. 1976. System Models for Literary Macro-theory. Lisse: Peter de Rider Press.
Teeuw, A. 1982. Khazanah Sastra Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1990. Teori Kesusastraan. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.
Yudiono KS. 2007. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: Grasindo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar