Selasa, 27 Maret 2012

Novel "Max Havelaar" karya Multatuli (Eduard Duwes Dekker)

Cerita dibuka oleh Batavus Drooggstoppel yang bercerita kesana-kemari mengenai hidupnya dan pandangan hidupnya yang sempit dengan gaya serius yang kocak, bahwa dia sedang berusaha menerbitkan buku yang menceritakan mengenai bisnis makelar kopi. Dan bahwa buku yang sedang kita baca ini adalah buku yang ditulisnya tersebut.

Kisah kemudian mulai berjalan ketika Batavus tanpa disangka bertemu dengan orang yang dikenalnya pada masa lalu yang kemudian disebutnya sebagai Syalman, sebab dia pakai syal dan Batavus tidak ingin memberi tahu pembaca siapa sebenarnya nama orang itu tapi Batavus juga bukan pembohong. Syalman yang sedang dalam keadaan bangkrut dan melarat meminta Batavus untuk menolongnya menerbitkan sebuah buku. Sebenarnya Batavus sangat ogah tapi terpaksa setelah Syalman tidak tau diri mengirimkan sekarung—iya, sekarung—naskah kepadanya.

Batavus kemudian berubah pikiran setelah melihat bahwa dari sekarung naskah tersebut, ada beberapa bahan yang ternyata berguna sekali dengan apa yang akan di bahas di bukunya. Akhirnya dengan bantuan Stern, asistennya, yang menyeleksi dan menulis ulang buku, naskah Syalman bisa menjadi bagian dari buku Drogstoppel.

Stern-lah yang akhirnya menjembatani dua naskah beda arah dan gaya ini menjadi satu kesatuan cerita yang solid. Pada akhir kisah, Multatuli akhirnya mengambil pena dan menyatakan:

Cukuplah Stern yang baik. Aku Multatuli mengangkat pena. Anda tidak terpanggil melukiskan sejarah hidup Havelaar. Aku menghidupkan Anda.. cukuplah Stern, Anda boleh pulang..

Sedang kepada Drooggstoppel, Multatuli berkata:

Stop hasil celaka nafsu mata duitan yang kotor dan kemunafikan yang menghujah Tuhan! Akulah yang menciptakan Anda.. Anda besar menjadi makhluk yang dahsyat di bawah penaku, …Aku jijik dengan bikinanku sendiri, …terbenamlah dalam kopi, dan pergilah!!!

Dengan muncul sendiri, Mutatuli (Dekker) telah menentukan kedudukan bagian-bagian kisah yang lain. Saijah dan Adinda memiliki kedudukan yang paling rendah, karena bergantung oleh Max Havelaar, Max Hevelaar di urutan selanjutnya karena bergantung dari Droogstoppel, dan Droogstoppel lebih rendah karena bergantung Mutatuli. Namun walaupun paling rendah, Saijah dan Adinda ternyata adalah titik paling dalam dari seluruh kisah. Rupanya tugasnya diharapkan seperti pada Uncle Tom’s Cabin, untuk menggugah perhatian publik kepada kesengsaraan yang di derita rakyat yang tertindas. Dan rupanya berhasil.

Seperti yang dikatakan oleh Gerard Borm, bahwa:

Apapun kelemahan karangan Max Havelaar, setidak-tidaknya ada bagian yang tak tercela, yakni babak mengenai Saijah dan Adinda. Babak itu menggambarkan manusia Indonesia sebagai pribadi yang hidup, bukan hanya bayangan-bayangan yang dipungut dari pengetahuan antropologi semata.

JC Brand Corstius dan Karel Jonkkheere juga menunjuk kepada perasaan kemanusiaan Yang menjiwai cerita Saijah dan Adinda, dan itulah yang menyebabkan Max Havelaar memikat. Bahkan De Kock yang dengan begitu pedasnya mengecam diri Multatuli, menamakan kisah itu coupe de la maison, bagian yang paling bagus dan paling penting dalam buku Max Havelaar.

Max Havelaar kemudian meraih sukses yang cukup besar di eropa dan bagi Belanda sendiri, menjadi salah satu pendorong dari bangkitnya kegiatan sastra di negeri itu. Saat itu perkembangan sastra di Belanda telah menyempit wawasanya dan hanya mengulas sikap kebangsaan dan kehidupan susila kaum menengah dengan bahasa dan struktur yang kaku. Jadi Max Havelaar bisa dibilang menimbulkan kegemparan bukan hanya wacana poltiknya, namun juga luapan pilu dan berangnya yang hampir tidak terkendali membengkalaikan susunan cerita. Namun nampaknya pengarangnya sendiri pun sadar bahwa ceritanya begitu tidak teratur. Pada akhirnya, Multatuli berkata:

Ruwet..terbengkalai..mencari sensasi..gayanya jelek..pengarangnya tidak cakap…tidak berbakat…tidak punya metode..

Baik..baiklah! Tapi orang Jawa dianiaya..

Dia tidak perduli bagaimana susunan sastra kisahnya ini. Mau bagaimana jeleknya ini buku akhirnya, kata Dekker, ya sudahlah! Tapi orang Jawa dianiaya! Itu yang ingin dia sampaikan. Dan dia memaksa, bahwa orang harus tahu..

Sebab aku bukan hendak menulis baik, …aku hendak menulis begitu rupa, sehingga didengar, dan seperti orang berteriak; ‘Tangkap maling itu!’

Dan karena itu, yang diinginkan oleh Dekker sebenarnya adalah:

Aku mau dibaca! Ya, aku mau dibaca ! aku mau dibaca oleh negarawan-negarawan yang berkewajiban memperhatikan pada tanda-tanda zaman. Oleh sastrawan-sastrawan yang yang juga harus membaca buku itu yang begitu banyak dijelek-jelekan orang…

Dekker bermimpi dan mengharap:

Maka akan kuterjemahkan bukuku dalam bahasa melayu, Jawa, Sunda, Alifuru, Bugis, Batak… Dan akan kulontarkan lagu-lagu perang pengasah kelewang ke dalam sanubari pejuang-pejuang syahid…

Sejak kemunculannya, buku Max Havelaar atau Lelang Kopi maskapai Dagang Belanda menjadi sebuah karya yang penting, bagi kemajuan sastra negerinya, dan juga bagi bangsa Indonesia yang sedikit banyak ikut menghirup perubahan dari kebijakan dari pemerintah Belanda. Namun sayang sekali ternyata buku yang kini menjadi bahan bacaan wajib sekolah di Belanda, justru jarang sekali di baca oleh masyarakat Indonesia. Judul bukunya masuk dalam buku teks ajar sejarah sekolah menengah, tapi tidak dibahas dan malah saya yakin, jarang guru-guru sejarah kita yang membacanya. Bahkan cita-cita Dekker agar karyanya ini diterjemahkan oleh berbagai bahasa di Indonesia ini musti menunggu begitu lama, baru pada tahun 1972 Max Havelaar diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia.

Pada tahun 1976, Max Havelaar diadaptasikan menjadi film oleh Fons Rademakers dengan judul Max Havelaar of de koffieveilingen der Nederlandsche handelsmaatschappij, namun sekali lagi, tidak sempat beredar secara luas di Indonesia karena pemerintah orde baru saat itu pernah melarangnya.

Satu hal lagi yang membuat buku ini istimewa adalah bahwa apa yang dijeritkan dengan pilu oleh Dekker itu belum lekang oleh waktu. Sampai hari ini pun, kisah ini masih up to date. Selama ada tangan-tangan rakus di atas sana yang tega menghisap dan menindas orang-orang kecil nun jauh di bawah sana demi keuntungan dan kesejahteraannya sendiri atau sekelompok orang, kisah ini masih menggaung dengan keras.

Tidak ada komentar: