Sastra Sejarah
Dalam sastra Indonesia lama ada segolongan karya sastra yang berisi sejarah. Karya sastra lama yang berisi sejarah ini cukup banyak mendapat perhatian para peneliti sastra. Naskah karya sastra yang berisi sejarah adalah karya sastra sejarah, yaitu karya sastra yang mengandung unsur sejarah. Sebagai suatu karya sastra, naskah yang berisi sejarah itu mengandung ciri-ciri atau sifat suatu karya sastra. Sastra sejarah merupakan salah satu genre sastra lama, yaitu suatu kelompok karya sastra yang mengandung unsur sejarah. Unsur sejarah merupakan ciri utama karya sastra jenis ini.
Unsur sejarah dalam sastra sejarah terlihat pada latar dan tokoh cerita. Latar tempat dalam sastra sejarah biasanya dapat diketahui dalam kenyataan secara geografis. Hal itu berbeda dengan bentuk karya sastra lama yang lainnya, yang tidak bisa dilacak tempat cerita itu berlangsung dan tidak dapat diketahui secara geografis. Selain itu, tokoh dalam sastra sejarah umumnya tercatat dalam sejarah, berbeda dengan tokoh cerita dalam karya sastra lama lainnya yang tidak dikenal dalam kenyataan.
Di dalam sastra sejarah, unsur sejarah diolah, dicampuradukkan dengan unsur imajinasi, yang dalam sastra lama hal itu berupa dongeng, legenda, atau mite. Unsur tersebut menjadi ciri umum naskah sastra sejarah itu. Dalam sastra sejarah terdapat unsur sejarah yag bercampur dengan dongeng, legenda, atau mite.
Sastra Sejarah dalam Sastra Nusantara
Dalam sastra Nusantara cukup banyak jenis sastra sejarah, khususnya dalam sastra Jawa, Sunda, dan Bali yang biasanya menggunakan kata babad sebagai kata pertama dalam penulisan judul karya sastra tersebut. Dalam sastra Jawa, selain menggunaka kata babad juga menggunakan kata sejarah, pustakaraja, serat, dan serat sarasilah. Beberapa naskah sastra sejarah yang telah dikumpulkan dan dibukukan adalah Babad Tanah Jawi, Babad Demak, Pustakaraja Parwa, Sejarah Ageng Nusa Jawi, Serat Sarasilah Raja-Raja Jawa, dan beberapa lainnya yang terangkum dalam buku Katalogus Naskah Kitab Babad Museum Pusat, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1973).
Dalam sastra Sunda, selain menggunakan kata babad, juga menggunakan kata lain, seperti sejarah, sarsilah, carita, dan pancakaki (pertalian kekerabatan/hubungan genealogis). Selain di Jawa dan Sunda, sastra sejarah juga terdapat di daerah lain yang mempunyai cerita rakyat yang berisi sejarah, seperti di daerah Sumatara (Melayu), Bugis, dan Bali.
Naskah sastra sejarah dalam sastra Melayu sudah banyak diteliti, baik dalam bentuk desertasi, skripsi, maupun tulisan ilmiah lainnya. Di samping itu, naskah sastra Melayu yang berisi sejarah sudah banyak diterbitkan. Sastra sejarah dalam sastra Melayu di samping menggunakan kata sejarah juga menggunakan kata hikayat, silsilah, dan tambo. Beberapa sastra sejarah dalam sastra Melayu antara lain Sejarah Melayu, Sejarah Palembang, Hikayat Raja-Raja Pasai, Hikayat Banjar, Silsilah Kutai, Silsilah Melayu dan Bugis, dan Tambo Minangkabau. Naskah sastra sejarah Melayu adalah jumlah terbanyak dari naskah-naskah lain di Nusantara yag telah dikumpulkan dalam suatu katalogus. Terdapat beberapa katalogus yang mencatat naskah sastra sejarah Melayu. Di Leiden terdapat dua katalogus, di Jakarta dua katalogus, London satu katalogus.
Konvensi Jenis Sastra Sejarah
Dalam sastra Nusantara ataupun dalam sastra Indonesia lama, banyak karya sastra jenis sastra sejarah ini. Namun, pembahasan yang cukup memadai mengenai konvensi jenis sastra ini masih kurang mendapat perhatian. Masalah konvensi jenis sastra ini amat penting dan hakiki untuk pemahaman dan penilaian sastra secara baik. Tanpa pengetahuan mengenai konvensi jenis sastra, penilaian karya sastra akan menimbulkan kekecewaan dan salah pengertian.
Kekecewaan dan tanggapan negatif dari ahli sejarah terhadap karya sastra sejarah timbul karena mereka kurang memperhatikan konvensi jenis sastra. Penilaian mereka jelas bertitik tolak dari sudut pandang sejarah, bukan dari konvensi jenis sastra sejarah. Karya yang sedang dibicarakan bukanlah karya sejarah, melainkan karya sastra sejarah yang mempunyai tanda, sifat, ciri khas, atau yang biasa disebut dalam bidang semiotik mempunyai konvensi tertentu.
Menurut Teeuw (1984:241) mengemukakan bahwa pendekatan terhadap tek tradisional memang khas bersifat mimetik dan mengharapkan sejarah dari teks tertentu yang ternyata mengecewakan harapan peneliti modern. Penelitian mimetik ini tidak sesuai dengan teks yang bersifat kesusastraan, tidak sesuai dengan interpretasi ilmiah dan faktual modern.
dikutip dari buku:
SASTRA INDONESIA LAMA BERISI SEJARAH:
Ringkasan Isi Cerita serta Deskripsi Latar dan Tokoh
Karya Edwar Djamaris
Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar