Oleh
Alfian Rokhmansyah
Maksud bungarampai adalah untuk memperkenalkan para pengarang melalui hasil-hasilnya sendiri yang terbaik dalam satu kumpulan yang memberikan gambaran ikhtisariah dari situasi kesusastraan dalam sesuatu babak waktu. Pengarang yang belum punya publikasi berupa buku, banyak yang berbakat, seperti Yusach Ananda, Hartojo Andangdjaja, Titis Basino, M. Fudoli, Indonesia O’Galelano, Poppy Hutagalung, Goenawan Mohamad, Gerson Poyk, Mansur Samin, Isma Sawitri, Surahman R.M.
Bunga rampai ini juga mempunyai tugas sebagai penunjuk jalan bagi mereka yang hendak menyelidi lebih lanjut pengarang-pengarang yang ditampilkan di sini, baik yang belum punya buku maupun yang sudah punya buku, sebagian besar berhak atas penerbitan hasil-hasilnya yang lebih banyak dalam bentuk yang lebih langgeng.
Majalah-majalah yang dapat dipergunakan sebagai sumber penyelidikan kesusastraan sesudah tahun 50-an ialah: Indonesia, Siasat, Mimbar Indonesia, Zenith, Kisah, Tjerita, Prosa, Seni, Sastra, Budaya, Konfrontasi, Pustaka dan Budaya, Basis, Horison, Tjerpen.
Menjelang terbitnya buku ini timbul masalah baru yang cukup prinsipil. Hal ini bertentangan dengan penamaan dan sejarah timbulnya Angkatan ’66 yang justru menolak orde lama susunan Bung Karno. Yang dimaksud dengan pengarang pendukung Bung Karno ialah pengarang yang semasa jayanya Sukarno turut serta dalam aktivitas-aktivitas Lekra, Lesbi, dan LKN (Ali-Surachman) yang secara politis menentang setiap kegiatan pengarang merdeka yang tidak berlindung dibelakang sesuatu partai seperti ketiga organisasi tersebut.
Majalah Horison dan Sastra telah melepaskan penilaian dari sudut politik, siapa saja pengarang yang hasilnya bernilai, berhak karangannya diumumkan dalam majalah-majalah tersebut. Memang tidak ada keberatan mengikutsertakan mereka itu, sekiranya bunga rampai ini tidak berjudul Angkatan ’66 melainkan Gema Nusantara.
Secara politis Angkatan ’66 terlahir dari pergolakan politik dalam masyarakat. Kelahirannya adalah suatui peristiwa politik. Tapi disamping ukuran politik, dibidang kesusastraan pengarang tersebut mempunyai ukuran nilai, yaitu nilai kesusastraan.
Hal tersebut dapat diilustrasikan dengan hasil-hasil karya “pendukung-pendukung Sukarno” yang sama sekali tidak memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang universal: cinta tanah air, bahagia hidup kemasyarakatan, anti kebatinan, tidak ada sesuatu yang bisa dikeberatani.
Bunga rampai ini juga menegaskan bahwa kontroversi yang berdasarkan politik ini lambat laun akan hilang, apabila orde baru telah betul-betul menguasai lapangan dan tidak ada sesuatu kekuatiran lagi akan kembalinya Gestapu PKI.
Salah satu tokoh angkatan 66 adalah Umar Kayam. Ia lahir di Ngawi pada 30 April 1932. Melanjutkan sekolah menengah di Jogja dan Solo. Saat revolusi, ia masuk Fakultas Paedagogi di Universitas Gajah Mada dan mendapatkan gelar sarjana muda tahun 1955. Ia melanjutkan studi di New York dan mendapatkan gelar M.A. tahun 1963. Dua tahun kemudian mendapatkan gelar Doctor of Philosophy dari Cornell University. Salah satu karyanya yang menonjol adalah Seribu Kunang-kung di Manhattan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar