Sabtu, 09 April 2011

RESUME BUKU “PUDJANGGA BARU: PROSA DAN PUISI”

Oleh
Alfian Rokhmansyah


Pembagian dalam angkatan banyak membawa kesulitan dalam karakterisasi. Ini disebabkan karena banyaknya sifat-sifat yang dimasukkan dalam satu pengertian besar, sedangkan sifat-sifat itu tidak ada yang berdiri sendiri, selalu ada hubungannya yang satu dengan yang lain atau ada persamaannya yang satu dengan yang lain.

Dalam tahun 1933 muncul satu angkatan yang menyatakan diri sebagai Pujangga Baru. Angkatan ini seperti juga tiap angkatan tidak berdiri sendiri tetapi punya pertunasannya jauh sebelumnya. Namanya jadi populer oleh terbitnya majalah Pujangga Baru mulai tahun itu.

Pujangga baru adalah realisasi dari hasrat untuk menyatukan tenaga cerai berai pengarang-pengarang Indonesia yang sebelumnya telah kelihatan hasil-hasilnya dalam berbagai majalah. Pujangga Baru bermaksud akan semata-mata mementingkan kesusastraan dan bahasa dan “mengikat serta memberi pimpinan pada pujangga baru yang cerai berai”.

Dalam pujangga baru berkumpul bukan saja para pengarang dan penyair dari segala daerah Indonesia, tapi juga yang beragama berlainan. Dalam tulisan-tulisannya bernafaskan kenasranian adalah J.E.Tatengkeng dalam kumpulan sajak Rindu Dendam. Bernafaskan keislaman adalah Amir Hamzah dalam Buah Rindu dan Njanji Sunji, selain itu ada Ali Hasjmy dalam kumpulan sajak Dewan Sadjak dan Kissah Seorang Pengembara. Ada pula yang beragama Hindu, yaitu I Gusti Njoman Pandji Tisna dalam Ni Rawit Tjeti Pendjual Orang, Sukreni Gadis Bali, dan I Swasta Setahun di Bedahulu. Mereka semua diikat oleh satu rasa kebangsaan yaitu M. Yamin, Sanusi Pane, Amir Hamzah, Armijn Pane, Sutan Takdir Alisjahbana.

Umunya kelahiran Pujangga Baru disambut dengan gembira oleh penyair dan pengarang muda, para pelajar dan golongan intelektual yang sedikit jumlahnya. Reaksi terhadap Pujangga Baru datangnya dari pihak guru-guru bahasa Melayu. Pujangga Baru dituduh merusak bahasa Melayu karena memasukkan kata-kata yang tidak lazim dalam bahasa Melayu.

Garakan Pujangga Baru adalah suatu pembaruan dalam jiwa, pandangan hidup, dalam gaya. Pembaruan terhadap dunia yang lama, dunia yang dicirikan Takdir adalah dunia yang statis. Dalam persajakan Pujangga Baru menghendaki pembaruan dalam isi, yaitu yang sesuai dengan pengalaman, tanggapan, keinginan, kemauan, perasaan, cita-cita manusia zamannya. Dan erat hubungannya dengan ini pembaruan ritme, bentuk, pilihan kata-kata.

Angkatan Pujangga Baru perhatian tida lagi hanya disorotkan pada pertentangan tua dan muda dan yang jadi persoalan bukan lagi hanya kawin paksa dan permaduan. Generasi 33 sudah mulai menjadi individu yang bebas menentukan nasibnya sendiri. Tidak menghadapi masyarakat desa yang padu dan masyarakat adat., tetapi masyarakat kota yang mempunyai masalah sendiri-sendiri.

Besar jasa Pujangga Baru dilapangan perkembangan bahasa Indonesia yang ditangan pengarang dan penyairnya mendapat nyawa baru oleh adanya eksperimen-eksperimen dalam penggunaannya. Lain halnya dengan bahasa Balai Pustaka yang senatiasa mengalami campur tangan redaksi Balai Pustaka yang terikat pada bahasa sekolah. Pujangga Baru memberikan keleluasaan yang lebih besar pada pengarang, sesuai dengan rasa bahasa yang dibawanya.

Tidak ada komentar: