Sabtu, 09 April 2011

RESUME BUKU “KESUSASTRAAN INDONESIA DI MASA JEPANG”

Oleh
Alfian Rokhmansyah


Dengan pendudukan jepang selama tiga setengah tahun itu, jiwa kita sudah menjadi masak untuk revolusi, suatu hal yang tiada mungkin dalam tiga setengah abad penjajahan Belanda, dan mungkin juga beberapa abad lagi sesudah itu, kalau Jepang tidak dating. Menafikan kesusastraan dalam zaman Jepang adalah menafikan suatu wajah kehidupan dalam perjalanannya membentuk sejarah.

Buah kesusastraan adalah lukisan jiwa dan lukisan sekitar dipandang dari suatu kesadaran. Masa tiga setengah tahun terlalu singkat untuk membagi-bagi aliran-aliran pikiran menurut masa, bulan dan hari yang tertentu, berhubungan dengan kejadian-kejadian yang menimbulkan harapan, kecemasan atau kekecewaan dan sebagainya.

Disamping sajak sorak kemenangan, ada sajak penyair meratapi kekalahan. Keinsyafan sekian banyak penyair dan pengarang tidak semuanya serupa dalam perjalanannya mencapai kepastian.

Usmar Ismail adalah seorang penyair satu-satunya yang paling tegas suaranya, yakin dan teguh dalam tujuan perang Asia Raja, meskipun sering pada mulanya ia juga “diserang rasa”.

Jiwa muda yang tadinya sedia menerima pikiran-pikiran dan cita-cita yang kelihatannya bagus dan indah, untuk beberapa lama hanyut dalam kekaguman semboyan-semboyan kemakmuran bersama, Asia untuk bangsa Asia, Hakko Ichiu (Seluruh Dunia Satu Rumah Tangga).

Pada Usmar pandangan yang luas kabur pada mulanya, melalui pemasakan jiwa yang menghasilkan kesadaran dan keinsafan dan kemudian keyakinan yang pasti berwujudkan cita-cita Tanah Air dan ketuhanan. Bagi Usmar pasti tegas, bahwa bagaimanapun perjuangan jiwa dalam zaman yang hebat, tak boleh orang menjadi “defaitist” karena orang yang demikian adalah pengkhianat bangsa.

Usmar Ismail adalah seorang seniman yang mengeluarkan dari kamus filsafat keseniannya pegangan l’art pour l’art, seni untuk seni, yang bersifat perseorangan. Seni buat Indonesia menurut pendapatnya tidak boleh tidak mesti bercorak pengabdian kepada Nusa dan Bangsa, kepada cita-cita, kepada agama, dalam bentuk yang jelas. L’art pour l’art baginya berarti satu kemewahan yang menandakan tidak ada keinsafan. Dan anggapannya ini dipertahankannya dalam setiap hasil ciptaanya semenjak dari sajak, cerita sampai kepada karangan-karangan sandiwaranya. Dan hasil-hasil itu meskipun berisi propaganda, oleh intensitas analisa jiwanya, merupakan hasil yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Perjalanan jiwa Rosihan Anwar selanjutnya terlihat jelas pada tiga buah sajaknya yaitu Kissah diwaktu Pagi, Lukisan, dan Manusia Baru. Taiso, Kinrohoshi, latihan ini dan latihan itu, yang tadinya dirasakan sebagai siksaan belaka, mendapat arti sesudah terbentuknya Tentara Pembela Tanah Air atau PETA.

Salah satu cerita pendek pelarian yang sangat indahnya ialah Ditepi Kawah, karangan Bakri Siregar. Diidealisir disitu penghidupan terpencil dilereng gunung, besih dan sunyi, penuh bahagia, tapi tidak sunyi pula dari kesedihan dan penderitaan yang sewajarnya.

Tidak ada komentar: