Rabu, 31 Oktober 2012

Hegemoni

Hegemoni



Oleh:
Alfian Rokhmansyah, M.Hum.



          Dalam bahasa Yunani kuno, hegemoni disebut eugemonia. Secara literal hegemoni berarti “kepemimpinan”. Kata ini sering digunakan dalam dunia politik untuk menunjuk pada pengertian dominasi. Akan tetapi, bagi Gramsci, hegemoni merupakan sesuatu yang kompleks, yang sekaligus bersifat ekonomis dan etika-politis. Gramsci menggunakan konsep ini untuk meneliti bentuk-bentuk politis, kultural, dan ideologis tertentu dalam suatu masyarakat yang ada (Faruk, 2010:132).
          Menurut Gramsci, hegemoni bukanlah hubungan dominasi dengan menggunakan kekuasaan, melainkan hubungan persetujuan dengan menggunakan kepemimpinan politik dan ideologis. Hegemoni merupakan hubungan antara kelas dengan kekuatan sosial lain. Kelas hegemonik adalah kelas yang mendapatkan persetujuan dari kelas sosial lain dengan cara menciptakan dan mempertahankan sistem aliansi melalui perjuangan politik dan deologis (Simon, 2004:22).
          Gramsci mengembangkan konsep hegemoni untuk menggambarkan suatu kondisi di mana supremasi kelompok sosial dicapai tidak hanya melalui “dominasi” atau “pemerintah” tetapi juga melalui persetujuan atas dasar sukarela dari kelas yang didominasi (Litowitz, 2000:515). Konsep hegemoni Gramsci lebih lanjut dapat dielaborasikan melalui penjelasannya tentang basis dari supremasi kelas. Supremasi kelas merupakan keunggulan kelas sosial untuk mempertahankan kekuasaan bagi pihak penguasa. Penguasa memiliki arti luas, tidak hanya terbatas pada penguasa negara (pemerintah).
          Supremasi sebuah kelompok terwujud dalam dua bentuk, yaitu dominasi dan kepemimpinan intelektual dan moral. Di satu pihak, sebuah kelompok sosial mendominasi kelompok-kelompok oposisi untuk menghancurkan atau menundukkan mereka, bahkan mungkin dengan menggunakan kekuatan senjata. Di pihak lain, kelompok sosial memimpin kelompok-kelompok kerabat dan sekutu mereka. Sebuah kelompok sosial dapat dan bahkan harus menerapkan kepemimpinan sebelum memenangkan kekuasaan pemerintahan. Kepemimpinan tersebut merupakan salah satu dari syarat-syarat utama untuk memenangkan kekuasaan semacam itu. Kelompok sosial tersebut kemudian menjadi dominan ketika dia mempraktikkan kekuasaan, tetapi bahkan bila dia telah memegang kekuasaan penuh di tanggannya, dia masih harus terus memimpin juga.

... that the supremacy of a social group manifests itself in two ways, as “domination” and as “intellectual and moral leadership”. A social group dominates antagonistic groups, which it tends to “liquidate”, or to subjugate perhaps even by armed force; it leads kindred and allied groups. A social group can, and indeed must, already exercise “leadership” before winning governmental power (this indeed is one of the principal conditions for the winning of such power); it subsequently becomes dominant when it exercises power, but even if it holds it firmly in its grasp, it must continue to “lead” as well (Gramsci, 1992:57-58).

          Dari kutipan tersebut, dapat diketahui adanya hubungan yang didukung oleh kesatuan dua konsep menurut Gramsci yaitu kepemimpinan (direction) dan dominasi (dominance). Hubungan dua konsep tersebut menyiratkan tiga hal. Pertama, dominasi dijadikan atas seluruh musuh dan hegemoni dilakukan kepada segenap sekutu-sekutu. Kedua, hegemoni adalah suatu prakondisi untuk menaklukkan aparatus negara atau dalam pengertian sempit kekuasaan pemerintahan. Ketiga, sekali kekuasaan negara dapat dicapai, dua aspek supremasi kelas ini, baik pengarahan maupun dominasi terus berlanjut.
          Kepemimpinan dan dominasi menjadi dua hal penting dalam teori hegemoni Gramsci. Konsep hegemoni yang dikembangkan Gramsci berpijak pada kepemimpinan yang sifatnya intelektual dan moral. Kepemimpinan ini terjadi karena adanya kesetujuan dari kelas bawah atau masyarakat terhadap kelas atas yang memimpin. Kesetujuan kelas bawah ini terjadi karena berhasilnya kelas atas dalam menanamkan ideologi kelompoknya. Akan tetapi, jika penanaman ideologi itu gagal, kelas atas akan melakukan tindakan dominasi yang bersifat represif melalui aparatus negara.
          Gramsci tidak hanya menggunakan istilah hegemoni untuk menggambarkan aktifitas kelas penguasa, tetapi dia juga menggunakannya untuk mendeskripsikan pengaruh yang diberikan oleh kekuatan-kekuatan progresif. Hal ini dapat dilihat bahwa hegemoni seharusnya didefinisikan sebagai hal yang dilakukan bukan saja oleh kelas penguasa, tetapi juga proses di mana kelompok-kelompok sosial yang progresif, regresif, dan reformis, meraih kekuasaan untuk memimpin, memperluas kekuasaan, dan mempertahankannya (Brown, 2009:2).
          Hegemoni tidak pernah dapat diperoleh begitu saja, tetapi harus diperjuangkan terus menerus. Untuk mempertahankan hegemoni kelompok sosial yang menghegemoni akan terus berusaha untuk mempertahankan hegemoninya. Hal ini menuntut kegigihan untuk mempertahankan dan memperkuat otoritas sosial dari semua kelas yang berkuasa dalam kelompok masyarakat sipil dan membuat kompromi-kompromi yang diperlukan untuk menyesuaikan sistem aliansi yang ada dengan kondisi yang senantiasa berubah serta aktifitas kekuatan oposisi (Simon, 2004:45-46).




Daftar bacaan:

Brown, Trent. 2009. “Gramsci and Hegemony” dalam International Journal of Socialist. Renewal. http://links.org.au/node/1260 (diakses 25 April 2012)
Faruk. 2010. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Gramsci, Antonio. 1992. Selections From The Prison Notebooks of Antonio Gramsci. Quentin Hoare dan Geoffrey Nowell Smith (ed.). New York: International Publishers.
Holub, Renate. 1992. Antonio Gramsci: Beyond Marxism and Postmodernism. London & New York: Routledge.
Litowitz, Douglas. 2000. “Gramci, Hegemony, and Law” dalam Jurnal Brigham Young University Review. Vol 2000 No.2 (2000) p.515. http://lawreview.byu.edu/archives/2000/2/lit.pdf (diakses 25 April 2012)
Patria, Nezar dan Andi Arief. 2003. Antonio Gramsci: Negara dan Hegemoni. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sassoon, Anne Showstack. 2000. Gramsci and Contemporary Politics: Beyond Pessimism of The Intellect. London & New York: Routledge.
Simon, Roger. 2004. Gagasan-gagasan Politik Gramsci. Diterjemahkan oleh Kamdani dan Imam Baehaqi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tidak ada komentar: