Formalisme Rusia
Oleh:
Alfian Rokhmansyah
Oleh:
Alfian Rokhmansyah
Formalisme adalah salah satu mazhab dalam teori sastra modern. Kelahiran mazhab ini dirintis oleh sejumlah ahli linguistik dan ahli sastra di Rusia. Tujuan utama formalisme adalah studi ilmiah mengenai sastra. Hal ini didasarkan pada keyakinan para formalis bahwa studi seperti itu sangat mungkin dan memang pantas dilakukan. Kaum formalis yakin bahwa studi-studi mereka akan meningkatkan kemampuan pembaca untuk membaca teks-teks sastra dengan cara yang tepat. Kaum formalis cenderung untuk mengkaji teks sastra secara formal, yaitu dalam kaitannya dengan struktur bahasa.
Victor Shklovsky mendominasi fase awal Formalisme. Victor Shklovsky mengambil suatu pendekatan bersahaja, mencoba teknik-teknik yang dipergunakan oleh para sastrawan untuk menghasilkan efek-efek yang khusus. Shklovsky menyebut salah satu konsepnya sebagai defamiliarisasi (ostranenie) yang berarti membuat aneh atau proses menjadikan sesuatu itu luar biasa sifatnya. Shklovsky mengemukakan bahwa kita tidak pernah dapat memelihara kesegaran persepsi kita atas objek-objek; tuntutan eksistensi ‘normal’ itu diperlukan agar mereka menjadi sejumlah besar yang diotomatisasikan. Ia mengungkapkan bahwa teknik seni adalah membuat objek-objek menjadi ‘tidak biasa’ dengan menghadirkan bentuk-bentuk yang sukar untuk menambah tingkat kesukaran dan memperpanjang persepsi karena proses persepsi adalah suatu tujuan estetik dan harus diperpanjang (Selden, 1991:5, 91).
Kaum formalis lebih memusatkan perhatian pada ‘keganjilan’ teks sastra dalam upaya menampilkan kekhasan karya sastra. Konsep defamilarisasi dan deotomatisasi merupakan dua konsep yang digunakan kaum formalis untuk mempertentangkan karya sastra dengan kehidupan atau kenyataan sehari-hari. Apa yang sudah biasa dan secara otomatis diserap, dalam karya sastra dipersulit atau ditunda pemahamannya sehingga terasa asing, ganjil, atau aneh. Tujuannya agar pembaca lebih tertarik pada bentuk dan lebih menyadari hal-hal di sekitarnya.
Realitas dalam penyusunan karya sastra bersifat sekunder. Realitas masuk dalam karya sastra sebagai salah satu bumbu yang diberikan oleh seniman pada saat memroses karyanya. Realitas merupakan salah satu komponen karya sastra, bukan sebagai rujukan karya sastra. Apabila karya sastra terlihat seperti merujuk pada realitas tertentu, maka hal itu sekadar kesan sampingan dari fungsi estetika saja (Jefferson melalui Nuryatin, 2005:10)
Kaum Formalis berupaya mengkaji karya sastra genre fiksi dan mencoba lebih memadukan unsur-unsur yang membentuk karya sastra ke dalam suatu sistem yang padu dan menyeluruh. Mereka tidak lagi menjadikan puisi sebagai satu-satunya objek pengkajian, juga tidak lagi terpaku pada sarana-sarana yang ‘mengganjilkan’ atau ‘mengasingkan’ karya sastra.
Menurut Jefferson (melalui Nuryatin, 2005:10-11) pengkajian sastra kaum formalis berdasar pada perbedaan antara peristiwa di satu pihak dengan penciptaan di pihak lain, yaitu antara fabula dengan sjuzet. Konsep ini dikembangkan oleh Shklovsky. Fabula adalah bahan dasar berupa jalan cerita menurut logika dan kronologi peristiwa, sedangkan sjuzet merupakan sarana untuk menjadikan jalan cerita menjadi ganjil atau aneh.
Distinguishing between the concepts of fabula (or story) that is, the temporal-causal sequence of narrated events which comprise the raw materials of the work, and sjuzet (or plot) as the way in which these materials are formally manipulated (Bennett, 2003:19).
Perbedaan antara “cerita” denga “alur” diberi tempat penting dalam teori naratif kaum formalis Rusia. Mereka menekankan bahwa hanya “alur” (sjuzet) yang sungguh-sungguh bersifat kesastraan, sedangkan “cerita” (fabula) hanya sebagai bahan mentah yang menunggu pengolahan dari tangan pengarang. Sjuzet bukan hanya susunan peristiwa-peristiwa cerita, melainkan juga semua sarana yang digunakan untuk menyela dan menunda penceritaan, serta yang ditujukan untuk menarik perhatian pembaca terhadap bentuk prosa tersebut. Penyusunan sjuzet didasarkan pada gagasan defamiliarisasi yang mencegah pembaca dari cara memandang peristiwa-peristiwa sebagai hal yang khas dan sudah lazim (Selden, 1991:6-8).
Istilah-istilah teknis yang bermacam-macam diperkenalkan dan digunakan oleh Shklovsky, Eichenbaum, Tynjanov, dan lain-lain untuk membedakan faktor-faktor utama yang konstruktif dalam sebuah karya sastra. Perbedaan antara konsep “cerita” (fabula) dan “alur” (sjuzet) mendapat tempat yang sangat penting di dalam teori naratif formalis Rusia. Fabula didefinisikan sebagai deskripsi rangkaian peristiwa, atau lebih tepatnya sebagai penggambaran rangkaian kejadian dalam tatanan yang urut dan relasi-relasi kausal. Konsep fabuladigunakan sebagai lawan konsep sjuzetyang biasanya diterjemahkan sebagai “plot” atau “strukturnaratif”. Menurut kaum formalis, “alur” (sjuzet) adalah cara penyajian materi semantik dalam teks tertentu, sedangkan “cerita” (fabula) hanyalah materi bagi formasi plot (Fokkema, 1998:23-24).
Daftar Bacaan
Bennett, Tony. 2003. Formalism and Marxism; Second Edition. New York: Routledge.
Bertens, Hans. 2001. Literary Theory: The Basic. London And New York: Routledge.
Bressler, Charles E. 1999. Literary Criticism, Second Edition. New Jersey: Prentice Hall.
Eagleton, Terry. 2006. Literary Theory: An Introduction, Second Edition. Minneapolis: The University Of Minnesota Press.
Endraswara, Suwardi. 2008. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta: Media Pressindo.
Fokkema, D.W. dan Elrud Kunne-Ibsch. 1998. Teori Sastra Abad Ke-20. Jakarta: Gramedia.
Lodge, David and Nigel Wood (ed.). 2000. Modern Criticism and Theory: A Reader; Second Edition. UK: Pearson Education Limited.
Luxemburg, Jan van, et.al. 1989. Pengantar Ilmu Sastra. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Jakarta: Gramedia.
Nuryatin, Agus. 2005. Formalisme Rusia: Mengolah Fakta dalam Fiksi. Semarang: Rumah Indonesia.
Rice, Philip dan Patricia Waugh (ed.). 1989. Modern Literary Theory: A Reader. Great Britain: Edward Arnold.
Selden, Raman. 1991. Panduan Membaca Teori Sastra Masa Kini. Diterjemahkan oleh Rachmat Djoko Pradopo. Yogyakarta: Gadjah Mada Univeristy Press.
Selden, Raman et.al. 2005. A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory, Fifth Edition. Great Britain: Pearson Longman.
Shklovsky, Victor. 1917. “Art and Technique” dalam Modern Literary Theory: A Reader. Rice, Philip dan Patricia Waugh (ed.). Great Britain: Edward Arnold.
_______. 1921. “Sterne’s Tristram Shandy: Stylistic Commentary” dalam The Novel: An Anthology of Criticism Theory 1900-2000. Dorothy J. Hale (ed.). USA: Blackwell Publishing.
Teeuw, A. 1988. Sastra Dan Ilmu Sastra. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar