A.
Pendahuluan
Cerpen Sarajevo’s Wombs and
The Children Of Torn karya Aiman Tashika merupakan novel terjemahan
yang menceritakan perjalanan hidup seorang anak mencari ibu kandungnya. Ia,
yang bernama Advija, adalah anak yang dilahirkan dari hasil pemerkosaan tentara
Serbia terhadap perempuan Bosnia yang terjadi pada masa perang Serbia-Bosnia.
Advija akhirnya menemukan ibu kandungnya setelah sekian lama diadopsi oleh
seorang aktivis perempuan.
Dalam cerpen ini sangat menonjol
teknik penceritaan yang dilakukan oleh pengarang. Sudut pandang orang pertama
sebagai pengamat merupakan cara yang tepat untuk memberikan efek seperti tokoh
utama sendiri yang bercerita apa yang dialaminya. Pengarang juga memasukkan
beberapa paragraf yang menunjukkan data-data yang digunakan untuk meyakinkan
pembaca mengenai cerita tokoh utama.
Penggunaan teknik penceritaan sangat
erat kaitannya dengan Formalisme Rusia. Secara singkat, konsep defamiliarisasi
dalam Formalisme Rusia merupakan teknik yang dilakukan pengarang untuk mengolah fabula menjadi
sederetan sjuzet.
Defamiliarisasi dengan menggunakan teknik-teknik tertentu untuk mengolah fabula sehingga
memunculkan efek tertentu pada pembaca.
Analisis cerpen ini dilakukan dengan
menggunakan pendekatan objektif sehingga dapat menemukan teknik penceritaan
yang digunakan oleh pengarang untuk mengembangkan cerita sehingga memunculkan
efek tertentu untuk pembaca. Analisis ini hanya mengungkapkan teknik-teknik
penceritaan yang digunakan pengarang dan efek yang ditimbulkan olehnya.
Unsur-unsur lain dalam cerpen hanya digunakan untuk mendukung analisis utama,
yaitu analisis teknik penceritaan.
B.
Teknik Penceritaan dalam Cerpen
Ada beberapa teknik penceritaan yang
digunakan pengarang dalam cerpen ini. Teknik penceritaan orang pertama adalah
hal yang paling menonjol dalam cerpen ini. Pengarang menghadirkan tokoh Advija sebagai
tokoh utama yang menceritakan kehidupannya. Pada teknik penceritaan orang
pertama ini, pengarang juga memanfaatkan teknik monolog interior. Monolog
interior digunakan untuk memberikan gambaran batin tokoh “aku”
(selanjutnya disebut Advija). Selain penggunaan teknik monolog interior, juga
digunakan teknik pengamatan dan teknik reportase. Teknik pengamatan digunakan
pengarang untuk mengamati apa yang terjadi di sekitar tokoh. Sedangkan teknik
reportase, digunakan untuk memberikan informasi-informasi faktual yang
menyebabkan cerita dalam cerpen seakan-akan adalah peristiwa konkret dan nyata
terjadi.
Cerpen ini merupakan kisah perjalanan
Advija menuju ke suatu lokasi yang dituju oleh Mom. Cerita dimulai dengan
perkenalan tokoh utama mengenai latar belakangnya dan Mom. Adjiva menceritakan
latar belakang pekerjaan Mom yang menjadi ibunya selama ini. Kemudian
dilanjutkan dengan penceritaan diri Adjiva. Banyak kejadian yang dialami Adjiva
hingga ia mengalami konflik batin yang amat besar. Adjiva mengalami
kegagalan-kegagalan dalam mengidentifikasi dirinya. Dari hasil gunjingan dan
ejekan yang diterimanya, menjadikan ia bertanya-tanya siapa sebenarnya.
Cerita dilanjutkan dengan pemaparan
mengenai peristiwa perang Serbia-Bosnia. Pemaparan ini dilakukan dengan
memasukkan informasi dari beberapa sumber. Semuanya memaparkan kejadian
pemerkosaan yang dilakukan oleh tentara-tentara Serbia terhadap
perempuan-perempuan Bosnia.
Cerita dilanjutkan dengan kejadian
masa sekarang ketika Advija dan Mom akan pergi ke sebuah desa. Sesampainya di
sebuah rumah, Mom dan Advija menemui seorang wanita yang merupakan korban
pemerkosaan tentara Serbia. Advija merasakan apa yang dialami oleh perempuan
itu. Hingga akhirnya perempuan itu mengamuk dan Mom harus dibawa ke rumah sakit.
Di bagian akhir cerita, yaitu di rumah sakit, Mom akhirnya menceritakan
kenyataan yang sebenarnya. Pada bagian akhir ini terungkap semua siapa
sebenarnya Advija. Ia adalah Edin, anak perempuan yang baru saja ia dan Mom
temui.
Dari bagian-bagian sjuzet cerpen
ini, dari rangkaian peristiwa, penggunaan lokasi dalam cerita, dan penggunaan
sarana informasi dari berbagai sumber di dalam cerita yang digunakan oleh
pengarang, dapat diketahui fakta yang mendasari fabula dalam
cerpen ini. Fabula yang
digunakan adalah peristiwa pada perang Serbia-Bosnia yang terjadi antara tahun
1992-1995. Sebagaimana diketahui, pada masa perang Serbia-Bosnia yang terjadi
tahun 1992-1995 terjadi pemerkosaan besar-besaran yang dilakukan tentara Serbia
pada perempuan-perempuan muslim di Bosnia. Banyak perempuan-perempuan Bosnia
yang hamil akibat perkosaan tentara-tentara Serbia. Mereka melahirkan anak-anak
itu lalu dibuang atau dimasukkan ke panti asuhan. Bagian ini yang disorot oleh
pengarang dan dikembangkan ke dalam sebuah cerpen.
Sudahkah aku cerita kalau Mom adalah
korban perkosaan tentara Serbia juga? Tapi ia termasuk yang langka.
Dia bisa bertahan meski cerita buruk tidak hanya menimpanya, namun juga kakak perempuannya,
yang tewas di kamp konsentrasi.
Pada kutipan di atas, terlihat adanya pernyataan
dari tokoh Advija mengenai pemerkosaan yang dilakukan tentara Serbia. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa fakta yang melandasi fabula cerpen
ini adalah peristiwa perang Serbia-Bosnia tahun 1992-1995.
Teknik penceritaan orang pertama juga
memanfaatkan teknik monolog interior, pengamatan, dan reportase. Teknik
penceritaan orang pertama digunakan untuk menunjukkan bahwa peristiwa itu
benar-benar dialami oleh tokoh utama. Ia dilahirkan dari hasil perkosaan
tentara Serbia terhadap perempuan Bosnia yang kemudian dibuang di panti asuhan.
Akhirnya diadopsi oleh seorang perempuan yang bernama Bakira Hasecic dan
dipanggil Mom. Di akhir cerita akhirnya Mom berhasil mempertemukan Advija dan
ibu kandungnya, Esma, walaupun tidak secara langsung ia dipertemukan. Mom baru
memberitahukannya setelah mereka di rumah sakit.
Pengkonkretan fakta yang digunakan
dalam cerpen ini diperkuat dengan teknik monolog interior, teknik pengamatan,
dan teknik reportase. Teknik monolog interior digunakan pengarang untuk
menunjukkan konflik batin yang dialami oleh Advija. Ia mengalami konflik dalam
menemukan identitasnya yang sebenarnya, mulai dari ejekan teman-temannya yang
memanggilnya pero,
yaitu sebutan untuk orang Serbia. Namun, ia tetap yakin bahwa ia adalah anak
Mom. Kenyataan itu selalu ia lawan, hingga akhirnya ia tetap mempertanyakan
kenyataan asal-usulnya dan siapa ibu kandungnya.
Tapi,
haruskah aku mengajukan pertanyaan seperti itu pada batinku sendiri? Ia adalah
diriku. Suara tertulus dari diriku. Bagaimana mungkin aku meragukannya? Kurasa
aku memang terlalu lama bersembunyi di balik topeng yang kuciptakan sendiri.
Aku sadar aku terganggu. Mungkin sesungguhnya aku benar-benar ingin tahu
asal-usulku. Aku ingin lihat wajah ibu kandungku. Aku ingin tahu ayahku-lalu
meludahinya, memakinya, atau mungkin memeluknya.
Pada kutipan di atas, terlihat konflik
batin yang dialami oleh Advija atas kenyataan jadi dirinya. Ia mengalami
gejolak yang hebat dalam dirinya. Hal ini terjadi setelah ia tahu bahwa
sebenarnya ia diambil dari panti asuhan dan diadopsi oleh Mom.
Selain itu, pengkonkretan fakta cerita
juga dilakukan dengan teknik pengamatan, yaitu mengamati kejadian yang ada di
sekeliling tokoh utama. Kejadian yang menonjol dan dilakukan dengan teknik
pengamatan adalah pekerjaan Mom dan kejadian saat ibu Esma mengamuk. Pekerjaan
Mom sebagai seorang relawan yang mengurusi korban-korban pemerkosaan tentara
Serbia menjadikan Advija penasaran dan ingin mengetahui lebih dalam pekerjaan
Mom hingga menjadikan Advija merasa ada keganjilan bahwa ia sebenarnya bukan
anak kandung Mom. Hal ini kemudian mengungkap kenyataan bahwa Advija adalah
anak adopsi dan anak hasil perkosaan.
Selain itu teknik pengamatan juga
dilakukan untuk menggambarkan suasana rumah keluarga Esma. Saat masuk ke dalam
rumah dan kamar Esma, Advija menggambarkan secara detail keadaan lokasi
tersebut. Mulai dari kondisi ruangan, suasana saat Esma mulai marah, hingga
saat Esma mengamuk dan melempari Mom.
Esma meraung, mengambil apa pun yang
bisa diambilnya, dan melemparnya ke arah ibunya dan kami. Mom berkelit. Aku
menunduk dan berlari ke belakang bangku. Ibu Esma tidak bergerak dan membiarkan
dahinya terluka ditimpuk vas berbunga kertas. Mom dengan gesit memeluk Esma,
tapi Esma tidak kalah kuat. Dia membuyarkan lingkaran tangan yang
membelenggunya dengan sekali gerakan membongkar dan bergemuruh keras-keras.
Esma berbalik, dan menghantam Mom dengan tangan kosong.
Kutipan di atas menunjukkan pengamatan
saat Esma mengamuk. Mom berusaha menenangkan Esma. Tetapi Esma lebih kuat dan
bisa melepaskan diri. Esma mulai menghantam Mom hingga jatuh. Hingga akhirnya
Advija menerjang Esma. Penggunaan teknik pengamatan ini dilakukan untuk
memperkuat adegan yang ada dalam cerita sehingga menimbulkan efek seperti
pembaca seakan ikut melihat kejadian yang terjadi di sekitar tokoh utama.
Teknik reportase digunakan untuk
memperkuat penggunaan fabula dalam
cerita. Pengarang memasukkan informasi-informasi yang dapat menimbulkan efek
faktual dan pembaca seakan membaca sebuah berita. Hal ini ditandai dengan
penggunaan kalimat “Menurut Alexandra
Stiglmayer, editor Mass Rape: The War Againt Women in Bosnia-Herzegovina...”, “Mantan kepala polisi
Bosnia, Edhem godinjak, pernah mengatakan...”, dan “Laporan UNICEF
mendukung pernyataan Mom.” Dari ketiga kalimat tersebut, penggunaan
nama orang dan lembaga tertentu, dapat menimbulkan efek faktual dalam cerita.
Teknik penceritaan orang pertama
dengan bantuan teknik monolog interior, pengamatan, dan reportase, menimbulkan.
Pembaca juga diajak untuk membaca fakta mengenai peristiwa pemerkosaan yang
dilakukan oleh tentara Serbia pada perempuan Bosnia hingga melahirkan
bayi-bayi. Selain itu, efek kejutan juga terjadi di akhir cerita. Mom
mengungkapkan siapa sebenarnya Advija dan Edin. Ternyata Edin yang dimaksud Mom
adalah Advija. Hal ini menunjukkan bahwa Advija adalah Edin putra dari Esma
yang merupakan hasil perkosaan tentara Serbia.
C. Simpulan
Analsis menggunakan teori Formalisme
Rusia dan pendekatan objektif pada cerpen ini dapat menunjukkan teknik-teknik yang
digunakan pengarang dalam mendefamiliarisasikan fabula menjadi sjuzet.
Teknik yang digunakan adalah teknik penceritaan orang pertama, teknik monolog
interior, teknik pengamatan, dan teknik reportase. Dari analisis ini pula
diketahui bahwa fakta yang mendasari fabula dalam
cerpen ini adalah peristiwa pada perang Serbia-Bosnia yang terjadi antara tahun
1992-1995. Efek yang ditimbulkan dari defamiliarisasi dalam cerpen ini antara
lain efek seperti pembaca seakan ikut melihat kejadian yang terjadi di
sekitar tokoh utama, efek faktual dalam cerita dengan memanfaatkan nama orang
dan lembaga tertentu, dan efek seperti tokoh utama seakan-akan bercerita secara
langsung pada pembaca mengenai peristiwa yang dialaminya. Selain itu pada akhir
cerita dimanfaatkan sespense untuk
menimbulkan efek kejutan atas kenyataan mengenai kenyataan siapa tokoh Advija
yang sebenarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar