Jumat, 30 Desember 2011

ANALISIS STRATA NORMA, SEMIOTIK, DAN INTERTEKSTUAL PUISI "ASMARADANA" KARYA GOENAWAN MUHAMAD

Oleh: Alfian Rokhmansyah






ASMARADANA

Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena
angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika
langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang jauh. Tapi di antara
mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.

Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta, nasib,
perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi
pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan
mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani
lagi.

Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.


                           1971
Goenawan Muhamad
                           (Asmaradana, 1992: 44)

                           

1.       PENDAHULUAN
          Pradopo (dalam Suharianto, 2005: 8) mengatakan bahwa puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi pancaindera dalam susunan yang berirama. Puisi adalah karya sastra yang kompleks pada setiap lariknya mempunyai makna yang dapat ditafsirkan secara denotatif atau pun konotatif.
          Puisi merupakan suatu karya sastra yang inspiratif dan mewakili makna yang tersirat dari ungkapan batin seorang penyair. Sehingga setiap kata atau kalimat tersebut secara tidak langsung mempunyai makna yang abstrak dan memberikan imaji terhadap pembaca. Kata-kata yang terdapat dalam puisi dapat membentuk suatu bayangan khayalan bagi pembaca, sehingga memberikan makna yang sangat kompleks.
          Perkembangan bentuk dan isi puisi-puisi tersebut tidak terlepas dari teks-teks atau karya lain. Ada berbagai cara yang dilakukan pengarang dalam mencari sumber penciptaan baik yang disadari secara langsung maupun tidak langsung. Misalnya, pengarang mengambil mitos, cerita wayang, legenda, kisah-kisah nabi, dll. Sebagai sumber rujukan penciptaan. Artinya, karya tidak merupakan hal yang berdiri sendiri, tetapi sepenuhnya bergantung pada teks-teks yang berada di sekitarnya.
          Dalam analisis ini, digunakan puisi Asmaradana karya Goenawan Muhamad yang termuat dalam kumpulan puisinya Asmaradana (1992). Puisi ini pertama kali muncul pada majalah Horison tahun 1970-an. Kemudian termuat ulang dalam tiga kumpulan puisi Goenawan Muhamad, yaitu Interlude (1974), Asmaradana (1992), dan Puisi-puisi Lengkap Goenawan Muhamad (2001).
          Tema puisi-puisi Goenawan cukup beragam, misalnya menyoal politik, agama, ekonomi, kekuasaan, cinta, perempuan, Tuhan, ibu, dan kekerasan. Yang menarik adalah dalam berkarya Goenawan pun menggunakan peristiwa-peristiwa yang ada dalam legenda atau mitos-mitos klasik. Tema-tema di atas diambil dari beberapa tokoh mitos dan diolah kembali menjadi puisi. Keberagaman tema ini tidak terlepas dari ketertarikannya dan penguasaannya terhadap berbagai persoalan yang ada juga penguasaannya terhadap berbagai pengetahuan baik yang berupa fiksi maupun non-fiksi.
          Fenomena wayang dan mitos yang digunakan Goenawan dalam puisinya cukup banyak. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri karena selain ditafsirkan berbeda dari pakem, juga kekuatan estetiknya sangat kuat. Metafor-metafornya yang orisinal sangat khas dan selalu hampir penuh kejutan, mengandung musikalitas yang rata-rata merdu, dan kuat dalam membangun suasana dalam mengemban gagasan tema. Hal ini telah memberi pengaruh yang cukup besar pada penyair generasi berikutnya. Karena itu, dalam kesempatan ini, penulis memilih puisi-puisi yang mengandung kisah wayang dan mitos. Pemilihan terhadap puisi-puisi ini salah satunya karena didasari oleh ketertarikan atas pendapat Goenawan di atas bahwa wayang telah memberi suatu “dunia penghayatan yang tidak berbentuk”, yang justru sangat terbuka untuk dibentuknya sendiri.
          Dalam penentuan makna sebuah puisi dapat dilakukan menggunakan dua cara, yaitu analisis strata norma dan analisis semiotik. Roman Ingarden (dalam Wellek, 1989: 186-187) menyebutkan strata norma dalam karya sastra antara lain: lapis bunyi, lapis arti, lapis objek, lapis dunia yang dilihat dari suatu titik pandang tertentu, dan lapis metafisika.
          Wellek (dalam Pradopo, 1990: 15) mengemukakan analisis strata norma menurut Roman Ingarden sebagai berikut:
1.       Lapis norma pertama adalah lapis bunyi (sound stratum). Suara sebagai konvensi bahasa, disusun sedemikian rupa hingga menimbulkan arti. Sehingga suara itu tidak hanya sekadar suara tidak berarti. Dengan adanya suara-suara itu, akan bisa ditangkap artinya atau maksud dari puisi tersebut.
2.       Lapis arti (unit of meaning), yaitu berupa rangkauan fonem, suku kata, kata, frase, dan kalimat. Semuanya merupakan satuan-satuan arti.
3.       Lapis yang berupa latar, pelaku, objek-objek yang dikemukakan, dan dunia pengarang yang berupa cerita atau lukisan.
4.       Lapis “dunia” yang dipandang dari titik pandang tertentu yang tak perlu dinyatakan, tetapi terkadung dalamnya (implied).
5.       Lapis metafisis, berupa sifat-sifat metafisis yang sublim, tragis, mengerikan atau menakutkan, dan suci. Melalui sifat-sifat seni ini dapat memberikan renungan atau kontemplasi kepada pembaca.
          Strata norma dari Roman Ingerden ini diterapkan pada saat melakukan analisis dan interpretasi pada puisi yang diteliti. Karena biasanya analisis dan interpretasi puisi dilakukan secara bersamaan.
          Penentuan makna puisi secara semiotik merupakan penerapan teori semiotik dari Pierce dan Saussure. Penerapan ini dilakukan oleh Riffatere yang tergambar dalam bukunya Semiotic of Poetry. Penentuan makna secara semiotik dilakukan dengan menggunakan dua pembacaan yaitu pembacaan heruistik dan hermenuetik. Teori semiotik Riffatere dapat dimasukkan ke dalam pembacaan hermenuetik karena telah mengalami pemaknaan mendalam.




2.       ANALISIS STRATA NORMA
2.1     Lapis Pertama
          Pembahasan lapis bunyi hanya ditujukan pada bunyi-bunyi yang bersifat istimewa atau khusus, yaitu bunyi-bunyi yang dipergunakan untuk mendapatkan efek puitis atau nilai seni (Pradopo, 1990: 16). Dalam puisi bunyi bersifat estetik, merupakan unsur puisi untuk mendapatkan keindahan dan tenaga ekspresif. Kecuali itu bunyi juga bertugas memperdalam makna, menimbulkan suasana yang khusus, menimbulkan perasaan tertentu, dan menimbulkan bayangan angan secara jelas.
          Demikian pentingnya peranan bunyi dalam puisi, sehingga dalam perjalanannya ada puisi-puisi yang sangat menonjolkan unsur bunyi. Analisis lapis bunyi pada puisi Asmaradana karya Goenawan Muhamad ini, tidak dianalisis bunyi pada tiap baris di setiap baitnya. Karena dari beberapa sumber yang mencantumkan teks puisi Asmaradana ini, pemenggalan kalimat pada akhir baris tidak sama antara satu sumber dengan sumber yang lain. Alasan ini yang menyebabkan analisis puisi ini tidak melihat tiap barisnya, tetapi pada tiap kalimat yang ada pada masing-masing bait. Karena tiap bait pada puisi ini terdiri dari kalimat-kalimat.
          Bait pertama pada puisi Asmaradana karya Goenawan ini terdapat tiga kalimat yang dijadikan empat baris. Antara kalimat yang satu dengan kalimat berikutnya dipisahkan oleh tanda titik. Bait pertama didominasi oleh bunyi konsonan /k, p, d/ yang menimbulkan efek kakofoni sehingga menciptakan suasana kacau, tidak menyenangkan, dan sedih. Selain itu pada bait ini juga memunculkan perasaan kasih suci. kalimat ini juga didominasi vokal /a, e, u/ yang menimbulkan efek murung, sedih, dan perasaan kasih suci.
          Bait kedua terdapat dua kalimat yang didominasi konsonan /p, t/ yang menimbulkan efek kakofoni, sehingga menciptakan suasana kacau, tidak menyenangkan, dan sedih. Bait kedua ini juga didominasi vokal /a, e, u/ yang menimbulkan efek kakofoni dan menciptakan suasana kecewa, gundah, dan perasaan kasih suci.
          Bait ketiga dalam puisi ini terdapat dua kalimat. Kalimat kedua mempunyai tiga klausa. Bait ini didominasi bunyi /k, p, t/ yang menimbulkan suasana sedih, tidak menyenangkan, dan kacau. Selain itu juga didominasi vokal /a, e/ yang menimbulkan suasana murung, sedih, gundah, kecewa, tetapi juga menimbulkan perasaan kasih yang suci.
          Pada bait keempat, terdapat tiga kalimat. Kalimat-kalimat pada bait ini didominasi oleh bunyi kakofoni konsonan /k, p, w/ yang memunculkan efek kacau, murung, sedih, kecewa, dan gudah. Selain itu kalimat-kalimat pada bait ini juga didominasi oleh vokal /a, e, u/ yang menciptakan efek kasih suci tetapi dalam suasana yang murung dan kacau.
          Bunyi-bunyi pada puisi ini umumnya memunculkan efek-efek kakofoni. Hal ini dapat dihubungkan dengan beberapa kata yang memunculkan efek berat. Kata-kata ini misalnya kata perpisahan, menangis, kematian, dan lupakan. Beberapa kata tersebut dapat menciptakan suasana sedih dan berat pada puisi Asmaradana ini.

2.2     Lapis Kedua
          Lapis arti ini akan menganalisis satuan-satuan makna dari susunan pilihan-pilihan kata yang dilakukan oleh penyair. Analisis lapis kedua ini dilakukan dengan mengartikan kata, frasa, atau kalimat secara harfiah atau secara umum dengan makna kata sebenarnya.
          Bunyi-bunyi pada puisi ini umumnya memunculkan efek-efek kakofoni. Hal ini dapat dihubungkan dengan beberapa kata yang memunculkan efek berat. Kata-kata ini misalnya kata perpisahan, menangis, kematian, dan lupakan. Beberapa kata tersebut dapat menciptakan suasana sedih dan berat pada puisi Asmaradana ini.
          Bait pertama terdapat kata ganti orang ketiga. Kata ganti ini digunakan oleh penyair untuk memunculkan efek sudut pandang. Sehingga puisi tidak sekedar memunculkan efek dan makna secara umum. Penggunaan kata ganti ia pada bait pertama ini, menggambarkan tokoh yang diangkat dalam puisi ini. Penyair pada kalimat terakhir menggunakan frasa mereka berdua, yang sebelumnya tidak diungkapkan. Sehingga pembaca akan sedikit kesulitan memahami bait pertama puisi ini, karena awalnya hanya disebutkan kata ganti orang ketiga tunggal, yaitu kata ia.
          Pemilihan diksi pada bait pertama ini tergolong mudah untuk dipahami. Tetapi untuk beberapa frasa ada yang sedikit sulit dipahami oleh orang awam, misalnya pada frasa resah kuda. Kata resah dapat diartikan sebagai perasaan gundah dan tidak enak dalam hati karena sesuatu hal. Tetapi pada bagian ini diikuti oleh kata benda kuda. Pada frasa resah kuda ini dapat dimaknai sebagai bentuk perasaan gundah yang dialami oleh seekor kuda. Frasa ini juga diperjelas oleh bagian berikutnya dalam kalimat ini.
          Bait kedua puisi ini menggunakan beberapa kata yang mempunyai arti tidak berhubungan. Pada kalimat kedua misalnya //Ia melihat peta, nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan// terdapat kata peta, nasib, perjalanan, sebuah peperangan. Kata-kata ini juga dilihat secara sepintas tidak mempunyai hubungan makna antara satu kata dengan kata yang lain. Tetapi juga dipahami dengan melihat latar belakang kemunculan puisi ini, kata-kata ini dapat dimaknai dan mempunyai hubungan antara satu kata dengan kata yang lain. Kata-kata ini dapat dimaknai sebagai sebuah petunjuk atas akibat yang dialami setelah peperangan. Pada bait kedua ini, pengarang masih menggunakan sudut pandang orang ketiga.
          Bait ketiga puisi ini tidak menggunakan kata-kata yang sulit dipahami. Berbeda dengan dua bait sebelumnya yang menggunakan diksi kurang bisa dimengerti oleh pembaca awam, pada bait ini penyair memilih diksi yang mudah dimengerti dan disusun menjadi kalimat yang mudah dipahami maknanya oleh pembaca. Misalnya pada kalimat //Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis// menggunakan diksi yang mudah dipahami secara umum oleh pembaca.
          Bait terakhir puisi ini menggunakan kata-kata yang mudah dipahami oleh pembaca, tetapi penyair memanfaatkan beberapa majas untuk memantapkan bait terakhir ini. Majas yang digunakan oleh penyair antara lain terdapat pada bagian //Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu// yang mempunyai makna mengenai perputaran waktu yang terasa sangat lambat bagi tokoh di dalam puisi ini. Pada bait terakhir ini juga digunakan kata sapaan yang disisipkan di tengah kalimat dengan penanda jeda menggunakan tanda koma. Berikut kutipannya:
Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.

          Penggunaan kata ganti pada puisi ini untuk menandakan pada siapa puisi ini ditujukan. Tokoh utama pada puisi ini adalah aku lirik, yaitu kekasih Anjasmara. Penggunaan kata ganti ia pada puisi ini menunjuk pada orang ketiga yang merupakan subjek tujuan puisi ini. Kata ganti ia merupakan penunjuk pada tokoh Anjasmara dalam puisi ini.
          Analisis lapis arti ini akan membahas mengenai bagaimana pemaknaan secara harfiah sebuah puisi. Secara harfiah puisi Asmaradana karya Goenawan Muhamad adalah sebagai berikut:
          Bait pertama menggambarkan tokoh ia dan kekasihnya saling diam ketika mereka mendengar kepakan sayap kelelawar serta suara hujan yang mengguyur daun kemuning yang ditimbulkan oleh angin. Tokoh ia mendengar suara kuda dan langkah kuda yang ditimbulkan oleh pedati ketika suasana lagit cerah tanpa awan.
          Bait kedua mengisahkan ketika tokoh ia mengucapkan kata perpisahan kematian saat ia mengetahui bagaimana nasib perjalanan setelah diadakan peperangan.
          Bait ketiga tokoh ia tahu apa yang akan dilakukan oleh kekasihnya itu. Kekasihnya tidak akan menangis karena jika keesokan harinya setelah pertemuan itu ada jejak pada halaman rumah yang menuju arah utara, kekasihnya itu tidak akan mencari tahu siapa mereka, karena ia tidak akan berani melakukan itu.
          Pada bait terakhir ini, penyair mengungkapkan mengenai pesan yang diberikan oleh tokoh ia kepada pada kekasihnya. Tokoh ia diubah menjadi tokoh aku lirik pada bait terakhir ini. Tokoh aku lirik mengatakan kepada kekasihnya, yaitu Anjasmara, mengenai apa yang ia inginkan terhadap kekasihnya itu. Aku lirik menginginkan kekasihnya untuk tetap seperti dulu. Aku lirik juga mengatakan jika terjadi sesuatu maka lama kelamaan kekasihnya akan melupakan dirinya dan dirinyapun akan melupakan kekasihnya itu.

2.3     Lapis Ketiga
          Lapis objek ini meliputi latar, pelaku dan dunia pengarang. Tokoh utama dalam puisi ini adalah tokoh ia atau aku lirik dan kekasihnya atau Anjasmara. Latar yang digunakan adalah sebuah tempat yang digunakan untuk pertemuan tokoh utama dengan kekasihnya. Latar waktu yang digunakan adalah saat pertemuan antara tokoh utama dengan kekasihnya sebelum melaksanakan peperangan.
          Jika objek-objek, latar, dan pelaku yang dikemukakan dalam puisi digabungkan, maka akan menghasilkan ‘dunia pengarang’ atau isi puisi. Ini merupakan dunia atau cerita yang diciptakan penyair di dalam puisinya. Imajinasi dunia pengarang bila dihubungkan dengan salah satu episode cerita Damar Wulan adalah sebagai berikut:
          Tokoh ia atau aku lirik mengungkapkan mengenai apa yang ia rasakan terhadap kekasihnya. Tokoh ia atau aku lirik menggantikan tokoh Damar Wulan yang ada dalam suasana kebimbangan. Damar Wulan dengan berat hati menerima tugas mulia sebagai panglima perang melawan Minak Jingga. Ia telah membaca peta nasibnya dan telah pula mengukur kemampuannya melawan Minak Jingga. Hanya satu kata yaitu kematian yang akan didapatkannya karena Minak Jingga memiliki pusaka sakti. Oleh karena itu, ketika Anjasmara terlena atau tidur dalam pangkuannya, Damar Wulan perlahan-lahan pergi melangkah meninggalkan sang kekasih. Sebelum meninggalkan kekasihnya itu, Damar Wulan mengucap dalam hati salam perpisahan terhadap Anjasmara.

2.4     Lapis Keempat
          Lapis keempat ini merupakan lapis dunia yang dilihat dari suatu titik pandang tertentu. Judul puisi ini merupakan intertekstual dari tembang Jawa klasik, yaitu tembang asmaradana.
          Kata asmaradana berasal dari kata Jawa Kuna smara dan dhana. Kata smara berarti kasih sayang dan merupakan nama dewa cinta, yaitu Dewa Asmara, sedangkan kata dhana berarti api (Kamus Jawa Kuna-Indonesia karangan P.J. Zoetmulder, 2004). Kata asmaradana atau smaradana mengacu pada peristiwa hangusnya Dewa Asmara karena sorot mata ketiga dari Dewa Siwa. Pada Kakawin Smaradhana karya Mpu Darmaja, kata smaradana diberi makna remen ing paweweh yang berarti suka memberi. (http://kotasolo.info/indek.php?option=com_content &task=view&id=750&Itemid=58)
          Asmaradana berarti perasaan asmara atau cinta, perasaan saling menyukai yang sudah menjadi kodrat Tuhan. Kata asmaradana sebagaimana tembang macapat Jawa, merupakan tembang yang ditujukan bagi anak remaja yang sedang mengalami masa pertumbuhan.
          Judul puisi ini sudah menggambarkan isi secara menyeluruh pada puisi Asmaradana karya Goenawan ini. Karena puisi ini menceritakan mengenai ketulusan kasih sayang yang diberikan Damar Wulan kepada Anjasmara.
          Bait pertama menggambarkan saat pertemuan antara Damar Wulan dan Anjasmara sebelum Damar Wulan melakukan perang. Saat itu mereka berdua sama-sama membisu dan tidak berkata-kata. Bait ini melukiskan apa yang dirasakan oleh Damar Wulan saat itu. Ia dapat mendengar setiap kepakan sayap kelelawar dan rintikan hujan yang jatuh dan membasahi daun kemuning. Ia juga akan mendengar kabar dari orang yang mengendarai kuda saat langin kembali cerah. Tergambar betapa syahdu dan haru suasana ketika itu yang terwakili dalam tiap bait puisi tersebut. Sebenarnya banyak yang ingin mereka ungkapkan. Entah tentang cinta, perpisahan, dan rasa sakit yang menyayat, sebagaimana terungkap pada kalimat terakhir //Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata//.
          Bait kedua menggambarkan saat Damar Wulan mengucapkan salam perpisahan kepada Anjasmara. Ia telah membaca peta nasibnya dan telah pula mengukur kemampuannya melawan Minak Jingga. Hanya satu kata yaitu kematian yang akan didapatkannya karena Minak Jingga memiliki pusaka sakti.
          Bait ketiga menggambarkan suasana saat itu ketika Damar Wulan mengatakan kata perpisahan kepada Anjasmara. kepergian Damarwulan itu disikapi dengan dingin kebekuan oleh sang kekasih. Pada bait pertama dijelaskan bahwa Damar Wulan tahu jika kekasihnya tidak akan menangis, //Ia tahu perempuan itu tak akan menangis//. Tak ada gunanya menangis bagi sang kekasih karena itu takkan mengubah takdir. Bagian //bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara// yang berarti bahwa berita kekalahan dan kematian akan datang. Bagi orang Jawa dan orang Islam, utara adalah lambang kematian. Apabila berita kemenangan yang datang maka dia harus rela melepas sang kekasih naik pangkat lalu pindah tugas di dalam kerajaan Majapahit serta dinikahkan dengan seorang gadis yang lebih terhormat. Bagian //Ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani lagi// mempunyai makna sebagai upaya yang dilakukan oleh Anjasmara setelah kepindahan Damar Wulan.
          Bait terakhir merupakan pesan yang diberikan oleh Damar Wulan terhadap Anjasmara. Ketika Anjasmara tidur terlelap pada pangkuan Damar Wulan, ia membisikan pesan terhadap Anjasmara sang kekasihnya itu. Ia berpesan apapun yang terjadi pada dirinya, mereka harus saling melupakan. Karena tidak akan mungkin bertemu lagi.

2.5     Lapis Kelima
          Lapis kelima merupakan lapis metafisik, yaitu mengenai pesan moral yang disampaikan oleh penyair dalam puisinya. Dalam puisi ini pokok permasalahan yang dibicarakan adalah kepergian Damar Wulan untuk mengemban tugas yang diberikan oleh kerajaan. Secara keseluruhan, puisi ini mengandung pesan moral bahwa sepasang suami istri tidak akan bersatu untuk selamanya, seorang suami tidak akan selamanya mendampingi istrinya.




3.       ANALISIS SEMIOTIK
          Dalam analisis semiotik, dilakukan dua macam pembacaan, yaitu pembacaan secara heuristik dan hermeneutik.
3.1     Pembacaan Heuristik
          Pembacaan heuristik adalah pembacaan berdasarkan struktur atau berdasarkan konvensi sistem semiotik tingkat pertama. Pembacaan heuristik ini merupakan pembacaan dengan melihat tata bahasa yang berlaku. Dalam pembacaan ini, dilakukan dengan cara memasukkan unsur-unsur yang hilang, sehinga memunculka suatu sistem kebahasaan yang benar. Dalam pembacaan heuristik ini dilakukan pemahaman secara harfiah terhadap kata-kata yang ada.
          Hasil pembacaan heuristik terhadap puisi Asmaradana karya Goenawan Muhamad adalah sebagai berikut:
Ia (men)dengar kepak(an) sayap kelelawar dan guyur(an) sisa (air) hujan dari daun, karena (tiupan) angin pada (daun) kemuning. Ia (men)dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit (menjadi) bersih kembali (dan) menampakkan bimasakti, yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada (seorang pun) yang berkata-kata.

Lalu ia (meng)ucapkan (kata) perpisahan itu, (Kata) kematian itu. Ia melihat peta, nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.

Lalu ia (menge)tahu(i) perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani lagi.

(“)Anjasmara, adikku, tinggalah (di sini), seperti dulu. Bulan pun (menjadi) lamban dalam angin, (ter)abai(kan) dalam waktu. Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku, (dan) kulupakan wajahmu.

          Secara harfiah puisi Asmaradana karya Goenawan Muhamad adalah sebagai berikut:
          Bait pertama menggambarkan tokoh ia dan kekasihnya saling diam ketika mereka mendengar kepakan sayap kelelawar serta suara hujan yang mengguyur daun kemuning yang ditimbulkan oleh angin. Tokoh ia mendengar suara kuda dan langkah kuda yang ditimbulkan oleh pedati ketika suasana lagit cerah tanpa awan.
          Bait kedua mengisahkan ketika tokoh ia mengucapkan kata perpisahan kematian saat ia mengetahui bagaimana nasib perjalanan setelah diadakan peperangan.
          Bait ketiga tokoh ia tahu apa yang akan dilakukan oleh kekasihnya itu. Kekasihnya tidak akan menangis karena jika keesokan harinya setelah pertemuan itu ada jejak pada halaman rumah yang menuju arah utara, kekasihnya itu tidak akan mencari tahu siapa mereka, karena ia tidak akan berani melakukan itu.
          Pada bait terakhir ini, penyair mengungkapkan mengenai pesan yang diberikan oleh tokoh ia kepada pada kekasihnya. Tokoh ia diubah menjadi tokoh aku lirik pada bait terakhir ini. Tokoh aku lirik mengatakan kepada kekasihnya, yaitu Anjasmara, mengenai apa yang ia inginkan terhadap kekasihnya itu. Aku lirik menginginkan kekasihnya untuk tetap seperti dulu. Aku lirik juga mengatakan jika terjadi sesuatu maka lama kelamaan kekasihnya akan melupakan dirinya dan dirinyapun akan melupakan kekasihnya itu.

3.2     Pembacaan Hermeneutik
          Pembacaan hermeneutik atau pembacaan retroaktif adalah pembacaan karya sastra berdasarkan konvensi sastranya. Pembacaan hermeneutik adalah pembacaan tingkat kedua dengan memahami kata-kata yang ada secara semiotik.
          Dalam pembacaan hermeneutik ini, digunakan pendekatan analisis semiotik yang diterapkan oleh Riffatere, yaitu penggantian arti, penyimpangan arti, dan penciptaan arti. Masing-masing mempunyai alat untuk mengungkapkan setiap makna yang terkandung dalam puisi ini.
3.2.1  Penggantian Arti
          Penggantian arti ini menurut Riffaterre disebabkan oleh penggunaan metafora dan metonimi dalam karya sastra. Metafora dan metonimi ini merupakan jenis gaya bahasa, sehingga penggantian arti dalam puisi tidak hanya sebatas pada dua gaya ini.
          Puisi ini mengandung beberapa majas yang dimanfaatkan penyair untuk menekankan makna yang terkandung dalam puisi. Majas metafora terlihat pada frasa resah kuda. Kata resah dapat diartikan sebagai perasaan gundah dan tidak enak dalam hati karena sesuatu hal. Tetapi pada bagian ini diikuti oleh kata benda kuda. Pada frasa resah kuda ini dapat dimaknai sebagai bentuk perasaan gundah yang dialami oleh seekor kuda. Frasa ini juga diperjelas oleh bagian berikutnya dalam kalimat ini.
          Ungkapan pada kalimat //Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu// dapat dimaknai sebagai penggambaran perjalanan waktu yang telah dilalui setelah semua pertempuran terjadi. Waktu yang sangat lambat berputar akan terabaikan oleh keadaan dan peristiwa.
          Pada bagian //Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku, kulupakan wajahmu// terdapat repetisi pada kata lupakan dan wajah. Pengulangan ini digunakan pada ucapan yang dilontarkan oleh Damar Wulan terhadap Anjasmara. Ia berharap jika semua telah usai maka Damar Wulan berharap Anjasmara akan melupakan dirinya dan dirinya pun akan melupakan Anjasmara. Karena semuanya takkan bisa kembali, termasuk hubungan antara Damar Wulan dan Anjasmara.

3.2.2  Penyimpangan Arti
          Riffaterre (1978: 2) mengemukakan bahwa penyimpangan arti disebabkan karena tiga hal, yaitu ambiguitas, kontradiksi, dan nonsense.
          Ambiguitas ini disebabkan karena bahasa puisi ini mempunyai arti ganda (polyinterpretable), lebih-lebih bahasa puisi. Kegandaan arti itu dapat berupa kegandaan arti sebuah kata, frase, ataupun kalimat.
          Ambiguitas pertama kali muncul setelah membaca bait peratama. Pada bait pertama terdapat kata ganti orang ketiga ia. Kata ganti ini dapat menimbulkan ambiguitas atas siapa yang dimaksud oleh penyair. Keambiguitasan ini mulai terjawab setelah pada bait ketika muncul kata perempuan. Kata perempuan ini pengikuti kata ganti ia, sehingga dapat dipastikan jika tokoh ia adalah seorang laki-laki.
          Keambiguitasan atas kata ganti ia ini terjawab pada bait keempat. Pada bait keempat ini muncul kata Anjasmara. Sehingga dapat dipastikan bahwa perempuan yang dimaksud pada bait ketiga adalah Anjasmara, dan tokoh ia adalah kekasihnya yaitu Damar Wulan.
          Pada bait ketiga muncul ambiguitas pada beberapa bagian. Frasa esok pagi dapat dimaknai sebagai hari esok atau pagi hari setelah peretemuan antara Damar Wulan dan Anjasmara. Tetapi jika dihubungkan dengan bait kedua, frasa esok hari dapat dimaknai sebagai hari setelah peperangan. Pada bait ini juga mempunyai dua makna, yaitu makna untuk kemenangan dan kekalahan dalam peperangan.
          Bagian /ada tapak yang menjauh ke utara/ dapat dimaknai sebagai jejak langkah menuju yang membekas pada rumput. Tetapi jika dihubungkan dengan peperangan yang dilakukan oleh Damar Wulan, bagian puisi ini dapat dimaknasi sebagai sebuah kabar kematian. Pada kepercayaan orang Jawa, arah utara merupakan lambang kematian. Pada pandangan orang Islam pun demikian. Setiap orang meninggal selalu dikubur membujur ke utara.
          Bagian /ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani lagi/ dapat dimaknai sebagai kabar gembira atas kemenangan yang diraih oleh Damar Wulan ketika perang. Tetapi dengan kabar kemenangan itu, maka Anjasmara harus rela melepas sang kekasih untuk naik pangkat dan pindah tugas di dalam kerajaan Majapahit serta dinikahkan dengan seorang gadis yang terhormat.
          Kontradiksi terjadi pada bait pertama. Bait pertama digambarkan mengenai pertemuan antara Damar Wulan dan Anjasmara yang begitu hangat dan diselimuti oleh kasih sayang. Tetapi pertemuan itu malah membuahkan kebisuan antara mereka berdua.
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena
angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika
langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang jauh. …………….

Bagian tersebut dipertentangkan oleh bagian dalam satu bait, yaitu:
……………………………… Tapi di antara
mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.

          Nonsense tidak terjadi pada puisi ini, karena semua kata dapat dimaknai dan dimengerti oleh pembaca.

3.2.3  Penciptaan Arti
          Penciptaan arti ini merupakan konvensi kepuitisan yang berupa bentuk visual yang secara linguistik tidak mempunyai arti, tetapi menimbulkan makna dalam puisi (karya sastra). Terjadi penciptaan arti bila ruang teks (spasi teks) berlaku sebagai prinsip pengorganisasian untuk membuat tanda-tanda keluar dari hal-hal ketatabahasaan yang sesungguhnya secara linguistik tidak artinya, misalnya simitri, rima, enjambemen, atau ekuivalensi makna (semantik) diantara persamaan-persamaan posisi dalam bait (homologues). Dalam puisi sering terdapat keseimbangan (simitri) berupa kesejajaran arti antara bait-bait atau antara baris-baris dalam bait.
          Dalam penciptaan arti ini, akan dianalisis mengenai tipografi, enjambemen, persajakan, tema, perasaan, nada dan suasana, serta amanat yang terkandung dalam puisi Asmaradana karya Goenawan Muhamad ini. Adapun tipografi, enjambemen, dan persajakan digolongkan sebagai struktur lahir sebuah puisi. Sedangkan tema, perasaan, nada dan suasana, serta amanat digolongkan menjadi struktur batin sebuah puisi.
3.2.3.1 Tipografi dan Enjambemen
          Tipografi disebut juga ukiran bentuk, ialah susunan bari-baris atau bait-bait puisi. Termasuk ke dalam tipografi ialah penggunaan huruf-huruf untuk menuliskan kata-kata suatu puisi. Setiap penyair memiliki kegemaran sendiri-sendiri dalam pembuatan bentuk atau wajah puisi. Sedangkan enjambemen ialah bagian atau baris kalimat yang mempunyai tugas ganda, menghubungkan bagian yang mendahuluinya dan bagian berikutnya atau bagian yang mengikutinya. Hal ini dilakukan oleh penyair untuk lebih menekankan makna bagian-bagian tertentu, disamping memanfaatkan bunyi-bunyi bahasa dalam rima atau persajakan.
          Puisi Asmaradana karya Goenawan ini terdiri dari empat bait yang terdiri atas 14 baris. Puisi ini disusun atas beberapa kalimat yang dipenggal-penggal menjadi beberapa baris. Bait pertama terdiri dari tiga kalimat yang dijadikan empat baris dengan pemotongan yang mengakibatkan rima puisi menjadi sama. Berikut kutipannya:
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena
angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika
langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang jauh. Tapi di antara
mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.

          Bait kedua terdiri dari dua kalimat yang dijadikan dua baris dan terjadi pemenggalan pada kalimat kedua. Pemenggalan ini tidak menciptakan kesamaan rima. Berikut kutipannya:
Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta, nasib,
perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.

          Bait ketiga terdiri dari dua kalimat yang dijadikan menjadi empat baris. Kalimat kedua mempunya tiga klausa. Pemenggalan dilakukan pada kalimat kedua. Pemenggalan yang dilakukan tidak menimbulkan kesamaan persajakan. Berikut kutipannya:
Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi
pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan
mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani
lagi.

          Bait keempat terdiri dari tiga kalimat yang dijadikan empat baris. Kalimat pertama dan kedua menduduki baris pertama dan kedua. Sedangkan kalimat ketiga mengalami pemenggalan. Susunan pada bait keempat ini terjadi persamaan rima pada akhir barisnya. Berikut kutipannya:
Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.

          Pemenggalan yang dilakukan oleh penyair pada baris-baris puisi ini merupakan upaya untuk mempertegas maksud dan memberikan nilai estetis pada puisinya. Dalam pemenggalan ini, memunculkan rima atau persajakan pada akhir tiap baris. Hal ini yang merupakan tujuan dari enjambemen yang diterapkan pada suatu karya.
          Judul puisi ini merupakan intertekstual dari tembang Jawa klasik, yaitu tembang asmaradana.         Kata asmaradana berasal dari kata Jawa Kuna smara dan dhana. Kata smara berarti kasih sayang dan merupakan nama dewa cinta, yaitu Dewa Asmara, sedangkan kata dhana berarti api (Kamus Jawa Kuna-Indonesia karangan P.J. Zoetmulder, 2004). Kata asmaradana atau smaradana mengacu pada peristiwa hangusnya Dewa Asmara karena sorot mata ketiga dari Dewa Siwa. Pada Kakawin Smaradhana karya Mpu Darmaja, kata smaradana diberi makna remen ing paweweh yang berarti suka memberi. (http://kotasolo.info/indek.php?option= com_content&task=view&id=750&Itemid=58)
          Asmaradana berarti perasaan asmara atau cinta, perasaan saling menyukai yang sudah menjadi kodrat Tuhan. Kata asmaradana sebagaimana tembang macapat Jawa, merupakan tembang yang ditujukan bagi anak remaja yang sedang mengalami masa pertumbuhan.
          Judul puisi ini sudah menggambarkan isi secara menyeluruh pada puisi Asmaradana karya Goenawan ini. Karena puisi ini menceritakan mengenai ketulusan kasih sayang yang diberikan Damar Wulan kepada Anjasmara.
           Bentuk yang diterapkan oleh Goenawan pada puisi ini merupakan hasil kreativitas yang dilakukannya. Teknik penulisan dari sebuah tembang macapat yang bersifat formulais dan melodius dengan menjaga kearsitekturalan matra, diubah menjadi sebuah puisi naratif yang bergaya prosaik dengan irama estetisme formal.
          Bentuk ucapan langsung tokoh aku lirik, yaitu Damar Wulan, kepada kekasihnya, yaitu Anjasmara, dalam matra tembang asmaradana, diubah menjadi bentuk sampiran dan isi seperti sebuah pantun atau sonetab dengan menekankan lukisan suasana alam dan keadaan guna mendukung kisah-kisah yang terasa sendu antara Anjasmara dan Damar Wulan agar lebih romantis.
          Sudut pandang aku lirik terlibat dalam tembang asmaradana diubah oleh penyair menjadi dua sudut pandang, yaitu: sudut pandang orang ketiga dengan kata ganti persona ia yang dapat merujuk pada Damar Wulan, dan sudut pandang orang pertama aku lirik terlibat sebagai pengganti tokoh Damar Wulan. Puisi ini merupakan puisi prosaik yang menempatkan penyair sebagai pengarang orang ketiga serba tahu.

3.2.3.2 Persajakan
          Persajakan pada puisi Asmaradana karya Goenawan ini terjadi akibat pemenggalan pada beberapa kalimat yang berada pada satu bait yang sama. Misalnya pada bait pertama menggunakan rima vertikal pada akhir barisnya.
……………………………… karena
……………………………… ketika
……………………………… di antara
……………………………… berkata-kata.

          Persajakan ini menimbulkan suasana kacau, tidak teratur, tidak menyenangkan, murung, sedih, gundah, dan kecewa. Efek yang ditimbulkan pada persajakan ini dikarenakan adanya hubungan bunyi pada tiap katanya.
          Begitu pula pada bait terakhir yang juga menggunakan rima vertikal pada akhir barisnya. Sedangkan pada bait kedua dan dan ketiga tidak memunculkan rima akhir yang berirama setelah dilakukan pemenggalan.

3.2.3.3 Tema
          Puisi Asmaradana dimulai dengan peristiwa awal sebuah suasana dua orang yang bersama-sama tapi tidak ada percakapan. Suasana sunyi mencekam, hingga suara-suara paling lembut sekalipun bisa didengar oleh dua orang tokoh lirik itu. Suara kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan yang dihempaskan angin pada pohon kemuning kedengaran jelas oleh mereka. Selain itu mereka mendengar suara resah kuda dan langkah pedati. Suasana awal ini menunjukkan bahwa diantara meraka hanya diam seribu bahasa.
          Peristiwa selanjutnya terjadi dialog antara ia dan perempuan itu. Ia mengucapkan perpisahan, sebuah perpisahan abadi sebab perpisahan itu sekaligus sebuah kematian. Ia mengucapkan perpisahan kematian itu karena ia telah memperhitungkan nasibnya, sebuah perjalanan menuju peperangan yang akan dijalaninya. Pada bait ketiga terdapat sikap atau gambaran si perempuan yang akan ditinggalkan. Penggambaran ini merupakan suasana yang dibangun oleh perasaan dan pikiran si ia tentang si perempuan. Menurutnya, perempuan itu tidak akan menangis sebab dia tidak akan berani mencatatkan perjalanan yang memisahkan dirinya dengan ia. Jadi, pada bagian awal ini merupakan proses ia yang berpamitan kepada perempuan untuk pergi selama-lamanya. Selain itu, pada bagian tengah ini merupakan gambaran kesedihan  perempuan yang akan ditinggalkan orang yang disayanginya. Saking sedihnya perempuan itu digambarkan tidak akan bisa menangis.
          Pada bagian akhir yang terdapat dalam bait empat suasana mencekam dan perpisahan itu semakin jelas. Ia meminta kepada Anjasmara, perempuan itu, untuk tetap tinggal seperti dulu. Suasana mencekam oleh kesedihan ini semua berjalan amat lamban bahkan tidak lagi menghiraukan perjalanan waktu. Pada akhirnya semua harus berpisah.
          Dalam suasana yang diliputi kesedihan itu, masing-masing harus melupakan wajah orang yang sangat dekat dengan dirinya, melupakan semuanya bahwa diantara mereka pernah bersama. Jadi, jika melihat uraian di atas, puisi ini bertema perpisahan yang menyakitkan antara sepasang suami istri.

3.2.3.4 Perasaan
          Dalam mengungkapkan tema perpisahan yang menyakitkan antara sepasang suami istri ini, penyair tampak bersikap berat sebelah. Penyair mengungkapkan tentang perempuan yang lemah dan laki-laki yang kuat. Perempuan tidak berdaya upaya dalam menghadapi perpisahan, bahkan digambarkan tidak bisa menangis karena sedihnya, sedangkan laki-laki, meski sama-sama sedih, masih bisa berkata dan memberi nasihat. Nasihatnya merupakan ungkapan penyair yang semakin melemahkan kedudukan perempuan dan menguatkan laki-laki. Tetapi secara garis besar, meski mendudukkan laki-laki dan perempuan dalam menghadapi perpisahan berbeda, perasaan penyair dalam menyikapi perpisahan ini ikut terharu dan sedih. Penyair menggunakan kata-kata yang menimbulkan bunyi-bunyi merdu yang liris dan menguatkan kesedihan.

3.2.3.5 Nada dan Suasana
          Puisi di atas mempunyai atau memenuhi ukuran tertentu sebagai sebuah puisi yang baik. Suasana yang dibangun semenjak awal peristiwa sampai di bagian akhir mempunyai hubungan yang kuat, baik secara urutan peristiwa maupun pilihan-pilihan kata yang membentuk keutuhan puisi itu.
          Nada yang diungkapkan pengarang penuh belas kasihan, terutama kepada Anjasmara yang akan ditinggalkan oleh suaminya. Sedangkan nada yang mengungkapkan tentang ia, penyair menggunakan nada tabah, sabar, dan kuat dalam menghadapi peristiwa perpisahan.
          Pada bagian awal yakni bait pertama, suasana kesedihan itu telah dibangun demikian kuat dengan membuat sebuah peristiwa yang saling diam diantara kedua tokoh yang hadir dalam puisi ini. Kekuatan suasana saling diam ini menggunakan metafor seperti yang terdapat dalam baris pertama dan kedua, //ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika//. Karena sangat sunyi hingga suara yang sebenarnya sangat pelan bisa diindera oleh telinga. Suara sayap kelelawar, hujan yang jatuh dari daun, resah kuda, langkah pedati adalah suara-suara yang dalam ukuran tertentu sangat pelan dan sangat biasa. Tetapi dalam hal ini pilihan-pilihan akan hal tersebut semakin menguatkan citra kemencekaman dalam puisi. Tidak ada percakapan dan hanya suara itu yang kian menegaskan kesunyian dan kemencekaman. Bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh kata-kata yang terdapat dalam bait pertama sangat merdu dan menguatkan suasana kesedihan yang dibangun dalam puisi ini.
          Sebab-sebab sunyi dan sepi yang terdapat dalam bait pertama dapat dilihat pada bait kedua. //Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta, nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuannya disebutkan//. Pada bait ini ada sebuah momen perpisahan yang diucapkan oleh tokoh ia, seolah perpisahan itu adalah perpisahan yang abadi, perpisahan dengan kematian di mana ada peta nasib perjalanan dan sebuah peperangan. Puisi tetap konsisten dalam suasana kesedihan yang mencekam. Ketika ia mengucapkan perpisahan, kesedihan itu diperkuat dengan bait ketiga yang menyebutkan perempuan itu tidak akan menangis sebab perempuan itu tahu bahwa perpisahan abadi akan segera tiba, sebuah perpisahan dengan sang maut yang akan menimpa orang terdekatnya. Di sini ada pemilihan kata yang memenuhi suasana itu; perpisahan, kematian, nasib, peperangan, tapak yang menjauh, mencatat yang telah lewat adalah kata-kata yang mengandung kemerduan sekaligus membangun kesedihan.

3.2.3.6 Amanat
          Puisi ini tidak panjang tetapi telah memenuhi ukurannya sebagai puisi yang dalam kriteria Aristoteles disebut lengkap, yakni adanya peristiwa akhir yang logis, yang sesuai dengan urutan struktur peristiwa-peristiwa yang dibangun dalam puisi. Peristiwa yang digambarkan penuh kesedihan ini diakhiri atau diselesaikan dengan sebuah bait yang semakin jelas dan dalam suasana kesedihannya. Ia memberi pesan kepada perempuan itu, Anjasmara, untuk tetap bertahan seperti sedia kala dan tidak melakukan aktivitas yang keluar dari aturan atau tempat tinggalnya, //Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu//. Di sini Anjasmara harus tetap diam meski perpisahan itu adalah sebuah kematian. Peristiwa akhir ini merupakan urutan logis dari peristiwa awal yang bisu karena akan terjadi perpisahan, peristiwa tengah yang merupakan suasana akan menuju perpisahan atau saat ia pamit dan memberi tahu tentang perpisahan itu, yang merupakan perpisahan untuk selama-lamanya, dan kemudian berakhir pada sebuah pesan menjelang perpisahan tersebut.
          Uraian di atas menunjukkan bahwa amanat dalam puisi ini yaitu sepasang suami istri tidak akan bersatu untuk selamanya, seorang suami tidak akan selamanya mendampingi istrinya.




4.       KAJIAN INTERTEKSTUAL
          Beberapa puisi Goenawan Muhamad mempunyai latar penciptaan mitos Jawa dan pewayangan, misalnya pada puisi Asmaradana, Pariksit, Menjelang Pembakaran Sita, Persetubuhan Kunthi, Gotoloco, Penangkapan Sukra, dan Dongeng Sebelum Tidur.
          Dalam kajian intertekstual ini akan membahas hubungan intertekstual dan hipogram antara puisi Asmaradana karya Goenawan Muhamad dengan beberapa teks yang ada sebelum atau sesudahnya. Puisi Asmaradana karya Goenawan ini selesai ditulis sekitar tahun 1971. Hal ini terbukti dari pemberian catatan tahun pada bagian bawah teks puisi.
          Judul puisi karya Goenawan ini mengacu pada matra puisi Jawa klasik, yaitu tembang macapat Asmaradana. Pengacuan itu bukan hanya sekadar namanya saja, tetapi juga isi, tokoh cerita, sifat, karakter, dan roh kesastraannya ke dalam puisi Indonesia.
          Adapun tembang macapat Asmaradana dalam puisi Jawa klasik (Suroso, 2009: 94) adalah sebagai berikut:
Anjasmara ari mami
mas mirah kulaka warta
dasihmu tan wurung layon
aneng kutha Prabalingga
prang tandhing lan Wurubhisma
karia mukti wong ayu
pun kakang pamit palastra.

          Tembang macapat Asmaradana di atas, bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, akan diperoleh hasil sebagai berikut:
Anjasmara adindaku
permata hati carilah berita
kekasihmu tak urung menjadi mayat
berada di kota Purbalingga
bertempur melawan Wurubhisma
tinggallah berbahagia wahai kekasihku
kakanda memohon diri untuk mati.

          Apabila membandingkan antara asmaradana matra tembang Jawa klasik dalam episode Anjasmara-Damar Wulan dengan puisi Asmaradana karya Goenawan Muhamad, terdapat persamaan dan perbedaannya. Persamaan antara keduanya terletak pada roh, jiwa, sifat, dan karakter asmaradana yang tidak mengalami perubahan, yaitu bagian pokok cerita tentang kisah asmara yang bernada sedih, pilu, dan romantis. Selain itu, nama tokoh tidak mengalami perubahan, yaitu Anjasmara dan tokoh “aku” yang menggantikan Damar Wulan.
          Secara tekstual puisi Asmaradana karya Goenawan berbicara tentang sebuah perpisahan yang sangat menyedihkan yang dialami oleh Anjasmara. Perpisahan terjadi karena suaminya akan pergi ke suatu tempat dan tidak akan kembali lagi.
          Penggambaran kesedihan dimulai sejak bait pertama. Pada bait ini pertemuan kedua kekasih itu begitu senyap dan mencekam tanpa kata-kata. Hanya ada ada suara-suara pelan yang terasa menjadi jelas dan nyaring karena saking sunyi dan membisunya kedua kekasih itu. Tokoh ia ingin mengucapkan sebuah perpisahan kepada kekasihnya, tapi semuanya tertahan diberati oleh rasa sedih yang menggigit.
          Namun pada akhirnya semua harus jelas, tokoh ia mengucapkan perpisahan itu. Perpisahan yang mungkin abadi sebab yang akan dihadapi tokoh ia adalah kematian, sebuah peperangan dan perjalanan yang jauh. Ia tahu perempuan kekasihnya itu sangat kehilangan dan merasa sangat berat berpisah dengan dirinya. Karena saking sedihnya, tokoh ia tahu kekasihnya takkan sanggup menangis untuk melepas dirinya.
          Pada bait terakhir, tokoh ia meminta kepada kekasihnya untuk tetap bersabar dan bersikap seperti ketika mereka sedang lengkap berdua meski kematian datang menjemput. Lalu masing-masing dari diri mereka harus rela melupakan kekasihnya sebab perjalanan dan peperangan itu sangat dekat dengan kematian.
          Tema perpisahan sepasang kekasih dalam puisi ini akan semakin terang maknanya jika dihubungkan dengan teks-teks lain yang merupakan interteksnya. Nama Anjasmara merupakan kunci penting untuk membuka teks tersebut. Selain itu peristiwa dalam puisi juga mendukung untuk memperkuat kunci yang telah disebutkan tadi. Tanpa mencari teks sebagai interteksnya, pemaknaan terhadap puisi ini kurang sempurna.
          Pertanyaan-pertanyaan seperti siapa Anjasmara, mengapa ada perpisahan, oleh sebab apa terjadi perpisahan, dll. akan terjawab ketika teks sebagai interteks ditemukan dan digunakan untuk menganalisis puisi.
          Secara kontekstual, peristiwa ini merujuk kepada sebuah mitos atau cerita Damar Wulan yang mengisahkan tokoh Damar Wulan yang berperang dengan Minak Jingga, seorang lelaki perkasa yang mempunyai pusaka gada Wesi Kuning yang sangat mematikan. Peperangan dengan Minak Jingga berawal dari sebuah sayembara yang diadakan oleh Ratu Majapahit dalam rangka mencari pendamping hidupnya atau suami.
          Damar Wulan adalah anak seorang patih yang bernama Patih Udara yang telah mengundurkan diri dari jabatannya. Sejak kecil Damar Wulan eksistensinya disembunyikan sebagai anak Patih Udara, dia dididik hidup prihatin dan santun oleh kakeknya sehingga ketika nyantrik dan ngenger di rumah Patih Logender, dia tidak kaget ketika diterima sebagai tukang kuda. Sepeninggalnya Patih Udara eksistensi kerajaan menjadi merosot. Patih Lohgender yang ketiban pulung tidak mempunyai wibawa yang mumpuni untuk mengolah kekuasaan, sehingga kraton dipenuhi oleh pamong yang pandai menjilat dan cuma memperjuangkan kepentingan golongan dan pribadi.
          Puncaknya, terutama ketika ada ancaman aneksasi oleh Blambangan dengan kedok lamaran Minak Jingga. Jalan keluar untuk menolak lamaran itu, Ratu Majapahit mengadakan sayembara. Dengan kata lain dirinya memberikan kerajaan dan dirinya kepada sembarang lelaki yang mampu mengalahkan Minak Jingga (Setia, 2003).
          Damar Wulan merasa terpanggil untuk mengikuti sayembara, terpanggil sebagai lelaki utama Majapahit. Kemudian, dia pamit kepada istrinya untuk mengikuti sayembara tersebut. Dalam peristiwa inilah terjadi momen perpisahan yang menyedihkan antara Damar Wulan dengan Anjasmara. Bagi Anjasmara peperangan antara Damar Wulan dengan Minak Jingga apapun hasilnya akan mengakibatkan dirinya disingkirkan dari predikatnya sebagai istri utama. Jika Damar Wulan kalah dia mati dan berpisah untuk selamanya, jika Damar Wulan menang dia akan menjadi suami utama Ratu Majapahit dan menomorduakan Anjasmara.
          Dalam pertempuran dengan Minak Jingga dia kalah dan mati. Akan tetapi, karena Damar Wulan mempunyai pesona yang sanggup meruntuhkan perempuan mana pun, termasuk kedua istri Minak Jingga, Damar Wulan ditolong dan dihidupkan kembali oleh dua istri Minak Jinggo. Kedua istri Minak Jingga mencuri gada Wesi Kuning dan memberikannya kepada Damar Wulan . Dengan pusaka itulah Minak Jingga bisa dikalahkan Damar Wulan dan Blambangan tetap di bawah kekuasaan Majapahit. Sedangkan kedua perempuan yang menolongnya dijadikan istri oleh Damar Wulan dan Ratu Majapahit menjadi miliknya, sekaligus Damar Wulan memiliki Majapahit.
          Puisi Asmaradana merupakan bentuk transformasi dari salah satu episode cerita Damar Wulan, yakni pada momen perpisahan ketika Damar Wulan akan ikut sayembara dan berperang dengan Minak Jingga. Secara kontekstual puisi ini mengacu kepada momen perpisahan antara Damar Wulan dengan Anjasmara ketika akan berangkat perang melawan Minak Jingga. Momen kasmaran pasangan suami istri ini sangat menyedihkan terutama buat Anjasmara. Satu sisi jika suaminya kalah maka Anjasmara tidaan bertemu lagi untuk selamanya dan jika menang dirinya pun akan kehilangan Damar Wulan karena dia harus menikah dengan Ratu Majapahit. Muncul pertanyaan, mengapa Damar Wulan harus ikut sayembara sementara dirinya sudah beristri, mengapa Anjasmara mau menerima keputusan Damar Wulan yang jelas-jelas merugikan dirinya.
          Sejak Patih Udara mengundurkan diri situasi kraton menjadi merosot kewibawaannya. Para bangsawan tidak lagi mendapat kepercayaan yang penuh dari rakyatnya, begitupun dari Ratu Majapahit. Karena itu, ketika Minak Jingga melamarnya Ratu menolak secara halus, yakni dengan membuat sayembara. Ratu tidak mengerahkan prajuritnya untuk berperang karena para prajuritnya tidak bisa diandalakan. Keraton telah kehilangan eksistensi kelelakian sejati untuk dihadapkan dengan kekuatan Minak Jingga raksasa yang sakti. Hal ini sekaligus menggarisbawahi sosok Kencana Wungu (Ratu) yang subordinan meski secara politik memegang kekuasaan tertinggi. Dirinya membutuhkan lelaki yang gagah, sang Arjuna yang mriyayeni, yang bisa mengayomi dirinya dan banyak wanita lainnya, bukan lelaki perkasa urakan semacam raksasa dalam diri Minak Jingga.
          Damar Wulan, anak Patih Udara, sebagai lelaki yang dididik satria oleh kakeknya terpanggil jiwanya. Dalam diri lelaki ini terkandung daya pukau seperti yang dimiliki Arjuna. Hal ini terbukti dengan terpukaunya Anjasmara yang cantik, putri Patih Logender sehingga keluarga ini berusaha untuk mengangkat derajat Damar Wulan dari tukang memelihara kuda menjadi bangsawan. Daya pukau itu berlanjut ketika dirinya berperang dengan Minak Jingga. Di Blambangan kedua istri Minak Jingga berkhianat terhadap suaminya dan menghidupkan Damar Wulan yang kalah, bahkan mereka mencuri Wesi Kuning pusaka Minak Jingga dan diserahkan kepada Damar Wulan sehingga dalam peperangan berikutnya Minak Jingga dapat dikalahkan. Hal ini dilakukan demi harapannya, demi cintanya kepada Damar Wulan dan demi harapannya akan dijadikan selir oleh Damar Wulan.
          Keputusan untuk ikut sayembara merupakan puncak manipestasi pukau kelelakian Damar Wulan, yakni ketika fakta dan fenomena situasi negara yang lemah harus berhadapan dengan Minak Jingga yang sakti. Hal ini yang membedakan Damar Wulan dengan lelaki lain di Majapahit. Peperangan yang seharusnya menjadi milik negara menjadi milik personal Damar Wulan dengan Minak Jingga. Peristiwa inilah yang menjadi ruh momen perpisahan kasmaran antara Damar Wulan dengan Anjasmara. Bagaimanapun Damar Wulan harus melawan raksasa sakti dan kemungkinan besar dirinya akan kalah terbunuh oleh lawannya. Karena itulah, puisi Asmaradana dibangun oleh kesedihan yang melarat-larat, kesedihan sebagai akibat berpisahnya rasa cinta kasih yang telah lama berjalin erat. Gambaran suasana kesedihan itu dapat dilihat dalam bait demi bait pada puisi itu.
          Ada yang harus pergi dan ada yang harus ditinggalkan, Damar Wulan harus pergi untuk berperang dengan Minak Jingga dan Anjasmara harus ditinggalkan, menerima nasibnya tanpa diberi kesempatan untuk mengusahakan agar dirinya tidak menjadi korban kesedihan. Perbedaan ini merupakan akibat dari berbedanya kedudukan laki-laki dan perempuan. Damar Wulan sebagai laki-laki sangat dominan sedangkan Anjasmara sebagai perempuan menjadi subordinasi. Kemudian, Damar Wulanlah yang menentukan segala yang harus bicara kepada istrinya. Meski sangat dominan tapi ada perasaan berat ketika Damar Wulan akan pamit kepada Anjasmara. Hal ini bisa dilihat pada bait satu yang menggambarkan betapa kedua orang itu menjadi emosional dan hanya diam tatkala sudah berhadapan untuk membicarakan rencana berangkat ke medan perang.
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena
angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika
langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang jauh. Tapi di antara
mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.

          Bait satu di atas merupakan gambaran suasana yang membangun emosional kedua tokoh. Sikap diam itu bagi Anjasmara adalah ketidakberdayaan dan kepedihan karena akan ditinggalkan suaminya, sedangkan bagi Damar Wulan sikap diam itu semacam ancang-ancang untuk memilih kalimat yang tepat yang akan ditujukan kepada istrinya.
          Damar Wulan tahu istrinya tidak akan berkata bahkan tidak akan menangis karena ia sangat sedih, seperti yang terlihat dalam bait ketiga, //lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis//. Sikap laki-laki yang lebih rasional dan sikap perempuan yang lebih emosional pada akhirnya membangun pula dua dikotomi, yakni berkuasanya laki-laki dan lemahnya perempuan. Hanya Damar Wulan yang bisa menentukan jalan kehidupan, bahkan lebih besar lagi Damar Wulan bisa menentukan jalannya atau kokohnya sebuah kerajaan ketika dirinya memenangi peperangan, lebih dari itu Ratu Majapahit pun ada dalam kekuasaan kelelakiannya dan harus menjadi istrinya. Ini menunjukkan bahwa budaya patriarki sangat kuat dan tidak tertandingi meski yang menjadi penguasa adalah seorang perempuan.
          Sikap Damar Wulan yang memutuskan ikut sayembara tak lain adalah sebagai sebuah perjuangan ke arah superioritas. Adler dalam Calvin S. Hall (1993: 245) menyebutkan, tujuan final yang diperjuangkan manusia adalah kesempurnaan. Menurutnya, agresi lebih penting dibanding seksualitas dan dalam bentuk paling nyata ide ini disebut hasrat akan kekuasaan yang disempurnakan dalam perjuangan ke arah superioritas. Dalam pandangan Adler, superioritas di sini bukan sebuah pengkotakan sosial, kepemimpinan atau kedudukan yang tinggi di masyarakat tetapi lebih mirip seperti yang dikatakan Jung, yakni tentang diri atau prinsip aktualisasi diri dari Goldstein. Jadi, bisa dipahami mengapa Damar Wulan mengikuti sayembara itu, mengapa dirinya tega meninggalkan istrinya yang tak lain adalah dalam rangka prinsif aktualisasi diri. Dia ingin menunjukkan identitas kelelakiannya tetapi bukan sekedar seksualitas sebab yang paling penting adalah agresi dalam rangka mencapai kesempurnaan. Anjasmara sangat cantik dan secara seksual sangat bisa memuaskan Damar Wulan, namun hasrat berkuasa Damar Wulan lebih kuat, dia memilih ikut sayembara meski dengan risiko dirinya terbunuh. Memang, dalam sayembara itu yang dijadikan hadiah adalah perempuan, tetapi dalam hal ini bukan berarti Damar Wulan mengejar kepuasan seksual tetapi semata-mata karena perempuan yang dijadikan hadiah itu seorang ratu. Dengan demikian, jika dirinya memenangi sayembara itu maka otomatis akan menjadi raja, sebuah kekuasaan puncak yang membuat siapapun bisa tunduk dihadapannya termasuk sang ratu sendiri.
          Sikap Damar Wulan yang mau mengikuti sayembara merupakan sebuah motivasi untuk berjuang mencapai superioritas. Menurut Adler dalam Calvin S. Hall (1993: 247), perasaan inferioritas adalah perasaan tidak lengkap atau kelemahan diri. Damar Wulan adalah seorang inferior. Karena itu dirinya berjuang dan tidak pernah puas dalam mencapai superioritas.
          Tahap-tahap Damar Wulan sebelum menjadi suami Ratu Majapahit mula-mula dipisah dari keluarga Patih Udara, dia dididik oleh kakeknya, ngenger sebagai tukang kuda, menikahi putri Patih Lohgender, dan ikut sayembara untuk menjadi suami Ratu Majapahit. Perjalanan nasib Damar Wulan merupakan sebuah ciri perjuangan seorang inferior yang selalu tidak pernah merasa puas terhadap nasibnya sebelum dirinya mencapai superior, bahkan pencapaian itu bagi dirinya tak pernah ada batasnya.
          Sangat beralasan jika dalam momen perpisahan itu Damar Wulan menjadi penentu arah yang aktif berbicara kepada Anjasmara. Sebagai lelaki yang mempunyai daya pukau dia berkuasa atas perempuan atau istrinya bahkan untuk menentukan hidup dan matinya. Damar Wulan tahu kesedihan yang dihadapi Anjasmara karena dirinya akan meninggalkannya, tetapi hal itu tidak menjadi halangan untuk meneruskan keinginannya. Pesan yang disampaikan kepada Anjasmara; Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu, menunjukkan kekuasaannya yang absolut, yang tidak membolehkan istrinya pergi kemana-mana. Dengan kata lain, Anjasmara harus tetap setia menjadi isteri Damar Wulan bahkan jika kematian itu datang kepada Damar Wulan, sementara dirinya akan mengadu nasib untuk mendapatkan perempuan lain (Ratu Majapahit). Hal ini merupakan ketidakadilan jender, satu sisi laki-laki dengan bebas dan semena-mena akan pergi untuk mendapatkan perempuan lain, di sisi lain perempuan harus setia bahkan setia kepada sesuatu yang mungkin tidak ada lagi jika laki-laki itu mati. Pada bait ketiga, kelemahan perempuan dan berkuasanya laki-laki itu tampak seperti berikut.
Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi
pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan
mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani
lagi.

          Bait di atas menunjukkan laki-laki memandang perempuan sebagai mahluk yang lemah. Ada dua peristiwa penting yang menunjukkan hal itu. Pertama, kata menangis dan kedua tak berani lagi. Pada bagian pertama, seolah-olah telah menjadi kebakuan bahwa perempuan itu hanya bisa menangis ketika mendapat peristiwa yang menyakitkan hati. Kedua, pada bait itu dikatakan tak akan bisa menangis. Kata tersebut tidak menyaran pada perempuan itu tabah dan kuat dalam menghadapi peristiwa, tetapi tidak bisa menangis itu karena sedih yang berlebihan. Artinya, di belakang itu perempuan selalu menangis jika menghadapi peristiwa menyakitkan. Hal ini bisa dilihat pada lanjutan puisi yang menyebutkan perempuan itu tidak akan menangis lagi karena ketidakberaniannya menghadapi kenyataan yang telah berlalu dan kenyataan yang akan datang karena kenyataan itu sangat menyakitkan. Di sini terlihat betapa perempuan itu sangat lemah, perempuan tidak ada keberanian untuk menghadapi peristiwa yang telah lewat dan peristiwa yang akan datang. Kelemahan ini jika dilihat dari sebab yang menjadikan perempuan tidak berdaya adalah karena dirinya akan kehilangan lelaki yang sangat dicintainya.
          Kehilangan yang bukan sembarang kehilangan, sebab kehilangan itu pada hakikatnya sebuah penyingkiran terhadap dirinya dari kehidupan lelakinya. Perempuan menghadapi dilematis, dua persoalan yang sama-sama sangat menyakitkan. Seperti disebutkan sebelumnya, laki-laki itu harus berperang dengan Minak Jingga untuk mengikuti sayembara. Dari situ muncul dua persoalan itu, yakni jika menang Damar Wulan akan menikah dengan Ratu Majapahit, dan jika kalah Damar Wulan mati.
          Hakikat persoalan ini mempunyai efek sangat menyakitkan bagi siapapun, tidak laki-laki tidak juga perempuan. Kehilangan seseorang untuk selamanya, apalagi penyebab dari kehilangan itu bersentuhan langsung dengan kepemilikan yang sangat pribadi, akan mengakibatkan depresi yang luar biasa. Dalam puisi ini, bentuk depresi pada perempuan adalah keadaan dirinya yang tidak bisa menangis karena diliputi oleh kesedihan dan sakit hati yang mendalam karena akan ditinggalkan seseorang yang dicintainya.
          Sikap diam dalam budaya Jawa merupakan sumerah yang mau menerima apa saja tanpa perlawanan yang prontal. Dalam budaya Jawa yang menjadikan wayang sebagai sumber meniti jalan, tokoh lelaki yang seringkali dijadikan idola atau panutan adalah Arjuna sebagai lelaki yang sempurna, yang berani berperang dalam menegakkan identitas dirinya juga memiliki banyak perempuan yang rela diperistri dirinya. Dalam konteks inilah Anjasmara tidak berdaya, sebagai perempuan Jawa dia harus mau merelakan suaminya, harus mendukung suaminya dalam mewujudkan cita-citanya meski hal itu sangat menyakitkan bagi dirinya, dia harus mempunyai sikap seperti Sembadra (istri Arjuna) ketika menjadi istri yang harus berbakti kepada suami dan membahagiakannya secara lahir batin.
          Puisi Asmaradana ditutup dengan //lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku, kulupakan wajahmu// sebuah peritiwa yang teramat menyakitkan, sebuah keyakinan dan sekaligus sikap pesimis bahwa mereka betul-betul tidak akan bertemu lagi. Selain itu tergambar keras hati seorang laki-laki untuk mencapai superioritas menjadi seorang raja dan mempunyai permaisuri serta selir yang banyak. Dirinya rela mengorbankan segala yang dicintainya demi mencapai tujuan puncaknya yang lebih sempurna sebagai laki-laki.
          Jadi, puisi Asmaradana secara metafor mengungkapkan usaha seorang inferior untuk mencapai superioritas. Ini adalah sebentuk kerja keras dalam menggapai cita-cita ideal. Adapun jalan yang ditempuhnya dengan mengorbankan sesuatu yang dicintainya, ketegaran, dan kekuatan yang sempurna.
          Puisi ini menawarkan sebuah dunia baru, ide-ide baru yang sekaligus dunia yang mungkin dan sangat potensial untuk direalisasikan dalam kenyataan, suatu dunia yang masih harus dibangun. Adapun yang ditawarkan adalah sikap egois dan menghalalkan segala cara untuk mencapai cita-cita ideal dari sebuah kesempurnaan hidup.
          Pengangkatan tema salah satu episode kisah Damar Wulan dalam puisi Asmaradana merupakan sesuatu kekhasan dari puisi-puisi Goenawan. Ia juga beberapa kali mengangkat mitos Jawa klasik ke dalam beberapa puisinya. Hubungan intertekstual ini merupakan bentuk lain dari penerjemahan yang dilakukan sastrawan Indonesia terhadap mitos atau cerita tradisional yang mulai kurang diminati oleh masyarakat.
          Pada bait terakhir puisi Asmaradana karya Goenawan merupakan transformasi dari ucapan Damar Wulan pada matra tembang asmaradana. Berikut kutipannya:
Anjasmara ari mami
………………………………………
karia mukti wong ayu
pun kakang pamit palastra.

          Tembang macapat Asmaradana di atas, bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, akan diperoleh hasil sebagai berikut:
Anjasmara adindaku
………………………………………
tinggallah berbahagia wahai kekasihku
kakanda memohon diri untuk mati.

          Bagian tembang macapat asmaradana di atas ditrasformasikan menjadi bait terakhir puisi Asmaradana karya Goenawan.
Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.





5.       PENUTUP
          Puisi Asmaradana karya Goenawan Muhamad menceritakan mengenai perpisahan antara Anjasmara dan Damar Wulan. Tokoh ia atau aku lirik menggantikan tokoh Damar Wulan yang ada dalam suasana kebimbangan. Damar Wulan dengan berat hati menerima tugas mulia sebagai panglima perang melawan Minak Jingga. Ia telah membaca peta nasibnya dan telah pula mengukur kemampuannya melawan Minak Jingga. Hanya satu kata yaitu kematian yang akan didapatkannya karena Minak Jingga memiliki pusaka sakti. Oleh karena itu, ketika Anjasmara terlena atau tidur dalam pangkuannya, Damar Wulan perlahan-lahan pergi melangkah meninggalkan sang kekasih. Sebelum meninggalkan kekasihnya itu, Damar Wulan mengucap dalam hati salam perpisahan terhadap Anjasmara.
          Dari kedua analisis di atas, yaitu menggunakan analisis strata norma Roman Ingarden dan semiotik puisi Riffatere, diperoleh pemahaman mengenai puisi Asmaradana karya Goenawan Muhamad. Asmaradana berarti perasaan asmara atau cinta, perasaan saling menyukai yang sudah menjadi kodrat Tuhan. Kata asmaradana sebagaimana tembang macapat Jawa, merupakan tembang yang ditujukan bagi anak remaja yang sedang mengalami masa pertumbuhan.
          Isi puisi ini menggambarkan bagaimana keikhlasan seorang istri untuk melepas kepergian suaminya yang pasti tidak akan ia jumpai lagi. Jika peperangan yang dilakukan suaminya mengalami kekalahan, maka suaminya akan mati. Sedangkan jika peperangan itu dimenangkan oleh suaminya, maka ia harus rela melihat suaminya menikah dengan perempuan lain dan menjadi bagian dari kerajaan Majapahit. Puisi ini mengandung pesan bahwa sepasang suami istri tidak akan bersatu untuk selamanya, seorang suami tidak akan selamanya mendampingi istrinya.
          Puisi Asmaradana karya Goenawan tersebut menunjukkan adanya aktivitas dan kreativitas penyairnya untuk menggubah karya seni yang bermutu. Aktivitas dan kreativitas Goenawan tersebut dapat sebagai upaya penyelamatan warisan budaya bangsa yang semakin mengukuhkan keberadaan mitos Anjasmara dan Damar Wulan. Selain itu, upaya Goenawan juga membuktikan bahwa di era globalisasi dan teknologi seperti sekarang ini, ia masih mempunyai wawasan tradisional.
          Dalam sebuah transformasi, baik sastra maupun budaya, terdapat kesinambungan dan penyimpangan dari tradisi budaya sastra sebelumnya. Bentuk kesinambungan dari tradisi itu dapat berupa pengukuhan jatidiri mitos yang tidak ada. Goenawan dalam puisi Asmaradana mempunyai visi untuk mengukuhkan keberadaan mitos yang telah ada.




DAFTAR PUSTAKA


Baribin, Raminah. 1989. Kritik Sastra dan Penilaian. Semarang: IKIP Semarang Press.
_______. 2004. “Kritik Sastra I”. Paparan Kuliah. Semarang: Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
Casirerr, Ernest. 1987. Manusia dan Kebudayaan: Sebuah Esei tentang Manusia. Jakarta: Gramedia.
Edraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Media Pressindo.
http://kotasolo.info/indek.php?option=com_content&task=view&id=750&Itemid=58
Mohamad, Goenawan. 1992. Asmaradana. Jakarta: Grasindo.
_______. 2001. Sajak-sajak Lengkap 1961—2001. Jakarta: Metafor Publising.
_______. 2004. Goenawan Mohamad: Selected Poems. Jakarta: Ikrar Mandiriabadi.
Mugijatna. 2008. “Teori Semiotika Puisi Reffaterre dan Ideologi Penyair”. Artikel Konferensi Internasional Kesusastraan XIX. Malang: Batu.
Nuryatin, Agus. 2006. “Teori Sastra 1”. Modul Perkuliahan. Semarang: Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
Pendit, Nyoman S. 2005. Bharatayudha. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
_______. 2005. Mahabharata. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
_______. 2006. Ramayana. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
_______. 1990. Pengkajian Puisi.. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
_______. 2003. Prinsif-prinsif Kritik Sastra. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Prastyo, Arif Bagus. 2005. Epifenomenon. Jakarta: Grasindo.
Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Reffaterre, M. 1978. Semiotics of Poetry. Great Britain: Spottiswoode Ballantyne.
Ricoeur, Paul. Hermeneutika Ilmu Sosial (terjemahan oleh Muhamad Syukri). Yogyakarta: Kreasi Wacana.
S. Hall, Calvin dan Lindzey, Gardner. 1993. Teori-teori Psikodinamik (Klinis)(terjemahan). Yogyakarta: Kanisius.
Santoso, Agus Budi. 2007. “Teori Sastra”. Modul. Malang: IKIP PGRI Malang.
Setia, Beni. 2003. Subordinasi Wanita dalam “Damar Wulan”. Swara.
Suharianto, S. 2005. “Pengkajian Puisi”. Buku Ajar Mata Kuliah Pengkajian Puisi. Semarang: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
Suroso, dkk. 2009. Kritik Sastra: Teori, Metodologi, dan Aplikasi. Yogyakarta: Elmatera.
Suyoto, Agustinus. 2007. “Dasar-dasar Analisis Puisi”. Bahan Ajar. Yogyakarta: SMU Stella Duce 2 Yogyakarta.
Teeuw, A. 1983. Tergantung Pada Kata. Jakarta: Pustaka Jaya.
_______. 1987. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Wellek, Rene & Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.
Wolf, Naomi. 2004. Mitos Kecantikan (terjemahan). Yogyakarta: Niagara.
Zoest, Aart van. 1991. Serba-serbi Semiotika. Jakarta: Gramedia.
_______. 1993. Semiotika: Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya. Diterjemahkan oleh Ani Soekowati. Jakarta: Yayasan.
Zoetmulder, P.J. 2004. Kamus Jawa Kuna Indonesia. Jakarta: Gramedia.



Tidak ada komentar: