ASMARADANA
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan
dari daun, karena
angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah
pedati ketika
langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang jauh. Tapi di antara
mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.
Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat
peta, nasib,
perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya
disebutkan.
Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila
esok pagi
pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia
tak akan
mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia
tak berani
lagi.
Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.
1971
Goenawan Muhamad
(Asmaradana,
1992: 44)
1. PENDAHULUAN
Pradopo
(dalam Suharianto, 2005: 8) mengatakan bahwa puisi itu mengekspresikan
pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi pancaindera
dalam susunan yang berirama. Puisi adalah karya
sastra yang kompleks pada setiap lariknya mempunyai makna yang dapat
ditafsirkan secara denotatif atau pun konotatif.
Puisi
merupakan suatu karya sastra yang inspiratif dan mewakili makna
yang tersirat dari ungkapan batin seorang penyair. Sehingga setiap kata
atau kalimat tersebut secara tidak langsung mempunyai makna yang abstrak dan memberikan imaji terhadap
pembaca. Kata-kata yang terdapat dalam puisi dapat membentuk suatu bayangan
khayalan bagi pembaca, sehingga memberikan makna yang sangat kompleks.
Perkembangan
bentuk dan isi puisi-puisi tersebut tidak terlepas dari teks-teks atau karya lain. Ada
berbagai cara yang dilakukan pengarang dalam mencari sumber penciptaan baik yang
disadari secara langsung maupun tidak langsung. Misalnya, pengarang mengambil
mitos, cerita wayang, legenda, kisah-kisah nabi, dll. Sebagai sumber rujukan
penciptaan. Artinya, karya tidak merupakan hal yang berdiri sendiri, tetapi sepenuhnya
bergantung pada teks-teks yang berada di sekitarnya.
Dalam
analisis ini, digunakan puisi Asmaradana
karya Goenawan Muhamad yang termuat dalam kumpulan puisinya Asmaradana (1992). Puisi ini pertama
kali muncul pada majalah Horison
tahun 1970-an. Kemudian termuat ulang dalam tiga kumpulan puisi Goenawan
Muhamad, yaitu Interlude (1974), Asmaradana (1992), dan Puisi-puisi Lengkap Goenawan Muhamad (2001).
Tema
puisi-puisi Goenawan cukup beragam, misalnya menyoal politik, agama, ekonomi, kekuasaan,
cinta, perempuan, Tuhan, ibu, dan kekerasan. Yang menarik adalah dalam berkarya
Goenawan pun menggunakan peristiwa-peristiwa yang ada dalam legenda atau
mitos-mitos klasik. Tema-tema di atas diambil dari beberapa tokoh mitos dan diolah kembali
menjadi puisi. Keberagaman tema ini tidak terlepas dari ketertarikannya dan
penguasaannya terhadap berbagai persoalan yang ada juga penguasaannya terhadap
berbagai pengetahuan baik yang berupa fiksi maupun non-fiksi.
Fenomena
wayang dan mitos yang digunakan Goenawan dalam puisinya cukup banyak. Hal ini
menjadi daya tarik tersendiri karena selain ditafsirkan berbeda dari pakem, juga kekuatan
estetiknya sangat kuat. Metafor-metafornya yang orisinal sangat khas dan selalu hampir
penuh kejutan, mengandung musikalitas yang rata-rata merdu, dan kuat dalam
membangun suasana dalam mengemban gagasan tema. Hal ini telah memberi pengaruh yang
cukup besar pada penyair generasi berikutnya. Karena itu, dalam kesempatan ini,
penulis memilih puisi-puisi yang mengandung kisah wayang dan mitos. Pemilihan terhadap puisi-puisi
ini salah satunya karena didasari oleh ketertarikan atas pendapat Goenawan di
atas bahwa wayang telah memberi suatu “dunia penghayatan yang tidak berbentuk”,
yang justru sangat terbuka untuk dibentuknya sendiri.
Dalam
penentuan makna sebuah puisi dapat dilakukan menggunakan dua cara, yaitu
analisis strata norma dan analisis semiotik. Roman Ingarden
(dalam Wellek, 1989: 186-187) menyebutkan strata norma dalam karya sastra
antara lain: lapis bunyi, lapis arti, lapis objek, lapis dunia yang dilihat
dari suatu titik pandang tertentu, dan lapis metafisika.
Wellek (dalam Pradopo, 1990: 15)
mengemukakan analisis strata norma menurut Roman Ingarden sebagai berikut:
1. Lapis norma pertama adalah lapis bunyi (sound stratum). Suara sebagai konvensi
bahasa, disusun sedemikian rupa hingga menimbulkan arti. Sehingga suara itu
tidak hanya sekadar suara tidak berarti. Dengan adanya suara-suara itu, akan
bisa ditangkap artinya atau maksud dari puisi tersebut.
2. Lapis arti (unit of meaning), yaitu berupa rangkauan fonem, suku kata, kata,
frase, dan kalimat. Semuanya merupakan satuan-satuan arti.
3. Lapis yang berupa latar, pelaku,
objek-objek yang dikemukakan, dan dunia pengarang yang berupa cerita atau
lukisan.
4. Lapis “dunia” yang dipandang dari titik
pandang tertentu yang tak perlu dinyatakan, tetapi terkadung dalamnya (implied).
5. Lapis metafisis, berupa sifat-sifat
metafisis yang sublim, tragis, mengerikan atau menakutkan, dan suci. Melalui
sifat-sifat seni ini dapat memberikan renungan atau kontemplasi kepada pembaca.
Strata norma dari Roman Ingerden ini
diterapkan pada saat melakukan analisis dan interpretasi pada puisi yang
diteliti. Karena biasanya analisis dan interpretasi puisi dilakukan secara
bersamaan.
Penentuan
makna puisi secara semiotik merupakan penerapan teori semiotik dari Pierce dan
Saussure. Penerapan ini dilakukan oleh Riffatere yang tergambar dalam bukunya Semiotic of Poetry. Penentuan makna
secara semiotik dilakukan dengan menggunakan dua pembacaan yaitu pembacaan
heruistik dan hermenuetik. Teori semiotik Riffatere dapat dimasukkan ke dalam
pembacaan hermenuetik karena telah mengalami pemaknaan mendalam.
2. ANALISIS STRATA NORMA
2.1 Lapis Pertama
Pembahasan
lapis bunyi hanya ditujukan pada bunyi-bunyi yang bersifat istimewa atau
khusus, yaitu bunyi-bunyi yang dipergunakan untuk mendapatkan efek puitis atau
nilai seni (Pradopo, 1990: 16). Dalam puisi bunyi bersifat estetik, merupakan
unsur puisi untuk mendapatkan keindahan dan tenaga ekspresif. Kecuali itu bunyi juga bertugas
memperdalam makna, menimbulkan suasana yang khusus, menimbulkan perasaan
tertentu, dan menimbulkan bayangan angan secara jelas.
Demikian
pentingnya peranan bunyi dalam puisi, sehingga dalam perjalanannya ada
puisi-puisi yang sangat menonjolkan unsur bunyi. Analisis lapis bunyi pada puisi Asmaradana karya Goenawan Muhamad ini,
tidak dianalisis bunyi pada tiap baris di setiap baitnya. Karena dari beberapa
sumber yang mencantumkan teks puisi Asmaradana
ini, pemenggalan kalimat pada akhir baris tidak sama antara satu sumber dengan
sumber yang lain. Alasan ini yang menyebabkan analisis puisi ini tidak melihat
tiap barisnya, tetapi pada tiap kalimat yang ada pada masing-masing bait.
Karena tiap bait pada puisi ini terdiri dari kalimat-kalimat.
Bait
pertama pada puisi Asmaradana karya
Goenawan ini terdapat tiga kalimat yang dijadikan empat baris. Antara kalimat
yang satu dengan kalimat berikutnya dipisahkan oleh tanda titik. Bait pertama didominasi
oleh bunyi konsonan /k, p, d/ yang menimbulkan efek kakofoni sehingga
menciptakan suasana kacau, tidak menyenangkan, dan sedih. Selain itu pada bait
ini juga memunculkan perasaan kasih suci. kalimat ini juga didominasi vokal /a,
e, u/ yang menimbulkan efek murung, sedih, dan perasaan kasih suci.
Bait
kedua terdapat dua kalimat yang didominasi konsonan /p, t/ yang menimbulkan
efek kakofoni, sehingga menciptakan suasana kacau, tidak menyenangkan, dan
sedih. Bait kedua ini juga didominasi vokal /a, e, u/ yang menimbulkan efek
kakofoni dan menciptakan suasana kecewa, gundah, dan perasaan kasih suci.
Bait
ketiga dalam puisi ini terdapat dua kalimat. Kalimat kedua mempunyai tiga
klausa. Bait ini didominasi bunyi /k, p, t/ yang menimbulkan suasana sedih,
tidak menyenangkan, dan kacau. Selain itu juga didominasi vokal /a, e/ yang
menimbulkan suasana murung, sedih, gundah, kecewa, tetapi juga menimbulkan
perasaan kasih yang suci.
Pada
bait keempat, terdapat tiga kalimat. Kalimat-kalimat pada bait ini didominasi
oleh bunyi kakofoni konsonan /k, p, w/ yang memunculkan efek kacau, murung,
sedih, kecewa, dan gudah. Selain itu kalimat-kalimat pada bait ini juga
didominasi oleh vokal /a, e, u/ yang menciptakan efek kasih suci tetapi dalam
suasana yang murung dan kacau.
Bunyi-bunyi
pada puisi ini umumnya memunculkan efek-efek kakofoni. Hal ini dapat
dihubungkan dengan beberapa kata yang memunculkan efek berat. Kata-kata ini
misalnya kata perpisahan, menangis, kematian,
dan lupakan. Beberapa kata
tersebut dapat menciptakan suasana sedih dan berat pada puisi Asmaradana ini.
2.2 Lapis Kedua
Lapis arti ini akan menganalisis satuan-satuan makna
dari susunan pilihan-pilihan kata yang dilakukan oleh penyair. Analisis lapis
kedua ini dilakukan dengan mengartikan kata, frasa, atau kalimat secara harfiah
atau secara umum dengan makna kata sebenarnya.
Bunyi-bunyi
pada puisi ini umumnya memunculkan efek-efek kakofoni. Hal ini dapat
dihubungkan dengan beberapa kata yang memunculkan efek berat. Kata-kata ini
misalnya kata perpisahan, menangis,
kematian, dan lupakan. Beberapa
kata tersebut dapat menciptakan suasana sedih dan berat pada puisi Asmaradana ini.
Bait
pertama terdapat kata ganti orang ketiga. Kata ganti ini digunakan oleh penyair
untuk memunculkan efek sudut pandang. Sehingga puisi tidak sekedar memunculkan
efek dan makna secara umum. Penggunaan kata ganti ia pada bait pertama ini, menggambarkan tokoh yang diangkat dalam
puisi ini. Penyair pada kalimat terakhir menggunakan frasa mereka berdua, yang sebelumnya tidak diungkapkan. Sehingga pembaca
akan sedikit kesulitan memahami bait pertama puisi ini, karena awalnya hanya
disebutkan kata ganti orang ketiga tunggal, yaitu kata ia.
Pemilihan
diksi pada bait pertama ini tergolong mudah untuk dipahami. Tetapi untuk
beberapa frasa ada yang sedikit sulit dipahami oleh orang awam, misalnya pada
frasa resah kuda. Kata resah dapat diartikan sebagai perasaan
gundah dan tidak enak dalam hati karena sesuatu hal. Tetapi pada bagian ini
diikuti oleh kata benda kuda. Pada
frasa resah kuda ini dapat dimaknai
sebagai bentuk perasaan gundah yang dialami oleh seekor kuda. Frasa ini juga
diperjelas oleh bagian berikutnya dalam kalimat ini.
Bait
kedua puisi ini menggunakan beberapa kata yang mempunyai arti tidak
berhubungan. Pada kalimat kedua misalnya //Ia melihat peta, nasib, perjalanan
dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan// terdapat kata peta, nasib, perjalanan, sebuah peperangan. Kata-kata ini juga
dilihat secara sepintas tidak mempunyai hubungan makna antara satu kata dengan
kata yang lain. Tetapi juga dipahami dengan melihat latar belakang kemunculan
puisi ini, kata-kata ini dapat dimaknai dan mempunyai hubungan antara satu kata
dengan kata yang lain. Kata-kata ini dapat dimaknai sebagai sebuah petunjuk
atas akibat yang dialami setelah peperangan. Pada bait kedua ini, pengarang
masih menggunakan sudut pandang orang ketiga.
Bait
ketiga puisi ini tidak menggunakan kata-kata yang sulit dipahami. Berbeda
dengan dua bait sebelumnya yang menggunakan diksi kurang bisa dimengerti oleh
pembaca awam, pada bait ini penyair memilih diksi yang mudah dimengerti dan
disusun menjadi kalimat yang mudah dipahami maknanya oleh pembaca. Misalnya
pada kalimat //Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis//
menggunakan diksi yang mudah dipahami secara umum oleh pembaca.
Bait
terakhir puisi ini menggunakan kata-kata yang mudah dipahami oleh pembaca,
tetapi penyair memanfaatkan beberapa majas untuk memantapkan bait terakhir ini.
Majas yang digunakan oleh penyair antara lain terdapat pada bagian //Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu// yang mempunyai makna mengenai
perputaran waktu yang terasa sangat lambat bagi tokoh di dalam puisi ini. Pada
bait terakhir ini juga digunakan kata sapaan yang disisipkan di tengah kalimat
dengan penanda jeda menggunakan tanda koma. Berikut kutipannya:
Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.
Penggunaan
kata ganti pada puisi ini untuk menandakan pada siapa puisi ini ditujukan.
Tokoh utama pada puisi ini adalah aku lirik, yaitu kekasih Anjasmara.
Penggunaan kata ganti ia pada puisi
ini menunjuk pada orang ketiga yang merupakan subjek tujuan puisi ini. Kata
ganti ia merupakan penunjuk pada
tokoh Anjasmara dalam puisi ini.
Analisis
lapis arti ini akan membahas mengenai bagaimana pemaknaan secara harfiah sebuah
puisi. Secara harfiah puisi Asmaradana
karya Goenawan Muhamad adalah sebagai berikut:
Bait
pertama menggambarkan tokoh ia dan
kekasihnya saling diam ketika mereka mendengar kepakan sayap kelelawar serta
suara hujan yang mengguyur daun kemuning yang ditimbulkan oleh angin. Tokoh ia
mendengar suara kuda dan langkah kuda yang ditimbulkan oleh pedati ketika
suasana lagit cerah tanpa awan.
Bait
kedua mengisahkan ketika tokoh ia
mengucapkan kata perpisahan kematian saat ia
mengetahui bagaimana nasib perjalanan setelah diadakan peperangan.
Bait
ketiga tokoh ia tahu apa yang akan
dilakukan oleh kekasihnya itu. Kekasihnya tidak akan menangis karena jika
keesokan harinya setelah pertemuan itu ada jejak pada halaman rumah yang menuju
arah utara, kekasihnya itu tidak akan mencari tahu siapa mereka, karena ia
tidak akan berani melakukan itu.
Pada
bait terakhir ini, penyair mengungkapkan mengenai pesan yang diberikan oleh
tokoh ia kepada pada kekasihnya.
Tokoh ia diubah menjadi tokoh aku
lirik pada bait terakhir ini. Tokoh aku lirik mengatakan kepada kekasihnya,
yaitu Anjasmara, mengenai apa yang ia inginkan terhadap kekasihnya itu. Aku
lirik menginginkan kekasihnya untuk tetap seperti dulu. Aku lirik juga
mengatakan jika terjadi sesuatu maka lama kelamaan kekasihnya akan melupakan
dirinya dan dirinyapun akan melupakan kekasihnya itu.
2.3 Lapis Ketiga
Lapis objek ini meliputi latar, pelaku
dan dunia pengarang. Tokoh utama dalam puisi ini adalah tokoh ia atau aku lirik dan kekasihnya atau
Anjasmara. Latar yang digunakan adalah sebuah tempat yang digunakan untuk
pertemuan tokoh utama dengan kekasihnya. Latar waktu yang digunakan adalah saat
pertemuan antara tokoh utama dengan kekasihnya sebelum melaksanakan peperangan.
Jika objek-objek,
latar, dan pelaku yang dikemukakan dalam puisi digabungkan, maka akan
menghasilkan ‘dunia pengarang’
atau isi puisi. Ini merupakan dunia atau cerita yang diciptakan penyair di
dalam puisinya. Imajinasi dunia pengarang bila dihubungkan dengan
salah satu episode cerita Damar Wulan adalah sebagai berikut:
Tokoh ia atau aku lirik mengungkapkan mengenai apa yang ia rasakan
terhadap kekasihnya. Tokoh ia atau
aku lirik menggantikan tokoh Damar Wulan yang ada dalam suasana kebimbangan.
Damar Wulan dengan berat hati menerima tugas mulia sebagai panglima perang
melawan Minak Jingga. Ia telah membaca peta nasibnya dan telah pula mengukur
kemampuannya melawan Minak Jingga. Hanya satu kata yaitu kematian yang akan
didapatkannya karena Minak Jingga memiliki pusaka sakti. Oleh karena itu,
ketika Anjasmara terlena atau tidur dalam pangkuannya, Damar Wulan
perlahan-lahan pergi melangkah meninggalkan sang kekasih. Sebelum meninggalkan
kekasihnya itu, Damar Wulan mengucap dalam hati salam perpisahan terhadap Anjasmara.
2.4 Lapis Keempat
Lapis keempat ini merupakan lapis
dunia yang dilihat dari suatu titik pandang tertentu. Judul puisi ini merupakan intertekstual dari
tembang Jawa klasik, yaitu tembang asmaradana.
Kata
asmaradana berasal dari kata Jawa
Kuna smara dan dhana. Kata smara berarti
kasih sayang dan merupakan nama dewa cinta, yaitu Dewa Asmara, sedangkan kata dhana berarti api (Kamus Jawa
Kuna-Indonesia karangan P.J. Zoetmulder, 2004). Kata asmaradana atau smaradana mengacu
pada peristiwa hangusnya Dewa Asmara karena sorot mata ketiga dari Dewa Siwa.
Pada Kakawin Smaradhana karya Mpu
Darmaja, kata smaradana diberi makna remen ing paweweh yang berarti suka
memberi. (http://kotasolo.info/indek.php?option=com_content
&task=view&id=750&Itemid=58)
Asmaradana berarti perasaan asmara atau
cinta, perasaan saling menyukai yang sudah menjadi kodrat Tuhan. Kata asmaradana sebagaimana tembang macapat
Jawa, merupakan tembang yang ditujukan bagi anak remaja yang sedang mengalami
masa pertumbuhan.
Judul
puisi ini sudah menggambarkan isi secara menyeluruh pada puisi Asmaradana karya Goenawan ini. Karena
puisi ini menceritakan mengenai ketulusan kasih sayang yang diberikan Damar
Wulan kepada Anjasmara.
Bait
pertama menggambarkan saat pertemuan antara Damar Wulan dan Anjasmara sebelum
Damar Wulan melakukan perang. Saat itu mereka berdua sama-sama membisu dan
tidak berkata-kata. Bait ini melukiskan apa yang dirasakan oleh Damar Wulan
saat itu. Ia dapat mendengar setiap kepakan sayap kelelawar dan rintikan hujan
yang jatuh dan membasahi daun kemuning. Ia juga akan mendengar kabar dari orang
yang mengendarai kuda saat langin kembali cerah. Tergambar betapa syahdu dan haru suasana ketika itu yang terwakili dalam
tiap bait puisi tersebut. Sebenarnya banyak yang ingin mereka ungkapkan. Entah
tentang cinta, perpisahan, dan rasa sakit yang menyayat, sebagaimana terungkap pada
kalimat terakhir //Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang
berkata-kata//.
Bait
kedua menggambarkan saat Damar Wulan mengucapkan salam perpisahan kepada
Anjasmara. Ia telah membaca peta nasibnya dan telah pula
mengukur kemampuannya melawan Minak Jingga. Hanya satu kata yaitu kematian yang
akan didapatkannya karena Minak Jingga memiliki pusaka sakti.
Bait ketiga menggambarkan suasana saat
itu ketika Damar Wulan mengatakan kata perpisahan kepada Anjasmara. kepergian Damarwulan itu disikapi dengan dingin
kebekuan oleh sang kekasih. Pada bait pertama dijelaskan bahwa Damar Wulan tahu jika
kekasihnya tidak akan menangis, //Ia tahu perempuan itu tak akan menangis//. Tak ada gunanya menangis bagi sang kekasih karena
itu takkan mengubah takdir. Bagian //bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang
menjauh ke utara// yang berarti bahwa berita kekalahan dan kematian akan
datang. Bagi orang Jawa dan orang Islam, utara adalah lambang kematian. Apabila berita kemenangan yang datang maka dia harus
rela melepas sang kekasih naik pangkat lalu pindah tugas di dalam kerajaan
Majapahit serta dinikahkan dengan seorang gadis yang lebih terhormat. Bagian //Ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak
berani lagi// mempunyai makna
sebagai upaya yang dilakukan oleh Anjasmara setelah kepindahan Damar Wulan.
Bait terakhir merupakan pesan yang diberikan oleh Damar
Wulan terhadap Anjasmara. Ketika Anjasmara tidur terlelap pada pangkuan Damar
Wulan, ia membisikan pesan terhadap Anjasmara sang kekasihnya itu. Ia berpesan
apapun yang terjadi pada dirinya, mereka harus saling melupakan. Karena tidak
akan mungkin bertemu lagi.
2.5 Lapis Kelima
Lapis
kelima merupakan lapis metafisik, yaitu mengenai pesan moral yang disampaikan
oleh penyair dalam puisinya. Dalam puisi ini pokok permasalahan yang
dibicarakan adalah kepergian Damar Wulan untuk mengemban tugas yang diberikan
oleh kerajaan. Secara keseluruhan, puisi ini mengandung pesan moral bahwa sepasang suami istri tidak akan bersatu untuk selamanya, seorang suami tidak akan
selamanya mendampingi
istrinya.
3. ANALISIS SEMIOTIK
Dalam
analisis semiotik, dilakukan dua macam pembacaan, yaitu pembacaan secara
heuristik dan hermeneutik.
3.1 Pembacaan Heuristik
Pembacaan
heuristik adalah pembacaan berdasarkan struktur atau berdasarkan konvensi
sistem semiotik tingkat pertama. Pembacaan heuristik ini merupakan pembacaan
dengan melihat tata bahasa yang berlaku. Dalam pembacaan ini, dilakukan dengan
cara memasukkan unsur-unsur yang hilang, sehinga memunculka suatu sistem kebahasaan
yang benar. Dalam pembacaan heuristik ini dilakukan pemahaman secara harfiah
terhadap kata-kata yang ada.
Hasil
pembacaan heuristik terhadap puisi Asmaradana
karya Goenawan Muhamad adalah sebagai berikut:
Ia (men)dengar
kepak(an) sayap
kelelawar dan guyur(an)
sisa (air) hujan dari
daun, karena (tiupan) angin
pada (daun) kemuning.
Ia (men)dengar resah
kuda serta langkah pedati ketika langit
(menjadi) bersih
kembali (dan) menampakkan
bimasakti, yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada (seorang pun) yang berkata-kata.
Lalu ia (meng)ucapkan
(kata) perpisahan itu, (Kata) kematian itu. Ia
melihat peta, nasib, perjalanan
dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.
Lalu ia (menge)tahu(i) perempuan itu tak akan
menangis. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang
menjauh ke utara, ia tak akan mencatat
yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani lagi.
(“)Anjasmara,
adikku, tinggalah (di sini),
seperti dulu. Bulan pun (menjadi) lamban dalam angin,
(ter)abai(kan) dalam waktu. Lewat remang dan kunang-kunang,
kaulupakan wajahku, (dan) kulupakan
wajahmu.
Secara harfiah puisi Asmaradana karya Goenawan Muhamad adalah
sebagai berikut:
Bait
pertama menggambarkan tokoh ia dan kekasihnya saling diam ketika mereka mendengar
kepakan sayap kelelawar serta suara hujan yang mengguyur daun kemuning yang
ditimbulkan oleh angin. Tokoh ia mendengar suara kuda dan langkah kuda yang
ditimbulkan oleh pedati ketika suasana lagit cerah tanpa awan.
Bait
kedua mengisahkan ketika tokoh ia mengucapkan kata perpisahan kematian saat ia
mengetahui bagaimana nasib perjalanan setelah diadakan peperangan.
Bait
ketiga tokoh ia tahu apa yang akan dilakukan oleh kekasihnya itu. Kekasihnya
tidak akan menangis karena jika keesokan harinya setelah pertemuan itu ada
jejak pada halaman rumah yang menuju arah utara, kekasihnya itu tidak akan
mencari tahu siapa mereka, karena ia tidak akan berani melakukan itu.
Pada
bait terakhir ini, penyair mengungkapkan mengenai pesan yang diberikan oleh
tokoh ia kepada pada kekasihnya. Tokoh ia diubah menjadi tokoh aku lirik pada
bait terakhir ini. Tokoh aku lirik mengatakan kepada kekasihnya, yaitu
Anjasmara, mengenai apa yang ia inginkan terhadap kekasihnya itu. Aku lirik
menginginkan kekasihnya untuk tetap seperti dulu. Aku lirik juga mengatakan
jika terjadi sesuatu maka lama kelamaan kekasihnya akan melupakan dirinya dan
dirinyapun akan melupakan kekasihnya itu.
3.2 Pembacaan Hermeneutik
Pembacaan
hermeneutik atau pembacaan retroaktif adalah pembacaan karya sastra berdasarkan
konvensi sastranya. Pembacaan hermeneutik adalah pembacaan tingkat kedua dengan
memahami kata-kata yang ada secara semiotik.
Dalam
pembacaan hermeneutik ini, digunakan pendekatan analisis semiotik yang
diterapkan oleh Riffatere, yaitu penggantian arti, penyimpangan arti, dan
penciptaan arti. Masing-masing mempunyai alat untuk mengungkapkan setiap makna
yang terkandung dalam puisi ini.
3.2.1 Penggantian Arti
Penggantian
arti ini menurut Riffaterre disebabkan oleh penggunaan metafora dan metonimi
dalam karya sastra. Metafora dan metonimi ini merupakan jenis gaya bahasa,
sehingga penggantian arti dalam puisi tidak hanya sebatas pada dua gaya ini.
Puisi
ini mengandung beberapa majas yang dimanfaatkan penyair untuk menekankan makna
yang terkandung dalam puisi. Majas metafora terlihat pada frasa resah kuda. Kata resah
dapat diartikan sebagai perasaan gundah dan tidak enak dalam hati karena
sesuatu hal. Tetapi pada bagian ini diikuti oleh kata benda kuda. Pada frasa resah kuda ini dapat dimaknai sebagai bentuk perasaan gundah yang
dialami oleh seekor kuda. Frasa ini juga diperjelas oleh bagian berikutnya
dalam kalimat ini.
Ungkapan
pada kalimat //Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam
waktu// dapat dimaknai sebagai penggambaran perjalanan waktu yang telah dilalui
setelah semua pertempuran terjadi. Waktu yang sangat lambat berputar akan
terabaikan oleh keadaan dan peristiwa.
Pada
bagian //Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku, kulupakan
wajahmu// terdapat repetisi pada kata lupakan
dan wajah. Pengulangan ini digunakan
pada ucapan yang dilontarkan oleh Damar Wulan terhadap Anjasmara. Ia berharap
jika semua telah usai maka Damar Wulan berharap Anjasmara akan melupakan
dirinya dan dirinya pun akan melupakan Anjasmara. Karena semuanya takkan bisa
kembali, termasuk hubungan antara Damar Wulan dan Anjasmara.
3.2.2 Penyimpangan Arti
Riffaterre
(1978: 2) mengemukakan bahwa penyimpangan arti disebabkan karena tiga hal,
yaitu ambiguitas, kontradiksi, dan nonsense.
Ambiguitas
ini disebabkan karena bahasa puisi ini mempunyai arti ganda (polyinterpretable), lebih-lebih bahasa puisi. Kegandaan arti itu dapat
berupa kegandaan arti sebuah kata, frase, ataupun kalimat.
Ambiguitas pertama kali muncul setelah
membaca bait peratama. Pada bait pertama terdapat kata ganti orang ketiga ia. Kata ganti ini dapat menimbulkan
ambiguitas atas siapa yang dimaksud oleh penyair. Keambiguitasan ini mulai
terjawab setelah pada bait ketika muncul kata perempuan. Kata perempuan ini
pengikuti kata ganti ia, sehingga
dapat dipastikan jika tokoh ia adalah
seorang laki-laki.
Keambiguitasan atas kata ganti ia ini terjawab pada bait keempat. Pada
bait keempat ini muncul kata Anjasmara.
Sehingga dapat dipastikan bahwa perempuan yang dimaksud pada bait ketiga adalah
Anjasmara, dan tokoh ia adalah
kekasihnya yaitu Damar Wulan.
Pada
bait ketiga muncul ambiguitas pada beberapa bagian. Frasa esok pagi dapat dimaknai sebagai hari esok atau pagi hari setelah
peretemuan antara Damar Wulan dan Anjasmara. Tetapi jika dihubungkan dengan
bait kedua, frasa esok hari dapat
dimaknai sebagai hari setelah peperangan. Pada bait ini juga mempunyai dua
makna, yaitu makna untuk kemenangan dan kekalahan dalam peperangan.
Bagian /ada tapak yang menjauh ke utara/ dapat dimaknai sebagai jejak langkah menuju
yang membekas pada rumput. Tetapi jika dihubungkan dengan peperangan yang
dilakukan oleh Damar Wulan, bagian puisi ini dapat dimaknasi sebagai sebuah
kabar kematian. Pada kepercayaan orang Jawa, arah utara merupakan lambang
kematian. Pada pandangan orang Islam pun demikian. Setiap orang meninggal selalu dikubur membujur ke utara.
Bagian /ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan
tiba, karena ia tak berani lagi/ dapat dimaknai
sebagai kabar gembira atas kemenangan yang diraih oleh Damar Wulan ketika
perang. Tetapi dengan kabar kemenangan itu, maka Anjasmara harus rela melepas
sang kekasih untuk naik pangkat dan pindah tugas di dalam kerajaan Majapahit serta dinikahkan dengan seorang gadis yang terhormat.
Kontradiksi
terjadi pada bait pertama. Bait pertama digambarkan mengenai pertemuan antara
Damar Wulan dan Anjasmara yang begitu hangat dan diselimuti oleh kasih sayang.
Tetapi pertemuan itu malah membuahkan kebisuan antara mereka berdua.
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan
dari daun, karena
angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah
pedati ketika
langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang jauh. …………….
Bagian tersebut dipertentangkan oleh
bagian dalam satu bait, yaitu:
………………………………
Tapi di antara
mereka
berdua, tidak ada yang berkata-kata.
Nonsense tidak terjadi pada puisi ini,
karena semua kata dapat dimaknai dan dimengerti oleh pembaca.
3.2.3 Penciptaan Arti
Penciptaan
arti ini merupakan konvensi kepuitisan yang berupa bentuk visual yang secara
linguistik tidak mempunyai arti, tetapi menimbulkan makna dalam puisi (karya
sastra). Terjadi penciptaan arti bila ruang teks (spasi teks) berlaku sebagai
prinsip pengorganisasian untuk membuat tanda-tanda keluar dari hal-hal
ketatabahasaan yang sesungguhnya secara linguistik tidak artinya, misalnya
simitri, rima, enjambemen, atau ekuivalensi makna (semantik) diantara
persamaan-persamaan posisi dalam bait (homologues).
Dalam puisi sering terdapat keseimbangan (simitri) berupa kesejajaran arti
antara bait-bait atau antara baris-baris dalam bait.
Dalam
penciptaan arti ini, akan dianalisis mengenai tipografi, enjambemen,
persajakan, tema, perasaan, nada dan suasana, serta amanat yang terkandung
dalam puisi Asmaradana karya Goenawan
Muhamad ini. Adapun tipografi, enjambemen, dan persajakan digolongkan sebagai
struktur lahir sebuah puisi. Sedangkan tema, perasaan, nada dan suasana, serta
amanat digolongkan menjadi struktur batin sebuah puisi.
3.2.3.1
Tipografi dan Enjambemen
Tipografi disebut juga ukiran bentuk,
ialah susunan bari-baris atau bait-bait puisi. Termasuk ke dalam tipografi
ialah penggunaan huruf-huruf untuk menuliskan kata-kata suatu puisi. Setiap
penyair memiliki kegemaran sendiri-sendiri dalam pembuatan bentuk atau wajah
puisi. Sedangkan enjambemen
ialah bagian atau baris kalimat yang mempunyai tugas ganda, menghubungkan
bagian yang mendahuluinya dan bagian berikutnya atau bagian yang mengikutinya.
Hal ini dilakukan oleh penyair untuk lebih menekankan makna bagian-bagian
tertentu, disamping memanfaatkan bunyi-bunyi bahasa dalam rima atau persajakan.
Puisi Asmaradana karya Goenawan ini terdiri dari empat bait yang terdiri atas
14 baris. Puisi ini disusun atas beberapa kalimat yang dipenggal-penggal
menjadi beberapa baris. Bait pertama terdiri dari tiga kalimat yang dijadikan
empat baris dengan pemotongan yang mengakibatkan rima puisi menjadi sama.
Berikut kutipannya:
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan
dari daun, karena
angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah
pedati ketika
langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang jauh. Tapi di antara
mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.
Bait kedua terdiri dari dua kalimat
yang dijadikan dua baris dan terjadi pemenggalan pada kalimat kedua.
Pemenggalan ini tidak menciptakan kesamaan rima. Berikut kutipannya:
Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat
peta, nasib,
perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya
disebutkan.
Bait ketiga terdiri dari dua kalimat
yang dijadikan menjadi empat baris. Kalimat kedua mempunya tiga klausa. Pemenggalan
dilakukan pada kalimat kedua. Pemenggalan yang dilakukan tidak menimbulkan
kesamaan persajakan. Berikut kutipannya:
Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi
pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak
akan
mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia
tak berani
lagi.
Bait keempat terdiri dari tiga kalimat
yang dijadikan empat baris. Kalimat pertama dan kedua menduduki baris pertama
dan kedua. Sedangkan kalimat ketiga mengalami pemenggalan. Susunan pada bait
keempat ini terjadi persamaan rima pada akhir barisnya. Berikut kutipannya:
Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.
Pemenggalan yang dilakukan oleh
penyair pada baris-baris puisi ini merupakan upaya untuk mempertegas maksud dan
memberikan nilai estetis pada puisinya. Dalam pemenggalan ini, memunculkan rima
atau persajakan pada akhir tiap baris. Hal ini yang merupakan tujuan dari
enjambemen yang diterapkan pada suatu karya.
Judul puisi ini merupakan intertekstual dari
tembang Jawa klasik, yaitu tembang asmaradana. Kata
asmaradana berasal dari kata Jawa
Kuna smara dan dhana. Kata smara berarti
kasih sayang dan merupakan nama dewa cinta, yaitu Dewa Asmara, sedangkan kata dhana berarti api (Kamus Jawa
Kuna-Indonesia karangan P.J. Zoetmulder, 2004). Kata asmaradana atau smaradana mengacu
pada peristiwa hangusnya Dewa Asmara karena sorot mata ketiga dari Dewa Siwa.
Pada Kakawin Smaradhana karya Mpu
Darmaja, kata smaradana diberi makna remen ing paweweh yang berarti suka
memberi. (http://kotasolo.info/indek.php?option=
com_content&task=view&id=750&Itemid=58)
Asmaradana berarti perasaan asmara atau
cinta, perasaan saling menyukai yang sudah menjadi kodrat Tuhan. Kata asmaradana sebagaimana tembang macapat
Jawa, merupakan tembang yang ditujukan bagi anak remaja yang sedang mengalami
masa pertumbuhan.
Judul
puisi ini sudah menggambarkan isi secara menyeluruh pada puisi Asmaradana karya Goenawan ini. Karena
puisi ini menceritakan mengenai ketulusan kasih sayang yang diberikan Damar
Wulan kepada Anjasmara.
Bentuk yang diterapkan oleh Goenawan pada
puisi ini merupakan hasil kreativitas yang dilakukannya. Teknik penulisan dari
sebuah tembang macapat yang bersifat formulais dan melodius dengan menjaga
kearsitekturalan matra, diubah menjadi sebuah puisi naratif yang bergaya
prosaik dengan irama estetisme formal.
Bentuk ucapan langsung tokoh aku
lirik, yaitu Damar Wulan, kepada kekasihnya, yaitu Anjasmara, dalam matra
tembang asmaradana, diubah menjadi bentuk sampiran dan isi seperti sebuah
pantun atau sonetab dengan menekankan lukisan suasana alam dan keadaan guna
mendukung kisah-kisah yang terasa sendu antara Anjasmara dan Damar Wulan agar
lebih romantis.
Sudut pandang aku lirik terlibat dalam
tembang asmaradana diubah oleh penyair menjadi dua sudut pandang, yaitu: sudut
pandang orang ketiga dengan kata ganti persona ia yang dapat merujuk pada Damar Wulan, dan sudut pandang orang
pertama aku lirik terlibat sebagai pengganti tokoh Damar Wulan. Puisi ini
merupakan puisi prosaik yang menempatkan penyair sebagai pengarang orang ketiga
serba tahu.
3.2.3.2 Persajakan
Persajakan
pada puisi Asmaradana karya Goenawan
ini terjadi akibat pemenggalan pada beberapa kalimat yang berada pada satu bait
yang sama. Misalnya pada bait pertama menggunakan rima vertikal pada akhir
barisnya.
………………………………
karena
………………………………
ketika
………………………………
di antara
………………………………
berkata-kata.
Persajakan
ini menimbulkan suasana kacau, tidak teratur, tidak menyenangkan, murung, sedih, gundah, dan kecewa. Efek yang ditimbulkan pada persajakan ini
dikarenakan adanya hubungan bunyi pada tiap katanya.
Begitu
pula pada bait terakhir yang juga menggunakan rima vertikal pada akhir
barisnya. Sedangkan pada bait kedua dan dan ketiga tidak memunculkan rima akhir
yang berirama setelah dilakukan pemenggalan.
3.2.3.3 Tema
Puisi Asmaradana dimulai dengan peristiwa awal sebuah suasana dua orang yang bersama-sama tapi tidak ada percakapan.
Suasana sunyi mencekam, hingga suara-suara
paling lembut sekalipun bisa didengar oleh dua orang tokoh lirik itu. Suara kepak sayap kelelawar dan guyur
sisa hujan yang dihempaskan angin pada pohon kemuning kedengaran jelas oleh mereka. Selain itu mereka
mendengar suara resah kuda
dan langkah pedati. Suasana awal ini menunjukkan bahwa diantara meraka hanya diam seribu bahasa.
Peristiwa selanjutnya terjadi dialog antara ia dan perempuan itu.
Ia mengucapkan perpisahan,
sebuah perpisahan abadi sebab perpisahan itu sekaligus sebuah kematian. Ia mengucapkan perpisahan kematian itu karena ia
telah memperhitungkan nasibnya, sebuah
perjalanan menuju peperangan yang akan dijalaninya. Pada bait ketiga terdapat sikap atau gambaran si perempuan yang akan
ditinggalkan. Penggambaran ini merupakan suasana yang dibangun oleh perasaan dan pikiran si ia tentang si
perempuan. Menurutnya,
perempuan itu tidak akan menangis sebab dia tidak akan berani mencatatkan perjalanan yang memisahkan
dirinya dengan ia. Jadi, pada bagian awal ini merupakan proses ia yang berpamitan kepada perempuan untuk pergi
selama-lamanya. Selain itu,
pada bagian tengah ini merupakan gambaran kesedihan perempuan
yang akan ditinggalkan
orang yang disayanginya. Saking sedihnya perempuan itu digambarkan tidak akan bisa menangis.
Pada bagian akhir yang terdapat dalam bait empat suasana mencekam
dan perpisahan itu semakin jelas. Ia meminta
kepada Anjasmara, perempuan itu, untuk tetap tinggal seperti dulu. Suasana mencekam oleh kesedihan ini semua
berjalan amat lamban bahkan
tidak lagi menghiraukan perjalanan waktu. Pada akhirnya semua harus berpisah.
Dalam suasana yang diliputi kesedihan itu, masing-masing harus
melupakan wajah orang yang
sangat dekat dengan dirinya, melupakan semuanya bahwa diantara mereka pernah bersama. Jadi, jika melihat uraian di atas,
puisi ini bertema perpisahan yang menyakitkan antara sepasang suami istri.
3.2.3.4 Perasaan
Dalam mengungkapkan tema perpisahan yang menyakitkan antara
sepasang suami istri
ini, penyair tampak bersikap berat sebelah. Penyair mengungkapkan tentang perempuan yang lemah dan laki-laki yang kuat.
Perempuan tidak berdaya upaya dalam menghadapi
perpisahan, bahkan digambarkan tidak bisa menangis karena sedihnya, sedangkan laki-laki, meski sama-sama sedih,
masih bisa berkata dan memberi nasihat. Nasihatnya merupakan ungkapan penyair yang
semakin melemahkan kedudukan perempuan
dan menguatkan laki-laki. Tetapi secara garis besar, meski mendudukkan laki-laki dan perempuan dalam menghadapi
perpisahan berbeda, perasaan penyair dalam menyikapi perpisahan ini ikut terharu dan sedih. Penyair
menggunakan kata-kata yang menimbulkan
bunyi-bunyi merdu yang liris dan menguatkan kesedihan.
3.2.3.5 Nada
dan Suasana
Puisi di atas mempunyai atau memenuhi ukuran tertentu sebagai
sebuah puisi yang baik.
Suasana yang dibangun semenjak awal peristiwa sampai di bagian akhir mempunyai hubungan yang kuat, baik secara
urutan peristiwa maupun pilihan-pilihan kata yang membentuk keutuhan puisi itu.
Nada yang diungkapkan pengarang penuh belas kasihan, terutama
kepada Anjasmara
yang akan ditinggalkan oleh suaminya. Sedangkan nada yang mengungkapkan tentang ia, penyair menggunakan
nada tabah, sabar, dan kuat dalam menghadapi
peristiwa perpisahan.
Pada bagian awal yakni bait pertama, suasana kesedihan itu telah
dibangun demikian kuat
dengan membuat sebuah peristiwa yang saling diam diantara kedua tokoh yang hadir dalam puisi ini. Kekuatan suasana
saling diam ini menggunakan metafor seperti
yang terdapat dalam baris pertama dan kedua, //ia dengar kepak sayap kelelawar dan
guyur sisa hujan dari daun, karena angin
pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah
pedati ketika//. Karena sangat sunyi hingga suara yang sebenarnya sangat pelan bisa diindera oleh telinga. Suara sayap
kelelawar, hujan yang jatuh dari daun, resah kuda, langkah pedati adalah suara-suara yang dalam ukuran tertentu
sangat pelan dan sangat biasa.
Tetapi dalam hal ini pilihan-pilihan akan hal tersebut semakin menguatkan citra kemencekaman dalam puisi. Tidak ada
percakapan dan hanya suara itu yang kian menegaskan kesunyian dan kemencekaman. Bunyi-bunyi yang dihasilkan
oleh kata-kata yang terdapat
dalam bait pertama sangat merdu dan menguatkan suasana kesedihan yang dibangun dalam puisi ini.
Sebab-sebab sunyi dan sepi yang terdapat dalam bait pertama dapat
dilihat pada bait kedua. //Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian
itu. Ia melihat peta, nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak
semuannya disebutkan//.
Pada bait ini ada sebuah momen perpisahan yang diucapkan
oleh tokoh ia, seolah perpisahan itu adalah perpisahan yang abadi, perpisahan dengan kematian di mana
ada peta nasib perjalanan
dan sebuah peperangan. Puisi tetap konsisten dalam suasana kesedihan yang mencekam. Ketika ia mengucapkan perpisahan,
kesedihan itu diperkuat dengan bait ketiga
yang menyebutkan perempuan itu tidak akan menangis sebab perempuan itu tahu bahwa perpisahan abadi akan segera tiba,
sebuah perpisahan dengan sang maut yang akan menimpa orang terdekatnya. Di sini ada pemilihan kata yang
memenuhi suasana itu; perpisahan, kematian, nasib, peperangan, tapak yang
menjauh, mencatat yang telah lewat adalah kata-kata yang mengandung kemerduan
sekaligus membangun kesedihan.
3.2.3.6 Amanat
Puisi ini tidak panjang tetapi telah memenuhi ukurannya sebagai
puisi yang dalam
kriteria Aristoteles disebut lengkap, yakni adanya peristiwa akhir yang logis,
yang sesuai dengan urutan struktur
peristiwa-peristiwa yang dibangun dalam puisi. Peristiwa yang digambarkan penuh kesedihan ini diakhiri
atau diselesaikan dengan sebuah bait yang semakin jelas dan dalam suasana kesedihannya. Ia memberi
pesan kepada perempuan
itu, Anjasmara, untuk tetap bertahan seperti sedia kala dan tidak melakukan aktivitas yang keluar dari aturan atau tempat
tinggalnya, //Anjasmara, adikku,
tinggalah, seperti
dulu//. Di sini Anjasmara harus tetap diam meski
perpisahan itu adalah sebuah kematian.
Peristiwa akhir ini merupakan urutan logis dari peristiwa awal yang bisu karena akan terjadi perpisahan, peristiwa
tengah yang merupakan suasana akan menuju perpisahan atau saat ia pamit dan memberi tahu tentang perpisahan
itu, yang merupakan perpisahan
untuk selama-lamanya, dan kemudian berakhir pada sebuah pesan menjelang perpisahan tersebut.
Uraian di atas menunjukkan bahwa amanat dalam puisi ini yaitu
sepasang suami istri tidak
akan bersatu untuk selamanya, seorang suami tidak akan selamanya mendampingi istrinya.
4. KAJIAN INTERTEKSTUAL
Beberapa
puisi Goenawan Muhamad mempunyai latar penciptaan mitos Jawa dan pewayangan,
misalnya pada puisi Asmaradana, Pariksit,
Menjelang Pembakaran Sita, Persetubuhan Kunthi, Gotoloco, Penangkapan Sukra,
dan Dongeng Sebelum Tidur.
Dalam
kajian intertekstual ini akan membahas hubungan intertekstual dan hipogram antara
puisi Asmaradana karya Goenawan
Muhamad dengan beberapa teks yang ada sebelum atau sesudahnya. Puisi Asmaradana karya Goenawan ini selesai
ditulis sekitar tahun 1971. Hal ini terbukti dari pemberian catatan tahun pada
bagian bawah teks puisi.
Judul
puisi karya Goenawan ini mengacu pada matra puisi Jawa klasik, yaitu tembang
macapat Asmaradana. Pengacuan itu
bukan hanya sekadar namanya saja, tetapi juga isi, tokoh cerita, sifat,
karakter, dan roh kesastraannya ke dalam puisi Indonesia.
Adapun
tembang macapat Asmaradana dalam
puisi Jawa klasik (Suroso, 2009: 94) adalah
sebagai berikut:
Anjasmara
ari mami
mas
mirah kulaka warta
dasihmu
tan wurung layon
aneng
kutha Prabalingga
prang
tandhing lan Wurubhisma
karia
mukti wong ayu
pun
kakang pamit palastra.
Tembang
macapat Asmaradana di atas, bila diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia, akan diperoleh hasil sebagai berikut:
Anjasmara adindaku
permata hati carilah berita
kekasihmu tak urung menjadi mayat
berada di kota Purbalingga
bertempur melawan Wurubhisma
tinggallah berbahagia wahai kekasihku
kakanda memohon diri untuk mati.
Apabila
membandingkan antara asmaradana matra tembang Jawa klasik dalam episode
Anjasmara-Damar Wulan dengan puisi Asmaradana
karya Goenawan Muhamad, terdapat persamaan dan perbedaannya. Persamaan antara
keduanya terletak pada roh, jiwa, sifat, dan karakter asmaradana yang tidak
mengalami perubahan, yaitu bagian pokok cerita tentang kisah asmara yang
bernada sedih, pilu, dan romantis. Selain itu, nama tokoh tidak mengalami
perubahan, yaitu Anjasmara dan tokoh “aku” yang menggantikan Damar Wulan.
Secara
tekstual puisi Asmaradana karya Goenawan berbicara
tentang sebuah perpisahan yang sangat menyedihkan yang dialami oleh
Anjasmara. Perpisahan terjadi karena suaminya akan pergi ke suatu tempat
dan tidak akan kembali lagi.
Penggambaran
kesedihan dimulai sejak bait pertama. Pada bait ini pertemuan kedua kekasih itu
begitu senyap dan mencekam tanpa kata-kata. Hanya ada ada suara-suara pelan yang terasa
menjadi jelas dan nyaring karena saking sunyi dan membisunya kedua kekasih itu.
Tokoh ia ingin mengucapkan sebuah perpisahan kepada kekasihnya, tapi semuanya tertahan
diberati oleh rasa sedih yang menggigit.
Namun
pada akhirnya semua harus jelas, tokoh ia mengucapkan perpisahan itu. Perpisahan yang
mungkin abadi sebab yang akan dihadapi tokoh ia adalah kematian, sebuah peperangan dan
perjalanan yang jauh. Ia tahu perempuan kekasihnya itu sangat kehilangan dan merasa
sangat berat berpisah dengan dirinya. Karena saking sedihnya, tokoh ia tahu
kekasihnya takkan sanggup menangis untuk melepas dirinya.
Pada
bait terakhir, tokoh ia meminta kepada kekasihnya untuk tetap bersabar dan bersikap seperti
ketika mereka sedang lengkap berdua meski kematian datang menjemput. Lalu
masing-masing dari diri mereka harus rela melupakan kekasihnya sebab perjalanan dan
peperangan itu sangat dekat dengan kematian.
Tema
perpisahan sepasang kekasih dalam puisi ini akan semakin terang maknanya jika dihubungkan
dengan teks-teks lain yang merupakan interteksnya. Nama Anjasmara merupakan
kunci penting untuk membuka teks tersebut. Selain itu peristiwa dalam puisi juga
mendukung untuk memperkuat kunci yang telah disebutkan tadi. Tanpa mencari teks sebagai
interteksnya, pemaknaan terhadap puisi ini kurang sempurna.
Pertanyaan-pertanyaan
seperti siapa Anjasmara, mengapa ada perpisahan, oleh sebab apa terjadi perpisahan,
dll. akan terjawab ketika teks sebagai interteks ditemukan dan digunakan untuk
menganalisis puisi.
Secara
kontekstual, peristiwa ini merujuk kepada sebuah mitos atau cerita Damar Wulan yang
mengisahkan tokoh Damar Wulan yang berperang dengan Minak Jingga, seorang lelaki perkasa
yang mempunyai pusaka gada Wesi Kuning yang sangat mematikan. Peperangan
dengan Minak Jingga berawal dari sebuah sayembara yang diadakan oleh Ratu
Majapahit dalam rangka mencari pendamping hidupnya atau suami.
Damar
Wulan adalah anak seorang patih yang bernama Patih Udara yang telah mengundurkan diri dari
jabatannya. Sejak kecil Damar Wulan eksistensinya disembunyikan sebagai anak Patih Udara,
dia dididik hidup prihatin dan santun oleh kakeknya sehingga ketika nyantrik dan
ngenger di rumah Patih Logender, dia tidak kaget ketika diterima sebagai tukang kuda.
Sepeninggalnya Patih Udara eksistensi kerajaan menjadi merosot. Patih Lohgender yang
ketiban pulung tidak mempunyai wibawa yang mumpuni untuk mengolah kekuasaan,
sehingga kraton dipenuhi oleh pamong yang pandai menjilat dan cuma memperjuangkan
kepentingan golongan dan pribadi.
Puncaknya,
terutama ketika ada ancaman aneksasi oleh Blambangan dengan kedok lamaran Minak Jingga.
Jalan keluar untuk menolak lamaran itu, Ratu Majapahit mengadakan sayembara.
Dengan kata lain dirinya memberikan kerajaan dan dirinya kepada sembarang
lelaki yang mampu mengalahkan Minak Jingga (Setia, 2003).
Damar
Wulan merasa terpanggil untuk mengikuti sayembara, terpanggil sebagai lelaki utama
Majapahit. Kemudian, dia pamit kepada istrinya untuk mengikuti sayembara tersebut. Dalam
peristiwa inilah terjadi momen perpisahan yang menyedihkan antara Damar Wulan dengan
Anjasmara. Bagi Anjasmara peperangan antara Damar Wulan dengan Minak Jingga
apapun hasilnya akan mengakibatkan dirinya disingkirkan dari predikatnya sebagai
istri utama. Jika Damar Wulan kalah dia mati dan berpisah untuk selamanya, jika Damar
Wulan menang dia akan menjadi suami utama Ratu Majapahit dan menomorduakan
Anjasmara.
Dalam
pertempuran dengan Minak Jingga dia kalah dan mati. Akan tetapi, karena Damar Wulan mempunyai
pesona yang sanggup meruntuhkan perempuan mana pun, termasuk kedua istri Minak
Jingga, Damar Wulan ditolong dan dihidupkan kembali oleh dua istri Minak
Jinggo. Kedua istri Minak Jingga mencuri gada Wesi Kuning dan memberikannya kepada
Damar Wulan . Dengan pusaka itulah Minak Jingga bisa dikalahkan Damar Wulan
dan Blambangan tetap di bawah kekuasaan Majapahit. Sedangkan kedua
perempuan yang menolongnya dijadikan istri oleh Damar Wulan dan Ratu Majapahit menjadi
miliknya, sekaligus Damar Wulan memiliki Majapahit.
Puisi
Asmaradana merupakan bentuk
transformasi dari salah satu episode cerita Damar Wulan, yakni pada
momen perpisahan ketika Damar Wulan akan ikut sayembara dan berperang dengan Minak
Jingga. Secara kontekstual puisi ini mengacu kepada momen perpisahan antara Damar
Wulan dengan Anjasmara ketika akan
berangkat perang melawan Minak Jingga. Momen kasmaran
pasangan suami istri ini
sangat menyedihkan terutama buat Anjasmara. Satu sisi jika
suaminya kalah maka Anjasmara
tidaan bertemu lagi untuk selamanya dan jika menang dirinya pun akan kehilangan Damar Wulan
karena dia harus menikah dengan Ratu Majapahit. Muncul pertanyaan, mengapa
Damar Wulan harus ikut sayembara sementara dirinya sudah beristri, mengapa
Anjasmara mau menerima keputusan Damar Wulan yang jelas-jelas merugikan dirinya.
Sejak
Patih Udara mengundurkan diri situasi kraton menjadi merosot kewibawaannya.
Para bangsawan tidak lagi mendapat
kepercayaan yang penuh dari rakyatnya, begitupun dari Ratu
Majapahit. Karena itu, ketika
Minak Jingga melamarnya Ratu menolak secara halus, yakni dengan membuat sayembara. Ratu tidak
mengerahkan prajuritnya untuk berperang karena para prajuritnya tidak bisa
diandalakan. Keraton telah kehilangan eksistensi kelelakian sejati untuk dihadapkan dengan
kekuatan Minak Jingga raksasa yang sakti. Hal ini sekaligus menggarisbawahi sosok
Kencana Wungu (Ratu) yang subordinan meski secara politik memegang kekuasaan
tertinggi. Dirinya membutuhkan lelaki yang gagah, sang Arjuna yang mriyayeni,
yang bisa mengayomi dirinya dan banyak wanita lainnya, bukan lelaki perkasa urakan semacam
raksasa dalam diri Minak Jingga.
Damar
Wulan, anak Patih Udara, sebagai lelaki yang dididik satria oleh kakeknya terpanggil jiwanya.
Dalam diri lelaki ini terkandung daya pukau seperti yang dimiliki Arjuna. Hal ini
terbukti dengan terpukaunya Anjasmara yang cantik, putri Patih Logender sehingga
keluarga ini berusaha untuk mengangkat derajat Damar Wulan dari tukang memelihara kuda
menjadi bangsawan. Daya pukau itu berlanjut ketika dirinya berperang dengan Minak
Jingga. Di Blambangan kedua istri Minak Jingga berkhianat terhadap suaminya dan
menghidupkan Damar Wulan yang kalah, bahkan mereka mencuri Wesi Kuning
pusaka Minak Jingga dan diserahkan kepada Damar Wulan sehingga dalam
peperangan berikutnya Minak Jingga dapat dikalahkan. Hal ini dilakukan demi harapannya, demi
cintanya kepada Damar Wulan dan demi harapannya akan dijadikan selir oleh
Damar Wulan.
Keputusan
untuk ikut sayembara merupakan puncak manipestasi pukau kelelakian Damar Wulan, yakni
ketika fakta dan fenomena situasi negara yang lemah harus berhadapan dengan Minak
Jingga yang sakti. Hal ini yang membedakan Damar Wulan dengan lelaki lain di
Majapahit. Peperangan yang seharusnya menjadi milik negara menjadi milik personal
Damar Wulan dengan Minak Jingga. Peristiwa inilah yang menjadi ruh momen
perpisahan kasmaran antara Damar Wulan dengan Anjasmara. Bagaimanapun Damar
Wulan harus melawan raksasa sakti dan kemungkinan besar dirinya akan kalah
terbunuh oleh lawannya. Karena itulah, puisi Asmaradana dibangun oleh
kesedihan yang melarat-larat, kesedihan sebagai akibat berpisahnya rasa cinta kasih yang telah
lama berjalin erat. Gambaran suasana kesedihan itu dapat dilihat dalam bait demi bait
pada puisi itu.
Ada
yang harus pergi dan ada yang harus ditinggalkan, Damar Wulan harus pergi untuk berperang dengan
Minak Jingga dan Anjasmara harus ditinggalkan, menerima nasibnya tanpa diberi
kesempatan untuk mengusahakan agar dirinya tidak menjadi korban kesedihan.
Perbedaan ini merupakan akibat dari berbedanya kedudukan laki-laki dan perempuan. Damar
Wulan sebagai laki-laki sangat dominan sedangkan Anjasmara sebagai perempuan
menjadi subordinasi. Kemudian, Damar Wulanlah yang menentukan segala yang harus
bicara kepada istrinya. Meski sangat dominan tapi ada perasaan berat ketika Damar Wulan
akan pamit kepada Anjasmara. Hal ini bisa dilihat pada bait satu yang menggambarkan
betapa kedua orang itu menjadi emosional dan hanya diam tatkala sudah berhadapan untuk
membicarakan rencana berangkat ke medan perang.
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan
dari daun, karena
angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah
pedati ketika
langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang jauh. Tapi di antara
mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.
Bait
satu di atas merupakan gambaran suasana yang membangun emosional kedua tokoh. Sikap diam itu
bagi Anjasmara adalah ketidakberdayaan dan kepedihan karena akan ditinggalkan
suaminya, sedangkan bagi Damar Wulan sikap diam itu semacam ancang-ancang
untuk memilih kalimat yang tepat yang akan ditujukan kepada istrinya.
Damar
Wulan tahu istrinya tidak akan berkata bahkan tidak akan menangis karena ia sangat sedih,
seperti yang terlihat dalam bait ketiga, //lalu ia tahu perempuan
itu tak akan menangis//.
Sikap laki-laki yang lebih rasional dan sikap perempuan yang lebih emosional pada
akhirnya membangun pula dua dikotomi, yakni berkuasanya laki-laki dan lemahnya perempuan.
Hanya Damar Wulan yang bisa menentukan jalan kehidupan, bahkan lebih besar
lagi Damar Wulan bisa menentukan jalannya atau kokohnya sebuah kerajaan ketika
dirinya memenangi peperangan, lebih dari itu Ratu Majapahit pun ada dalam kekuasaan
kelelakiannya dan harus menjadi istrinya. Ini menunjukkan bahwa budaya patriarki
sangat kuat dan tidak tertandingi meski yang menjadi penguasa adalah seorang perempuan.
Sikap
Damar Wulan yang memutuskan ikut sayembara tak lain adalah sebagai sebuah perjuangan ke
arah superioritas. Adler dalam Calvin S. Hall (1993: 245) menyebutkan, tujuan
final yang diperjuangkan manusia adalah kesempurnaan. Menurutnya, agresi
lebih penting dibanding seksualitas dan dalam bentuk paling nyata ide ini disebut hasrat
akan kekuasaan yang disempurnakan dalam perjuangan ke arah superioritas. Dalam
pandangan Adler, superioritas di sini bukan sebuah pengkotakan sosial, kepemimpinan
atau kedudukan yang tinggi di masyarakat tetapi lebih mirip seperti yang dikatakan Jung,
yakni tentang diri atau prinsip aktualisasi diri dari Goldstein. Jadi, bisa dipahami mengapa
Damar Wulan mengikuti sayembara itu, mengapa dirinya tega meninggalkan istrinya
yang tak lain adalah dalam rangka prinsif aktualisasi diri. Dia ingin menunjukkan
identitas kelelakiannya tetapi bukan sekedar seksualitas sebab yang paling penting adalah
agresi dalam rangka mencapai kesempurnaan. Anjasmara sangat cantik dan secara
seksual sangat bisa memuaskan Damar Wulan, namun hasrat berkuasa Damar Wulan lebih
kuat, dia memilih ikut sayembara meski dengan risiko dirinya terbunuh. Memang,
dalam sayembara itu yang dijadikan hadiah adalah perempuan, tetapi dalam hal ini bukan
berarti Damar Wulan mengejar kepuasan seksual tetapi semata-mata karena perempuan yang
dijadikan hadiah itu seorang ratu. Dengan demikian, jika dirinya memenangi sayembara
itu maka otomatis akan menjadi raja, sebuah kekuasaan puncak yang membuat siapapun
bisa tunduk dihadapannya termasuk sang ratu sendiri.
Sikap
Damar Wulan yang mau mengikuti sayembara merupakan sebuah motivasi untuk berjuang
mencapai superioritas. Menurut Adler dalam Calvin S. Hall (1993: 247), perasaan
inferioritas adalah
perasaan tidak lengkap atau kelemahan diri. Damar Wulan adalah seorang inferior. Karena itu
dirinya berjuang dan tidak pernah puas dalam mencapai superioritas.
Tahap-tahap
Damar Wulan sebelum menjadi suami Ratu Majapahit mula-mula dipisah dari keluarga Patih
Udara, dia dididik oleh kakeknya, ngenger sebagai tukang kuda, menikahi putri Patih
Lohgender, dan ikut sayembara untuk menjadi suami Ratu Majapahit. Perjalanan
nasib Damar Wulan merupakan sebuah ciri perjuangan seorang inferior yang selalu
tidak pernah merasa puas terhadap nasibnya sebelum dirinya mencapai superior,
bahkan pencapaian itu bagi dirinya tak pernah ada batasnya.
Sangat
beralasan jika dalam momen perpisahan itu Damar Wulan menjadi penentu arah yang
aktif berbicara kepada Anjasmara. Sebagai lelaki yang mempunyai daya pukau dia
berkuasa atas perempuan atau istrinya bahkan untuk menentukan hidup dan matinya. Damar
Wulan tahu kesedihan yang dihadapi Anjasmara karena dirinya akan meninggalkannya,
tetapi hal itu tidak menjadi halangan untuk meneruskan keinginannya. Pesan yang disampaikan
kepada Anjasmara; Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu, menunjukkan
kekuasaannya yang absolut, yang tidak membolehkan istrinya pergi kemana-mana. Dengan
kata lain, Anjasmara harus tetap setia menjadi isteri Damar Wulan bahkan jika
kematian itu datang kepada Damar Wulan, sementara dirinya akan mengadu nasib untuk
mendapatkan perempuan lain (Ratu Majapahit). Hal ini merupakan ketidakadilan jender,
satu sisi laki-laki dengan bebas dan semena-mena akan pergi untuk mendapatkan perempuan
lain, di sisi lain perempuan harus setia bahkan setia kepada sesuatu yang mungkin
tidak ada lagi jika laki-laki itu mati. Pada bait ketiga, kelemahan perempuan dan
berkuasanya laki-laki itu tampak seperti berikut.
Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila
esok pagi
pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia
tak akan
mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia
tak berani
lagi.
Bait
di atas menunjukkan laki-laki memandang perempuan sebagai mahluk yang lemah. Ada dua
peristiwa penting yang menunjukkan hal itu. Pertama, kata menangis dan kedua tak berani
lagi. Pada bagian pertama, seolah-olah telah menjadi kebakuan bahwa perempuan itu hanya
bisa menangis ketika mendapat peristiwa yang menyakitkan hati. Kedua, pada bait itu
dikatakan tak akan bisa menangis. Kata tersebut tidak menyaran pada perempuan itu
tabah dan kuat dalam menghadapi peristiwa, tetapi tidak bisa menangis itu karena
sedih yang berlebihan. Artinya, di belakang itu perempuan selalu menangis jika
menghadapi peristiwa menyakitkan. Hal ini bisa dilihat pada lanjutan puisi yang menyebutkan
perempuan itu tidak akan menangis lagi karena ketidakberaniannya menghadapi kenyataan
yang telah berlalu dan kenyataan yang akan datang karena kenyataan itu sangat
menyakitkan. Di sini terlihat betapa perempuan itu sangat lemah, perempuan tidak ada
keberanian untuk menghadapi peristiwa yang telah lewat dan peristiwa yang akan
datang. Kelemahan ini jika dilihat dari sebab yang menjadikan perempuan tidak
berdaya adalah karena dirinya akan kehilangan lelaki yang sangat dicintainya.
Kehilangan
yang bukan sembarang kehilangan, sebab kehilangan itu pada hakikatnya sebuah
penyingkiran terhadap dirinya dari kehidupan lelakinya. Perempuan menghadapi dilematis,
dua persoalan yang sama-sama sangat menyakitkan. Seperti disebutkan sebelumnya,
laki-laki itu harus berperang dengan Minak Jingga untuk mengikuti sayembara.
Dari situ muncul dua persoalan itu, yakni jika menang Damar Wulan akan menikah
dengan Ratu Majapahit, dan jika kalah Damar Wulan mati.
Hakikat
persoalan ini mempunyai efek sangat menyakitkan bagi siapapun, tidak laki-laki tidak juga perempuan.
Kehilangan seseorang untuk selamanya, apalagi penyebab dari kehilangan itu
bersentuhan langsung dengan kepemilikan yang sangat pribadi, akan mengakibatkan depresi
yang luar biasa. Dalam puisi ini, bentuk depresi pada perempuan adalah keadaan dirinya
yang tidak bisa menangis karena diliputi oleh kesedihan dan sakit hati yang mendalam
karena akan ditinggalkan seseorang yang dicintainya.
Sikap
diam dalam budaya Jawa merupakan sumerah yang mau menerima apa saja tanpa perlawanan yang
prontal. Dalam budaya Jawa yang menjadikan wayang sebagai sumber meniti jalan,
tokoh lelaki yang seringkali dijadikan idola atau panutan adalah Arjuna sebagai lelaki
yang sempurna, yang berani berperang dalam menegakkan identitas dirinya juga memiliki
banyak perempuan yang rela diperistri dirinya. Dalam konteks inilah Anjasmara tidak
berdaya, sebagai perempuan Jawa dia harus mau merelakan suaminya, harus
mendukung suaminya dalam mewujudkan cita-citanya meski hal itu sangat menyakitkan
bagi dirinya, dia harus mempunyai sikap seperti Sembadra (istri Arjuna) ketika menjadi
istri yang harus berbakti kepada suami dan membahagiakannya secara lahir batin.
Puisi
Asmaradana ditutup dengan //lewat remang
dan kunang-kunang,
kaulupakan wajahku, kulupakan wajahmu// sebuah peritiwa yang
teramat menyakitkan, sebuah
keyakinan dan sekaligus sikap pesimis bahwa mereka betul-betul tidak akan bertemu lagi. Selain
itu tergambar keras hati seorang laki-laki untuk mencapai superioritas menjadi
seorang raja dan mempunyai permaisuri serta selir yang banyak. Dirinya rela
mengorbankan segala yang dicintainya demi mencapai tujuan puncaknya yang lebih sempurna
sebagai laki-laki.
Jadi,
puisi Asmaradana secara metafor
mengungkapkan usaha seorang inferior untuk mencapai superioritas. Ini adalah
sebentuk kerja keras dalam menggapai cita-cita ideal. Adapun jalan yang ditempuhnya
dengan mengorbankan sesuatu yang dicintainya, ketegaran, dan kekuatan yang sempurna.
Puisi
ini menawarkan sebuah dunia baru, ide-ide baru yang sekaligus dunia yang mungkin dan sangat
potensial untuk direalisasikan dalam kenyataan, suatu dunia yang masih harus dibangun.
Adapun yang ditawarkan adalah sikap egois dan menghalalkan segala cara untuk
mencapai cita-cita ideal dari sebuah kesempurnaan hidup.
Pengangkatan
tema salah satu episode kisah Damar Wulan dalam puisi Asmaradana merupakan sesuatu kekhasan dari puisi-puisi Goenawan. Ia
juga beberapa kali mengangkat mitos Jawa klasik ke dalam beberapa puisinya.
Hubungan intertekstual ini merupakan bentuk lain dari penerjemahan yang
dilakukan sastrawan Indonesia terhadap mitos atau cerita tradisional yang mulai
kurang diminati oleh masyarakat.
Pada
bait terakhir puisi Asmaradana karya
Goenawan merupakan transformasi dari ucapan Damar Wulan pada matra tembang
asmaradana. Berikut kutipannya:
Anjasmara
ari mami
………………………………………
karia
mukti wong ayu
pun
kakang pamit palastra.
Tembang
macapat Asmaradana di atas, bila
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, akan diperoleh hasil sebagai berikut:
Anjasmara adindaku
………………………………………
tinggallah berbahagia wahai kekasihku
kakanda memohon diri untuk mati.
Bagian
tembang macapat asmaradana di atas ditrasformasikan menjadi bait terakhir puisi
Asmaradana karya Goenawan.
Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.
5. PENUTUP
Puisi Asmaradana karya Goenawan Muhamad
menceritakan mengenai perpisahan antara Anjasmara dan Damar Wulan. Tokoh ia atau aku lirik menggantikan tokoh
Damar Wulan yang ada dalam suasana kebimbangan. Damar Wulan dengan berat hati
menerima tugas mulia sebagai panglima perang melawan Minak Jingga. Ia telah
membaca peta nasibnya dan telah pula mengukur kemampuannya melawan Minak
Jingga. Hanya satu kata yaitu kematian yang akan didapatkannya karena Minak
Jingga memiliki pusaka sakti. Oleh karena itu, ketika Anjasmara terlena atau
tidur dalam pangkuannya, Damar Wulan perlahan-lahan pergi melangkah
meninggalkan sang kekasih. Sebelum meninggalkan kekasihnya itu, Damar Wulan
mengucap dalam hati salam perpisahan terhadap Anjasmara.
Dari kedua analisis di atas, yaitu
menggunakan analisis strata norma Roman Ingarden dan semiotik puisi Riffatere,
diperoleh pemahaman mengenai puisi Asmaradana
karya Goenawan Muhamad. Asmaradana berarti perasaan asmara atau cinta,
perasaan saling menyukai yang sudah menjadi kodrat Tuhan. Kata asmaradana sebagaimana tembang macapat
Jawa, merupakan tembang yang ditujukan bagi anak remaja yang sedang mengalami
masa pertumbuhan.
Isi
puisi ini menggambarkan bagaimana keikhlasan seorang istri untuk melepas
kepergian suaminya yang pasti tidak akan ia jumpai lagi. Jika peperangan yang
dilakukan suaminya mengalami kekalahan, maka suaminya akan mati. Sedangkan jika
peperangan itu dimenangkan oleh suaminya, maka ia harus rela melihat suaminya
menikah dengan perempuan lain dan menjadi bagian dari kerajaan Majapahit. Puisi
ini mengandung pesan bahwa
sepasang suami istri tidak
akan bersatu untuk selamanya, seorang suami tidak akan selamanya mendampingi istrinya.
Puisi Asmaradana karya Goenawan tersebut
menunjukkan adanya aktivitas dan kreativitas penyairnya untuk menggubah karya
seni yang bermutu. Aktivitas dan kreativitas Goenawan tersebut dapat sebagai
upaya penyelamatan warisan budaya bangsa yang semakin mengukuhkan keberadaan
mitos Anjasmara dan Damar Wulan. Selain itu, upaya Goenawan juga membuktikan
bahwa di era globalisasi dan teknologi seperti sekarang ini, ia masih mempunyai
wawasan tradisional.
Dalam
sebuah transformasi, baik sastra maupun budaya, terdapat kesinambungan dan
penyimpangan dari tradisi budaya sastra sebelumnya. Bentuk kesinambungan dari
tradisi itu dapat berupa pengukuhan jatidiri mitos yang tidak ada. Goenawan
dalam puisi Asmaradana mempunyai visi
untuk mengukuhkan keberadaan mitos yang telah ada.
DAFTAR PUSTAKA
Baribin, Raminah.
1989. Kritik Sastra dan Penilaian. Semarang:
IKIP Semarang Press.
_______. 2004. “Kritik Sastra I”. Paparan Kuliah. Semarang: Fakultas
Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
Casirerr, Ernest. 1987. Manusia dan Kebudayaan: Sebuah
Esei tentang Manusia. Jakarta:
Gramedia.
Edraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Media Pressindo.
http://kotasolo.info/indek.php?option=com_content&task=view&id=750&Itemid=58
Mohamad, Goenawan. 1992. Asmaradana.
Jakarta:
Grasindo.
_______.
2001. Sajak-sajak Lengkap 1961—2001. Jakarta: Metafor Publising.
_______.
2004. Goenawan Mohamad: Selected Poems. Jakarta: Ikrar Mandiriabadi.
Mugijatna. 2008. “Teori Semiotika Puisi
Reffaterre dan Ideologi Penyair”. Artikel
Konferensi Internasional Kesusastraan XIX. Malang: Batu.
Nuryatin,
Agus. 2006. “Teori Sastra 1”. Modul Perkuliahan. Semarang: Fakultas Bahasa
dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
Pendit, Nyoman S. 2005. Bharatayudha. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
_______.
2005. Mahabharata. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
_______. 2006. Ramayana. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
_______. 1990. Pengkajian Puisi.. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
_______. 2003. Prinsif-prinsif Kritik Sastra.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Prastyo, Arif Bagus. 2005. Epifenomenon. Jakarta:
Grasindo.
Ratna, Nyoman Kutha.
2009. Teori, Metode, dan Teknik
Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Reffaterre, M. 1978. Semiotics of Poetry.
Great Britain: Spottiswoode Ballantyne.
Ricoeur, Paul. Hermeneutika Ilmu Sosial (terjemahan
oleh Muhamad Syukri). Yogyakarta: Kreasi Wacana.
S. Hall, Calvin dan Lindzey, Gardner. 1993. Teori-teori Psikodinamik (Klinis)(terjemahan). Yogyakarta: Kanisius.
Santoso, Agus
Budi. 2007. “Teori Sastra”. Modul.
Malang: IKIP PGRI Malang.
Setia, Beni. 2003. Subordinasi Wanita dalam “Damar
Wulan”. Swara.
Suharianto, S. 2005.
“Pengkajian Puisi”. Buku Ajar Mata Kuliah
Pengkajian Puisi. Semarang: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas
Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
Suroso, dkk. 2009.
Kritik Sastra: Teori, Metodologi, dan
Aplikasi. Yogyakarta: Elmatera.
Suyoto, Agustinus.
2007. “Dasar-dasar Analisis Puisi”. Bahan
Ajar. Yogyakarta: SMU Stella Duce 2 Yogyakarta.
Teeuw, A. 1983. Tergantung Pada Kata. Jakarta:
Pustaka Jaya.
_______.
1987. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Wellek, Rene & Austin Warren. 1989. Teori
Kesusastraan. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.
Wolf, Naomi. 2004. Mitos Kecantikan (terjemahan). Yogyakarta:
Niagara.
Zoest, Aart van. 1991. Serba-serbi Semiotika. Jakarta: Gramedia.
_______. 1993. Semiotika:
Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya.
Diterjemahkan oleh Ani Soekowati. Jakarta: Yayasan.
Zoetmulder,
P.J. 2004. Kamus Jawa Kuna Indonesia.
Jakarta: Gramedia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar