A.S. Laksana
SEORANG perempuan bangun pagi dengan beribu rasa aneh yang menjalari tengkuknya. Tiba-tiba dia merasakan ada seekor ular kecil menyelinap dalam liang telinganya. Binatang sialan itu beringsut-ingsut di dalam tempurung kepalanya, menembus gumpalan otaknya dan sesekali perempuan itu merasakan geli yang luar biasa—mungkin ular itu menjulur-julurkan lidahnya dan menimbulkan rasa gatal pada otaknya.
Ia menjoba tidak percaya pada apa yang terjadi di dalam batok kepalanya. Dan sesungguhnya ia memang tidak berani mempercayai bahwa di dalam kepalanya ada seekor ular. Jangankan ular, seekor cacing pun perempuan itu tidak berani membanyangkan. Dan jika benar-benar ada seekor ular di kepalanya, apa yang akan terjadi pada esok pagi? Mula-mula binatang itu akan mengunyah-ngunyah otaknya sehingga esok pagi ia sudah tidak akan punya otak lagi, lalu alat keseimbangan tubuhnya dicabik-cabik sehingga mahluk tanpa otak itu akan berjalan terhuyung-huyung ke sana kemari, dan giliran berikut kedua matanya. Wah.
Kepala itu akan kehilangan semua isinya. Dan dengan demikian ia tidak akan lebih dari sebutir balon gas yang ditangisi oleh anak-anak ketika lepas dari genggaman dan membubung ke langit. Perempuan itu ngeri membanyangkan dirinya sendiri.
Ia mencoba tetap tidak percaya. Tetapi semakin ia tak percaya, semakin bisa ia rasakan gerakan ular yang meronta-ronta di dalam tempurung kepalanya.
“Ada seekor ular masuk ke liang telingaku, Rob,” lapornya pada suaminya ketika mereka makan pagi.
Lelaki itu merasakan ada pukulan keras pada batang lehernya. Nasi di mulutnya nyaris tersembur keluar.
“Seekor ular masuk ke liang telinga dan kau merasa tidak kurang suatu apa?” Mata suaminya mendelik.
“Aku tidak bohong. Mungkin ia sekarang sedang menjilati otakku.”
Rob tidak pernah berharap perempuan yang berada dihadapannya ini akan menjadai gila. Ia tidak mau membanyangkan istrinya kehilangan akal sehat, lalu mengigau di tengah acara sarapan pagi dan mengatakan ada ular masuk ke liang telinganya dan binatang itu sekarang sedang kelayapan di dalam kepalanya. Ia sebetulnya menghendaki segala hal yang biasa-biasa saja. Tidak usah ada kejutan karena ia tidak begitu suka hidup yang penuh kejutan,. Kejutan kecil bolehlah, tetapi bukan dengan cerita seperti yang dituturkan isterinya itu.
Diraihnya kening istrinya seperti ingin memeriksa apakah pagi itu suhu kepala perempuan itu normal.
“Aku masih sehat, Rob. Sangat sehat,” tolak istrinya, ia seolah-olah tahu apa yang dipikirkan oleh Rob. “Kau tak usah khawati aku menjadi gila.”
“Seseorang akan menjadi gila jika kemasukan ular di telinganya,” gumam Rob.
“Aku sehat seperti biasanya. Tidakkah kau melihat aku sangat sehat pagi ini?”
“Aku khawatir, Lin, aku sendiri yang akan menjadi gila mendengar ceritamu.”
“Tapi ular itu memang benar-benar ada, Rob. Aku bisa merasakann gerakannya.”
Dan dengan seekor ular di dalam kepala, perempuan itu—suaminya memanggilnya Lin—toh ternyata tidak mendapatkan gangguan apa-apa. Hanya sesekali ada rasa sedikit gatal dan rasa geli. Ia bahkan merasakan satu pesona kehidupan yang amat lain. Ada sensasi-sensasi yang memberinya tenaga untuk keluar dari rutin yang di jalaninya. Suatu malam, di tengah-tengah waktu tidur, ular dalam kepala itu mengajak si pemilik kepala bercengkerama. Seperti sahabat baik, mereka berjalan-jalan di hutan, melintasi rimbun pohon-pohon dan harum bunga-bunga. Lin memetik bunga mawar dan menyelipkannya di telinga. Si ular menghirup harum bunga mawar yang menembus liang telinga dan kemudian membisikkan kepada perempuan itu sebuah tipuan amat kuno dan klise, “petik apel itu.”
Perempuan itu tersenyum.
“Kau pikir kita ini sedang berjalan-jalan di sorga?” ejek Lin kepada si ular. “ Lalu kau perankan dirimu sebagai ular pembujuk yang berharap aku tergoda oleh ucapanmu dan kemudian segera terlempar dari hutan ini?”
“Kau terlalu cerewet. Petik saja apel itu!”
“Aku tak akan melakukannya.”
“Bodoh. Buah itu baik untuk kesehatanmu.”
“Aku hapal sekali kisah itu. Kau tak bisa menipuku dengan cara yang sama.”
“Cerewet”
“Baik! Akan kupetik apel itu, dan kau akan tahu betapa tak berartinya bujukanmu yang kuno itu.”
Tapi apel itu terlalu tinggi. Tangan Lin tak bisa menjangkaunya.
“Cari suamimu. Minta dia memetiknya.”
Gayanya seperti majikan yang memberi perintah pada budaknya.
Lin bangun pagi dengan sergapan rasa asing di dalam benaknya. Di meja makan, Pagi itu, ia melihat suaminya tampak sedikit loyo. Rob seperti kendaraan tua yang mestinya sudah harus turun mesin dan ganti onderdil agar bisa mengimbangi laju kendaraan lain.
“Kau tampak seperti mobil tua, Rob,” desis Lin. “Mestinya kau tidak boleh terlalu lamban.”
“Terlalu lamban?”
“Besok mesti kau semir rambutmu. Ubanmu mulai kelihatan. Dan satu lagi, coba hilangkan lipatan-lipatan pada keningmu itu.”
Rob memandangi istrinya. Keningnya tambah berkerut. Istrinya tiba-tiba bilang dirinya seperti mobil tua. Alangkah puitis perempuan itu: seorang lelaki kelihatan seperti mobil tua di mata istrinya. Jadi, selama ini Lin mengendarai mobil tua yang jalannya terseok-seok. Ia tadi berpesan agar Rob jangan terlalu lamban. Hendak dibawa ngebut ke mana dirinya?
Telepon berdering di ruang tengah. Lin melompat dari kursinya dan menyambar gagang telepon. Beberapa saat kemudian ia kembali lagi, melanjautkan sarapan paginya. Ada sedikit perubahan pada paras mukanya.
“Kau pernah berpikir, suatu ketika kita akan memamerkan semua milik kita kepada tetangga-tetangga, Rob?”
“Apa yang kita pamerkan?”
“Itulah soalnya. Apa yang akan kita pamerkan?”
Rob ingin sekali lagi menyentuh kening istrinya. Mungkin kepala itu benar-benar panas, sehingga istrinya tidak mampu mengontrol ucapan-ucapannya. Tangan Rob terangkat dengan gerakan ragu-ragu.
“Kau ingin menyentuh keningku lagi?”
“Kenapa tiba-tiba ingin pamer, Lin?”
Lin meletakkan sendok dan memegang keningnya sendiri. Rob menunggu jawaban.
“Perempuan sebelah itu kupikir sengaja membikin kita senewen,” gerutu Lin.
“Nyonya Burhan?”
“Ia membeli piano. Lalu kepada penjualnya ia berikan nomer telepon rumah kita.”
“Terus, apa masalahnya?”
“Rob! Tidakkah kau tahu bahwa perempuan itu sengaja membikin kita panas? Bukankah dia hanya ingin pamer apa yang sudah dibelinya? Toko musik tersebut yang barusan menelepon, minta disampaikan kepada perempuan itu bahwa mereka minta maaf karena tak bisa mengirimnya kemarin.”
Nasi di mulut Rob rasanya sangat dingin. Dan sisa nasi yang separo di piringnya tidak lagi disentuhnya. Dua hari lalu, istrinya bercakap-cakap dengan nyonya Burhan. Rob mendengar tetangga sebelah itu mengatakan teleponnya rusak dan hari itu ia meminjam telepon kepada Lin.
Setelah membersihkan mulut dengan kertas tisu, Rob memungut tasnya dan segera berangkat ke kantor. Lin mengantarnya sampai ke pintu. Di depan pintu, perempuan itu menciumnya. Setiap hari seperti itu, bukan Rob yang mencium istrinya, tetapi istrinyalah yang mencium Rob.
Pagi itu Rob merasa gelisah oleh ciuman istrinya.
“Ular itu masih mendekam di kepalamu, Lin?” tanya Rob.
“Kupikir, ia hampir sebesar naga sekarang ini.” Lin menjawab sambil tertawa.
Rob tidak ikut tertawa. Ia benci untuk menyadari bahwa sekarang ini ada makhluk lain yang menyelinap dalam hubungan dia dengan istrinya, yaitu seekor ular yang menghuni temperung kepala perempuan itu. Dalam hatinya ia berharap agar Lin tidak menceritakan perihal ular yang masuk ketelinga itu kepada tetangga-tetangga. Jika sampai terjadi, pasti mereka akan menganggap Lin sudah menjadi gila.
Sepanjang hari di kantornya, Rob berpikir tentang istrinya. Bagaimana menyadarkan perempuan itu bahwa seekor ular tidak mungkin masuk dalam liang telinga? Mungkin ia harus di bawa ke psikiater. Atau ke dokter bedah? Biar dokter itu membongkar kepala Lin, mencopot satu demi satu kepingan-kepingan tulang tengkoraknya. Biar Lin yakin bahwa tidak pernah ada ular yang menggeliat-geliat di dalam kepalanya.
“Mungkin kau harus ke psikiater atau ke dokter bedah, Lin,” Rob menyampaikan kepada Lin apa yang dipikirkannya.
Di luar dugaannya, Lin setuju dengan usul untuk datang ke psikiater atau ke dokter bedah itu. Semula Rob bingung bagaimana cara menyampaikan gagasannya kepada istrinya. Ia takut istrinya tersinggung. Tapi istrinya rupanya bukan orang yang mudah tersinggung, dan ia malahan menyambut baik.
“Biar aku berangkat sendiri,” tegas Lin. “Kau tak usah terlalu cemas. Aku sehat.”
Rob berangkat ke tempat kerjanya. Lin Berangkat mengunjungi psikiater. Di depan pintu, Lin mencium suaminya. Dan mereka berpisah ke tempat tujuannya masing-masing.
Lin tidak langsung ke psikiater, ia bertandang dulu ke rumah teman-teman lamanya. Agak sore ia baru ke tempat praktek psikiater. Lin ternyata merupakan pasien terakhir hari itu. Ia masuk ke ruangan sambil mengatur senyumnya. Perempuan itu masuk dengan rasa percaya diri yang luar biasa, seperti ingin menunjukkan bahwa tidak ada gangguan apa-apa pada jiwanya. Ia sehat, segar dan sangat bergairah. Psikiater itu nanti akan tahu betapa sehatnya ia.
Orang yang memeriksa Lin masih cukup muda. Menurut perkiraan Lin, umurnya mungkin dua tiga tahun di atas suaminya. Wajahnya mungil kekanak-kanakan. Begitu mereka berhadapan, lelaki itu menanyakan sejak kapan Lin merasa lubang telinganya disusupi seekor ular dan gangguan apakah yang ditimbulkan olehnya.
“Ia masuk ke telinga saya beberapa minggu yang lalu. Tapi, seperti yang anda lihat sendiri, saya sehat,” jawab Lin. “Ia hanya mengajak saya berjalan-jalan setiap malam, lalu menyuruh saya memetik apel.”
“ Anda petik apel itu.”
“Tangan saya tidak sampai.”
“Lalu.”
“Ia menyuruh saya minta bantuan suami saya untuk memetik apel tersebut. Tapi tangan suami saya juga tidak sampai. Mestinya ia bisa, tapi badannya bengkok sehingga tidak bisa diraihnya apel itu.”
“Lalu.”
“Semalam ular itu menyarankan agar saya minta bantuan kepada Anda untuk memetik apel itu.”
“Saya.”
“Ya.”
Di ruangan itu masih mereka berdua. Seekor rama-rama menerobos masuk ruangan, terbang berputar-putar mengelilingi nyala lampu. Angin di luar cukup santer, menerbangkan debu dan sampah plastik. Psikiater itu merasakan dengus nafasnya sendiri cukup keras, ia seperti sampah plastik yang diterbangkan oleh dengus nafasnya sendiri. Pasiennya seperti kanak-kanak yang merajuk minta mainan.
“Petik apel itu, Dokter.”
Psikiater itu menggerakkan tangannya. Ia memetik apel di depan matanya, mengupas apel tersebut pelan-pelan, dan menelannya.
Tiga bulan Lin berobat ke psikiater itu. Rob mendengar dari orang-orang bahwa istrinya berpacaran dengan psikiater yang mengobatinya. Heran, orang-orang selalu lebih tahu apa yang terjadi dibanding orang yang bersangkutan.
Pikiran Rob menjadi lebih kacau. Ia tidak ingin mempercayai apa yang digunjingkan orang-orang. Bagaimanapun, bukankah ia sendiri yang mengusulkan kepada istrinya untuk datang ke psikiater? Dan setelah istrinya bersedia datang ke sana, apakah ia lantas akan menuduh istrinya berbuat serong hanya karena mendengar kata orang?
Rob merasakan pusaran angin puyuh dalam kepalanya. Setiap pagi Lin masih menciumnya. Tapi gunjingan itu makin gencar.
“Orang-orang menuduhmu berpacaran dengan psikiater itu, Lin,” kata Rob suatu pagi. “Tapi jangan khawatir, aku lebih percaya padamu.”
“Tentu saja kau harus lebih percaya padaku,” Lin mengikik.
“Ya aku lebih percaya padamu. Biar mulut mereka dilaknat api neraka.”
“Mereka benar. Aku memang berpacaran dengan psikiater itu, Rob. Dan kami sudah berjanji akan menikah jika kau menceraikanku.”
Rob hampir terjatuh. Untung ia masih bisa menguasai diri. Lelaki itu berpikir, mungkin ia memang harus menceraikan istrinya. Tapi jika diceraikan, bukankah perempuan itu malah senang? Ia akan segera menikah lagi. Sementara Rob akan sendirian saja ke sana kemari seperti orang tolol. Lalu orang-orang akan bertanya, “Kenapa kau ceraikan istrimu, Rob? Sekarang kau tak punya siapa-siapa.” Rob akan menjawaab, “Karena ada ular di kepala perempuan itu. Sebesar naga.”
Orang-orang pasti tertawa. Mereka akan menganggap Rob benar-benar tolol. Mana ada seekor naga di dalam sebutir kepala perempuan? Kecuali kepala itu sebesar rumah. “Kamu sudah gila, Rob,” mereka akan menuduh Rob sudah menjadi gila. O, mereka pasti orang-orang yang berpandangan picik. Bukankah jin yang sebesar raksasa pun bisa meringkuk di dalam botol?
Rob hampir jatuh lagi. Baru berpikir tentang perceraian saja kepalanya berputar-putar. Kalau begitu, seperti yang dinasihatkan oleh semua orang yang mengerti agama atau yang tidak mengerti agama, perceraianlah bukan hukuman yang terbaik. Lantas apa? Rasa-rasanya ia sudah tidak bisa lagi mempertahankan hubungan baik dengan istrinya. Benci sekali ia berumah tangga dengan istri yang menyimpan ular di dalam kepalanya.
Ingin Rob memecah kepala istrinya dan membuang ular yang menjadi biang persoalannya. Oh, bukankah ini gagasan cemerlang? Kenapa tidak dilakukan saja? Setelah kepala itu bersih, baru ia akan menghukum istrinya dengan perceraian. Beberapa saat Rob mengagumi gagasan yang tiba-tiba menyambar otaknya. Lelaki itu berpikir bahwa ia kadang-kadang memang cerdas dan bijak.
Cerdas dan bijak, Rob senang dengan pikirannya sendiri. Ia berpikir lagi bahwa ia sedang menempuh langkah yang brilian. Lihatlah: suatu hari kepala istrinya kemasukan ular, lalu sebagai suami yang bertanggung jawab ia sendirilah yang akan memecah kepala itu dan melemparkan jauh-jauh ular tersebut. Tidak perlu dokter bedah atau siapa pun. Ia sendiri yang akan melakukannya.
Lalu langkah Rob terasa sangat ringan. Ia segera menyiapkan alat-alat untuk nanti malam.***
SEORANG perempuan bangun pagi dengan beribu rasa aneh yang menjalari tengkuknya. Tiba-tiba dia merasakan ada seekor ular kecil menyelinap dalam liang telinganya. Binatang sialan itu beringsut-ingsut di dalam tempurung kepalanya, menembus gumpalan otaknya dan sesekali perempuan itu merasakan geli yang luar biasa—mungkin ular itu menjulur-julurkan lidahnya dan menimbulkan rasa gatal pada otaknya.
Ia menjoba tidak percaya pada apa yang terjadi di dalam batok kepalanya. Dan sesungguhnya ia memang tidak berani mempercayai bahwa di dalam kepalanya ada seekor ular. Jangankan ular, seekor cacing pun perempuan itu tidak berani membanyangkan. Dan jika benar-benar ada seekor ular di kepalanya, apa yang akan terjadi pada esok pagi? Mula-mula binatang itu akan mengunyah-ngunyah otaknya sehingga esok pagi ia sudah tidak akan punya otak lagi, lalu alat keseimbangan tubuhnya dicabik-cabik sehingga mahluk tanpa otak itu akan berjalan terhuyung-huyung ke sana kemari, dan giliran berikut kedua matanya. Wah.
Kepala itu akan kehilangan semua isinya. Dan dengan demikian ia tidak akan lebih dari sebutir balon gas yang ditangisi oleh anak-anak ketika lepas dari genggaman dan membubung ke langit. Perempuan itu ngeri membanyangkan dirinya sendiri.
Ia mencoba tetap tidak percaya. Tetapi semakin ia tak percaya, semakin bisa ia rasakan gerakan ular yang meronta-ronta di dalam tempurung kepalanya.
“Ada seekor ular masuk ke liang telingaku, Rob,” lapornya pada suaminya ketika mereka makan pagi.
Lelaki itu merasakan ada pukulan keras pada batang lehernya. Nasi di mulutnya nyaris tersembur keluar.
“Seekor ular masuk ke liang telinga dan kau merasa tidak kurang suatu apa?” Mata suaminya mendelik.
“Aku tidak bohong. Mungkin ia sekarang sedang menjilati otakku.”
Rob tidak pernah berharap perempuan yang berada dihadapannya ini akan menjadai gila. Ia tidak mau membanyangkan istrinya kehilangan akal sehat, lalu mengigau di tengah acara sarapan pagi dan mengatakan ada ular masuk ke liang telinganya dan binatang itu sekarang sedang kelayapan di dalam kepalanya. Ia sebetulnya menghendaki segala hal yang biasa-biasa saja. Tidak usah ada kejutan karena ia tidak begitu suka hidup yang penuh kejutan,. Kejutan kecil bolehlah, tetapi bukan dengan cerita seperti yang dituturkan isterinya itu.
Diraihnya kening istrinya seperti ingin memeriksa apakah pagi itu suhu kepala perempuan itu normal.
“Aku masih sehat, Rob. Sangat sehat,” tolak istrinya, ia seolah-olah tahu apa yang dipikirkan oleh Rob. “Kau tak usah khawati aku menjadi gila.”
“Seseorang akan menjadi gila jika kemasukan ular di telinganya,” gumam Rob.
“Aku sehat seperti biasanya. Tidakkah kau melihat aku sangat sehat pagi ini?”
“Aku khawatir, Lin, aku sendiri yang akan menjadi gila mendengar ceritamu.”
“Tapi ular itu memang benar-benar ada, Rob. Aku bisa merasakann gerakannya.”
Dan dengan seekor ular di dalam kepala, perempuan itu—suaminya memanggilnya Lin—toh ternyata tidak mendapatkan gangguan apa-apa. Hanya sesekali ada rasa sedikit gatal dan rasa geli. Ia bahkan merasakan satu pesona kehidupan yang amat lain. Ada sensasi-sensasi yang memberinya tenaga untuk keluar dari rutin yang di jalaninya. Suatu malam, di tengah-tengah waktu tidur, ular dalam kepala itu mengajak si pemilik kepala bercengkerama. Seperti sahabat baik, mereka berjalan-jalan di hutan, melintasi rimbun pohon-pohon dan harum bunga-bunga. Lin memetik bunga mawar dan menyelipkannya di telinga. Si ular menghirup harum bunga mawar yang menembus liang telinga dan kemudian membisikkan kepada perempuan itu sebuah tipuan amat kuno dan klise, “petik apel itu.”
Perempuan itu tersenyum.
“Kau pikir kita ini sedang berjalan-jalan di sorga?” ejek Lin kepada si ular. “ Lalu kau perankan dirimu sebagai ular pembujuk yang berharap aku tergoda oleh ucapanmu dan kemudian segera terlempar dari hutan ini?”
“Kau terlalu cerewet. Petik saja apel itu!”
“Aku tak akan melakukannya.”
“Bodoh. Buah itu baik untuk kesehatanmu.”
“Aku hapal sekali kisah itu. Kau tak bisa menipuku dengan cara yang sama.”
“Cerewet”
“Baik! Akan kupetik apel itu, dan kau akan tahu betapa tak berartinya bujukanmu yang kuno itu.”
Tapi apel itu terlalu tinggi. Tangan Lin tak bisa menjangkaunya.
“Cari suamimu. Minta dia memetiknya.”
Gayanya seperti majikan yang memberi perintah pada budaknya.
Lin bangun pagi dengan sergapan rasa asing di dalam benaknya. Di meja makan, Pagi itu, ia melihat suaminya tampak sedikit loyo. Rob seperti kendaraan tua yang mestinya sudah harus turun mesin dan ganti onderdil agar bisa mengimbangi laju kendaraan lain.
“Kau tampak seperti mobil tua, Rob,” desis Lin. “Mestinya kau tidak boleh terlalu lamban.”
“Terlalu lamban?”
“Besok mesti kau semir rambutmu. Ubanmu mulai kelihatan. Dan satu lagi, coba hilangkan lipatan-lipatan pada keningmu itu.”
Rob memandangi istrinya. Keningnya tambah berkerut. Istrinya tiba-tiba bilang dirinya seperti mobil tua. Alangkah puitis perempuan itu: seorang lelaki kelihatan seperti mobil tua di mata istrinya. Jadi, selama ini Lin mengendarai mobil tua yang jalannya terseok-seok. Ia tadi berpesan agar Rob jangan terlalu lamban. Hendak dibawa ngebut ke mana dirinya?
Telepon berdering di ruang tengah. Lin melompat dari kursinya dan menyambar gagang telepon. Beberapa saat kemudian ia kembali lagi, melanjautkan sarapan paginya. Ada sedikit perubahan pada paras mukanya.
“Kau pernah berpikir, suatu ketika kita akan memamerkan semua milik kita kepada tetangga-tetangga, Rob?”
“Apa yang kita pamerkan?”
“Itulah soalnya. Apa yang akan kita pamerkan?”
Rob ingin sekali lagi menyentuh kening istrinya. Mungkin kepala itu benar-benar panas, sehingga istrinya tidak mampu mengontrol ucapan-ucapannya. Tangan Rob terangkat dengan gerakan ragu-ragu.
“Kau ingin menyentuh keningku lagi?”
“Kenapa tiba-tiba ingin pamer, Lin?”
Lin meletakkan sendok dan memegang keningnya sendiri. Rob menunggu jawaban.
“Perempuan sebelah itu kupikir sengaja membikin kita senewen,” gerutu Lin.
“Nyonya Burhan?”
“Ia membeli piano. Lalu kepada penjualnya ia berikan nomer telepon rumah kita.”
“Terus, apa masalahnya?”
“Rob! Tidakkah kau tahu bahwa perempuan itu sengaja membikin kita panas? Bukankah dia hanya ingin pamer apa yang sudah dibelinya? Toko musik tersebut yang barusan menelepon, minta disampaikan kepada perempuan itu bahwa mereka minta maaf karena tak bisa mengirimnya kemarin.”
Nasi di mulut Rob rasanya sangat dingin. Dan sisa nasi yang separo di piringnya tidak lagi disentuhnya. Dua hari lalu, istrinya bercakap-cakap dengan nyonya Burhan. Rob mendengar tetangga sebelah itu mengatakan teleponnya rusak dan hari itu ia meminjam telepon kepada Lin.
Setelah membersihkan mulut dengan kertas tisu, Rob memungut tasnya dan segera berangkat ke kantor. Lin mengantarnya sampai ke pintu. Di depan pintu, perempuan itu menciumnya. Setiap hari seperti itu, bukan Rob yang mencium istrinya, tetapi istrinyalah yang mencium Rob.
Pagi itu Rob merasa gelisah oleh ciuman istrinya.
“Ular itu masih mendekam di kepalamu, Lin?” tanya Rob.
“Kupikir, ia hampir sebesar naga sekarang ini.” Lin menjawab sambil tertawa.
Rob tidak ikut tertawa. Ia benci untuk menyadari bahwa sekarang ini ada makhluk lain yang menyelinap dalam hubungan dia dengan istrinya, yaitu seekor ular yang menghuni temperung kepala perempuan itu. Dalam hatinya ia berharap agar Lin tidak menceritakan perihal ular yang masuk ketelinga itu kepada tetangga-tetangga. Jika sampai terjadi, pasti mereka akan menganggap Lin sudah menjadi gila.
Sepanjang hari di kantornya, Rob berpikir tentang istrinya. Bagaimana menyadarkan perempuan itu bahwa seekor ular tidak mungkin masuk dalam liang telinga? Mungkin ia harus di bawa ke psikiater. Atau ke dokter bedah? Biar dokter itu membongkar kepala Lin, mencopot satu demi satu kepingan-kepingan tulang tengkoraknya. Biar Lin yakin bahwa tidak pernah ada ular yang menggeliat-geliat di dalam kepalanya.
“Mungkin kau harus ke psikiater atau ke dokter bedah, Lin,” Rob menyampaikan kepada Lin apa yang dipikirkannya.
Di luar dugaannya, Lin setuju dengan usul untuk datang ke psikiater atau ke dokter bedah itu. Semula Rob bingung bagaimana cara menyampaikan gagasannya kepada istrinya. Ia takut istrinya tersinggung. Tapi istrinya rupanya bukan orang yang mudah tersinggung, dan ia malahan menyambut baik.
“Biar aku berangkat sendiri,” tegas Lin. “Kau tak usah terlalu cemas. Aku sehat.”
Rob berangkat ke tempat kerjanya. Lin Berangkat mengunjungi psikiater. Di depan pintu, Lin mencium suaminya. Dan mereka berpisah ke tempat tujuannya masing-masing.
Lin tidak langsung ke psikiater, ia bertandang dulu ke rumah teman-teman lamanya. Agak sore ia baru ke tempat praktek psikiater. Lin ternyata merupakan pasien terakhir hari itu. Ia masuk ke ruangan sambil mengatur senyumnya. Perempuan itu masuk dengan rasa percaya diri yang luar biasa, seperti ingin menunjukkan bahwa tidak ada gangguan apa-apa pada jiwanya. Ia sehat, segar dan sangat bergairah. Psikiater itu nanti akan tahu betapa sehatnya ia.
Orang yang memeriksa Lin masih cukup muda. Menurut perkiraan Lin, umurnya mungkin dua tiga tahun di atas suaminya. Wajahnya mungil kekanak-kanakan. Begitu mereka berhadapan, lelaki itu menanyakan sejak kapan Lin merasa lubang telinganya disusupi seekor ular dan gangguan apakah yang ditimbulkan olehnya.
“Ia masuk ke telinga saya beberapa minggu yang lalu. Tapi, seperti yang anda lihat sendiri, saya sehat,” jawab Lin. “Ia hanya mengajak saya berjalan-jalan setiap malam, lalu menyuruh saya memetik apel.”
“ Anda petik apel itu.”
“Tangan saya tidak sampai.”
“Lalu.”
“Ia menyuruh saya minta bantuan suami saya untuk memetik apel tersebut. Tapi tangan suami saya juga tidak sampai. Mestinya ia bisa, tapi badannya bengkok sehingga tidak bisa diraihnya apel itu.”
“Lalu.”
“Semalam ular itu menyarankan agar saya minta bantuan kepada Anda untuk memetik apel itu.”
“Saya.”
“Ya.”
Di ruangan itu masih mereka berdua. Seekor rama-rama menerobos masuk ruangan, terbang berputar-putar mengelilingi nyala lampu. Angin di luar cukup santer, menerbangkan debu dan sampah plastik. Psikiater itu merasakan dengus nafasnya sendiri cukup keras, ia seperti sampah plastik yang diterbangkan oleh dengus nafasnya sendiri. Pasiennya seperti kanak-kanak yang merajuk minta mainan.
“Petik apel itu, Dokter.”
Psikiater itu menggerakkan tangannya. Ia memetik apel di depan matanya, mengupas apel tersebut pelan-pelan, dan menelannya.
Tiga bulan Lin berobat ke psikiater itu. Rob mendengar dari orang-orang bahwa istrinya berpacaran dengan psikiater yang mengobatinya. Heran, orang-orang selalu lebih tahu apa yang terjadi dibanding orang yang bersangkutan.
Pikiran Rob menjadi lebih kacau. Ia tidak ingin mempercayai apa yang digunjingkan orang-orang. Bagaimanapun, bukankah ia sendiri yang mengusulkan kepada istrinya untuk datang ke psikiater? Dan setelah istrinya bersedia datang ke sana, apakah ia lantas akan menuduh istrinya berbuat serong hanya karena mendengar kata orang?
Rob merasakan pusaran angin puyuh dalam kepalanya. Setiap pagi Lin masih menciumnya. Tapi gunjingan itu makin gencar.
“Orang-orang menuduhmu berpacaran dengan psikiater itu, Lin,” kata Rob suatu pagi. “Tapi jangan khawatir, aku lebih percaya padamu.”
“Tentu saja kau harus lebih percaya padaku,” Lin mengikik.
“Ya aku lebih percaya padamu. Biar mulut mereka dilaknat api neraka.”
“Mereka benar. Aku memang berpacaran dengan psikiater itu, Rob. Dan kami sudah berjanji akan menikah jika kau menceraikanku.”
Rob hampir terjatuh. Untung ia masih bisa menguasai diri. Lelaki itu berpikir, mungkin ia memang harus menceraikan istrinya. Tapi jika diceraikan, bukankah perempuan itu malah senang? Ia akan segera menikah lagi. Sementara Rob akan sendirian saja ke sana kemari seperti orang tolol. Lalu orang-orang akan bertanya, “Kenapa kau ceraikan istrimu, Rob? Sekarang kau tak punya siapa-siapa.” Rob akan menjawaab, “Karena ada ular di kepala perempuan itu. Sebesar naga.”
Orang-orang pasti tertawa. Mereka akan menganggap Rob benar-benar tolol. Mana ada seekor naga di dalam sebutir kepala perempuan? Kecuali kepala itu sebesar rumah. “Kamu sudah gila, Rob,” mereka akan menuduh Rob sudah menjadi gila. O, mereka pasti orang-orang yang berpandangan picik. Bukankah jin yang sebesar raksasa pun bisa meringkuk di dalam botol?
Rob hampir jatuh lagi. Baru berpikir tentang perceraian saja kepalanya berputar-putar. Kalau begitu, seperti yang dinasihatkan oleh semua orang yang mengerti agama atau yang tidak mengerti agama, perceraianlah bukan hukuman yang terbaik. Lantas apa? Rasa-rasanya ia sudah tidak bisa lagi mempertahankan hubungan baik dengan istrinya. Benci sekali ia berumah tangga dengan istri yang menyimpan ular di dalam kepalanya.
Ingin Rob memecah kepala istrinya dan membuang ular yang menjadi biang persoalannya. Oh, bukankah ini gagasan cemerlang? Kenapa tidak dilakukan saja? Setelah kepala itu bersih, baru ia akan menghukum istrinya dengan perceraian. Beberapa saat Rob mengagumi gagasan yang tiba-tiba menyambar otaknya. Lelaki itu berpikir bahwa ia kadang-kadang memang cerdas dan bijak.
Cerdas dan bijak, Rob senang dengan pikirannya sendiri. Ia berpikir lagi bahwa ia sedang menempuh langkah yang brilian. Lihatlah: suatu hari kepala istrinya kemasukan ular, lalu sebagai suami yang bertanggung jawab ia sendirilah yang akan memecah kepala itu dan melemparkan jauh-jauh ular tersebut. Tidak perlu dokter bedah atau siapa pun. Ia sendiri yang akan melakukannya.
Lalu langkah Rob terasa sangat ringan. Ia segera menyiapkan alat-alat untuk nanti malam.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar