Senin, 03 Oktober 2011

SASTRA ANAK-ANAK

Oleh:

Alfian Rokhmansyah, S.S.


Sastra mengandung eksplorasi mengenai kebenaran kemanusiaan. Sastra juga menawarkan berbagai bentuk kisah yang merangsang pembaca untuk berbuat sesuatu. Apalagi pembacanya adalah anak-anak yang fantasinya baru berkembang dan menerima segala macam cerita terlepas dari cerita itu masuk akal atau tidak. Sebagai karya sastra tentulah berusaha menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan, mempertahankan, serta menyebarluaskannya termasuk kepada anak-anak.

Sesuai dengan sasaran pembacanya, sastra anak dituntut untuk dikemas dalam bentuk yang berbeda dari sastra orang dewasa hingga dapat diterima anak dan dipahami mereka dengan baik. Sastra anak merupakan pembayangan atau pelukisan kehidupan anak yang imajinatif ke dalam bentuk struktur bahasa anak. Sastra anak merupakan sastra yang ditujukan untuk anak, bukan sastra tentang anak. Sastra tentang anak bisa saja isinya tidak sesuai untuk anak-anak, tetapi sastra untuk anak sudah tentu sengaja dan disesuaikan untuk anak-anak selaku pembacanya. (Puryanto, 2008: 2)

Sastra anak adalah karya sastra yang secara khusus dapat dipahami oleh anak-anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak, yaitu anak yang berusia antara 6-13 tahun. Seperti pada jenis karya sastra umumnya, sastra anak juga berfungsi sebagai media pendidikan dan hiburan, membentuk kepribadian anak, serta menuntun kecerdasan emosi anak. Pendidikan dalam sastra anak memuat amanat tentang moral, pembentukan kepribadian anak, mengembangkan imajinasi dan kreativitas, serta memberi pengetahuan keterampilan praktis bagi anak. Fungsi hiburan dalam sastra anak dapat membuat anak merasa bahagia atau senang membaca, senang dan gembira mendengarkan cerita ketika dibacakan atau dideklamasikan, dan mendapatkan kenikmatan atau kepuasan batin sehingga menuntun kecerdasan emosinya. (Wahidin, 2009)

Menurut Hunt (dalam Witakania, 2008: 8) mendefinisikan sastra anak sebagai buku bacaan yang dibaca oleh, yang secara khusus cocok untuk, dan yang secara khusus pula memuaskan sekelompok anggota yang kini disebut anak. Jadi sastra anak adalah buku bacaan yang sengaja ditulis untuk dibaca anak-anak. Isi buku tersebut harus sesuai dengan minat dan dunia anak-anak, sesuai dengan tingkat perkembangan emosional dan intelektual anak, sehingga dapat memuaskan mereka.

Sifat sastra anak adalah imajinasi semata, bukan berdasarkan pada fakta. Unsur imajinasi ini sangat menonjol dalam sastra anak. Hakikat sastra anak harus sesuai dengan dunia dan alam kehidupan anak-anak yang khas milik mereka dan bukan milik orang dewasa. Sastra anak bertumpu dan bermula pada penyajian nilai dan imbauan tertentu yang dianggap sebagai pedoman tingkah laku dalam kehidupan. (Wahidin, 2009)

Perkembangan anak akan berjalan wajar dan sesuai dengan periodenya bila disugui bahan bacaan yang sesuai pula. Sastra yang akan dikonsumsikan bagi anak harus mengandung tema yang mendidik, alurnya lurus dan tidak berbelit-belit, menggunakan setting yang ada di sekitar mereka atau ada di dunia mereka, tokoh dan penokohan mengandung peneladanan yang baik, gaya bahasanya mudah dipahami tapi mampu mengembangkan bahasa anak, sudut pandang orang yang tepat, dan imajinasi masih dalam jangkauan anak. (Puryanto, 2008: 2)

Sarumpaet (dalam Puryanto, 2008: 3) mengatakan persoalan-persoalan yang menyangkut masalah seks, cinta yang erotis, kebencian, kekerasan dan prasangka, serta masalah hidup mati tidak didapati sebagai tema dalam bacaan anak. Begitu pula pembicaraan mengenai perceraian, penggunaan obat terlarang, ataupun perkosaan merupakan hal yang dihindari dalam bacaan anak. Artinya, tema-tema yang disebut tidaklah perlu dikonsumsi oleh anak. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, tema-tema bacaan anak pun berkembang dan semakin bervariasi. Jenis-jenis bacaan anak misalnya, pada sepuluh tahun yang lalu sangat sedikit atau bahkan tidak ada, sangat mungkin telah hadir sebagai bacaan yang populer tahun-tahun belakangan ini. Jenis sastra anak meliputi prosa, puisi, dan drama. Jenis prosa dan puisi dalam sastra anak sangat menonjol.

Prosa Anak

Prosa anak berisi tentang hidup dan kehidupan, serta manusia dan kemanusiaan. Cerita fiksi anak menampilkan tokoh-tokoh cerita yang tidak harus anak-anak, melainkan juga dapat orang dewasa. Misalnya tokoh anak-anak dengan sebaya, orang tua, guru, kakak, dan lainnya yang mencerminkan situasi interaksi dalam kehidupan yang nyata. Dalam kehidupan nyata, anak tidak pernah terisolasi dalam kehidupan yang khusus dihuni oleh anak-anak saja, melainkan berbaur dengan siapa saja yang dijumpai, termasuk situasi lingkungan dan alam.

Cerita fiksi anak pertama-tama ditujukan kepada pembaca anak walau dalam praktiknya orang dewasa juga ikut membacanya. Oleh karena itu, segala keterbatasan dan sekaligus pemberian kesempatan untuk pengembaraan imajinasi harus diakomodasikan dalam cerita fiksi anak. Dalam cerita anak, anak dijadikan sebagai subyek yang menjadi fokus perhatian, dan semua itu harus tercermin secara konkret dalam cerita.

Menurut Nurgiyantoro (2005: 220), karakteristik cerita fiksi anak juga didukung dan dicerminkan oleh unsur-unsur fiksi yang membangunnya, baik yang tergolong unsur isi maupun unsur bentuk. Kedua unsur ini harus mempunyai jalinan untuk menghadirkan sebuah cerita yang mengambil pusat perhatian dan pengisahan dari kacamata anak.

Puisi Anak

Puisi anak mempunyai intensitas keluasan makna yang tidak seluas pada puisi dewasa. Hal ini disebabkan karena keterbatasan daya jangkau imajinasi anak-anak dalam pemaknaan puisi. Puisi anak mempunyai bentuk yang lebih sederhana. Kesederhanaan itu terlihat pada unsur diksi, struktur, ungkapan, dan kemungkinan pemaknaan. Puisi anak, baik dalam hal bahasa maupun makna yang diungkapkan masih polos, lugas dan apa adanya. Namun jika dilihat dari segi bahasa, bahasa pada puisi anak terlihat lebih intensif. Hal itu terlihat pada dominasi aspek rima dan bentuk pengulangan yang lain.

Pementingan unsur rima dan irama dalam puisi anak menunjukkan bahwa puisi anak hadir untuk anak-anak terutama lewat bunyi yang dibaca atau dilagukan, dan bukan lewat tulisan. Puisi anak juga mempunyai karakteristik yang identik dengan sastra anak, yaitu pengungkapan sesuatu dari kacamata anak (Nurgiyantoro, 2005: 314).

Puisi anak umumnya berbicara tentang kehidupan. Dalam puisi anak, aspek emosi selalu sejalan dengan serapan indera. Artinya luapan emosi anak dipengaruhi oleh tanggapan inderanya terhadap sesuatu yang ada di sekeliling karena daya jangkau imajinasi anak yang masih terbatas. (Huck dkk dalam Nurgiyantoro, 2005: 314-315)

Drama Anak

Drama anak umumnya bercerita tentang kehidupan. Bentuk drama anak biasanya berupa cerita fabel, yaitu bentuk drama yang menggunakan tokoh binatang sebagai tokoh ceritanya, tetapi isi cerita masih seputar kehidupan dan tergolong ringan. Menurut Nurgiyantoro (2005: 22), fabel adalah cerita binatang yang dimaksudkan sebagai personifikasi karakter manusia. Binatang dijadikan sebagai tokoh cerita yang dapat berbicara, bersikap dan berperilaku layaknya manusia biasa.

Drama anak umumnya sebagai bentuk penyampaian infomasi dan pendidikan kepada anak-anak dengan audio visual. Sehingga anak langsung dapat menerima secara langsung tanpa harus membaca.

Daftar Pustaka

Nurgiantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak; Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Puryanto, Edi. 2008. Konsumsi Anak dalam Teks Sastra di Sekolah. Makalah dalam Konferensi Internasional Kesusastraan XIX HISKI.

Tarigan, Henry Guntur. 1995. Dasar-dasar Psikosastra. Bandung: Angkasa.

Wahidin. 2009. Hakikat Sastra Anak. http://makalahkumakalahmu.wordpress.com/ 2009/03/18/hakikat-sastra-anak/ (diunduh 11 September 2009 06:42 WIB)

Witakania. 2008. Aspek Psikopedagogik dalam Sastra Anak.



untuk mengunduh artikel ini silakan masuk ke Halaman Download

Tidak ada komentar: