Oleh
Alfian Rokhamansyah
Sastra Indonesia S-1 (Ilmu Sastra)
Univ. Negeri Semarang (Unnes)
Karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang serta refleksi terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya. Kehadiran karya sastra merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Pengarang sebagai objek individual mencoba menghasilkan pandangan dunianya kepada objek kolektifnya. Penggabungan objek individual terhadap realitas sosial yang ada di sekitarnya menunjukkan sebuah karya sastra berakar pada kultur masyarakat tertentu. Keberadaan sastra yang demikian, menjadikan sastra dapat diposisikan sebagai dokumen. (Pradopo dalam Jabrohim 2001: 59)
Karya sastra berfungsi untuk menginventarisasikan sejumlah kejadian yang ada di masyarakat. Seluruh kejadian dalam karya sastra merupakan prototipe kejadian yang pernah dan mungkin terjadi pada kehidupan sehari-hari. Sebagai fakta kultural, karya sastra dianggap sebagai representasi kolektif yang secara umum berfungsi sebagai sarana untuk memperjuangkan aspirasi dan kencenderungan komunitas yang bersangkutan. Kedudukan sastra dalam kecenderungan ini sangat penting, terutama untuk mengangkat harkat dan martabat manusia dalam gejala yang selalu berubah.
Pengarang menciptakan karya sastra berdasarkan kenyataan yang terjadi di sekitarnya. Oleh karena itu, karya sastra dapat diartikan sebagai suatu gambaran mengenai kehidupan sehari-hari di masyarakat. Adanya realitas sosial dan lingkungan yang berada di sekitar pengarang menjadi bahan dalam menciptakan karya sastra sehingga karya sastra yang dihasilkan memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan pengarang maupun dengan masyarakat yang ada di sekitar pengarang.
Sastra berhubungan dengan manusia dalam masyarakat termasuk di dalamnya usaha manusia untuk menyesuaikan diri dan usahanya untk mengubah masyarakat itu. Sesungguhnya sosiologi dan sastra berbagi masalah yang sama. Keterkaitan karya sastra dengan masyarakat biasa disebut dengan sosiologi sastra. Sosiologi dapat memberikan penjelasan yang brmanfaat tentang sastra dan bahkan tanpa sosiologi pemahaman tentang sastra belum lengkap (Damono 1978: 2).
Karya sastra lahir karena adanya suatu proses yang dilalui oleh pengarang ditinjau dari segi pencipta, karya sastra merupakan pengalaman batin penciptanya mengenai kehidupan masyarakat dalam suatu kurun waktu dan situasi budaya tertentu. Karya sastra dibuat untuk masyarakat. Oleh karena itu, pengarang harus mampu mempengaruhi pembaca untuk meyakini kebenaran yang dikemukakannya. Salah satu usaha untuk meyakinkan pembaca adalah dengan mendekati kebenaran yang diambil dari realitas yang ada dalam masyrakat.
Keadaan masyarakat di salah satu tempat pada suatu saat penciptaan karya sastra, secara ilustratif akan tercermin di dalam sebuah karya sastra. Karya sastra biasanya berisi lukisan yang jelas tentang suatu tempat dalam suatu masa dengan berbagai tindakan manusia. Manusia dengan berbagai tindakannya di dalam masyarakat merupakan objek kajian sosiologi. Seperti yang dikatakan Marx (dalam Faruk 1999: 6), struktur sosial suatu masyarakat, juga struktur lembaga-lembaganya, moralitasnya, agamanya, dan kesusastraannya, terutama sekali ditentukan oleh kondisi-kondisi kehidupan, khususnya kondisi-kondisi produktif kehidupan masyarakat itu.
Sastra sebagai cermin masyarakat menganggap bahwa sastra merupakan sebuah tiruan kehidupan masyarakat. Menurut Ian Watt (dalam Damono 1978: 3-4) sastra sebagai cerminan kehidupan masyarakat merupakan fungsi sastra untuk merefleksikan kehidupan masyarakat ke dalam sastra. Sastra umumnya berusaha untuk menampilkan keadaan masyarakat secermat-cermatnya agar mampu menggambarkan kehidupan asli dari masyarakat zamannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar