Novel ini mengisahkan masyarakat pedesaan di sebuah desa kecil, yang kebanyakan penduduknya berprofesi sebagai penderes nira kelapa untuk dibuat gula merah. Pasangan Darsa dan Lasi menjadi tokoh utama dalam novel ini. Darsa yang penderes, beristrikan Lasi yang cantik dan berkulit putih karena ia merupakan keturunan Jawa-Jepang.
Kemiskinan penduduk digambarkan sangat menyentuh oleh Ahmad Tohari. Pemahaman kondisi sosial masyarakat miskin yang erat kaitannya dengan struktur perdagangan gula yang tidak pernah adil, digambarkan secara rinci.
Konflik bermula ketika Lasi memutuskan minggat dari desanya menuju Jakarta yang disebabkan karena penghianatan suaminya. Awal lika-liku kehidupan Lasi pun dimulai ketika ia dihadapkan pada norma-norma kehidupan kota besar yang amat sangat asing baginya. Lasi ditampung sementara oleh Ibu Koneng, pengelola warung tempat para sopir truk mampir yang mana juga menjadi tempat prostitusi terselubung.
Singkat cerita, Lasi yang mempunyai paras cantik, menjadi "barang dagangan baru" yang langka sangat berharga bagi Ibu Koneng, yang menyerahkannya ke Ibu Lanting, mucikari tingkat tinggi yang melayani para pejabat. Lasi pun menjadi seekor bekisar yang menjadi pajangan di rumah mewah para pejabat "mata keranjang". Lasi pun dihadapkan pada konflik batin yang membuatnya bingung akan hidupnya.
Di tengah kebingungannya itulah Lasi bertemu lagi dengan cinta lamanya di desa, yaitu Kanjat yang berprofesi sebagai dosen. Mereka kemudian kabur bersama, bahkan Lasi lalu menikah dengannya. Klimaks pun dimulai ketika Lasi mengandung anak Kanjat, namun ia kemudian disekap oleh Bambang, pejabat yang dulu pernah menyukai Lasi. Tetapi setelah sekitar enam bulan disekap, terjadi pergulatan politik di Jakarta yang pada akhirnya menjungkalkan Bambang dari posisinya sebagai pelobi tingkat tinggi. Akhirnya, atas bantuan kawan lama Kanjat, Lasi dapat bebas dan kembali ke kampung halamannya bersama Kanjat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar