Mengenyam pendidikan hingga setinggi-tingginya merupakan hak setiap individu, baik laki-laki maupun perempuan. Akan tetapi, bagi sebagian kelompok hak untuk memperoleh pendidikan hanya diperuntukkan bagi kaum laki-laki. Hal ini yang terjadi pada masyarakat yang masih mengusung sistem patriarki. Perempuan tidak seharusnya mendapatkan pendidikan yang sejajar dengan kaum laki-laki. Menurut mereka, masa depan perempuan adalah berada di rumah, mengurus keluarga.
Persoalan ini muncul dalam novel Warisan karya Tsitsi V. Hamunyanga-Phiri yang mengangkat tema mengenai feminisme. Tokoh utama dalam novel ini, Nyonya Moya Mudenda, lahir dan tumbuh dalam lingkungan yang patriarkis. Ia mengalami penolakan atas haknya untuk menimba ilmu dan mencapai cita-citanya menjadi guru.
Keinginannya untuk bersekolah harus disingkirkan. Ia tidak mungkin menolak keputusan ayah dan paksaan dari keluarganya. Sekolah diutamakan untuk saudara laki-lakinya, sedangkan perempuan seusianya seharusnya menikah. Sekolah dan karir bukan suatu kewajiban bagi perempuan seperti Moya, bahkan tidak ada seorang pun yang dapat mendukungnya untuk melanjutkan keinginannya itu.
Sekolah! Sekolah! Apakah begitu penting mengenai sekolah? Tanya mereka.
Sekolah tidak lain merupakan gagasan asing bagi kami, yang dibawa oleh para penjajah kulit putih untuk membujuk perempuan-perempuan muda agar menjadi malas. (Warisan, 1996:27)
Keprihatinan Moya berlanjut ketika anak perempuannya, Choolwe, harus putus sekolah karena hamil. Sementara laki-laki yang menghamilinya tetap bisa bersekolah dan mengikuti ujian. Keinginan Moya agar anaknya, Choolwe, dapat melanjutkan sekolah setelah melahirkan ditolak oleh suami dan mertua Choolwe. Mereka hanya ingin Choolwe mengurus suami, anak, dan rumah tangganya.
... dan sungguh mengejutkan, mereka setuju dengan Bawisi Kafula agar Choolwe hanya memikirkan suami, anak, dan rumah tangganya saja. (Warisan, 1996:71)
Selain pembatasan hak bagi perempuan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi dan sejajar dengan laki-laki, dalam novel ini juga digambarkan mengenai perempuan yang berhasil bersekolah hingga jenjang yang lebih tinggi. Anak keempat Moya yang berjenis kelamin perempuan, Chipo, berhasil menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam. Ia bercita-cita menjadi seorang insinyur. Pandanga skeptis muncul pada Chipo dari teman laki-lakinya.
Beberapa orang dosen dengan terus terang mengatakan kepadanya bahwa perempuan seharusnya tidak menjadi insinyur, sebab mereka tidak mempunyai kemampuan yang sama dengan laki-laki. (Warisan, 1996:110)
Teman-temannya juga tidak lebih baik daripada dosen-dosennya, dengan mengatakan bahwa ia berusaha menjadi laki-laki, sementara teman-teman sekelasnya tidak mau percaya bahwa ia melaksanakan tugas-tugasnya sendiri. Mereka selalu menganggap bahwa ia ditolong oleh dosen atau mahasiswa lain dengan imbalan seks. (Warisan, 1996:111)
Pandangan skeptis ini muncul karena masyarakat di wilayah Moya dan keluarganya hidup, sudah menganggap bahwa pendidikan tinggi hanya untuk kaum laki-laki. Perempuan hanya diperbolehkan masuk sekolah menengan dengan mengambil mata pelajaran kerajinan atau yang berhubungan dengan pekerjaannya dalam rumah tangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar