Ketika masalah kritik sastra ini muncul sebetulnya yang diharapkan adalah peran akademik sastra tetapi ternyata sampai saat ini banyak keluhan bahwa akademik sastra tidak berperan dalam perkembangan kritik sastra, betulkah peran akademik sastra sudah mati? Kritik sastra akademik adalah kritik sastra yang di tulis dengan pola-pola tertentu biasanya mengacu pada tehnik penulisan ilmiah kemudian dasarkan diri pada teori dan metode yang harus di pertanggung jawabkan, contohnya adalah puisi, tesis, makalah, artikel jurnal dan sebagainya.
Jika kita melihat sejarah sastra, kita bisa menemukan bahwa kontribusi paling besar dari kritik sastra yang muncul berasal dari media masa, mungkin ada semacam keengganan dari kalangan akademisi untuk membuat kritik-kritik di media masa, atau juga berasal dari ketidak mampuan, sehingga muncul dua penyebab yaitu ketidakmauan dan ketidakmampuan, pertama jika terjadi karena keengganan di sebabkan munculnya anggapan bahwa kritik sastra yang ada di media masa itu tidak ilmiah sementara kritik sastra akademik itu ilmiah, kritik sastra akademik itu formatnya harus di susun dengan aturan yang berlaku dalam penulisan kritik sastra di akademik, keilmiahan sebuah kritik sastra itu tidak tergantung pada format tetapi pada hakikat, selama ini yang di lihat ilmiah adalah jika format penulisannya sudah mengacu pada tehnik penulisan ilmiah, dan jika didasarkan pada teori dan metode tertentu. Padahal semua itu tidak menjamin, karna ilmiah itu berasal dari kata ilmu yang berarti pengetahuan yang di dasari metode ilmiah, di dalam melakukan metode ilmiah ada cara yang bisa kita lakukan secara kuantitatif dan kualitatif, bisa dilkukan dengan dimulai dari teori-teori dan metode yang terkonsep tetap sejak awal, bisa saja teori itu hadir belakangan, justru teori itu di temukan, jadi ketika sebuah kritik sastra tidak mencantumkan teori, bukan berarti kritik sastra itu tidak bersifat ilmiah, contohnya saat sebuah kritik sastra tertera di media masa yang tidak mencantumkan teori, belum tentu tidak ilmiah atau tidak mengandung teori, jika di cermati, di dalam kritik sastra itu terdapat teori yang telah bercampur dengan wawasan penulisnya hingga kebulatan karya sastra yang di kritik itu lebih terungkap. Ketika sebuah kritik sastra bersifat ilmiah dengan catatan keilmiahan yang telah di uraikan di atas maka kritik sastra itu, siapapun yang menulisnya, dimanapun medianya, adalah akademik. Dengan cara ini, kritik sastra akademik menjadi hidup serta optimal, karena para akademik kritik sastralah yang bertanggung jawab menjaga keilmiahan sebuah kritik sastra dimanapun dia berada, hingga kontribusi para akademik ini harus ditingkatkan, jika masalahnya adalah ketidakmampuan mempublikasikan kritik sastra secara luas, maka perlu adanya kerjasama dari semua pihak baik itu institusi sastra, pemerintah, maupun non pemerintah. Pertama dari pihak instisusi sastra berupa kurikulum mata kuliah yang sebaiknya tidak hanya berbicara tentang teori dan pengaplikasiaannya, tetapi juga harus di arahkan supaya mahasiswa itu mampu mensosialisasikan kritik-kritik akademik ke dalam media yang lebih luas. Yang kedua dari pihak pemerintah ataupun non pemerintah harus melalukan upaya kongkrit berupa workshop penulisan kritik sastra untuk media masa, itu lebih jelas menunjang di bandingkan dengan acara-acara seminar yang membahas kritik sastra tanpa ada upaya kongkrit untuk mengembangkannya, sebaiknya ketika seminar itu di hentikan dan masalah-masalahnya sudah jelas, langsung mengadakan pelatihan dan upaya untuk membangkitkan kegairahan para mahasiswa untuk menyusun skripsi.
* dari berbagai sumber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar