Oleh:
Alfian Rokhmansyah
SEPISAUPI
sepisau luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi
sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupi
sepikul siri keranjang duri
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya kedalam nyanyi
Sutardji Calzoum Bachri, 1973
(O, Amuk, Kapak, 2002: 70)
Alfian Rokhmansyah
SEPISAUPI
sepisau luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi
sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupi
sepikul siri keranjang duri
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya kedalam nyanyi
Sutardji Calzoum Bachri, 1973
(O, Amuk, Kapak, 2002: 70)
1. Pendahuluan
Sastra dengan bahasa
merupakan dua bidang yang tidak dapat dipisahkan. Hubungan antara sastra dengan
bahasa bersifat dialektis (Wellek dan Warren, 1990: 218). Bahasa sebagai sistem
tanda primer dan sastra dianggap sebagai sistem tanda sekunder menurut istilah
Lotman (dalam Teeuw, 1984: 99). Bahasa sebagai sistem tanda primer membentuk
model dunia bagi pemakainya, yakni sebagai model yang pada prinsipnya digunakan
untuk mewujudkan konseptual manusia di dalam menafsirkan segala sesuatu baik di
dalam maupun di luar dirinya. Selanjutnya, sastra yang menggunakan media bahasa
tergantung pada sistem primer yang diadakan oleh bahasa. Dengan kata lain,
sebuah karya sastra hanya dapat dipahami melalui bahasa.
Ciri khas sebuah karya
sastra tidak saja dilihat berdasarkan genre-nya,
tetapi dapat pula dilihat melalui konvensi sastra maupun konvensi bahasanya.
Khusus dalam kaitan bahasa dalam sastra, pengarang mengeksploitasi
potensi-potensi bahasa untuk menyampaikan gagasannya dengan tujuan tertentu.
Dengan sudut pandang demikian dapat dikatakan bahwa sebenarnya ada kekhususan
atau keunikan masing-masing pengarang sebagai ciri khasnya yang mungkin
merupakan kesengajaan atau invensi pengarang dalam proses kreatifnya (Subroto,
1999: 1). Menurut Aminuddin (1995: 1) gaya merupakan perujudan penggunaan
bahasa oleh seorang penulis untuk mengemukakan gambaran, gagasan, pendapat, dan
membuahkan efek tertentu bagi penanggapnya sebagaimana cara yang digunakannya.
Sebagai wujud cara menggunakan kode kebahasaan, gaya merupakan relasional yang
berhubungan dengan rentetan kata, kalimat dan berbagai kemungkinan manifestasi
kode kebahasaan sebagai sistem tanda. Jadi, gaya merupakan simbol verbal.
2. Ruang Lingkup Kajian
Stilistika
Istilah gaya secara leksikal
yang berpadanan dengan style berasal
dari bahasa Yunani stylos atau stilus dalam bahasa Latin. Secara umum
makna stylos adalah wujud sesuatu,
misalnya bentuk arsitektur yang memiliki ciri sesuai dengan karakteristik ruang
dan waktu. Sedangkan stilus bermakna
alat untuk menulis sesuai dengan cara yang digunakan oleh penulisnya.
Pengertian ini memberikan dimensi bentuk dan cara yang menyebabkan istilah style mengandung kategori nomina dan
verba (Aminuddin, 1995: 1).
Kridalaksana dalam Kamus
Linguistik (1984: 183) memberikan batasan stilistika adalah: (1) ilmu yang
menyelidiki bahasa yang digunakan dalam karya sastra: ilmu interdisipliner
antara linguistik dengan kesusastraan; (2) penerapan linguistik pada penelitian
gaya bahasa. Panuti Sudjiman (1984: 71) mengatakan bahwa stilistika adalah ilmu
yang meneliti penggunaan bahasa dan gaya bahasa di dalam karya sastra. Namun,
oleh Kridalaksana antara stilistika dengan gaya bahasa adalah berbeda. Gaya
bahasa menurutnya adalah (1) pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang
dalam bertutur atau menulis; (2) pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh
efek-efek tertentu; dan (3) keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra
(Kridalaksana, 1984: 57).
Kajian stilistika merupakan
bentuk kajian yang menggunakan pendekatan obyektif. Dinyatakan demikian karena
ditinjau dari sasaran kajian dan penjelasan yang dibuahkan, kajian stilistika
merupakan kajian yang berfokus pada wujud penggunaan sistem tanda dalam karya
sastra yang diperoleh secara rasional-empirik dapat dipertanggung jawabkan.
Landasan empirik merujuk pada kesesuian landasan konseptual dengan cara kerja
yang digunakan bila dihubungkan dengan karakteristik fakta yang dijadikan
sasaran kajian.
Pada apresiasi sastra,
analisis kajian stilistika digunakan untuk memudahkan menikmati, memahami, dan
menghayati sistem tanda yang digunakan dalam karya sastra yang berfungsi untuk
mengetahui ungkapan ekspresif yang ingin diungkapkan oleh pengarang. Dari penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan tentang analisis
yang dilakukan apresiasi sastra meliputi :
1.
Analisis
tanda baca yang digunakan pengarang.
2.
Analisis
hubungan antara sistem tanda yang satu dengan yang lainnya.
3.
Analisis kemungkinan terjemahan
satuan tanda yang ditentukan serta kemungkinan bentuk ekspresi yang
dikandungnya (Aminuddin, 1995:98).
4.
Kaitannya
dengan kritik sastra, kajian stilistika digunakan sebagai metode untuk
menghindari kritik sastra yang bersifat impesionistis dan subyektif. Melalui
kajian stilistika ini diharapkan dapat memperoleh hasil yang memenuhi kriteria
obyektifitas dan keilmiahan (Aminuddin, 1995:42).
Pada kritik sastra ini
prosedur analisis yang digunakan dalam kajian stilistika, diantaranya :
1.
Analisis
aspek gaya dalam karya sastra.
2.
Analisis
aspek-aspek kebahasaan seperti manipulasi paduan bunyi, penggunaan tanda baca
dan cara penulisan.
3.
Analisis
gagasan atau makna yang dipaparkan dalam karya sastra (Aminuddin, 1995:42-43).
3. Analisis Stilistika dalam Puisi Sepisaupi Karya Sutardji Calzoum Bachri
Analisis puisi Sepisaupi ini menggunakan pendekatan stilistika untuk mengengetahui
jenis majas, gaya bahasa penyair, pemanfaatan unsur bunyi, pemilihan diksi dan
beberapa aspek yang lain seperti tipografi.
Puisi Sepisaupi ini dapat diartikan sebagai bentuk perenungan kepada
Tuhan. Sepisaupi merupakan gabungan
dari kata sepi, pisau, dan pikul yang
digabung menjadi sepisaupi. Sepi itu
seperti pisau yang mengiris dan dosa itu begitu beratnya bagai barang sepikul.
Rasa dosa itu menimbulkan rasa duka dan sepi yang menusuk dan mengiris bagai pisau.
Rasa dosa itu timbul dalam diri (si aku) karena tusukan pisau-Nya. Panggilan
atas peringatan Tuhan kepada manusia seperti pisau yang menusuk (Pradopo, 1990:
291).
3.1 Pemanfaatan
Bunyi
Pada puisi Sepisaupi ini, penyair banyak menggunakan permainan bunyi. Sehingga
puisi ini terasa nyaman untuk didengar. Pemilihan bunyi-bunyi ini akan
menimbulkan efek khusus yang diperoleh dari puisi. Pemanfaatan bunyi yang dilakukan oleh penyair
meliputi persajakan atau rima.
Rima adalah pengulangan bunyi yang sama
dalam puisi yang berguna untuk menambah keindahan suatu puisi. Dalam persajakan rima dapat dibedakan
menurut: bunyi dan letak dalam baris.
Puisi yang berjudul Sepisaupi banyak menggunakan fonem /s/
dan /p/. Bunyi /s/ mensugesti timbulnya suasana mengejek, lembut, lancar, dan
kadang-kadang menimbulkan perasaan yang menyejukkan, sedangkan /p/ adalah
konsonan eksplosif yang mampu memberikan sugesti kecepatan, gerakan, dan
memberikan kesan remeh atau cemoohan.
Sepisaupi jika didengarkan seperti
mantra. Hal itu dikarenakan penggabungan kata-kata sepi dan pisau jika dibaca
tanpa putus kita akan dapat menangkap makna dari sepi dan pisau itu. Efek /s/
dan /p/ pada puisi ini menimbulkan efek magis, dan efek penggunaan fonem
tersebut berpengaruh pada pengucapan puisi yang dibaca dengan cepat dan
terdengar seperti mantra. Efek magis yang murni pada puisi tersebut juga dapat
kita lihat dari pengulangan-pengulangan (repetisi) seperti pada mantra. Sepisau, sepisaupa, sepisaupi, begitu
banyak diulang-ulang dalam puisi ini. Puisi-puisi sejenis ini memang tidak
terlalu kuat dalam gaya bahasa, simbol atau permainan kata. Puisi ini adalah teori pemecahan (fusi)
kata, permainan bentuk, pemaknaan baru, dan puisi menurut juga adalah mengembalikan
kata pada mantra.
Persajakan pada puisi isi sangat jelas
terlihat. Persajakan dan pemanfaatan bunyi ini akan memunculkan suasana dari
dalam puisi itu.
sepisau luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi
sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupi
sepikul siri keranjang duri
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya kedalam nyanyi
Rima pada tiap baris puisi ini semuanya
menggunakan akhiran vokal /i/. tiap baris didominasi vokal /i, u, a/ dan
konsonan /s, p/. Penggunaan vokal /i, u, a/ ini dapat menimbulkan suasana
gembira, bahagia, riang, kasih, suci, kecil, ramping, ringan, dan tinggi. Penggunaan konsonan /s, p/ menimbulkan
suasana kacau, tidak teratur, tidak menyenangkan. Perpaduan antara eufoni dan
kakofoni menimbulkan efek magis. Karena di samping menimbulkan suasana yang
gembira dan ringan, puisi ini juga memunculkan suasana yang berat dan sedih.
Selain itu efek bunyi juga ditimbulkan
oleh asonansi dan aliterasi. Asonansi adalah pengulangan bunyi vokal yang sama
pada kata atau perkataan yang berurutan dalam baris-baris puisi. Pengulangan
begini menimbulkan kesan kehalusan, kelembutan, kemerduan atau keindahan bunyi.
Asonansi ini temukan pada
setiap baris puisi ini, yaitu pengulangan vokal /i, u, a/.
Aliterasi
adalah pengulangan bunyi konsonan yang sama dalam baris-baris puisi, biasanya
pada awal kata atau perkataan yang berurutan. Pengulangan seperti itu
menimbulkan kesan keindahan bunyi. Aliterasi ini adalah pengulangan konsonan
/s, p/.
3.2 Pemilihan
Diksi
Dalam gaya bahasa kata ini, sesungguhnya
kata tidak dapat dilepaskan dari hubungan kalimatnya karena tanpa hubungannya
dengan unsur kalimat yang lain, kata tidak akan ada maknanya sebagai gaya. Akan tetapi, gaya kata ini adalah kata
yang paling mendapatkan fungsi dalam hubungan kalimatnya. Dalam gaya kata ini
yang menonjol dalam puisi Sepisaupi adalah
pemanfaatan kata yang tidak bermakna.
Tiap bagian puisi ini menggunakan kata
yang secara harfiah tidak mempunyai makna apapun. Menurut Pradopo (1990: 291) kata “sepisaupi” pada
puisi ini merupakan kependekan dari sepi,
pisau, dan pikul. Kata yang tidak mempunyai makna secara harfiah adalah sepisaupa, sepukau, sepisaupi, dan sepikau. Kata-kata ini diulang beberapa
kali.
sepisaupa
sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa
sepisaupi
sepikul siri keranjang duri
sepisaupa
sepisaupi
sepisaupa
sepisaupi
sepisaupa
sepisaupi
sampai pisauNya kedalam nyanyi
Penyair juga menggunakan kata yang
selalu diawali dengan afiks se- yaitu
sepisau, sepikul, serisau, sepiasapanya, dan
sepukau. Afiks se- ini dapat dimaknai satu.
sepisau luka sepisau
duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau
diri
sepisau sepi sepisau
nyanyi
sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupi
sepikul siri keranjang duri
Pemanfaatan diksi pada puisi ini juga
terlihat pada penggunaan kata ganti untuk Tuhan, yaitu -Nya. Pada akhir puisi
ini, penyair menggunakan kata -Nya untuk menggantikan sosok Tuhan.
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya kedalam nyanyi
Pemanfaatan diksi umumnya menunjukkan
kekhasan dari penyair dalam memilih kata-kata yang digunakan dalam puisi
tersebut.
3.3 Gaya
Kalimat dan Wacana
Gaya kalimat dan wacana dalam puisi
Walau pada umumnya adalah sarana retorika (rhetorical
devices). Sarana retorika merupakan sarana kepuitisan yang berusaha menarik
perhatian, pikiran, sehingga pembaca merenungkan dengan sungguh-sungguh apa
yang dikemukakan penyair. Pada umumnya sarana retorika ini menimbulkan
ketegangan puitis karena pembaca harus berpikir keras apa efek yang dimaksudkan
penyair.
Pada puisi ini, sarana retorika yang
dipakai adalah sarana retorika repetisi, yaitu sarana retorika yang berupa
perulangan kata atau frasa pada baris yang sama atau berbeda, pada awal baris
atau akhir baris bahkan pengulangan sebagian atau seluruh bait.
sepisau luka sepisau
duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau
nyanyi
sepisaupa
sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa
sepisaupi
sepikul siri keranjang duri
sepisaupa
sepisaupi
sepisaupa
sepisaupi
sepisaupa
sepisaupi
sampai pisauNya kedalam nyanyi
Dari kutipan di atas, dapat diketahui
bahwa penggunaan saran retorika repetisi hampir mendominasi seluruh puisi itu.
Kata yang sering diulang adalah sepisau,
sepisaupi, dan sepisaupa.
3.4 Tipografi
Tipografi disebut juga ukiran bentuk,
ialah susunan bari-baris atau bait-bait puisi. Termasuk ke dalam tipografi
ialah penggunaan huruf-huruf untuk menuliskan kata-kata suatu puisi. Setiap
penyair memiliki kegemaran sendiri-sendiri dalam pembuatan bentuk atau wajah
puisi.
Puisi Sepisaupi ini adalah puisi yang mempunyai susunan bentuk yang umum,
bila dibandingkan dengan puisi-puisi Sutardji lain yang umumnya berbentuk
tangga. Puisi Sepisaupi ini
memanfaatkan repetisi beberapa kata dan yaitu sepisau, sepisaupi, dan sepisaupa.
Selain itu juga menggunakan repetisi pada afiks se- yag dapat ditemukan pada setiap bait puisi ini.
sepisau luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi
sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupi
sepikul siri keranjang duri
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya kedalam nyanyi
Penyair juga menggunakan kata ganti untuk
menyebutkan Tuhan dengan kata nya
yang ditulis tanpa spasi dengan kata pisau
di baris terakhir.
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya kedalam nyanyi
Kata ganti ini juga menggunakan huruf kapital pada awal huruf kata ganti
tersebut. Penggunaan ini dimanfaatkan oleh penyair untuk penanda bahwa nya yang dimaksud adalah Tuhan.
3.5 Majas
Majas adalah bahasa kiasan yang dapat menghidupkan
atau meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu. Majas
dapat dimanfaatkan oleh para pembaca atau penulis untuk menjelaskan gagasan
mereka (Tarigan, 1985:179). Pradopo (2002:62) menjelaskan bahwa majas
meyebabkan karya sastra menjadi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, lebih
hidup, dan menimbulkan kejelasan gambaran angan.
Dalam puisi Sepisaupi ini, didominasi oleh majas repetisi yaitu majas penegasan
yang melukiskan sesuatu dengan mengulang kata atau beberapa kata. Penggunaan repetisi pada puisi ini
dimaksudkan untuk menekankan bagian puisi yang ingin ditonjolkan oleh penyair.
sepisau luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi
sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupi
sepikul siri keranjang duri
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya kedalam nyanyi
Repetisi yang digunakan oleh penyair
terdapat pada pengulangan afiks se-
yang terdapat pada awal kata. Penggunaan repetisi afiks se- ini digunakan oleh penyair untuk memunculkan efek estetik pada
puisi.
sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupi
sepikul siri keranjang duri
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya kedalam nyanyi
Repetisi juga digunakan oleh penyair pada
pengulangan frasa sepisaupa sepisaupi.
Pengulangan ini digunakan untuk menekankan frasa sepisaupa sepisaupi.
3.6 Parafrase
puisi
Sepisau luka sepisau duri merupakan bentuk
luka yang yang teramat sangat yang pernah dialami, penggambaran dari dosa yang
telah dilakukan dan membuat penyesalan yang mendalam, kerena dosa yang telah
dilakukan membuat perenungan dalam kesendirian, ketika kesendirian itu yang
dirasakan hanyalah penyesalan sepisaupa sepisaupi pelukisan akan pisau dan sepi
seolah-olah kesendirian yang menyakitkan, sepisapanya sepikau sepi disini
takadalagi sapaan kerena kesepian yang telah dialami, sepisaupa sepisaupi
pengulangan kata ini adalah penguatan tentang kesepian, sepikul diri keranjang
duri adalah siksaan kesepian yang dialami sendiri dan harus ditanggung olehnya
tanpa seorangpun yang membantu, sepisaupa sepisaupi penguatan kesepian yang
dialami terulang-ulang sampai akhir yang selalu mendramatisir kisah kesendirian
ini, sampai pisauNya ke dalam nyanyi kesedihan akan kesepian selalu menghantui
diri selamanya seakan-akan irama kesepian bagai lagu dalam hati.
4. Simpulan
Dari uraian di atas, dapar disimpulkan
bahwa puisi Sepisaupi karya Sutardji
Calzoum Bachri merupakan puisi kontemporer yang berisi kata-kata tidak bermakna
secara harfiah. Penyair juga menggunakan kata yang selalu diawali dengan afiks se- yaitu sepisau, sepikul, serisau, sepiasapanya, dan sepukau. Afiks se- ini
dapat dimaknai satu. Kata “sepisaupi”
pada puisi ini merupakan kependekan dari sepi,
pisau, dan pikul. Kata yang tidak mempunyai makna secara harfiah adalah sepisaupa, sepukau, sepisaupi, dan sepikau.
Penggunaan vokal /i/, /u/, /a/ ini dapat
menimbulkan suasana gembira, bahagia, riang, kasih, suci, kecil, ramping,
ringan, dan tinggi. Penggunaan
konsonan /s/ dan /p/ menimbulkan suasana kacau, tidak teratur, tidak
menyenangkan. Efek magis yang murni pada puisi tersebut juga dapat kita lihat
dari pengulangan-pengulangan (repetisi) seperti pada mantra. Sepisau, sepisaupa, sepisaupi, begitu
banyak diulang-ulang dalam puisi ini. Puisi-puisi sejenis ini memang tidak
terlalu kuat dalam gaya bahasa, simbol atau permainan kata. Puisi ini adalah teori pemecahan (fusi)
kata, permainan bentuk, pemaknaan baru, dan puisi menurut juga adalah
mengembalikan kata pada mantra.
Penyair juga menggunakan kata ganti untuk
menyebutkan Tuhan dengan kata nya
yang ditulis tanpa spasi dengan kata pisau
di baris terakhir. Kata ganti ini juga menggunakan huruf kapital pada awal
huruf kata ganti tersebut. Penggunaan ini dimanfaatkan oleh penyair untuk
penanda bahwa nya yang dimaksud
adalah Tuhan.
Repetisi yang digunakan oleh penyair
terdapat pada pengulangan afiks se-
yang terdapat pada awal kata. Penggunaan repetisi afiks se- ini digunakan oleh penyair untuk memunculkan efek estetik pada
puisi. Repetisi juga digunakan oleh penyair pada pengulangan frasa sepisaupa sepisaupi. Pengulangan ini
digunakan untuk menekankan frasa sepisaupa
sepisaupi.
5. Daftar Pustaka
Aminuddin. 1995. Stilistika: Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra. Semarang:
IKIP Semarang Press.
Bachri, Sutardji Calzoum. 2002. O
Amuk Kapak, Tiga Kumpulan Sajak. Jakarta: Yayasan Indonesia dan Majalah Horison.
Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1990. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Subroto, D. Edi, dkk. 1999. Telaah
Stilistika Novel-Novel Berbahasa Jawa Tahun 1980-an. Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sudjiman,
Panuti. 1993. Bunga Rampai Stilistika. Jakarta: Grafiti.
Suharianto, S., Dra. 2005. “Pengkajian
Puisi”. Buku Ajar Mata Kuliah Pengkajian
Puisi. Semarang: Jurusan
Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri
Semarang.
Suyoto, Agustinus. 2007. Dasar-dasar
Analisis Puisi. Lembar
Komunikasi Bahasa dan Sastra Indonesia. Yogyakarta: SMU Stella Duce 2,
Yogyakarta.
Tarigan, Henry Guntur. 1985. Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung:
Angkasa.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Bandung : Pustaka Jaya.
Wellek, Rene dan Austin Warren.
1990. Teori
Kesusastraan. Terjemahan
Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar