Minggu, 02 Oktober 2011

PENGGUNAAN GAYA BAHASA DAN DIKSI DALAM PUISI SEPISAUPI KARYA SUTARDJI CALZOUM BACHRI

Oleh:
Alfian Rokhmansyah


SEPISAUPI

sepisau luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi

sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupi
sepikul siri keranjang duri

sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya kedalam nyanyi

Sutardji Calzoum Bachri, 1973
(O, Amuk, Kapak, 2002: 70)


1.       Pendahuluan
          Sastra dengan bahasa merupakan dua bidang yang tidak dapat dipisahkan. Hubungan antara sastra dengan bahasa bersifat dialektis (Wellek dan Warren, 1990: 218). Bahasa sebagai sistem tanda primer dan sastra dianggap sebagai sistem tanda sekunder menurut istilah Lotman (dalam Teeuw, 1984: 99). Bahasa sebagai sistem tanda primer membentuk model dunia bagi pemakainya, yakni sebagai model yang pada prinsipnya digunakan untuk mewujudkan konseptual manusia di dalam menafsirkan segala sesuatu baik di dalam maupun di luar dirinya. Selanjutnya, sastra yang menggunakan media bahasa tergantung pada sistem primer yang diadakan oleh bahasa. Dengan kata lain, sebuah karya sastra hanya dapat dipahami melalui bahasa.
          Ciri khas sebuah karya sastra tidak saja dilihat berdasarkan genre-nya, tetapi dapat pula dilihat melalui konvensi sastra maupun konvensi bahasanya. Khusus dalam kaitan bahasa dalam sastra, pengarang mengeksploitasi potensi-potensi bahasa untuk menyampaikan gagasannya dengan tujuan tertentu. Dengan sudut pandang demikian dapat dikatakan bahwa sebenarnya ada kekhususan atau keunikan masing-masing pengarang sebagai ciri khasnya yang mungkin merupakan kesengajaan atau invensi pengarang dalam proses kreatifnya (Subroto, 1999: 1). Menurut Aminuddin (1995: 1) gaya merupakan perujudan penggunaan bahasa oleh seorang penulis untuk mengemukakan gambaran, gagasan, pendapat, dan membuahkan efek tertentu bagi penanggapnya sebagaimana cara yang digunakannya. Sebagai wujud cara menggunakan kode kebahasaan, gaya merupakan relasional yang berhubungan dengan rentetan kata, kalimat dan berbagai kemungkinan manifestasi kode kebahasaan sebagai sistem tanda. Jadi, gaya merupakan simbol verbal.

2.       Ruang Lingkup Kajian Stilistika
          Istilah gaya secara leksikal yang berpadanan dengan style berasal dari bahasa Yunani stylos atau stilus dalam bahasa Latin. Secara umum makna stylos adalah wujud sesuatu, misalnya bentuk arsitektur yang memiliki ciri sesuai dengan karakteristik ruang dan waktu. Sedangkan stilus bermakna alat untuk menulis sesuai dengan cara yang digunakan oleh penulisnya. Pengertian ini memberikan dimensi bentuk dan cara yang menyebabkan istilah style mengandung kategori nomina dan verba (Aminuddin, 1995: 1).
          Kridalaksana dalam Kamus Linguistik (1984: 183) memberikan batasan stilistika adalah: (1) ilmu yang menyelidiki bahasa yang digunakan dalam karya sastra: ilmu interdisipliner antara linguistik dengan kesusastraan; (2) penerapan linguistik pada penelitian gaya bahasa. Panuti Sudjiman (1984: 71) mengatakan bahwa stilistika adalah ilmu yang meneliti penggunaan bahasa dan gaya bahasa di dalam karya sastra. Namun, oleh Kridalaksana antara stilistika dengan gaya bahasa adalah berbeda. Gaya bahasa menurutnya adalah (1) pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis; (2) pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu; dan (3) keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra (Kridalaksana, 1984: 57).
          Kajian stilistika merupakan bentuk kajian yang menggunakan pendekatan obyektif. Dinyatakan demikian karena ditinjau dari sasaran kajian dan penjelasan yang dibuahkan, kajian stilistika merupakan kajian yang berfokus pada wujud penggunaan sistem tanda dalam karya sastra yang diperoleh secara rasional-empirik dapat dipertanggung jawabkan. Landasan empirik merujuk pada kesesuian landasan konseptual dengan cara kerja yang digunakan bila dihubungkan dengan karakteristik fakta yang dijadikan sasaran kajian.
          Pada apresiasi sastra, analisis kajian stilistika digunakan untuk memudahkan menikmati, memahami, dan menghayati sistem tanda yang digunakan dalam karya sastra yang berfungsi untuk mengetahui ungkapan ekspresif yang ingin diungkapkan oleh pengarang. Dari penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan tentang analisis yang dilakukan apresiasi sastra meliputi :
1.             Analisis tanda baca yang digunakan pengarang.
2.             Analisis hubungan antara sistem tanda yang satu dengan yang lainnya.
3.             Analisis kemungkinan terjemahan satuan tanda yang ditentukan serta kemungkinan bentuk ekspresi yang dikandungnya (Aminuddin, 1995:98).
4.             Kaitannya dengan kritik sastra, kajian stilistika digunakan sebagai metode untuk menghindari kritik sastra yang bersifat impesionistis dan subyektif. Melalui kajian stilistika ini diharapkan dapat memperoleh hasil yang memenuhi kriteria obyektifitas dan keilmiahan (Aminuddin, 1995:42).
          Pada kritik sastra ini prosedur analisis yang digunakan dalam kajian stilistika, diantaranya :
1.             Analisis aspek gaya dalam karya sastra.
2.             Analisis aspek-aspek kebahasaan seperti manipulasi paduan bunyi, penggunaan tanda baca dan cara penulisan.
3.             Analisis gagasan atau makna yang dipaparkan dalam karya sastra (Aminuddin, 1995:42-43).

3.       Analisis Stilistika dalam Puisi Sepisaupi Karya Sutardji Calzoum Bachri
          Analisis puisi Sepisaupi ini menggunakan pendekatan stilistika untuk mengengetahui jenis majas, gaya bahasa penyair, pemanfaatan unsur bunyi, pemilihan diksi dan beberapa aspek yang lain seperti tipografi.
          Puisi Sepisaupi ini dapat diartikan sebagai bentuk perenungan kepada Tuhan. Sepisaupi merupakan gabungan dari kata sepi, pisau, dan pikul yang digabung menjadi sepisaupi. Sepi itu seperti pisau yang mengiris dan dosa itu begitu beratnya bagai barang sepikul. Rasa dosa itu menimbulkan rasa duka dan sepi yang menusuk dan mengiris bagai pisau. Rasa dosa itu timbul dalam diri (si aku) karena tusukan pisau-Nya. Panggilan atas peringatan Tuhan kepada manusia seperti pisau yang menusuk (Pradopo, 1990: 291­­).

3.1     Pemanfaatan Bunyi
         Pada puisi Sepisaupi ini, penyair banyak menggunakan permainan bunyi. Sehingga puisi ini terasa nyaman untuk didengar. Pemilihan bunyi-bunyi ini akan menimbulkan efek khusus yang diperoleh dari puisi. Pemanfaatan bunyi yang dilakukan oleh penyair meliputi persajakan atau rima.
         Rima adalah pengulangan bunyi yang sama dalam puisi yang berguna untuk menambah keindahan suatu puisi. Dalam persajakan rima dapat dibedakan menurut: bunyi dan letak dalam baris.
         Puisi yang berjudul Sepisaupi banyak menggunakan fonem /s/ dan /p/. Bunyi /s/ mensugesti timbulnya suasana mengejek, lembut, lancar, dan kadang-kadang menimbulkan perasaan yang menyejukkan, sedangkan /p/ adalah konsonan eksplosif yang mampu memberikan sugesti kecepatan, gerakan, dan memberikan kesan remeh atau cemoohan.
         Sepisaupi jika didengarkan seperti mantra. Hal itu dikarenakan penggabungan kata-kata sepi dan pisau jika dibaca tanpa putus kita akan dapat menangkap makna dari sepi dan pisau itu. Efek /s/ dan /p/ pada puisi ini menimbulkan efek magis, dan efek penggunaan fonem tersebut berpengaruh pada pengucapan puisi yang dibaca dengan cepat dan terdengar seperti mantra. Efek magis yang murni pada puisi tersebut juga dapat kita lihat dari pengulangan-pengulangan (repetisi) seperti pada mantra. Sepisau, sepisaupa, sepisaupi, begitu banyak diulang-ulang dalam puisi ini. Puisi-puisi sejenis ini memang tidak terlalu kuat dalam gaya bahasa, simbol atau permainan kata. Puisi ini adalah teori pemecahan (fusi) kata, permainan bentuk, pemaknaan baru, dan puisi menurut juga adalah mengembalikan kata pada mantra.
         Persajakan pada puisi isi sangat jelas terlihat. Persajakan dan pemanfaatan bunyi ini akan memunculkan suasana dari dalam puisi itu.
sepisau luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi

sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupi
sepikul siri keranjang duri

sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya kedalam nyanyi

         Rima pada tiap baris puisi ini semuanya menggunakan akhiran vokal /i/. tiap baris didominasi vokal /i, u, a/ dan konsonan /s, p/. Penggunaan vokal /i, u, a/ ini dapat menimbulkan suasana gembira, bahagia, riang, kasih, suci, kecil, ramping, ringan, dan tinggi. Penggunaan konsonan /s, p/ menimbulkan suasana kacau, tidak teratur, tidak menyenangkan. Perpaduan antara eufoni dan kakofoni menimbulkan efek magis. Karena di samping menimbulkan suasana yang gembira dan ringan, puisi ini juga memunculkan suasana yang berat dan sedih.
         Selain itu efek bunyi juga ditimbulkan oleh asonansi dan aliterasi. Asonansi adalah pengulangan bunyi vokal yang sama pada kata atau perkataan yang berurutan dalam baris-baris puisi. Pengulangan begini menimbulkan kesan kehalusan, kelembutan, kemerduan atau keindahan bunyi. Asonansi ini temukan pada setiap baris puisi ini, yaitu pengulangan vokal /i, u, a/.
Aliterasi adalah pengulangan bunyi konsonan yang sama dalam baris-baris puisi, biasanya pada awal kata atau perkataan yang berurutan. Pengulangan seperti itu menimbulkan kesan keindahan bunyi. Aliterasi ini adalah pengulangan konsonan /s, p/.

3.2     Pemilihan Diksi
         Dalam gaya bahasa kata ini, sesungguhnya kata tidak dapat dilepaskan dari hubungan kalimatnya karena tanpa hubungannya dengan unsur kalimat yang lain, kata tidak akan ada maknanya sebagai gaya. Akan tetapi, gaya kata ini adalah kata yang paling mendapatkan fungsi dalam hubungan kalimatnya. Dalam gaya kata ini yang menonjol dalam puisi Sepisaupi adalah pemanfaatan kata yang tidak bermakna.
         Tiap bagian puisi ini menggunakan kata yang secara harfiah tidak mempunyai makna apapun. Menurut Pradopo (1990: 291) kata “sepisaupi” pada puisi ini merupakan kependekan dari sepi, pisau, dan pikul. Kata yang tidak mempunyai makna secara harfiah adalah sepisaupa, sepukau, sepisaupi, dan sepikau. Kata-kata ini diulang beberapa kali.
sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupi
sepikul siri keranjang duri

sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya kedalam nyanyi

         Penyair juga menggunakan kata yang selalu diawali dengan afiks se- yaitu sepisau, sepikul, serisau, sepiasapanya, dan sepukau. Afiks se- ini dapat dimaknai satu.
sepisau luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi

sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupi
sepikul siri keranjang duri

         Pemanfaatan diksi pada puisi ini juga terlihat pada penggunaan kata ganti untuk Tuhan, yaitu -Nya. Pada akhir puisi ini, penyair menggunakan kata -Nya untuk menggantikan sosok Tuhan.
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya kedalam nyanyi

         Pemanfaatan diksi umumnya menunjukkan kekhasan dari penyair dalam memilih kata-kata yang digunakan dalam puisi tersebut.

3.3     Gaya Kalimat dan Wacana
         Gaya kalimat dan wacana dalam puisi Walau pada umumnya adalah sarana retorika (rhetorical devices). Sarana retorika merupakan sarana kepuitisan yang berusaha menarik perhatian, pikiran, sehingga pembaca merenungkan dengan sungguh-sungguh apa yang dikemukakan penyair. Pada umumnya sarana retorika ini menimbulkan ketegangan puitis karena pembaca harus berpikir keras apa efek yang dimaksudkan penyair.
         Pada puisi ini, sarana retorika yang dipakai adalah sarana retorika repetisi, yaitu sarana retorika yang berupa perulangan kata atau frasa pada baris yang sama atau berbeda, pada awal baris atau akhir baris bahkan pengulangan sebagian atau seluruh bait.
sepisau luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi

sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupi
sepikul siri keranjang duri

sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya kedalam nyanyi

         Dari kutipan di atas, dapat diketahui bahwa penggunaan saran retorika repetisi hampir mendominasi seluruh puisi itu. Kata yang sering diulang adalah sepisau, sepisaupi, dan sepisaupa.

3.4     Tipografi
         Tipografi disebut juga ukiran bentuk, ialah susunan bari-baris atau bait-bait puisi. Termasuk ke dalam tipografi ialah penggunaan huruf-huruf untuk menuliskan kata-kata suatu puisi. Setiap penyair memiliki kegemaran sendiri-sendiri dalam pembuatan bentuk atau wajah puisi.
         Puisi Sepisaupi ini adalah puisi yang mempunyai susunan bentuk yang umum, bila dibandingkan dengan puisi-puisi Sutardji lain yang umumnya berbentuk tangga. Puisi Sepisaupi ini memanfaatkan repetisi beberapa kata dan yaitu sepisau, sepisaupi, dan sepisaupa. Selain itu juga menggunakan repetisi pada afiks se- yag dapat ditemukan pada setiap bait puisi ini.
sepisau luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi

sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupi
sepikul siri keranjang duri

sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya kedalam nyanyi

         Penyair juga menggunakan kata ganti untuk menyebutkan Tuhan dengan kata nya yang ditulis tanpa spasi dengan kata pisau di baris terakhir.
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya kedalam nyanyi

         Kata ganti ini juga menggunakan huruf kapital pada awal huruf kata ganti tersebut. Penggunaan ini dimanfaatkan oleh penyair untuk penanda bahwa nya yang dimaksud adalah Tuhan.

3.5     Majas
         Majas adalah bahasa kiasan yang dapat menghidupkan atau meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu. Majas dapat dimanfaatkan oleh para pembaca atau penulis untuk menjelaskan gagasan mereka (Tarigan, 1985:179). Pradopo (2002:62) menjelaskan bahwa majas meyebabkan karya sastra menjadi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, lebih hidup, dan menimbulkan kejelasan gambaran angan.
         Dalam puisi Sepisaupi ini, didominasi oleh majas repetisi yaitu majas penegasan yang melukiskan sesuatu dengan mengulang kata atau beberapa kata. Penggunaan repetisi pada puisi ini dimaksudkan untuk menekankan bagian puisi yang ingin ditonjolkan oleh penyair.
sepisau luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi

sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupi
sepikul siri keranjang duri

sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya kedalam nyanyi

         Repetisi yang digunakan oleh penyair terdapat pada pengulangan afiks se- yang terdapat pada awal kata. Penggunaan repetisi afiks se- ini digunakan oleh penyair untuk memunculkan efek estetik pada puisi.
sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupi
sepikul siri keranjang duri

sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya kedalam nyanyi

         Repetisi juga digunakan oleh penyair pada pengulangan frasa sepisaupa sepisaupi. Pengulangan ini digunakan untuk menekankan frasa sepisaupa sepisaupi.

3.6     Parafrase puisi
         Sepisau luka sepisau duri merupakan bentuk luka yang yang teramat sangat yang pernah dialami, penggambaran dari dosa yang telah dilakukan dan membuat penyesalan yang mendalam, kerena dosa yang telah dilakukan membuat perenungan dalam kesendirian, ketika kesendirian itu yang dirasakan hanyalah penyesalan sepisaupa sepisaupi pelukisan akan pisau dan sepi seolah-olah kesendirian yang menyakitkan, sepisapanya sepikau sepi disini takadalagi sapaan kerena kesepian yang telah dialami, sepisaupa sepisaupi pengulangan kata ini adalah penguatan tentang kesepian, sepikul diri keranjang duri adalah siksaan kesepian yang dialami sendiri dan harus ditanggung olehnya tanpa seorangpun yang membantu, sepisaupa sepisaupi penguatan kesepian yang dialami terulang-ulang sampai akhir yang selalu mendramatisir kisah kesendirian ini, sampai pisauNya ke dalam nyanyi kesedihan akan kesepian selalu menghantui diri selamanya seakan-akan irama kesepian bagai lagu dalam hati.

4.       Simpulan
          Dari uraian di atas, dapar disimpulkan bahwa puisi Sepisaupi karya Sutardji Calzoum Bachri merupakan puisi kontemporer yang berisi kata-kata tidak bermakna secara harfiah. Penyair juga menggunakan kata yang selalu diawali dengan afiks se- yaitu sepisau, sepikul, serisau, sepiasapanya, dan sepukau. Afiks se- ini dapat dimaknai satu. Kata “sepisaupi” pada puisi ini merupakan kependekan dari sepi, pisau, dan pikul. Kata yang tidak mempunyai makna secara harfiah adalah sepisaupa, sepukau, sepisaupi, dan sepikau.
          Penggunaan vokal /i/, /u/, /a/ ini dapat menimbulkan suasana gembira, bahagia, riang, kasih, suci, kecil, ramping, ringan, dan tinggi. Penggunaan konsonan /s/ dan /p/ menimbulkan suasana kacau, tidak teratur, tidak menyenangkan. Efek magis yang murni pada puisi tersebut juga dapat kita lihat dari pengulangan-pengulangan (repetisi) seperti pada mantra. Sepisau, sepisaupa, sepisaupi, begitu banyak diulang-ulang dalam puisi ini. Puisi-puisi sejenis ini memang tidak terlalu kuat dalam gaya bahasa, simbol atau permainan kata. Puisi ini adalah teori pemecahan (fusi) kata, permainan bentuk, pemaknaan baru, dan puisi menurut juga adalah mengembalikan kata pada mantra.
          Penyair juga menggunakan kata ganti untuk menyebutkan Tuhan dengan kata nya yang ditulis tanpa spasi dengan kata pisau di baris terakhir. Kata ganti ini juga menggunakan huruf kapital pada awal huruf kata ganti tersebut. Penggunaan ini dimanfaatkan oleh penyair untuk penanda bahwa nya yang dimaksud adalah Tuhan.
          Repetisi yang digunakan oleh penyair terdapat pada pengulangan afiks se- yang terdapat pada awal kata. Penggunaan repetisi afiks se- ini digunakan oleh penyair untuk memunculkan efek estetik pada puisi. Repetisi juga digunakan oleh penyair pada pengulangan frasa sepisaupa sepisaupi. Pengulangan ini digunakan untuk menekankan frasa sepisaupa sepisaupi.

5.       Daftar Pustaka
Aminuddin. 1995. Stilistika: Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra. Semarang: IKIP Semarang Press.
Bachri, Sutardji Calzoum. 2002. O Amuk Kapak, Tiga Kumpulan Sajak. Jakarta: Yayasan Indonesia dan Majalah Horison.
Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1990. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Subroto, D. Edi, dkk. 1999. Telaah Stilistika Novel-Novel Berbahasa Jawa Tahun 1980-an. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sudjiman, Panuti. 1993. Bunga Rampai Stilistika. Jakarta: Grafiti.
Suharianto, S., Dra. 2005. “Pengkajian Puisi”. Buku Ajar Mata Kuliah Pengkajian Puisi. Semarang: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
Suyoto, Agustinus. 2007. Dasar-dasar Analisis Puisi. Lembar Komunikasi Bahasa dan Sastra Indonesia. Yogyakarta: SMU Stella Duce 2, Yogyakarta.
Tarigan, Henry Guntur. 1985. Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung: Angkasa.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Bandung: Pustaka Jaya.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1990. Teori Kesusastraan. Terjemahan Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.



Tidak ada komentar: