Naratologi Strukturalis
Dalam perkembangan strukturalisme, terdapat kelompok strukturalisme naratologi. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik, seperti model sintaksis, sebagaimana hubungan antara subjek, predikat, dan objek penderita (Ratna 2009: 128).
aAwal perkembangan teori narasi terdapat beberapa tokoh pelopornya, seperti: Poetica Aristoteles (cerita dan teks), Henry James (tokoh dan cerita), Forster (tokoh bundar dan datar), Percy Lubbock (teknik naratif), Vladimir Propp (peran dan fungsi), Claude Levi-Strauss (struktur mitos), Tzvetan Todorov (historie dan discours), Claude Bremond (struktur dan fungsi), Mieke Bal (fabula, story, text), Greimas (tata bahasa naratif dan struktur aktan), dan Shlomith Rimmon-Kenan (story, text, narration). Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot).
Naratologi Pascastrukturalis
Naratologi yang berkembang pada masa pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue, fabula, dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer, interdisipliner, termasuk feminis dan psikoanalisis. Para pelopornya, di antaranya: Gerard Gennet (urutan, durasi, frekuensi, modus, dan suara), Gerald Prince (struktur narratee), Seymoeur Chatman (struktur naratif), Jonathan Culler (kompetensi sastra), Roland Barthes (kernels dan satellits), Mikhail Bakhtin (wacana polifonik), Hayden White (wacana sejarah), Marry Louise Pratt (tindak kata), Umberto Eco (wacana dan kebohongan), Michel Foucault (wacana dan kekuasaan), Jean-Francois Lyotard (metanarasi), dan Jean Baudrillad (hiperealitas, pastiche). (Ratna 2009: 242)
[][]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar