Oleh
Alfian Rokhmansyah
Dekonstruksi Derrida selalu diawali dengan hal-hal yang tidak terpikirkan atau tidak boleh dipikirkan. Jadi paham ini menolak pandangan bahwa bahasa memiliki makna yang pasti, sebagaimana yang disodorkan oleh strukturalisme. Tidak ada ungkapan atau bentuk-bentuk kebahasaan yang dipergunakan untuk membahasakan objek dan yang bermakna tertentu dan pasti. Oleh karena itulah dekonstruksi termasuk dalam aliran poststrukturalisme. Jika strukturalisme dipandang sebagai sesuatu yang sistematik, bahkan dianggap sebagai the science of sign maka poststrukturalisme menolak hal tersebut.
Sedangkan tujuan yang diinginkan metode dekonstruksi adalah menunjukkan ketidakberhasilan upaya penghadiran kebenaran absolut, dia menelanjangi agenda tersembunyi yang mengandung banyak kelemahan dan kepincangan di balik teks-teks (Norris, 2006: 13). Culler (melalui Nurgiyantoro, 2007: 60) mengungkapkan bahwa mendekonstruksi suatu wacana (kesastraan) adalah menunjukkan bagaimana meruntuhkan filosofi yang melandasinya, atau beroposisi secara hierarkis terhadap sesuatu yang menjadi landasannya, dengan cara mengidentifikasi bentuk-bentuk operasional retorika yang ada dalam teks itu, yang memproduksi dasar argument yang merupakan konsep utama. Dengan kata lain, dekonstruksi menolak makna umum yang dianggap ada dalam suatu teks sastra.
Pendekatan dekonstruksi ini bisa diterapkan dalam menganalisis karya sastra maupun filsafat. Dalam pembacaan karya sastra, dekonstruksi bukan dimaksudkan untuk menegaskan makna sebagaimana yang biasa dilakukan. Derrida selalu ingin memulai filsafat dekonstruksinya dari hal-hal yang tidak terpikirkan atau hal-hal yang tidak boleh dipikirkan. Maksudnya, bahwa unsur-unsur yang dilacaknya, untuk kemudian dibongkar, bukanlah hal yang remeh temeh, melainkan unsur yang secara filosofis menjadi penentu atau unsur yang menjadikan teks tersebut menjadi filosofis (Norris, 2006: 12).
Daftar Pustaka
untuk mengunduh artikel ini silakan klik di sini
Alfian Rokhmansyah
Dekonstruksi Derrida selalu diawali dengan hal-hal yang tidak terpikirkan atau tidak boleh dipikirkan. Jadi paham ini menolak pandangan bahwa bahasa memiliki makna yang pasti, sebagaimana yang disodorkan oleh strukturalisme. Tidak ada ungkapan atau bentuk-bentuk kebahasaan yang dipergunakan untuk membahasakan objek dan yang bermakna tertentu dan pasti. Oleh karena itulah dekonstruksi termasuk dalam aliran poststrukturalisme. Jika strukturalisme dipandang sebagai sesuatu yang sistematik, bahkan dianggap sebagai the science of sign maka poststrukturalisme menolak hal tersebut.
Sedangkan tujuan yang diinginkan metode dekonstruksi adalah menunjukkan ketidakberhasilan upaya penghadiran kebenaran absolut, dia menelanjangi agenda tersembunyi yang mengandung banyak kelemahan dan kepincangan di balik teks-teks (Norris, 2006: 13). Culler (melalui Nurgiyantoro, 2007: 60) mengungkapkan bahwa mendekonstruksi suatu wacana (kesastraan) adalah menunjukkan bagaimana meruntuhkan filosofi yang melandasinya, atau beroposisi secara hierarkis terhadap sesuatu yang menjadi landasannya, dengan cara mengidentifikasi bentuk-bentuk operasional retorika yang ada dalam teks itu, yang memproduksi dasar argument yang merupakan konsep utama. Dengan kata lain, dekonstruksi menolak makna umum yang dianggap ada dalam suatu teks sastra.
Pendekatan dekonstruksi ini bisa diterapkan dalam menganalisis karya sastra maupun filsafat. Dalam pembacaan karya sastra, dekonstruksi bukan dimaksudkan untuk menegaskan makna sebagaimana yang biasa dilakukan. Derrida selalu ingin memulai filsafat dekonstruksinya dari hal-hal yang tidak terpikirkan atau hal-hal yang tidak boleh dipikirkan. Maksudnya, bahwa unsur-unsur yang dilacaknya, untuk kemudian dibongkar, bukanlah hal yang remeh temeh, melainkan unsur yang secara filosofis menjadi penentu atau unsur yang menjadikan teks tersebut menjadi filosofis (Norris, 2006: 12).
Daftar Pustaka
- Abrams, M.H. 1976. The Mirror and the Lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. Oxford: Oxford University Press.
- _______. 1981. A Glossary of Literary Terms. New York: Holt, Rinehart and Winston.
- Amalik, Mulyadi J. 2002. “Sembari Membaca Derrida, Lupakanlah Jasadnya!” dalam Jacques Derrida, Dekonstruksi Spiritual: Merayakan Ragam Wajah Spiritual. Yogyakarta: Jalasutra.
- Amiruddin, Mariana. 2002. Perempuan Menolak Tabu: Hermeneutika, Feminisme, dan Sastra. Jakarta: Melibas.
- Amminudin. 2002. “Pendekatan Pasca Struktrural: Jacques Derrida” dalam Kris Budiman (ed.), Analisis Wacana: Dari Linguistik sampai Dekonstruksi. Yogyakarta: Kanal.
- Brooks, Ann. 1997. Posfeminisme dan Cultural Studies: Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra
- Budianta, Melanie. “Pendekatan Feminisme terhadap Wacana” dalam Kris Budiman (ed.), Analisis Wacana: Dari Linguistik sampai Dekonstruksi. Yogyakarta: Kanal.
- Derrida, Jacques. 1967. Of Grammatology. Baltimore, Md: John Hopkins University.
- Norris, Christopher. 2006. Membongkar Teori Dekonstruksi Jacques Derrida. Yogyakarta: Ar-ruzz Media.
- Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
- Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
- Sarup, Madan. 2004. Posstrukturalisme dan Posmodernisme: Sebuah Pengantar Kritis. Yogyakarta: Jendela.
untuk mengunduh artikel ini silakan klik di sini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar