Rabu, 26 Januari 2011

Naratologi Strukturalis Tzvetan Todorov

Oleh

Alfian Rokhamansyah

Alumni Sastra Indonesia S-1 (Ilmu Sastra)

Univ. Negeri Semarang (Unnes)





Todorov adalah salah satu tokoh Strukturalis yang mencetuskan pandangannya mengenai teks sastra. Todorov mengatakan bahwa telaah teks sastra meliputi: (1) aspek semantik: hubungan sintagmatik dan paradigmatik, (2) aspek verba: modus, kala, sudut pandang, penuturan, dan (3) aspek sintaksis: struktur teks, sintaksis naratif, kekhususan dan relasi (Todorov dalam Zeimar dkk., 1985).



1. Aspek Semantik

Dalam memahami dan membaca teks sastra, pembaca berusaha merebut makna, baik yang tersurat maupun yang tersirat (Teeuw, 1983). Makna tersurat berkaitan dengan kedekatan hubungan bahasa dengan pembaca yang disebut hubungan in praesentia atau hubungan sintagmatik. Sebaliknya sebuah teks sastra demikian jauh hubungannya dengan pemahaman pembaca, sehingga hal itu tidak jauh berbeda dengan hubungan in absentia. Aspek semantik yang menjadi kajian Todorov meliputi hubungan sintagmatik dan hubungan paradigmatik.

a. Hubungan Sintagmatik

Hubungan ini merupakan hubungan konfigurasi, hubungan konstruksi atau hubungan antara satuan cerita (peristiwa) dengan satuan cerita lain. Hubungan ini bersifat linier. Di dalam hubungan sintagmatik, dikaji urutan peristiwa dan fungsi-fungsi utama yang merupakan penyebab hubungan sebab akibat.

b. Hubungan Paradigmatik

Meskipun sudah cukup banyak yang dapat dipahami dari teks yang tersurat, masih ada hal-hal yang dapat diungkap di luar peristiwa, yang membantu memperjelas makna cerita. Dalam hubungannya dengan itu, satuan-satuan pendukung akan mempunyai arti bila dikaitkan dengan pemahaman tokoh atau pemahaman kisahan. Satuan-satuan yang menerangkan sifat-sifat tokoh, identitasnya, perasaannya, suasana, filsafat dan lain sebagainya disebut dengan indeks. Sedangkan yang menjelaskan tentang waktu dan tempat disebut dengan informan.



2. Aspek Verba

a. Kategori Modus

Tingkat kelahiran peristiwa yang diceritakan dalam teks. Kategori ini memuat gaya cerita yang ada didalam teks. Biasanya suatu teks menggunakan gaya langsung dan tidak langsung. Gaya penceritaan juga terdapat dalam kategori ini, yaitu gaya bahasa dan sudut pandang penceritaan.

1) Gaya Langsung

Gaya langsung merupakan gaya ujaran yang dituturkan langsung oleh pelaku atau tokoh. Dalam gaya langsung ini mencakup dialog maupun monolog.

2) Gaya Tak Langsung

Gaya tak langsung merupakan gaya ujaran yang dituturkan oleh tokoh “aku” atau pun oleh pencerita sebagai orang ketiga, tergantung pada penggunaan sudut pandang penceritaan dalam cerita tetrsebut. Gaya tak langsung ini biasanya digunakan sebagai pengantar satu peristiwa dengan peristiwa yang lainnya. Selain itu gaya tak langsung dapat berupa gambaran perwatakan tokoh sesuai sudut pandang yang digunakan.

3) Gaya Ujaran yang Diceritakan

Gaya Bahasa

Gaya bahasa yang digunakan dalam cerita. Biasanya gaya bahasa yang digunakan dalam fiksi menggunakan gaya bahasa simile, metafora, personifikasi, dan simbol. Gaya bahasa ini juga dapat digunakan untuk menggambarkan perwatakan.

Sudut Pandang

Sudut pandang merupakan suatu metode narasi yang menentukan posisi atau sudut pandang dari mana cerita disampaikan (Minderop, 2005 : 87). Sudut pandang mempunyai banyak variasi dan kombinasi, tetapi ada tiga varian mendasar yang berbeda. Jenis sudut pandang ini antara lain: sudut pandang orang pertama, orang ketiga, dramatik, dan impersonal. Penentuan terhadap sudut pandang adalah penentuan siapa yang berkisah di dalam cerita. Si pencerita bisa berada di luar cerita atau si pencerita berada di dalam cerita, menyampaikan kisahnya melalui sudut pandang orang pertama, atau sama sekali tidak ada yang bercerita.

b. Kategori Waktu

Kategori ini menyinggung hubungan antara dua jalur waktu, yaitu jalur waktu dalam wana fiksi dan jalur waktu dalam alam fiktif yang jauh lebih rumit. Di dalam kategori ini juga terdapat pengaluran yang digunakan dalam cerita.

c. Kategori Pandangan

Di dalam kategori pandangan ini, menganalisis pandangan setiap tokoh terhadap tokoh lain. Pandangan antara tokoh lain terhadap tokoh utama akan membantu dalam pembacaan perwatakan yang dibawa tokoh utama. Dalam kategori pandanga ini juga menjelaskan pandangan tokoh terhadap paham atau ideologi yang mereka anut.



3. Aspek Sitaksis

Dalam aspek sisteksis dibahas struktur teks, sintaksis naratif, dan kekhususan dan relasi.

a. Struktur Teks

Struktur teks membahas urutan logis dan temporal, serta urutan spasia.

b. Sintaksis Naratif

Sintaksis naratif merupakan ciri cerita mitalogi. Dalam bidang ini dibahas tiga satuan, yaitu (a) kalimat, (b) sekuen, dan (c) teks.

c. Kekhususan dan Relasi

Kekhususan dan relasi membahas aspek predikat naratif. Kekhususan menyangkut berbagai bentuk dari satu predikat. Sedangkan relasi menyangkut dua macam predikat yang berbeda, yaitu primer dan yang sekunder serta aksi dan reaksi.





Daftar Pustaka

  1. Chamamah. S. 2001. “Penelitian Sastra, Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar” dalam Jabrohim (Ed.) Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya.
  2. Hudayat, Asep Yusup. 2007. Metode Penelitian Sastra. Modul. Bandung: Fakultas Sastra, Universitas Padjajaran.
  3. Lechte, John. 2001. 50 Filsuf Kontemporer: dari Strukturalisme sampai Postmodernitas, hlm.239-246. Yogyakarta: Kinisius.
  4. Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  5. Nuryatin, Agus. 2006. Handout Perkuliahan: Teori Sastra (1). Semarang: Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
  6. Selden, Raman. 1993. Panduan Pembaca Teori Sastra Masa Kini. Diterjemahkan oleh Rahmat Djoko Pradopo. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
  7. Suharianto, S. 1982. Dasar-dasar Teori Sastra. Surakarta: Widya Duta.
  8. Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.
  9. _______. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
  10. Todorov, Tzvetan. 1985. Tata Sastra. Diterjemahkan oleh Okke K.S. Zaimar, dkk. Jakarta: Djambatan.


Tidak ada komentar: